Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 93


__ADS_3

“Dia selingkuh, padahal gue tuh ‘kan jomblo lama ya mau cari yang bener-bener sama gue gitu. Eh malah diselingkuhin. Dahlah, makin males pacaran,”


“Ya Allah, turut prihatin ya, Rik,”


Erik tertawa lepas dan mendengar ucapan Shena yang kelihatannya benar-benar ikut sedih dengan kabar kandasnya hubungan Ia dengan sang mantan kekasih, tapi justru ucapan Shena yang polos itu mengundang tawanya.


“Nggak usah prihatin, Sheb. Artinya bagus dong, Tuhan baik sama gue. Berarti itu cewek nggak baik untuk gue,”


“Iya bener, nanti juga dapat penggantinya, Rik, kamu tenang aja,”


“Iya, Shen. Gue juga nggak sedih sih. Justru gue bersyukur bisa dikasih tau secepatnya kalau dia itu nggak sebaik yang gue kira. Untung aja belum lama-lama sama dia,”


“Tapi nyesek ‘kan, Rik?”


Erik mengangguki pertanyaan Satria. Mereka sesama laki-laki dan Satria juga pernah merasakan yang namanya diselingkuhi.


“Sama kayak gue, Njir. Gue malah bodoh banget waktu itu, dia udah selingkuh lama dan baru ketahuan setelah satu tahun kemudian,”


“Gila, ternyata karyawan cowok di sini pada sad boy ya,”


“Oh tentu tidak!” Erik langsung menggerakkan telunjuknya tidak setuju dengan ucapan Lala.


“Ya iyalah, orang diselingkuhin begitu kok,”


“Bukan berarti jadi sad boy dong. Banyak cewek lain di luar sana, nggak perlu sad, ya nggak, Sat? Kita mah santuy aja ya. Nanti yang baik juga bakal datang, tergantung kita nya, ya nggak sih?”


“Aku setuju! Jodoh itu cerminan diri. Kalau kita baik, jodoh kota Insya Allah juga baik. Makanya fokus memperbaiki diri dulu deh, daripada dibuat sakit hati lagi,” ujar Shena seraya tersenyum pada dua karyawannya itu. Sama-sama kerja di toko Shena, nasibnya pun sama. Pernah diselingkuhi oleh pasangan.


“Nggak usah pacaran, langsung bablas kawin aja,”


“Kawin pala lo! Nikah dulu, ogeb!” Satria mendorong kepala Erik dengan telunjuknya. Seenak hati mau balas kawin. Sebelum itu harus nikah dulu alias mengucap janji suci di hadapan Tuhan dan saksi.


“Iya maksud gue nggak usah pacaran, langsung bablas nikah terus kawin. Paham ‘kan?”


“Nah iya, itu yang paling bener,”


“Ya udah aku doain ya, semoga segera dapat jodoh, yang bisa langsung diajak ke jenjang yang lebih serius,”


“Aamiin, gue doain lo juga ya, Shen,”


“Eh jangan ngadi-ngadi lo kalau ngomong. Lo doain Shena dapat jodoh lagi? Lah itu Pak bos mau dikemanain? Dia mah udah nikah, udah mau punya anak. Lo pada yang belum tuh,”


Celoteh Lala pada Satria yang baru saja membalas ucapan Dio.


“Kalau gue ada doa khusus, maksud gue tadi, gue doain Shena juga tapi doanya beda nih. Gue doain, Shena langgeng sama Pak bos, lancar lahirannya, terus anak-anaknya jadi anak yang sholeh dan shalihah, begitu maksud gue, La. Makanya jangan asal salah paham dulu, doa baik nggak ada salahnya ‘kan?”


“Iya itu baik banget doanya, makasih ya,”


****


“Assalamualaikum. Halo, Dio, udah di jalan jemput Shena belum? Dia belum pulang ini,”


“Waalaikumsalam, Aku lagi mau jemput, Ma,”


“Oh ya udah, hati-hati ya,”


“Iya, Ma,”


Ardina bisa menghela napas lega begitu tahu kalau menantunya belum pulang juga dari tokonya ternyata karena memang dia belum dibawa pulang oleh suaminya yang akan menjemputnya. Sementara Dio sendiri berharap istrinya benar-benar masih ada di toko. Ia sudah meminta Shena untuk menunggu, tapi takutnya perempuan itu kemana-mana, sebelumnya Shena izin ke rumah Sehan dan Tania hanya seorang diri. Dio tentu saja tidak mengizinkan istrinya pergi sendiri. Ia ingin mengantarkan Shena.


Begitu tiba di toko, Dio langsung keluar dari mobil dan berjalan memasuki toko Shena yang sepi kelihatan dari luar, tapi kalau di dalam biasanya ramai dengan barang.


“Assalamualaikum,”


Kebetulan pintu toko terbuka dan Shena langsung disambut dengan sibuknya para pegawai Shena dalam menyelesaikan pekerjaan.

__ADS_1


Mereka yang mendengar salam dari Dio langsung menoleh dan menjawab serentak. “Waalaikumsalam,”


Salah satunya langsung memanggil Shena yang tengah duduk di depan komputer dengan tatapan serius ke arah layar datar komputer.


“Shena, Pak bos datang tuh,”


“Oh iya, makasih udah kasih tau,”


Shena segera menoleh pada sang suami yang tersenyum menatapnya dari depan pintu, sungkan untuk masuk melewati banyak barang-barang yang dijual oleh toko Shena.


“Aku pulang dulu ya,”


“Iya, Shen, hati-hati ya,”


“Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam,”


Shena mengambil tasnya kemudian beranjak dari kursi untuk menghampiri sang suami yang dipersilahkan masuk oleh Erik dan menghampiri Shena yang tadi masih duduk, tapi Dio menolak.


“Serius banget yang lagi kerja bantuin pegawai tadi,” ledek Dio yang mengundang kekehan kecil Agatha.


“Iya nih, udah lama nggak chat-chatan sama pelanggan, jadi dari tadi aku deh yang pegang,”


“Untung aja nggak kemana-mana. Aku pikir kamu udah ke rumah abang duluan nggak mau nungguin aku,”


“Ya nggak mungkinlah, Mas. Nanti aku diomelin sama Mas. Tadi datang ke toko aja Mas ngomel,”


“Nggak ngomel,”


“Iya ngomel kok, bilangnya ngapain sih ke toko? Kok nggak istirahat aja? Kamu jangan susah dong kalau dikasih tau tuh. Bukannya istirahat malah ke toko, kamu ngapain aja di sana? Pasti capek-capek ‘kan? Begitu tadi omongannya Mas ke aku,”


Shena memperagakan bagaimana Dio ketika berceloteh panjang lebar melalui telepon tadi, sebelum lelaki itu datang ke tokonya.


“Iya, ya ampun lupa ingatan, Mas?”


“Ya udah deh, aku minta maaf ya, aku tuh terlalu khawatir sama kamu, tapi aku mau marah juga mikir-mikir takutnya bikin kamu nangis terus nanti aku yang merasa bersalah,”


“Tapi Mas tetap ngomel sih tadi,”


“Cuma ngomel aja, Sayang. Aku kalau ngomel ‘kan malah suka diketawain sama kamu,”


“Kita ke rumah Abang sama Kak Tania ya jangan lupa,”


“Okay, mau mampir kemana dulu? Sebelum ke rumah mereka,”


“Nggak mau mampir kemana-mana deh, Mas. Aku mau langsung ke rumah mereka aja soalnya nggak sabar banget ketemu sama Shofea, dan liat rumah barunya Abang dan Kakak,”


“Udah pernah liat waktu itu,”


“Udah agak-agak lupa, Mas. Kayaknya yang sekarang juga udah ada yang diperbarui lagi deh,”


“Iya emang, abang bilang begitu. Ada yang dirombak kalau nggak salah bagian taman belakang nggak jauh dari dapur,”


“Mas tau?”


“Abang yang ngomong,”


“Wuah nggak sabar mau liat, pasti makin keren rumahnya abang dan kak Tania ya,”


“Itu kebanyakan hasil bentukannya Kak Tania. Abang tinggal kasih duit dan terima jadi,”


“Ya emang kebanyakan begitu, Mas. Istrinya yang ngatur ini itu, terus suaminya bagian keuangan sama tinggal terima beres deh, tau-tau rumah jadi dan bagus banget hasilnya,”


“Ya kayak kamu lah ya, tau-tau rumah kita yang nggak ditempatin itu udah ada perabotannya, rapi dan bersih, ternyata kerjaan kamu semua,”

__ADS_1


“Nggak, bukan aku yang ngerjain semuanya, Mas,”


“Iya tau tapi yang punya inisiatif ya cuma kamu aja,”


“Aku senang nata-nata rumah baru gitu, selalu semangat,”


“Wajar, Sayang. Namanya juga rumah baru, pasti mau dandaninnya semangat empat lima banget,”


“Oh iya ngomong-ngomong rumah, Nada udah dapat rumahnya, Mas?”


“Nggak tau, Bee. Aku nggak mau nanya-nanya dan dia juga nggak pernah hubungin aku lagi deh kayaknya,”


“Hmm baguslah, jadi urusannya sama kamu udha selesai ya?”


“Sebenarnya nggak ada urusan, Bee, cuma dia minta tolong aja. Setelah itu dia nggak ngajakin ngobrol lagi, aku pun begitu dan aku nggak tau sebenarnya dia masih chat aku atau nggak, kalau aku nebak sih nggak, tapi nggak tau juga,”


“Kalau dia masih hubungin kamu padahal kamu udah kasih nomor handphone temannya yang akan bantu dia itu tandanya emang dia mau cari perhatian kamu ya, ‘Mas?”


“Eh jangan ngomong begitu. Ya nggaklah, dia ngapain cari perhatian ke aku. Nggak Ada gunanya orang aku udah punya istri dan nggak bakal terpesona sama yang lain mau secantik apapun dia di mata orang,”


“Mas, kalau ternyata dia suka sama Mas gimana?“


“Kenapa tiba-tiba tanya itu sih, Bee?”


“Ya nggak apa-apa, aku penasaran aja gimana tanggapan kamu kalau seandainya Nada beneran suka sama kamu, Mas? Kamu bakal—“


“Aku nggak peduli apapun. Aku tetap fokus sama kamu dan calon anak kita aja, nggak mau ke lain-lain deh,”


“Ya mudah-mudahan aja dia nggak suka sama kamu ya, Mas. Aku nggak rela banget suami aku disukain sama perempuan lain,”


“Ya ampun, Sayang, emang siapa yang suka sama aku sih?”


“Waktu itu pernah Mas disukai sama teman di kantor, sekarang aku curiganya si Nada,”


“Nggak, kamu jangan mikir begitu dong,”


“Ya udah maaf, wajar aja ‘kan kalau aku takut, Mas,”


“Wajar tapi jangan berlebihan juga. Dia juga tau kalau aku punya istri,”


“Sampe datang ke kantor kamu gitu, aku ‘kan jadi mikir kemana-mana,”


“Iya itu karena chat dia nggak ada tanggapan dari aku, Bee,”


“Iya-iya, aku salah, aku minta maaf,”


“Kamu lagi hamil makin sering overthinking ya,”


“Iya kayaknya,”


“Biasanya juga jarang banget cemburu deh. Tapi aku senang banget kalau kamu cemburu, berasa dicintai banget gitu lho, Bee,”


“Gantian, biasnaya ‘kan Mas yang cemburuan,”


“Ya, dan kamu nya santai banget, kamu tuh jarang yang keliatan cemburu,”


“Kadang cemburu kok, Mas, tapi aku nggak nunjukkin aja,”


“Kamu cemburu sama siapa, Sayang?”


Dio tertawa mendengar pengakuan Shena. Selama ini Dio tidak pernah dekat dengan perempuan manapun, dan entah kapan Shena cemburu.


“Tapi kamu jarang nunjukkin ah, kayaknya malah aku deh yang sering nunjukkin kalau aku tuh cemburu sama kamu, ya nggak sih? Kamu kayak cuek gitu ke aku. Sebenarnya kamu masih cinta sama aku ‘kan, Sayang?”


“Ya tentu dong, Mas, sampai kapanpun Insya Allah cinta itu tetap tumbuh untuk kamu, Mas,”

__ADS_1


__ADS_2