
Shena senang mendengar ucapan Dio. Hatinya menghangat. Tadi kalau Shena tak salah mendengar, suaminya bilang, untuk kali ini mau menjadi suami yang bisa diandalkan. Walaupun hanya kali ini, tidak masalah bagi Shena. Yang terpenting ada momen dimana Ia bisa mendapatkan perhatian Dio, dan menjadi prioritas Dio.
“Jadi lo perlu apa supaya bisa cepat tidur?”
“Nggak perlu apa-apa kok, makasih ya,”
“Mau nyalain tv aja nggak? Kali aja abis nonton lo jadi ngantuk,”
“Nggak, aku lagi nggak pengen ngantuk,”
“Ya udah gue tungguin sampai lo tidur sendiri deh,”
“Nggak usah ditungguin, ngapain? Mending kamu tidur aja. Nanti kalau aku udah ngantuk, aku pasti ikut tidur juga,” ujar Shena.
Shena mengedikan dagunya ke tempat tidur kecil mempersilahkan suaminya untuk beristirahat. Ia yakin Dio lelah. Karena seharian berkegiatan, yang Shena tidak tahu juga apa kegiatan suaminya sampai malam baru menemuinya.
“Gue nanti aja tidurnya,”
“Kenapa?”
“Ya karena lo sendiri aja belum tidur,”
__ADS_1
“Nggak apa-apa, yang penting kamu nggak pergi aku udah senang. Nggak harus tungguin aku sampai tidur kok,”
“Suka-suka gue lah, kalau gue belum mau tidur mas alo atur supaya tidur?”
Shena diam, tak lagi bersuara. Daripada mereka malah jadi berdebat, lebih baik Ia sudahi saja pembicaraan di antara mereka.
Beberapa menit Shena habiskan hanya untuk menatap langit-langit putih bersih tepat di atasnya. Setelah itu mengubah posisi menjadi berbaring miring memunggungi Dio yang duduk di kursi tepat di sisi kanan bangsal yang Ia tempati.
Ketika Shena memunggunginya, Dio meraih ponselnya. Entah dapat dorongan darimana Dio mencari di internet tips supaya membuat orang cepat tidur. Dari dua artikel yang Ia baca, ada beberapa tips tapi yang paling mudah menurutnya adalah memberikan kenyamanan salah satunya dengan menyentuh lembut di beberapa bagian tubuh seperti punggung dan kening.
Dio berdiri untuk bisa mengetahui Shena sudah tidur atau belum, dan ternyata belum. Dio langsung mengusap-usap punggung Shena.
Dan apa yang dilakukan oleh Dio itu tentunya membuat Shena menoleh penasaran. “Kenapa?”
“Tapi kok kamu ngusap-ngusap punggung aku? Punggung aku nggak sakit kok,”
“Ya emang siapa yang bilang lo sakit punggung? Udah deh nggak usah cerewet, lo tuh harus banyak istirahat, pesan dokter gitu ‘kan?”
Shena menahan senyumnya. Ia bsia menyimpulkan Dio mau membuatnya cepat istirahat, dengan cara mengusap punggungnya. Itu benar-benar membuat Shena nyaman.
Tapi Shena tidak tega harus membiarkan suaminya berdiri lama-lama hanya untuk memancingnya supaya terlelap.
__ADS_1
“Dio, mendingan kamu istirahat deh,”
“Gue belum mau, Shen. Lo jangan ngatur gue deh!”
“Ya udah biasa aja ngomongnya jangan ketus gitu,”
“Ya lagian nyuruh gue istirahat mulu, sedangkan lo sendiri aja belum istirahat,”
“Mungkin karena aku tadi udah sempat tidur kali ya,”
“Tapi cuma bentar doang ‘kan?”
“Iya sih,”
“Ya udah, harusnya sih sekarang istirahat lagi,”
“Kamu inisiatif nya keren juga ya. Usaha banget kayaknya supaya aku mau tidur,”
“Terpaksa ini juga,”
Mendengar jawaban Dio, Shena tersenyum. Apapun itu alasan Dio, yang jelas Shena senang atas perlakuan Dio.
__ADS_1
Dio terus menggunakan tangannya untuk mengusap punggung sang istri. Sampai akhirnya Shena terlelap. Dio menghela napas lega melihat Shena sudah memejamkan mata dan deru napasnya sudah teratur.
“Akhirnya tidur juga dia. Terpaksa gue sampai ngusap punggung dia biar dia tidur. Kalau dia kurang istirahat ‘kan kepalanya bisa makin sakit, nggak sembuh-sembuh deh, makin lama juga gue di sini temenin dia,”