
“Aku mau jalan-jalan sebentar boleh nggak ya?”
Shena bosan di ruang rawat inapnya terus. Ia ingin sesekali keluar ruangan melihat suasana yang ada di luar.
Ia mati gaya selama dirawat di rumah sakit. Kegiatannya hanya istirahat, makan, menonton televisi atau memainkan ponselnya.
Andai saja Dio mengajaknya untuk berinteraksi, mungkin Shena akan lebih bahagia. Tapi sayangnya Dio sibuk sendiri. Dio memang menemaninya selama di ruangan itu, hanya saja Dio sibuk dengan ponselnya, atau tidur. Benar-benar hanya tentang dirinya sendiri.
Shena merasa lebih baik Ia seorang diri saja di ruangan itu daripada ada orang lain tapi Ia diabaikan. Berdua di dalam satu ruangan yang sama tentu membuat Shena jadi serba salah. Mau mengajak Dio bicara tapi takut Dio tidak senang. Kalau Ia tak ajak bicara, mulutnya gatal untuk melakukannya, dan Ia juga perlu mengobrol untuk mengurangi rasa bosannya.
Karena tidak kuat ingin ada kegiatan lain, supaya pikiran juga segar, akhirnya Ia bicara pada Dio bahwa Ia ingin keluar ruangan sebentar. Ia harap-harap cemas takut Dio tak menanggapi, karena sekarang ini Dio sedang bermain game di ponselnya. Tapi beruntungnya Dio langsung merespon.
__ADS_1
Dio menatap ke arahnya dan bertanya “Lo yakin mau keluar? Emang lo kuat? Nggak bakalan pingsan lagi nanti?” Tanya Dio dengan remeh. Menurutnya permintaan Shena ini aneh. Diberikan tempat yang nyaman untuk istirahat, tak ada pekerjaan yang mesti diselesaikan, hanya istirahat saja tapi Shena malah mau keluar.
“Aku bosan, aku pengen keluar sebentar,”
“Padahal tinggal istirahat aja apa susahnya sih? Lo tuh nggak disuruh kerja di sini, nggak dimarah-marahin juga, kenapa malah nggak betah?”
“Ya justru itu, karena aku istirahat aja di sini, jadinya aku nggak betah. Ditambah lagi kamu cuek ke aku. Jadi rasanya aku cuma sendirian, tapi sebenarnya berdua. Kamu paham maksud aku ‘kan?”
“Kamu mendingan ngomel-ngomel aja deh daripada kamu cuma diam aja, aku malah nggak enak kalau cuma diam sendirian, terus aku nggak tau harus ngapain,”
“Ya lo cuma diminta untuk istirahat aja, Shen,”
__ADS_1
“Tapi aku bosan,”
Dio berdecak kesal sambil menatap mata istrinya dengan tajam. Shena langsung murung menundukkan kepalanya karena melihat suaminya kesal.
“Ya udah deh kalau kamu nggak mau nggak apa-apa,” gumamnya sambil berbaring terlentang, sebelumnya miring menghadap Dio yang duduk di sofa bed sebagai fasilitas untuk pendamping pasien.
Dio berdecak lagi. Menghadapi Shena ketika sakit ternyata sulit juga. Ia dituntut untuk sabar. Yang sebelumnya tak pernah mengambilkan air minum untuk Shena, tak pernah mengantarkan Shena sampai depan pintu kamar mandi, tak pernah membantu Shena membersihkan badannya, selama di rumah sakit itu semua Ia lakukan.
“Ya udah deh ayo. Gue ambil kursi roda dulu,”
Daripada Shena murung, dan Ia risih melihatnya, lebih baik ia penuhi saja permintaan Shena itu. Ia langsung keluar dari ruangan Shena untuk mengambil kursi roda supaya Shena menggunakan itu ketika keluar dari ruangannya.
__ADS_1
Shena bahagia sekali mendengar ucapan Dio yang saat ini tengah mengambil kursi roda. Ia membatin karena terlampau bahagia “aku senang banget permintaan aku diturutin sama Dio,”