
“Kamu habis ngobrol sama siapa?” Tanya Shena ketika suaminya sudah duduk di dalam mobil dan menggunakan seatbelt.
“Masa iya lo nggak tau? ‘Kan udah pernah ketemu dia waktu di rumah sakit, lo larang gue untuk ngejar dia,”
Dio langsung menjawab, tanpa menyebut nama karena Dio tahu, istrinya pasti sudah bisa menebak Ia bicara dengan siapa barusan.
“Amira ya?”
“Iya,”
“Kalau aku boleh tau, ngobrolin apa?” Tanya Shena dengan nada pelan. Sebenarnya takut bersikap penasaran seperti ini, yang kesannya terlalu posesif. Tapi karena Ia benar-benar penasaran, akhirnya timbulah keberanian untuk bertanya, walaupun rasa berani itu hanya sedikit saja.
__ADS_1
Melihat Dio menatapnya dengan dingin, wajah tanpa ekspresi, Shena langsung takut. Ya, Shena takut suaminya marah.
“Tapi kalau kamu nggak mau cerita juga nggak apa-apa kok, nggak masalah buat aku. Jangan marah ya,” ujar Shena dengan cepat, sebelum suaminya meluapkan rasa tidak senangnya akibat Ia yang penasaran.
“Lo boleh tau kok, dan lo emang punya hak untuk tau,” ujar Dio seraya mengubah posisi duduknya menjadi sedikit miring ke arah Shena yang duduk di sebelahnya.
Dio memutuskan untuk tidak langsung pulang dulu, Ia akan cerita pada Shena berhubung Shena juga sudah penasaran sekali.
“Amira bener udah bahagia sama laki-laki pikihan dia dan dia sekarang memang benar hamil,”
“Dia juga ngaku kalau dia pernah selingkuh dari gue, dan cowok selingkuhannya itu yang jadi suami dia sekarang. Jadi intinya adalah, apa yang dibilang sama Mama Papa gue itu benar. Dia nggak sebaik yang gue pikirin selama ini. Dia udah khinatin gue disaat gue cinta banget sama dia. Tapi ya udahlah, gue bakal belajar untuk terima kenyataan ini. Dia bukan perempuan terbaik buat gue, buktinya dijauhin ‘kan sama Tuhan. Yang penting gue udah lega karena udah ngobrol sama dia,”
__ADS_1
Shena ikut lega mendengar cerita suaminya. Ia senang ketika Dio sudah mau belajar untuk menerima kenyataan bahwa wanita yang dicintai telah memilih orang lain sebagai teman hidupnya.
“Setidaknya gue nggak bakal berharap lagi dia datang, gue nggak mau lagi mikirin dia, karena dia udah bahagia sama suaminya. Dia bahagia sama hidupnya yang sekarang tanpa gue. Harusnya gue juga bisa sih,”
Shena tersenyum dan tanpa sadar matanya berkaca. Sebenarnya sedih melihat lelaki seperti Dio yang punya cinta begitu besar dikecewakan oleh wanita yang dicintainya itu. Sayang sekali Amira menyia-nyiakan cinta yang dio berikan untuknya. Tapi begitulah takdir. Maunya manusia belum tentu menjadi maunya Tuhan juga.
“Kamu hebat, Dio. Kamu mau terima kenyataan kalau sekarang kamu sama Amira udah punya jalannya masing-masing. Aku harap kalian sama-sama bahagia dengan jalan itu ya,” ujar Shena seraya mengusap bahu suaminya dengan lembut. Kemudian Shena menarik napas panjang, Ia hembuskan dengan kasar.
“Lo kenapa?” Tanya Dio ketika melihat istrinya tiba-tiba membuang napas seperti itu.
“Nggak apa-apa, aku ikut lega aja dengarnya. Aku senang kalian udah ngobrol, udah sama-sama terbuka,”
__ADS_1
“Lo senang gue sama Amira benar-banar udah nggak ada harapan lagi buat bareng?”
“Lho, kok kamu ngomongnya begitu? justru aku ikut sedih, aku menyayangkan sikapnya Amira yang udah ngecewain kamu, dia nggak menghargai cinta yang kamu kasih untuk dia. Tapi ya udahlah, ini ‘kan emang udah jalannya dari yang di Atas. Artinya kamu sama Amira emang nggak ditakdirkan untuk bareng-bareng. Amira udah bahagia sama hidupnya yang sekarang, semoga kamu juga ya,”