
Dio akan melangkah menaiki tangga tapi Ia melihat pintu penghubung ruang keluarga dengan taman dan kolam renang terbuka. Dan Ia juga bisa mendengar suara dua orang bicara dari sana.
Tanpa basa-basi Dio langsung mengubah arah langkahnya yang tadi mau ke tangga, sekarang justru berbelok mendekati sumber suara.
Setelah Ia tiba di depan pintu, Ia melihat Shena tengah berbincang bersama Bibi dengan mengenakan pakaian renang yang sudah basah kuyup dan duduk di kursi seraya memegang satu gelas berisi susu.
"Shena,"
Dio memanggil istrinya itu kemudian
melangkah mendekat pada Shena yang menoleh ke arahnya begitu dipanggil.
"Eh kamu ternyata,"
"Kamu berenang? kok berenang sih? bukannya tadi habis muntah ya?"
Dio bertolak pinggang menatap Shena dengan raut wajah yang datar tanpa ekspresi.
"Iya, aku emang lagi kepengen banget berenang dan lagi gerah juga, Mas. Emang nggak boleh ya?"
"Boleh aja sih, tapi udah dari kapan berenang? kalau udah dari tadi, sekarang juga kamu udahan berenangnya. Nanti kedinginan terus masuk angin apalagi ini udah masuk sore,"
"Baru nyebur sekali, kalau nggak percaya tanya aja sama bibi. Ini aku lagi ngabisin susunya dulu,"
"Itu susu apa?"
"Susu biasa aja, susu yang aku minum kayak biasa,"
Karena Shena sudah ada teman mengobrol, Bibi langsung pamit pergi meninggalkan sepasang suami istri itu.
Vano duduk di hadapan Shena menatap istrinya yang tengah menyeruput susu dalam diam sambil Ia mengunyah kue kering dari toples.
"Kenapa kamu ngeliatin aku? pengen minum juga?"
Dio menggelengkan kepalanya pelan. Ia hanya senang saja mengamati Shena makan dan minum.
"Mas, nanti temenin aku ke rumah sakit ya,"
"Hah? kenapa? kamu sakit lagi? mual lagi ya?"
"Nggak, tapi aku pengen periksa aja. Soalnya mama udah nyuruh aku untuk periksa. Tadi juga keluar flek lagi, makanya aku mau cek,"
"Hmm besok pagi aja kali ya? kalau sekarang kamu capek. Aku nggak mau cuma sendirian aja pas ke rumah sakit,"
"Ya iyalah jangan sendiri, Sayang. Aku yang bakal temenin kamu. Kalau pun sekarang juga nggak masalah kok. Apa mau sekarang aja?"
Shena menggelengkan kepalanya. Ia menatap mata Dio yang kelihatannya lelah sekali. Wajah Dio juga menunjukkan kelelahannya itu. Ia tidak tega bila harus mengajak Dio keluar, seharusnya Dio istirahat saja supaya rasa lelahnya hilang setelah satu harian Ia didera dengan banyak pekerjaan.
"Sekarang aja?" tanya Dio untuk memastikan sekali lagi. Sejujurnya Dio senang-senang saja kalau Shena mau periksa kandungan sekarang. Lebih cepat akan lebih baik. Mereka akan semakin cepat tahu hasil pemeriksaan Shena. Tapi Shena lagi-lagi menggelengkan kepalanya menolak. Akhirnya Dio setuju.
"Ya udah besok pagi aja ya, sebelum aku ke kantor aja,"
"Tapi kalau kamu mau ke kntor dulu ya nggak apa-apa. Nanti kapan kamu sempat, kamu tinggal balik ke rumah jemput aku terus kita sama-sama ke rumah sakit,"
"Ah nggak deh, Sayang. Aku mau dari pagi aja sebelum beangkat kerja ke kantor. Jadi aku kerjanya tenang deh,"
"Ya udah kalau begitu kita sepakat besok pagi sebelum kamu ke kantor ya?"
__ADS_1
Dio menjentikkan jarinya dan mengangguk. Shena menyudahi minum dan makannya. Ia akan kembali berenang, nanti kalau sudah puas, Ia akan menyudahinya.
"Jangan terlalu lama lagi di kolam, Shen,"
"Okay, aku nggak lama lagi kok,"
"Aku juga mau berenang ah,"
Dio menanggalkan pakaian kerja dan juga celananya menyisakan celana pendek juga singlet putihnya.
Shena terkejut karena suaminya benar-benar ingin bergabung dengannya di kolam renang. Ia pikir Dio akan langsung mandi dan bergegas ke atas tempat tidur untuk istirahat.
Setelah menanggalkan pakaian termasuk kaos kakinya, Dio langsung terjun ke dalam kolam renang.
"Mas, kamu kenapa ikut aku berenang sih? Aku 'kan lagi mau sendiri aja. Lagian kamu bukannya mandi terus istirahat, malah ikutan berenang. Orang nggak diajak juga,"
Dio tertawa karena istrinya mengomel. Ia tak merasa bersalah karena memang siapapun penghuni rumah boleh saja berenang di kolam. Ia ingin juga melihat Shena berenang, ditambah lagi Ia khawatir bila membiarkan Shena sendirian saja di kolam renang. Entah mengapa Dio tidak renang.
"Emang kenapa sih? aku 'kan pengen juga berenang,"
"Ih jangan, kamu nggak boleh ikutan berenang tau,"
"Lah emang kenapa?"
"Aku mau sendiri aja, Mas. Lagian kamu itu harusnya istirahat, kamu pasti capek 'kan? harusnya mandi terus langsung istirahat bukan malah ikut-ikut aku berenang,"
"Oh ceritanya lagi perhatian nih sama aku ya? kamu nggak mau aku kecapekan dan sakit makanya disuruh langsung istirahat aja habis pulang kerja,"
Dio menggoda istrinya yang langsung merotasikan bola matanya karena Dio menggoda sambil menjawil dagunya.
"Iya 'kan? kamu khawatir sama aku ya? kamu mau perhatian 'kan?"
"Iya kamu bukan sabun colek, emang siapa yang bilang kalau kamu sabun colek? nggak ada, Sayang,"
"Ya udah sana naik, aku nggak mau sama kamu,"
"Nggak ah, jangan ngatur deh, Sayang. Orang aku mau di sini aja,"
Shena berdecak kesal karena suaminya tidak mau mendengar apa katanya. Ia ingin Dio istirahat bukan berenang. Sementara Dio sendiri inginnya menemani istrinya berenang.
"Eh kita lomba yuk,"
"Nggak ah, aku nggak mau lomba sama kamu,"
"Kenapa, Shsn? takut ya?"
"Karena udah pasti aku kalah, tapi aku coba deh. Kali aja aku yang menang terus kamu kalah,"
"Oh nggak mungkin, Sayang, pasti aku lah yang menang,"
"Ya udah ayo kita buktiin aja sekarang, kamu nggak perlu sombong deh, kita liat hasilnya nanti,"
Dio tertawa lepas melihat istrinya menantang bahkan sudah bersiap-siap di posisinya.
"Kita langsung aja ya, Sayang? Kamu santai aja lomba main-main, jangan maksain okay?” Shena langsung menganggukkan kepalanya.
"Hitung dulu lah, jangan main asal langsung aja kamu, Mas,"
__ADS_1
"Okay ayo,"
"Satu,"
"Dua,"
"Tiga,"
Shena dan Dio mulai berenang untuk sampai ke ujung kolam renang. Di tengah perjalanan saja sudah bisa ketahuan siapa yang menang. Dio kelihatan memiliki ambisi yang begitu kuat untuk menang karena Ia benar-benar cepat. Sementara istrinya santai saja.
"Bolak balik ya, Sayang,"
"Okay,"
Begitu Dio sudah sampai di salah satu ujung, Ia menunggu Shena sampai dulu barulah kemudian mereka berenang lagi kembali ke titik dimana mereka memulai tadi.
Kali ini Shena tidak santai, tapi tetap saja akhirnya justru Dio lah yang menang.
"UHUUU MENANG!"
Seru lelaki itu seraya mengangkat kedua tangannya dan memukul permukaan air hingga naik ke atas tak sengaja mengenai wajah Shena.
"Ih Mas ya! masa aku dicipratin air!"
"Maaf-maaf nggak sengaja, Sayang. Maklum terlalu seneng soalnya,"
"Maaf ya untuk kamu yang kalah. Omongan aku barusan terbukti ternyata. Beneran aku yang menang dong, ihiw!"
"Iya deh iya. Selamat atas kemenangannya,"
"Nggak cukup kalau cuma selamat aja. Aku maunya lebih dari selamat,"
"Hah? maksudnya?"
Dio menunjuk pipinya sendiri sekaligus memajukannya juga agar bisa lebih dekat dengan Shena yang langsung memalingkan mukanya.
"Enak aja kamu. Aku nggak mau ah,"
"Eh yang kalah harus kasih hadiah ke yang menang,"
"Tadi aku udah bilang selamat. Itu 'kan hadiah,"
"Nggak mau itu hadiahnya, Sayang. Aku maunya yang lebih dong,"
"Yang lebih apaan?"
"Ya cium lah,"
Shena sengaja mengenai air ke wajah Dio membalaskan apa yang Dio lakukan tadi.
Kemudian Ia langsung bergegas ke tangga kolam untuk naik ke tepi. Dio segera menyusulnya. Tapi karena Shena tidak mau menuruti keinginannya barusan, Ia sengaja menahan Shena agar tidak berhasil naik ke tepi.
"Mas, minggir! aku mau mandi nih,"
"Sama aku aja gimana?"
"Nggak ah, kamu apa-apaan sih? aneh banget kamu,"
__ADS_1
"Kok aneh sih? aku 'kan cuma minta hadiah tapi kamu nggak mau kasih, terus aku ajakin berhemat kamu juga nggak mau,"