Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 149


__ADS_3

“Mas kenapa sih? Dia cemburu hanya karena aku simpan nomor Devan dan ngobrol singkat sama Devan tadi? Padahal obrolannya juga nggak yang aneh-aneh. Devan cuma minta simpan nomornya aja dan aku iyain. Kenapa kayak gitu aja cemburu?”


Shena baru kali ini dihadapkan dengan lelaki yang cemburu. Jadi Ia bingung harus bagaimana sekarang.


“Kamu cemburu beneran, Mas?”


“Ih pake tanya lagi,” batin Dio seraya membuang muka. Selesai menghilang di dalam air, Ia kembali timbul dan mendengar ucapan istrinya tentu membuatnya semakin kesal.


“Mas, aku minta maaf ya kalau kamu kesal karena aku,”


Dio sudah tiba di seberang Shena yang segera menyusulnya. Setelah Shena tiba di dekatnya, Dio hendak berenang lagi menjauhi Shena namun Shena menahan lengannya.


“Kamu marah sama aku?”


“Nggak, siapa yang marah?”


“Lah ini gayanya kayak lagi marah,”


“Nggak, biasa aja. Aku nggak marah,”


“Kamu beneran cemburu?”


“Ya iyalah, kamu masih nanya juga? Emang masih kurang jelas ya kalau aku tuh cemburu?”


“Okay-okay, aku minta maaf sama kamu. Tapi sumpah, aku sama Devan nggak ngobrolin hal yang negatif kok, dia itu chat aku minta supaya nomornya aku simpan. Ya udah aku simpan. Aku pikir nggak ada masalah simpan nomor teman. Dia ‘kan teman lama aku tuh, jadi aku langsung simpan aja nomornya,”

__ADS_1


“Nggak usah lah, ngapain kamu simpan nomor dia?”


“Ya karena dia teman aku, Mas,”


“Tapi aku curiga sama dia, Tha,”


Kening Shena mengernyit ketika mendengar ucapan suaminya. Ia benar-benar tidak paham kenapa suaminya merasa curiga kepada Devan.


“Bisa dijelasin alasan kamu curiga itu kenapa?”


“Dia suka tuh sama kamu, aku yakin. Dari cara dia bersikap, aku bisa nilai,”


“Kamu baru ketemu dia satu kali ‘kan? Kok langsung menyimpulkan begitu?”


“Ya keliatan lah, aku ‘kan cowok. Dan aku tau gimana gelagat cowok kalau lagi naksir sama seseorang,”


“Aneh masa bisa langsung bisa nilai teman aku suka sama aku padahal baru sekali ketemu. Mas Dio udah cemburu buta nih kayaknya,”


Shena menatap Dio yang saat ini memilih untuk menonton televisi. Shena menepuk kaki suaminya yang berbaring di ataa tempat tidur.


“Mas, daripada kita debat gara-gara orang lain nih mendingan kita keluar yuk cari angin segar,”


“Ayok, mau kemana?”


“Ya kemana aja terserah Mas deh, aku ikut aja,”

__ADS_1


“Ya masa terserah aku? Harusnya terserah kamu lah, kam kmau yang ngajakin,”


“Aku cuma ngajakin nah yang mutusin Mas aja, gimana?”


“Ya udah kalau aku yang mutusin gimana kalau kita dugem aja? Mau kan? Mau dugem?”


“Hah? Mas!”


Shena menukul lebgan suaminya yang baru saja mengajaknya untuk datang ke kelab malam senang-senang di sana.


“Mau nggak? Ntar dugem kita pas udah gelap,”


“Nggak usah aneh-aneh deh kamu, Mas. Kayak nggak ada tempat lain aja,”


“Ya kan untuk hilangin penat,”


“Aku nggak mau!”


“Serius? Padahal aku pengen ajak kamu dugem,”


“Jangan aneh-aneh kamu, Mas ah,”


“Dibolehin kok sama Mama tenang aja,”


“Aku yang nggak bolehin dan nggak mau! Bukan hilang penat kalau ke sana yang ada malah puyeng,”

__ADS_1


“Hahahaha serius amat kamu, Neng,”


Dio menjawil dagu istrinya yang menganggap bahwa ajakannya itu serius padahal tidak. Kemudian Ia mengecup bibir Shena sekilas.


__ADS_2