
“Shofea, Om datang nih, kamu lagi ngapain?”
Shofea digendong oleh Tania membukakan pintu rumah untuk menerima tamu yang datang. Kebetulan Shofea lagi berkunjung
“Asaalamualaikum,”
Dio dan Shena mengucap salam begitu pintu dibuka oleh Tania. Shofea langsung tersenyum lebar dan tangannya bergerak-gerak, seolah tengah bersorak sorai paman dan bibinya datang ke rumah.
“Cantik banget sih, hmm,”
“Udah mamam belum?”
“Udah, Aunty,”
“Huwaa mau gendong,”
“Gendong aja, Aunty,”
Tania langsung memberikan kain pelapis yang menjuntai dari bahu ke perutnya supaya Shena dan Dio bisa menggendong Shofea tanpa harus berganti baju, karena sudah ada yang melapisinya.
“Aunty kangen banget, padahal baru sehari ya kita pisah. Duh, Sayang, pengen bawa kamu balik deh,”
Shofea mengamati Shena yang bicara sambil tersenyum tipis. Mata Shofea yang sebening telaga menatap Shena dan itu membuat hati Shena menghangat nyaman.
“Eh makan dulu ya,”
Shena dan Dio duduk di ruang tamu. Shofea masih ada di gendongan Shena dan suaminya tak mau kalah ingin menggendong juga.
“Ih Mas nanti dulu,”
“Emang kenapa sih? Aku ‘kan pengen gendong, Sayang,”
“Iya nanti dulu, tunggu sebentar,” ujar Shena yang tidak mengizinkan suaminya menggendong keponakannya untuk sementara waktu karena Ia ingin puas dulu menggendong Shofea.
Tania bergegas menghampiri mereka setelah beranjak ke dapur minta tolong pada asisten agar membuatkan minum untuk Shena dan Dio yang sekarang datang. Tania sudah membawa kue toples lebih dulu ke meja ruang tamu dan minuman menyusul di belakangnya.
“Sampai malam ‘kan di sini? Kita makan malam aja dulu,”
“Nggak, Kak. Nanti mama nangis kejer kalau aku sama Shena nggak pulang-pulang sampe malam,”
“Duh si Dio ada-ada aja,” Tania tertawa mendengar ucapan adik iparnya barusan.
“Masa iya mama nangis kejer. Ah kamu nih suka ngaco kalau ngomong, Di,”
“Lah emang bener, Kak. Nanti mama bisa nangis kejer, ‘kan kasian kalau sampai nangis kejer karena aku sama Shena nggak pulang-pulang,”
“Bang toyib ya, Mas,”
“Iya, kamu Mba toyib,”
Tania terkekeh menggelengkan kepalanya mendengar lelucon antara Dio dan Shena yang saling melempar.
“Gantian aku yang gendong sekarang,”
“Okay, aku kasih nih, Shofea jangan nangis ya kalau digendong sama Om,”
“Nggak bakal lah, dia tau ini Omnya masa iya dia nangis, Sayang, nggak ada cerita tuh,”
Dio akan mengambil alih Shofea dari gendongan Shena namun anak itu merengek tapi Dio tetap mengambil alih dan detik itu juga Shofea menangis.
“Tuh kan nangis, Mas sih,”
“Kok aku, Bee? Nggak aku apa-apain,”
“Shofea emang kadang-kadang suka milih dia, Om, maafin ya,”
Dio akhirnya membawa Shofea beranjak berdiri. Ia timang-timang Shofea sambil Ia ajak Shofea berkeliling di sekitar rumah. Lama-lama Shofea berhenti menangis. Apa yang Dio lakukan berhasil membuat Shofea berhenti menangis. Tadi Shofea hanya tidak ingin lepas dari Shena tapi ketika digendong olehnya dan diajak berkeliling rumah, Shofea diam dan malah menikmati hal-hal baru yang kali ini Ia temui. Shofea sepertinya menyadari ada yang beda dari apa yang biasanya Ia lihat selama ini di rumah kakek dan neneknya. Kelihatan tatapan Shofea bingung dan mencari tahu.
“Shofea ini di rumah siapa sih? Bukan rumah Opa ya? Shofea kayaknya nyadar kalau ini bukan di rumah Opa,”
Shofea tiba-tiba saja terkekeh memperlihatkan gusinya yang kosong belum berpenghuni. Dio yang gemas menggertakkan giginya dan mencium pipi Shofea yang harum khas bayi.
“Pengen Om gigit boleh nggak?”
“Hmmm,”
“Oh boleh?”
Shofea bergumam dan itu Dii anggap sebagai jawaban. Dio mengapit pipi Shofea dengan kedua bibirnya dan Shofea bukan menangis justru tertawa. Dio jadi nyaman bercanda dengan Shofea. Kini mereka tengah berada di taman dan hanya berdua sehingga suasana hangatnya kian terasa.
“Wuih seger banget kita duduk di sini, Sayang,”
“Shofea, ikut Om aja yuk,”
“Hmm,”
Shofea lagi-lagi bergumam saja. Dio tahu itu hanya kebetulan tapi Dio senang karena Shofea seolah menanggapi ucapannya padahal belum tentu juga.
“Ayo ikut Om balik aja, Opa Oma kangen tuh sama kamu,”
“Hmm,”
“Dih, jawab mulu dia, pinter banget sih,”
Baru juga dibilang pintar, Shofea sudah mengeluarkan jurus sekali hembusan napas yang langsung membuat Dio melipat bibinya ke dalam.
Ya, Shofea buang angin. Dan itu membuat Dio diam sejenak, seolah meresapi aroma aneh yang masuk ke lubang hidungnya.
“Bukan main anaknya Abang ya, pinter banget, gue dikentutin,”
Dio mengapit pipi Shofea lagi dengan kedua bibirnya. Dio benar-benar gemas dengan anak itu. Rasanya tidak ingin berhenti menggendong dan mengajaknya bicara.
Dio membawa anak itu ke ruang tamu lagi dan tentu mamanya Shofea harus tahu kalau anaknya itu hebat sekali. Dia bisa buang angin ketika dalam gendongan Dio, paman yang begitu menyayanginya.
“Nih Kak anaknya, aku serahin, aku ngambek gegara dia ngentutin aku,”
“Hah? Serius, Di? Maaf-maaf, Di,”
“Ya Allah, Shofea nih nggak sopan ya. Masa Om nya di kentutin? Nanti nggak disayang lagi lho,”
“Nggak apa-apa, Kak, santai,”
“Nggak ngambek beneran ‘kan, Di?”
Dio tertawa dan Ia menggerakkan tangannya beberapa kali. “Nggak lah, Kak,” ujar Dio masih dengan tawanya.
“Ah syukurlah, maaf ya, Di. Shofea agak-agak nakal nih,”
“Sama kayak bapaknya. Hobi kentutin orang,”
“Duh, keturunan berarti,”
“Kakak emang selama ini aman dari serangan kentut abang?”
“Nggak juga sih,” ujar Tania seraya tertawa. Justru sering sekali Ia mengomeli Sehan kalau buang angin sembarangan.
“Jangan mau dikentutin, Kak. Tabok aja belakangnya biar nggak seenak jidat kentut,”
“Ya kalau aku tabok, takutnya dosa, Di, biar gimana juga dia suami,”
“Kamu ngomongin Abang, Mas. Kamu sendiri aja begitu,”
“Ssstt! Kamu jangan terlalu jujur dong,” Dio menatap istrinya tajam seraya mendekatkan telunjuk di depan bibir.
“Nggak hanya wajah dan sifat yang mirip, tapi kebiasaan pun mirip ya,”
“Tapi parahan Abang, seriusan deh, Kak,”
“Intinya sama aja, adikku,”
“Beda dong, Kak. Dia parah banget kalau kentut di deket aku. Udah gede suaranya, bau pula,”
*****
“Ini ada imbalan ya, Bee. Kamu harus bayar pokoknya,”
“Emang Mas mau apa imbalannya? Mudah-mudahan aku bisa bayar,”
Dio dihubungi oleh sang istri yang tiba-tiba ingin pergi ke toko buku. Dio yang kebetulan sedang lengang, tentu tidak menolak permintaan Shena. Tapi Dio tetap minta imbalan sebagai bentuk ucapan terimakasih karena sudah mau menemani Shena ke toko buku untuk membeli novel dan buku-buku lainnya seperti buku nama bayi, buku berisi bagaimana cara mendidik anak dan buku dengan isi menarik lainnya.
“Aku mau cium,”
“Hah? Cium? Kenapa harus itu sih? Aku nggak bisa deh kayaknya,”
“Emang kenapa nggak bisa? Aku maunya cium, Sayang,”
Shena mencibir dalam hati. Ia pikir imbalan yang Dio maksud adalah uang, perhiasan, ponsel, atau barang-barang lain yang bernilai. Tapi ternyata Dio hanya minta ciuman.
“Yang bener aja kamu, Mas,”
“Ya emang kenapa? Kamu nggak mau kasih imbalan yang aku minta itu? Parah banget, masa suaminya minta—“
“Ya tapi aku mikirnya kamu minta imbalan yang lain gitu lho, Mas. Kayak uang misalnya. Lah ini cium,”
“Justru imbalan aku gampang ‘kan? Aku nggak minta yang susah-susah dan mahal, cukup sering cium aku aja sepanjang hari,”
“Ya kali sepanjang hari aku cium kamu, Mas, emang aku sama kamu nggak ada kegiatan lagi apa?”
“Sayang, jadi nggak mau kasih aku imbalan nih,”
“Ternyata kamu pamrih ya, Mas. Orangnya nggak ikhlas kalau nurutin maunya orang, ih aku nggak nyangka,”
Dio tertawa ketika Shena tengah menggerutu membicarakan dirinya yang minta imbalan setelah Ia memenuhi keinginan sang istri.
“Nggak apa-apa ‘kan kalau aku minta itu?“
“Nggak bisa, Mas. Kamu aneh-aneh aja sih,”
Dio berdecak kesal. Ia hanya meminta ciuman saja bukan hal lain, entah kenapa sulit sekali di anta Shena.
“Ya udah kalau nggak mau kasih deh, aku ngambek aja sekalian,”
__ADS_1
“Ya udah ngambek aja, aku nggak ladenin, nggak aku bujuk-bujuk juga,”
“Kurang asyem!” Dio mengerang kesal dalam hati.
“Padahal itu imbalan paling mudah dan nggak nyusahin lho,”
Shena segera menempelkan tangannya yang sudah Ia buat seperti kuncup bunga ke pipi Dio.
“Dah aku cium tuh,” ujar Shena yang baru saja menggunakan tangannya sebagai simbol bahwa Dio telah dicium olehnya, padahal tidak. Shena melakukannya terang-terangan pula.
“Apaan cuma tangan begitu,”
“Ya sudah kamu tutup mata aja dulu, Mas,”
“Aku nggak salah dengar, Sayang? Kamu nyuruh aku yang lagi nyetir gini untuk tutup mata? Seriusan?”
Shena tertawa menyadari kekeliruannya. Dio tengah mengendarai mobil yang membawa mereka ke rumah setelah beli buku di toko buku, Ia malah mengungkapkan permintaan agar Dio menutup matanya.
Kalau Dio menutup mata, tidak yakin sampai rumah bisa selamat. Bagaimana ceritanya mengendarai mobil malah disuruh tutup mata. Shena sepertinya terlalu semangat ingin membaca buku sampai tidak berpikir dulu apa dampak yang akan terjadi setelah Ia menyuruh Dio tutup mata. Tentu saja Dio tertawa lepas, Ia merasa ucapan istrinya itu adalah sebuah lelucon.
“Makasih udah temenin aku ke toko buku ya, setelah antar aku pulang ke rumah, Mas mau balik ke kantor atau nggak?”
“Nggak, ini udah sore,”
“Makasih ya, Mas,”
“Dua kali bilang makasih, nanti yang ketiga dapat piring cantik dan cinta spesial dari aku pake karet tiga ya,”
“Mas…Mas…ada-ada aja omongan kamu,”
“Mas, belok tuh, komplek sebelah kanan jangan Mas jalan terus,”
“Iya inget, Sayang. Emang kapan aku nggak ingat?”
“Mas pernah kelupaan lho, karena banyak pikiran ya, Mas?”
“Emang iya? Perasaan nggak deh, Sayang,”
“Iya, Mas. Kamu pernah kelupaan. Jadi mobilnya jalan terus padahal komplek ada di kanan, akhirnya kita muter balik. Kamu kebanyakan kerjaan kayaknya, terus abis itu masuk semua ke otak, akhirnya jadi begitu deh. Sampai letak rumah aja kelupaan,”
“Aku lupa deh sama kejadian itu, emang bener terjadi ya, Sayang?”
“Iya, Mas. Nggak mungkin dong aku bohong,”
“Kapan sih? Aku lupa banget,”
“Ya pokoknya kamu pernah begitu, Mas,”
“Woah berarti banyak yang dipikirin itu sampai-sampai lupa komplek rumah sendiri,”
“Makanya kalau ada yang ganggu pikiran kamu, jangan sungkan untuk cerita sama aku, Mas. Aku ini ‘kan teman cerita kamu, Mas,”
“Kerjaan aja yang aku pikirin, ngapain aku cerita ke kamu? Yang ada kamu stres sendiri, Shen,”
“Tapi kalau kamu cerita, beban pikiran kamu jadi berkurang, Mas, boleh kok ceritain apa aja, asal bukan tentang cewek, kayak Nada misalnya,”
“Wow emang kenapa tuh?”
“Ya nggak suka aja dengernya. Gerah gitu lho bawaannya,”
“Walaupun di bawah AC tetap gerah?”
“Tetap aja, Mas. Gerah bawaannya, dan pengen gerutu rasanya,”
Dio menghentikan laju roda mobilnya tepat di depan rumahnya. Ia segera melepaskan sabuk pengaman dan menoleh pada Shena yang duduk bersandar pasrah dengan mata terpejam.
“Lah tidur dia? Kok cepet banget sih?”
“Udah pasrah karena diserang ngantuk kayaknya nih,”
Dio segera mendekat ke arah Shena untuk melepaskan sabuk pengaman yang digunakan Shena namun ketika Ia hampir mencapai sabuk yang dijadikan pelindung itu, Shena tiba-tiba saja berseru sengaja mengejutkan Dio yang langsung berjengit kaget.
“Astaghfirullah, kamu apa-apaan sih, Sayang. Kenapa harus bikin kaget? Aku baru aja mau lepas seatbelt kamu,”
“Emang Mas kaget?”
“Pake tanya lagi,”
Dio melanjutkan niatnya tadi yang ingin melepaskan sabuk pengaman dari badan Shena. Setelah badan Shena terbebas, Ia langsung keluar dari mobil dan memutari bagian depan mobil untuk menyambut istrinya yang baru keluar dari mobil.
Dio segera merangkul bahu sang istri kemudian mereka berjalan masuk ke dalam rumah yang saat ini terasa sepi karena tiga penghuninya pergi sejak beberapa hari lalu ke tempat tinggal mereka sendiri.
“Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam, udah beli bukunya? Kok kayaknya cepet ya?”
“Iya aku nggak mau lama-lama, mama, takutnya Mas Dio nggak betah nungguin aku,”
“Padahal aku mah betah-betah aja lho, Shen,”
“Tetap aku nggak enak sama Mas,”
Shena mengangguk ketika ibu mertuanya minta pendapatnya soal kebiasan laki-laki kebanyakan kalau menunggu orang belanja pasti akan mudah bosan dan Shena tidak mau kalau sampai Dio seperti itu,
“Emang selama ini aku pernah begitu ya?”
“Nggak sih, tapi aku berusaha nggak lelet, Mas, supaya Mas nggak nunggu terlalu lama,”
“Kamu beli novel, Shen?”
Shena segera membuka tote bag dari toko buku yang isinya beberapa buku. Buku-buku itulah yang akan Ia baca disela waktu luang nantinya. Shena semakin tak sabar. Semakin besar usia kandungan, Ia semakin susah untuk melakukan apa-apa karena dijaga ketat oleh orang di rumah dan akhirnya memilih buku lah sebagai hiburan.
“Nggak cuma novel aja, Ma, ada buku-buku yang lain,”
“Cepet juga kamu milihnya ya,”
“Iya, sat set sat set milihnya abis itu jadi deh,”
“Aku naik dulu ke kamar, tapi aku nggak mau mandi,”
Dio berlalu begitu saja meninggalkan istri dan juga bundanya yang terheran-heran. Tidak biasanya Dio tidak mau mandi.
“Kenapa itu anak? Kok tumben nggak mau mandi katanya. Lagi nggak enak badan dia, Shen?”
“Nggak, Ma, Mas Dio sehat-sehat aja Alhamdulillah. Tapi aku samperin dulu deh, takutnya beneran nggak enak badan,”
Ardina menganggukkan kepalanya dan Shena segera mengayun langkahnya menaiki satu persatu anak tangga.
“Naik aja pelan-pelan, Shen, jangan terlalu cepat,”
“Siap, Ma,” sahut Shena seraya menoleh dan bersikap hormat. Shena melangkah sambil berpegangan supaya aman.
Setelah tiba di anak tangga paling atas, Ia menghela napas lega. Tanpa basa-basi Ia masuk ke dalam kamar dan suaminya tengah duduk bersandar di sofa.
“Mas, tumben nggak mau mandi? Emang kenapa?”
“Nggak apa-apa, males aja, eh tapi mau mandi deh, kayaknya nggak bakal betah,”
“Aku kira Mas lagi kurang sehat makanya nggak mau mandi,”
“Aku sehat, Bee, tapi nggak tau kenapa malas aja gitu,”
“Tumben, malas kenapa?”
“Nggak tau,”
“Lemes, Mas? Kecapekan kali ya,”
“Kayaknya sih begitu,”
“Ya udah nggak usah dipaksa kalau emang malas, tapi ganti baju aja biar enakan,”
Shena langsung bergegas mengambilkan baju ganti untuk Dio yang tidak biasanya malas mandi selepas bekerja. Biasanya dia rajin sekali karena tidak nyaman tidur dengan badan yang tidak bersih.
Suara ketukan pintu membuat Dio terkesiap. Suara bundanya memanggil dari luar kamar dan itu langsung membuat Dio beranjak meninggalkan sofa untuk membuka pintu kamar.
“Kenapa, Ma?”
“Itu ada undangan dari Jerry, siapa Jerry?”
“Jerry temannya Agatha itu? Undangan apa, Bun?”
“Undangan sunat!”
Dio terbahak karena sang bunda menyakitinya dengan ketus. Seharusnya Dio sudah bisa menebak bahwa undangan yang diberikan kepadanya adalah undangan pernikahan. Undangan sunat sangat kecil sekali kemungkinannya.
“Undangan nikah lah, Di,”
“Oh dia mau nikah ternyata. Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu,”
Ardina menatap anaknya dengan aneh. Dio kelihatan senang sekali yang namanya Jerry menikah.
“Kamu kenapa girang bener? Emang kenapa?”
“Dia ‘kan pernah deket sama Shena, Ma, waktu masih kuliah sih, kalau sekarang mah temenan aja,”
“Ya ampun, segitunya kamu ya. Senang banget temannya Shena nikah?”
“Senang lah, Bun, aku kurang saingan. Tinggal si Arun lagi nih yang belum kawin-kawin juga,”
“Nikah! Baru kawin,”
“Iya maksudnya nikah, tau deh kapan dia nikah tuh. Padahal aku nggak sabar juga dia nikah, biar nggak ada lagi tuh yang deket sama Shena,”
“Jadi temenan sama Shena pun nggak boleh?”
“Ya boleh, Ma, tapi mereka itu kan pernah deket sama Shena, jadi otomatis beda lah sama temen yang lain,”
“Oh iya paham-paham,”
“Mana undangannya, Ma?”
__ADS_1
“Astaghfirullah Mama lupa. Masih di bawah undangannya, nggak kebawa sama Mama,”
“Ya udah nggak apa-apa, nanti aku ambil, Ma. Terimakasih untuk infonya ya, Ma,”
“Okay, Mama turun dulu,”
Dio langsung masuk lagi ke dalam kamar dan mengunci pintunya sementara Shena baru saja selesai mengambil baju di walk in closet.
“Aku mandi duluan ya, Mas,”
“Okay silahkan,”
“Makasih ya,”
Shena akan masuk ke dalam kamar mandi namun suaminya memanggil hingga Ia menahan langkah kakinya.
“Jerry mau nikah tuh,”
“Jerry siapa? Temennya si Tom?”
“Tom siapa lagi? Kamu punya temen deket namanya Tom?”
“Maksud aku Tom and Jerry, Mas. Kok jadi bahasa yang lain sih,”
“Oh lagi ngajak bercanda rupanya. Aku lagi serius nih, bee. Jerry nikah. Aku seneng banget deh, akhirnya sebentar lagi dia punya pasangan juga,”
“Mas tau darimana?”
“Tadi nggak denger mama ngomong apa?”
Shena menggelengkan kepalanya polos. Ia tidak sempat mendengar ibu mertuanya mengetuk pintu setelah itu tidak mendengar apa-apa lagi. Ternyata Ardina datang ke kamar ingin memberikan kabar bahagia itu.
“Dia antar undangan, Bee. Dia nikah sama siapa tuh? Yang pernah dia ceritain ke kamu lagi pedekate?”
“Nggak tau, Mas. Dia ‘kan belum cerita apa-apa,”
“Kita hadir atau nggak kira-kira?”
“Kata aku, hadir aja, Mas. Dia baik soalnya,”
Dio menganggukkan kepalanya setuju. Justru kali ini Ia senang sekali ingin datang ke acara pernikahan Jerry yang akhirnya mau melepas masa lajang.
“Kamu senyum aja, Mas. Kenapa sih? Kayak yang antusias gitu pas cerita kalau Jerry mau nikah,”
“Iya biar saingan aku berkurang,”
“Ya Allah, emang selama ini kamu merasa punya saingan?”
“Iya kalau sama yang aku anggap terlalu mepet sama kamu pasti aku agak-agak cemburu. Ya wajarlah, namanya juga cinta, iya nggak?”
“Kalau dia udah nikah gitu, kamu tetap cemburu?”
“Ya nggak sih kayaknya, asal menurut aku nggak berlebihan aku pasti nggak akan cemburu,”
******
Shena duduk bersandar di kepala ranjang sambil terus mengusap perutnya dengan lembut. Dengan Ia memperdengarkan surah-surah dari kitab sucinya, ada reaksi yang diberikan dari dalam perutnya yang membuat Shena tersenyum senang.
"Ayo tendang terus, Sayang, mama tungguin, tapi kalau bisa jangan terlalu kencang-kencang ya, agak sakit soalnya. Agak kok, nggak sakit banget," ujar Shena mengajak calon dua anaknya mengobrol. Padahal rasanya cukup sakit tapi Shena hanya mengakui sedikit. Harapannya mereka makin aktif bergerak. Kalau mereka aktif, Shena senang sekali. Walaupun Ia harus merasakan nyeri yang cukup mengganggu, bahkan ketika tidur sekalipun mereka tidak sungkan mengganggu.
Hanya saja Shena bersyukur dengan momen-momen yang Ia rasakan selama mengandung sekarang ini. Nanti kalau kedua anaknya sudah lahir Ia pasti akan rindu dengan momen dimana ketika Ia tengah mengandung mereka berdua. Belum tentu juga momen itu akan kembali terulang.
Karena Shena masih pikir-pikir ulang alias menimbang supaya dapat keputusan yang tepat ingin menghadirkan anak lagi nantinya setelah dua anaknya sudah agak besar, atau justru merasa cukup dengan dua anak.
Kalau dari Dio sendiri sebagai suaminya menyerahkan keputusan pada Shena, hanya saja Dio juga punya keinginan tapi dia tidak mau memaksa.
"Mas, aku sama kamu punya anak berapa ya?"
"Kalau yang Insya Allah coming soon 'kan dua, Bee,"
"Iya maksud aku, menurut Mas, aku hamil lagi atau nggak usah ya,"
"Kalau aku sendiri sih sebenarnya pengen satu lagi. Tapi terserah kamu. Aku nggak mau paksa kamu, Bee. Kalau seandainya kamu cukup dua, ya nggak masalah, aku nggak akan kecewa apalagi sampai maksa. Aku tau hamil dan melahirkan itu nggak mudah banget, jadi aku serahin semuanya ke kamu,"
"Tapi Mas pengen banget ya?"
"Kalaupun pengen, ya nggak harus punya, Sayang," ujar Dio seraya tersenyum lembut. Dio tidak mau istrinya merasa terbebani dengan keinginannya untuk punya anak lagi alias tambah satu anak setelah yang dua lahir dan usianya sudah pantas untuk memiliki adik.
"Kita kalaupun punya juga tunggu yang dua ini agak gedean ya, Mas. Lima tahun kali ya biar pas,"
"Iya aku juga setuju. Jadi mereka berdua bisa puas dulu dapat perhatian dari kita,"
Shena terbangun dari lamunannya yang tengah mengingat momen dimana ia dan Dio membicarakan perihal anak mereka.
"Mas, kamu udah perginya?"
Dio masuk ke dalam kamar dan langaung disambut dengan pertanyaan itu dari sang istri.
"Iya udah, Bee. Kamu lagi ngapain?kenapa perutnya dipegang-pegang? kamu sakit?" tanya Dio.
Setelah lelaki itu membasuh tangan di kamar mandi Ia duduk di sebelah Shena yang belum selesai juga mengusap perutnya sendiri.
"Sakit perut, Shen?"
"Nggak kok, Mas,"
"Oh lagi pakai belly buds," gumam Dio setelah menemukan alat untuk memperdengarkan lantunan ayat-ayat suci kepada anak mereka dengan cara direkatkan dengan perut Shena.
"Iya, lagi ajak anak aku ngobrol juga,"
"Jangan lupa dong, itu anak aku juga lho, Bee,"
"Astaghfirullah bolak balik ngomong itu mulu ya,"
"Ya lagian kamu ngomongnya anak aku terus, aku nggak terima lah,"
Shena terkekeh geli mendengar celotehan sang suami. Dio paling tidak terima kalau Shena mengatakan 'anak aku'. Dia benar-benar tersinggung karena eksistensi nya sebagai ayah seperti tidak dianggap oleh Shena, padahal terkadang Shena itu kelepasan, maka dari itu Ia menyebut bahwa anak yang di perutnya itu adalah anaknya saja.
"Iya aku suka keceplosan, maafin ya,"
"Okay, aku maafin, Sayang,"
"Alhamdulillah dimaafin juga sama orang ganteng,"
"Ya elah, bisa aja orang cantik,"
Dio ingin membaringkan kepalanya di atas pangkuan Shena yang duduk meluruskan kakinya.
"Kira-kira kamu pegal nggak kalau aku dipangku kayak begini?"
"Hmm nggak sih,"
"Yang bener?"
"Beneran," sahut Shena cepat. Meskipun sebenarnya pegal sekalipun tidak begitu lama Dio sengaja menumpukan kepalanya di pangkuan dirinya, tapi tetap saja Shena tidak enak hati mengatakan yang sejujurnya pada Dio.
"Ya udah bagus deh,"
Dio beranjak meninggalkan pangkuan sang istri dan itu membuat Shena bingung. Ia pikir Dio nyaman dan akan bertahan lama di atas pahanya, namun ternyata tidak, lelaki itu memilih beranjak.
"Lho, kok bangun, Mas?"
"Iya, aku nggak tega ah, aku yakin kau pasti pegel cuma kamu nggak mau jujur karena nggak enak sama aku. Iya 'kan?" tebak Dio seraya menjawil dagu sang istri yang segera terkekeh dan menangkap jari Dio kemudian ia gigit pelan.
"Kamu sok tau, Mas,"
"Lah emang bener. Kamu 'kan orangnya nggak enakan, Bee,"
"Ah masa iya?"
"Iya! kamu orangnya nggak enakan banget sama orang lain, terlalu mikirin orang, terus jadi suka lupa sama diri sendiri,"
"Ah Mas nih suka ngarang-ngarang aja,"
Dio yang gemas mendengar elakan dari Shena terus akhirnya mencubit pipi Shena yang semakin berisi saja.
"Ih Mas sakit tau!"
"Emang iya? maaf, Sayang, aku gemes abisnya,"
"Nggak deh, aku bercanda aja kok, kenapa cubit pipi aku terus? gemes ya,"
"Oh tentu saja, bestie, aku gemes banget sama pipi kamu yang makin ndut,"
"Waduh, bestie nggak tuh,"
"Di kantor aku sering denger antar karyawan ngomong begitu. Aku 'kan ketinggalan terus soal update bahasa gaul gitu ya, awal-awal aku belum paham terus habis itu aku paham deh setelah sering denger,"
"Itu 'kan udah lama, Mas,"
"Iya ya? tapi aku belum lama ini taunya deh kayaknya,"
"Masa iya? udah lama deh itu kayaknya. Aku juga denger dari karyawan-karyawan aku dan juga baca di komen instagram orang awalnya. Kayaknya sih begitu,"
"Okay bestie,"
“Jangan bestie dong kan kita suami istri, ah kamu kenapa cuma anggak aku bestie sih,”
"Yah ampun. Biasalah, cewek emang suka baperan, udah nggak heran 'kan, salah panggilan aja padahal,0
"Eh cewek yang Mas maksud itu aku bukan?"
"Iya, kamu termasuk salah satunya,"
Shena mencubit paha Dio hingga lelaki itu meringis. Dio tidak menduga istrinya akan berbuat seperti itu, kalau Ia menduga, Ia sudah pasti menghindar.
"Sayang, jangan galak-galak lah, aku 'kan takut jadinya, lagian anak kita juga takut nanti lho. Kalau mereka nggak mau lahir gara-gara takut diomelin sama kamu gimana?"
"Eh Mas nih kalau ngomong suka ngelantur kemana-mana ih! aku nggak mau ah,"
"Ya 'kan aku cuma bilang aja ke kamu, supaya kamu tuh nggak galak sama aku, Shen,"
__ADS_1