Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 114


__ADS_3

Dio meraih tangan sang istri kemudian diciumnya dengan berkali-kali. Dio merasa bersalah pada istrinya yang telah Ia buat kalang kabut tadi.


Kesalahannya ada dua. Yang pertama tidak memberitahu istrinya bahwa Ia ingin ke rumah sakit dulu sebelum pulang ke rumah. Dan yang kedua, Ia malah lama-lama di rumah sakit karena terlalu asyik bermain game.


"Ya udah sana mandi, biar seger, terus istirahat,"


"Okay aku mandi dulu. Tolong mandiin mau nggak?"


"Dih, enak aja! mandi sendiri sana!"


Dio terbahak karena Shena melotot tajam kepadanya. Saat tangan Shena akan bergerak mencubit pinggangnya, Dio langsung berlari masuk ke dalam kamar mandi tapi sayang malah ditimpa musibah. Dio terjatuh di lantai kamar mandi hingga benturannya terdengar sekali.


Shena langsung bergerak cepat untuk melihat keadaan sang suami. Ia bersyukur Dio masih sadar, ia pikir Dio sampai tak sadarkan diri dan Ia bersyukur karena suaminya terjatuh dengan posisi duduk.


"Makanya jangan bercanda aja kamu tuh! akhirnya jatuh 'kan. Kamu nggak bisa diam banget sih, kebiasaan suka bercanda nggak tepat waktunya. Kalau mau mandi harusnya mandi aja nggak usah kebanyakan gaya,"


Sembari membantu suaminya bangun, Shena mengomeli Dio yang memang kerap sekali berlari kalau menghindar darinya sesudah bercanda dan baru kali ini kena batunya.


"Aku nggak bercanda, Sayang. Aku tadi mau masuk kamar mandi abis itu langsung jatuh, aku aja kaget kok,"


"Kamu bercanda lah. Lupa ingatan kali ya? kamu minta mandiin sama aku terus malah lari akhirnya jatuh 'kan,"


"Ya aku lari karena takut kamu gebuk,"


"Nggak bakalan digebuk, paling cuma dicubit aja, ya harusnya nggak perlu lari-larian lah. Udah tau mau masuk kamar mandi eh malah lari, kamar mandi itu licin bekas air kalau kamu salah langkah dikit atau lari dikit aja udah bisa bikin jatuh. Sering 'kan dengar orang yang jatuh di kamar mandi itu nggak ketolong lagi? itu saking bahayanya jatuh di kamar mandi. Kalau nggak salah keluarga jauh aku aja abis jatuh dari kamar mandi langsung--maaf--meninggal, beliau nggak ketolong lagi. Entah apanya yang kena, intinya setelah jatuh itu 'kan langsung dibawa ke rumah sakit lagi, tapi sayangnya begitu sampai rumah sakit nyawa nya udah nggak ada, beliau nggak ketolong lagi,"


"Ih Sayang, jangan ngomong begitu dong,"


Mendadak Dio takut apa yang dikatakan Shena istrinya terjadi juga padanya. Tidak-tidak, Ia masih ingin hidup, Ia tidak mau mati dulu sebab dosanya banyak sekali dan Ia masih belum puas hidup bahagia dengan Shena.


"Aku cuma kasih peringatan ke kamu supaya hati-hati. Itu juga jadi peringatan untuk aku. Karena bukan sekali dua kali aja aku dengar cerita persis kayak keluarga jauh aku itu,"


"Duh pinggang aku sakit,"


Shena belum berhasil membuat suaminya beranjak berdiri dengan sempurna. Saat akan dibantu berdiri, Dio justru terduduk lagi karena pinggangnya nyeri.


"Aku ambil minyak dulu deh, kamu diam aja dulu di sini, jangan dipaksa untuk bangun,"


Shena meminta agar Dio suaminya tak beranjak sedikit pun dari tempat dimana ia terjatuh. Dan Shena langsung mengambilkan minyak untuk keseleo atau nyeri.


"Semoga ini bisa ngurangin rasa sakitnya," gumam Shena yang berdoa agar apa yang Ia balurkan di pinggang ken bisa menjadi obat untuk suaminya itu.


"Makasih ya, Sayang,"


"Sama-sama,"


"Aku sebenarnya nggak apa-apa kok. Kamu jangan khawatir. Cuma ini lagi nyeri aja, namanya juga baru jatuh 'kan,"


"Aku mau tanya, kepala kamu aman 'kan?"


"Aman, aku jatuh duduk,"


"Tapi nggak kebentur sama pintu?"


"Nggak, tadi pintu sempat kena lengan aja pas jatuhnya jadi suara benturan makin kedengaran ya, suara badan aku yang jatuh ditambah lagi sebelumnya lengan aku kena pintu,"


Shena memeriksa lengan Dio. Tidak ada luka hanya sedikit memerah saja dan Ia segera mengoleskannya dengan minyak.


"Hadeh, ada-ada aja sih. Kalau aku nggak bisa bangun gimana nih, Sayang?"


"Ssst! nggak boleh ngomong gitu. Aku panggil dokter biar cek kamu ya,"


"Nanti dulu, bantuin aku bangun dulu, Sayang,"


Shena mengangguk dan Ia segera melingkarkan tangan sang suami di bahunya. Dio segera berusaha untuk beranjak bangun dan kali ini berhasil. Dio maupun Shena bisa menghela napas lega karena Dio bisa berdiri bahkan berjalan menuju ranjang.


"Sayang, aku pikir aku bakalan lumpuh lho,"


"Eh ngomongnya! bisa nggak sih jaga omongan? kamu tau 'kan yang keluar dari mulut itu bisa jadi doa lho,"


"Astaghfirullah jangan sampai deh,"


Shena segera mengangkat kedua kaki suaminya agar baik ke atas tempat tidur. Setelah kaki Dio berada di atas tempat tidur dengan posisi lurus, barulah Shena tersenyum.


"Aku panggil dokter dulu,"


"Nggak usah lagi lah, aku baik-baik aja kok,"


"Ih takutnya bagian dalam kamu kenapa-kenapa,"


"Nggak, Sayang. Insya Allah aku sehat. Ini karena baru jatuh jadi masih kerasa sakit,"

__ADS_1


"Sayang, maafin ya, jangan marah udah repotin kamu,"


"Apaan sih kamu. Kenapa ngomongnya begitu coba? nggak boleh! aku nggak merasa direpotkan kok,"


Dio tidak bersedia didatangi oleh dokter dengan dalih "Nggak mau nyusahin dokter. Nanti kerjaan dokter jadi nambah, kasian deh dia sama keluarga,"


Dio tidak mau sudah divonis sakit ini atau ini pasca jatuh jadi akan lebih baik Ia tidak bertemu dengan dokter langganan yang selalu setia hadir bila dan di waktu mendesak juga seperti itu.


Karena Dio tidak mau diperiksa dokter, akhirnya jalan satu-satunya adalah hanya mengandalkan minyak oles saja dan juga kompres air hangat di pinggang suaminya. Dan Dio mengaku keadaannya semakin membaik. Ken bersyukur sekali Shena mau dibuat repot.


"Coba aja kalau aku tadi cuma sendiri aku nggak tau minta tolong sama siapa soalnya aku masuk kamar mandi 'kan nggak bawa handphone segala,"


"Ya udah istirahat aja sekarang, Mas,


"Sayang, tapi aku belum jadi ganti baju nih,"


"Ya udah sini aku gantiin,"


Dengan mudah Shena menawarkan dirinya sendiri sebagai pengganti baju sang suami. Ke tentu saja terkejut dan tidak yakin istrinya akan benar-benar melakukan itu. Entah kenapa Ia sulit percaya atas kemauan Shena yang tak sungkan ingin menggantikan bajunya.


"Kamu yakin? aku sih nggak yakin. Lagipula aku belum mandi, Sayang,"


"Ya udah mandi nanti aja kalau emang enakan. Sekarang aku gantiin baju kamu biar seger nggak ngerasa agak-agak lengket karena keringat,"


"Tapi tetap nggak nyaman kalau belum mandi. Sekalipun udah ganti baju sih, pasti agak beda aja kalau ada belum mandi. Kamu setuju nggak?"


"Ya terus gimana? kamu bakal terus nggak ganti baju selama kamu sakit pinggang?"


"Ya nggaklah, bentar lagi kalau emang udah bisa aku bakal bangun pelan-pelan untuk mandi,"


"Jangan dipaksain, Mas. Nanti pinggang kamu makin sakit,"


"Ya nggak aku paksa kok. Nanti aku bisa bangun pelan-pelan,"


Shena berinisiatif untuk memijat pelan-pelan kaki suaminya dan itu membuat Dio terkekeh.


"Sayang, aku sakitnya di pinggang lho,"


"Iya nggak apa-apa kali aja kaki kamu jug sakit. Aku agak takut pijat pinggang, takut makin sakit kalau aku pijat,"


"Iya jangan, repotin juga," ujar Dio.


"Nggak ngerepotin lah, kamu nih ngomong apa sih, aku nggak suka ah kalau ngomong suka ngelantur,"


"Kamu yakin bisa mandi, Ken? kata aku mending ganti baju aja dulu,"


"Bisa kok, ini udah enakan,"


Dio berdiri dan langsung berjalan ke kamar mandi, ketika istrinya akan membantu, Ia tak mengizinkan.


"Aku nggak mau jadi cowok manja,"


"Ya elah cowok manja gimana sih, orang lagi sakit,"


"Pelan-pelan aja mandinya, Dio. Sambil duduk aja, mau nggak? aku ambilin kursi lipat nih,"


Dio tertawa, Ia sudah seperti orang renta saja yang mandi sering dengan kursi lipat.


"Ngelawak mulu nih,"


"Aku serius, mau nggak? biar aku ambilin kursi lipatnya,"


"Nggak-nggak, aku kuat berdiri. Udah nggak sakit lagi nih pinggang,"


"Ya udah bagus. Bokong nggak sakit?"


"Nggak lagi, udah aman, dah ya aku mau mandi. Aku tutup pintunya,"


Shena segera menganggukkan kepalanya membiarkan suaminya menutup pintu kamar mandi.


"Mas suka ada-ada aja. Segala ada acara jatuh segala. Nggak bisa diem sih," gumam Shena seraya mencari pakaian untuk suaminya yang nanti akan Ia kenakan selepas mandi.


Dio keluar dari kamar mandi dengan keadaannya yang sudah segar beda dari sebelumnya.


Shena bisa menghela napas lega karena melihat suaminya tidak kesakitan lagi. Dia sudah biasa saja ketika melangkah.


"Gimana? udah sehat-sehat aja?"


"Iya dong, aman kok,"


Shena menyerahkan pakaian untuk suaminya yang langsung mengenakannya dengan cepat di kamar, bukan di walk in closet.

__ADS_1


"Duhx ganti baju dimana sih harusnya? kok di depan aku?!"


Shena tadi langsung memalingkan wajahnya ketika Dio yang mengenakan handuk hingga betis membelakanginya dan langsung mengenakan baju dan celana.


"Yang penting aku nggak buka handuk di depan kamu,"


"Ya tetap aja salah tau!"


"Ya udah sih, Sayang. Nggak apa-apa. Yang penting di depan kamu aja bukan di depan yang lain. Kalaupun keliatan ya udah liat dengan senang hati--"


"Mulai deh ngelantur omongannya,"


Dio tertawa lepas dan itu mengundang decakan kesal Shena. Dio sepertinya sudah lupa tadi dia baru saja meringis kesakitan karena jatuh. Sekarang dia sudah bisa tertawa lepas.


"Ketawa deh. Tadi aja kesakitan,"


"Ya Alhamdulillah bisa ketawa, Sayang. Daripada kesakitan mulu. Kamu maunya aku kesakitam terus ya? jahat banget dong kalau kayak begitu,"


"Ingat ya, Mas. Kamu jangan ngulangi yang kayak tadi lagi. Kamu kalau mau bercanda ya bercanda dulu jangan lari-larian ke kamar mandi,"


"Tapi aku yakin kamu bakal nabok aku gara-gara aku bercanda kayak tadi makanya aku lari aja karena jujur deh, Sayang. Tabokan kamu tuh wow banget, cubitan kamu juga begitu,"


"Ya makanya kalau nggak mau ditabok atau dicubit jangan bercanda yang ngelantur. Ngapain coba kamu minta dimandiin sama aku. Nggak jelas banget bercandaanya,"


"Biar kamu kesel aja tujuannya,"


Dio mencium singkat bibir istrinya yang sejak tadi mengomeli dirinya karena terjatuh usai berlari masuk kamar mandi.


"Kamu khawatir nggak sih?"


Shena akan keluar dari kamar untuk makan tapi suaminya melontarkan pertanyaan seperti itu. Seharusnya tanpa ditanya, Dio sudah tahu jawabannya apa.


Kalau Ia tidak khawatir, Ia akan tidak peduli pada Dio yang kesakitan tadi. Ia tinggal saja Dio. Tapi kenyataannya Ia langsung menghampiri Dio dengan perasaan khawatirnya. Ia sudah takut terjadi sesuatu pada Dio. Malah hati dan pikirannya sudah takut Dio tak sadarkan diri. Tapi bersyukurnya Dio tidak apa-apa.


"Masih tanya aja? Dimana mata kamu tadi, Mas? emang kamu nggak liat gimana khawatirnya aku tadi? hmm?"


"Oh khawatir ternyata. Alhamdulillah dikhawatirin si cuek dan nyebelin,"


"Kamu nggak liat aku khawatir banget tadi? aku sempat mikir kamu pingsan tau nggak?"


"Sampai mikir kayak begitu, Sayang?"


"Ya iyalah, pas liat kamu nggak kenapa-napa aku lega, walaupun masih khawatir juga karena kamu bilang pinggang kamu sakit,"


"Mana kamu sering dengar kejadian orang yang jatuh di kamar mandi langsung nggak ketolong ya,"


"Iya! bahkan keluarga aku aja ada yang begitu. Aku 'kan jadi takut,"


"Cie takut aku kenapa-napa cie,"


Shena memutar bola matanya jengah mendengar ledekan Dio padanya. Shena segera melanjutkan langkah keluar dari kamar dan Dio segera menyusulnya.


"Sayang, tolong bikinin aku susu boleh nggak?"


"Boleh, yang putih atau cokelat?"


"Campur,"


"Hah? dicampur?"


Dio menganggukkan kepalanya dan permintaan suaminya itu dianggap aneh oleh istrinya.


"Beneran campur cokelat sama putih?"


"Ya beneran lah, Sayang. Masa aku bohong sih,"


"Tapi emang enak?"


"Enak-enak aja jadi rasanya ada dua beragam yang kena lidah aku,"


Shena mengangguk tidak menolak permintaan suaminya yang kali ini minta dibuatkan susu campur antara cokelat dan putih. Bukan es campur tapi susu campur.


"Tunggu dulu bentar ya,"


"Okay, Sayangku, aku tunggu,"


Dio berhenti dan duduk di ruang makan sementara Shena langsung ke dapur untuk membuatkan susu yang diinginkan Dio.


"Mba, mau bikin apa? mual lagi, Mba?mau bikin teh hangat lagi, Bu?"


"Nggak, aku mau bikin susu untuk Mas Dio,"

__ADS_1


"Oh, biar saya aja, Mba,"


__ADS_2