Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 125


__ADS_3

Setelah cappuccino latte habis satu cangkir, sekarang Dio minta menu tambahan yaitu matcha latte dan juga hotdog setelah sebelumnya menikmati roti bakar.


“Lo nggak kenyang-kenyang, Di,”


“Iya masih lapar, liat menu kayaknya enak nih makan hotdog, emang kenapa sih, Bang? Rempong amat lo komen aja,”


“Gue cuma bingung aja, banyak juga makan lo ya,”


“Enang, kayak baru kenal aja,”


“Eh iya sih, lo itu kalau makan banyak banget, perut lo kayak terbuat dari karet,”


Dio tertawa dan Ia melemparkan garpu kecil terbuat dari plastik untuk menyantap roti bakar tadi ke arah abangnya itu.


“Lebay banget, nggak kayak gitu juga kali! Lo juga doyan makan banyak ya,”


“Iya sama-sama banyak udah,”


“Udah nggak pernah olahraga lagi,”


“Lo juga!”


“Iya kita sama. Makan banyak tapi olahraga malas setengah pingsan,”


“Sekarang apalagi, gue makin males keluar rumah kalau nggak bener-bener kepengen,”


“Kenapa? Karena ada Shofea ya?”


“Iya, bawaannya pengen main terus sama dia,”


Dio mengangguk dan Ia menyadari kalau abangnya memang semakin jarang pergi dari rumah semenjak anaknya hadir.


“Emang nyaman di rumah ya, Bang?”


“Yoi, lebih enak di rumah, sekalinya pergi malah nggak tenang karena ada yang ditinggal, lebay ya, Di?”


“Nggaklah, wajar aja kok, Bang. Euforia lo yang baru jadi papa masih kerasa sampe sekarang ternyata ya,”


“Ntar lo begitu juga, Dio,”


“Tapi enak nggak sih punya anak tuh? Ada repotnya nggak?”


“Ya enaklah, tapi kalau ditanya repot atau nggak ya pasti repot, bakal ada hal yang harus lo lakuin setelah punya anak. Yang biasanya nggak ada yang dijagain kalau Istri lagi mandi atau ngapa-ngapain, nah setelah punya anak ada yang harus dijagain, ditemenin main, terus lo harus mau ringan tangan dalam artian bantu tugas istri, kayak misalnya istri lagi sakit otomatis yang banyak ngurus anak ya harusnya suami, paling nggak mandiin dia, makein dia baju. Ya intinya kayak begitulah,”


“Jadi lo udah kayak gitu sekarang ya, Bang?”


“Iya, kalau Shofea nggak tidur, tapi Tania udah capek main sama dia, ya gue harus mau gantiin Tania, kalau anak sudah tidur lega deh tuh, tapi kalau dia nggak mau tidur-tidur nah itu yang agak repot, apalagi kalau ada deadline kerjaan yang tadinya mau diselesaikan di rumah,”


“Keren banget deh abang gue nih,”


“Ntar pasti lo juga begitu, intinya jangan anggap bahwa semua rusan anak itu yang megang istri, nggak bisa kayak gitu! Kan itu anak bersama, masa yang ngurus cuma istri aja? Tapi jujur ya, awal-awal gue punya Shofea, gue juga masih kikuk banget, Di. Makein baju aja suka salah, terus sering banget kalau kebetulan gue yang pakein dia baju setelah mandi nggak gue pakein minyak dulu biar dia hangat akhirnya Tania ngingetin tapi besoknya lupa lagi, sekarang sih udah agak biasa ya, walaupun nggak bisa-bisa banget diandelin ngurus anak, tetap yang hebat mah ibunya sih, kita sebagai laki-laki harus mengakui itu. Gimana nggak hebat coba? Dari mulai hamil, ngelahirin, itu ‘kan udah berat banget, tapi semua bisa dilibas habis, belum lagi waktu ngebesarinnya, aduh pokoknya penuh perjuangan deh kalau ibu ke anaknya tuh,”


“Lumayan dapat pencerahan dari lo, jadi obrolan kita ada isinya, jarang juga kita ngobrol sambil ngopi di luar gini, Bang, kayaknya itu juga yang bikin Shena nggak jadi ikut, biar dia nggak ganggu,”


“Padahal mah nggak ganggu sama sekali, kenapa mikir gitu sih? Lo kali yang nggak bolehin ya?”


“Dih? Sumpah gue ajakin malah, tapi emang dia nggak mau pas tau gue mau pergi sama lo, biar kita bisa quality time berdua kali maksudnya,”


“Hmm iya-iya pantesan kalau begitu,”


******


“Mama, maaf ganggu,”


Shena mengetuk pintu kamar ibu mertuanya untuk pamit sebelum Ia pergi ke sebuah restoran bertemu dengan Arun.


Tujuan Shena menemui Arun tentunya yang pertama untuk minta maaf secara langsung karena Arun dibuat tersinggung dengan perilaku Dio dan ibu mertuanya yang kata Arun telah memintanya untuk pergi dari rumah. Dan yang kedua barangkali Arun mau tetap bercerita dengannya, Ia siap menjadi pendengar.


“Iya masuk aja, Shen,”


Ardina mempersilahkan sang menantu untuk masuk ke dalam kamarnya. Shena segera membuka pintu kamar dan menatap Ardina yang tengah melipat pakaian di atas tempat tidur.


Ardina memanggil Shena agar masuk saja tanpa sungkan, berhubung Sakti juga tidak ada akhirnya Shena melangkah masuk ke kamar Ardina.


“Mama, aku mau pamit pergi sebentar ya,”


“Lho, mau pergi kemana? Udah bilang Dio? Jauh nggak?”


“Nggak jauh, aku mau ketemu Arun, Ma,”


“Oh Arun yang beberapa hari lalu datang ke sini ya?”


“Iya, katanya dia sakit hati banget karena diusir sama Mas Sio dan Mama, aku bilang kalau saat itu kondisi aku memang habis mual-mual jadi harus istirahat makanya dia disuruh pulang,”


“Ya Allah, jadi begitu? Mama bilang ke dia kalau ada yang mau dibicarakan sama Shena, bicarakan aja dulu sama mama, nanti mama sampaikan ke Shena. Tapi dia malah maksa masuk. Ya udah kata mama pulang aja, karena mama pikir dia bisa datang lagi lain waktu, kalau kamu kondisinya baik-baik aja sih mama nggak akan larang dia kok. Kalau Dio emang keliatan banget nggak bolehin, kalau dari cerita Dio, dia yang hampir dijodohin sama kamu ya?”


Shena menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan Ardina. Kalau soal Dio memang tidak diragukan lagi. Lelaki itu tidak bisa menganggap siapapun pria yang pernah dekat dengannya sebagai teman.


“Dio cemburu kali, Shen, dan kondisi kamu juga bikin dia khawatir jadinya dia makin larang Arun untuk ketemu kamu, maaf kalau Arun jadi tersinggung. Tapi mama nggak marah-marah dan ngusir dia dengan kejam kok, mama bicara baik-baik sama dia, tapi dia malah sebaliknya, nggak senang begitu mama bilang ke dia supaya ngobrol aja sama mama karena mama bisa jadi teman ngobrol, eh dia malah milih pergi,”


“Iya mungkin memang perasaan dia aja yang lagi sensitif jadi gampang tersinggung,”


“Memang apa yang mau dia bicarain sama kamu, Sayang?”


“Katanya orangtua dia sakit, Ma, dan dia mau cerita ke aku,”


“Oh ya Allah, Mama turut prihatin dengernya, jadi sekarang kamu mau jenguk atau gimana?”


“Iya mau ketemu dia untuk minta maaf secara langsung karena di chat tapi kayaknya dia masih kesal aja, setelah itu rencananya aku mau jenguk,”


“Udah bilang Dio belum?”


“Belum, Ma, aku takut nggak diizinin,”


“Kalau mau jenguk pasti diizinin, Shen, kamu nggak perlu khawatir, ngomong aja ke dia, pasti dibolehin kok,”


“Aku tunggu Mas Dio tapi belum pulang-pulang, Ma,”


“Masih pergi sama Abangnya?”


“Iya, nggak masalah sebenarnya, cuma tadinya aku mau ngomong langsung,”


“Ya udah di chat aja nggak apa-apa takutnya kamu buru-buru,”


“Iya aku chat, Ma, aku keluar dulu ya, Ma,”


“Iya, nanti perginya hati-hati, diantar sama driver ya, apa perlu Mama temani biar—“


“Nggak usah, Ma. Aku sendiri aja, nggak lama-lama kok,”


“Okay, hati-hati ya, kabari kalau udah sampai sana,”


“Iya, Ma,”


Shena keluar dari kamar mertuanya itu dan kembali ke kamarnya sendiri. Sebelum Ia bersiap, Ia ingin menghubungi Dio dulu untuk mengetahui Dio mengizinkan atau tidak.


Kalau seandainya tidak diberikan izin oleh Dii, maka Ia akan bicara pada Arun bahwa Ia tidak jadi bertemu Arun dan menjenguk mamanya.


“Assalamualaikum, Mas,”


“Waalaikumsalam, kenapa, Bee? Aku lagi ke minimarket nih ada yang dibeli sama abang juga,”


“Aku mau minta izin keluar boleh nggak, Mas?”


“Hah? Keluar kemana? Lagi hamil mau keluar kemana sih, Bee?”


“Aku mau ketemu Arun dan jenguk mamanya yang lagi sakit, jadi dia kemarin itu datang ke rumah karena dia mau cerita soal mamanya yang sakit itu, Mas, boleh nggak kira-kira? Kalau Mas nggak bolehin berati aku nggak—“


“Ya boleh aja, tapi nggak bisa tunggu aku aja? Aku yang antar kamu, mau ketemuan dulu sama dia? Mau ngapain? Nggak langsung ke rumah sakit aja? Mamanya dirawat di rumah sakit ‘kan?”


“Mas, aku mau minta maaf sama dia, soalnya dia itu kesal karena kamu dan bunda suruh pergi waktu datang ke sini,”


“Ya Allah, karena itu? Aku suruh dia pergi karena biar kamu istirahat. Masa iya aku ngizinin dia ketemu kamu yang pagi itu habis mual-mual? Lagian itu masih pagi lho, dia aja yang nggak tau waktu bertamu kok pagi-pagi,”


“Iya karena dia mau cerita soal mamanya itu,”


“Iya aku tau dia perlu teman cerita tapi nggak gitu juga lah, kayak nggak bisa cari waktu yang tepat aja, aku yang tadinya mau kerja sampai telat nggak berangkat-berangkat karena harus nyuruh dia pergi. Dia itu keras kepala, Mama minta pergi baik-baik masih aja ngotot mau ketemu kamu. Kalau memang dia mau cerita ‘kan harusnya dia telepon kamu ya? Dia ‘kan tau nomor handphone kamu,”


“Ya udah Mas jangan marah-marah, wajarin aja, dia ‘kan lagi nggak baik-baik aja keadaannya makanya dia sampai datang ke rumah,”


“Lagian ya, maaf-maaf, emang nggak ada teman lain apa? Harus banget kamu? Aku yakin dia punya teman lain yang bisa diajakin ngobrol, yang bisa jadi teman curhat dia. Okay lah dia datang ke rumah mau cerita sama kamu, tapi ya harusnya nggak pagi-pagi juga dong, mana songong banget lagi gayanya,”


“Aku telepon Mas untuk minta izin, jangan marah-marah dong, Mas,”


Dio berdecak pelan. Ia kecelapasan meluapkan unek-uneknya terhadap Shena. Menurutnya memang Arun sudah berlebihan sekali dalam menganggap Shena sebagai teman yang harus selalu tahu beban pikiran dia di waktu yang tidak tepat.


“Mau pagi atau siang tetap aja kamu nggak kasih izin untuk ketemu aku,”


“Kata siapa? Aku bakal izinin kok, asal aku tau apa yang mau dia bicarain ke kamu, dan waktunya yang pas lah, kalau aku tau dia mau curhat soal beban pikirannya itu terutama soal orangtua, aku juga nggak bakal marah kok, ya walaupun dalam hati sewot juga sih, tapi aku biarin dia ketemu kamu, soalnya kalian ‘kan best friend,” ujar Dio dengan menekan dua kata terakhir.


“Dia nggak sering cerita sama aku, Mas, kalau dia lagi mau cerita ya berarti emang dia benar-benar butuh aku,”


“Ya udah sana ketemu aja, nggak mau aku antar? Ya udah, nggak apa-apa, asal hati-hati ya,”


“Mas marah?”


“Nggaklah, aku tau dia lagi butuh kamu,”


“Nggak bener nada bicaranya, kayak nggak senang aku pergi sama Arun. Aku mau sekalian jenguk mamanya, Mas,”


“Boleh, pergi aja, tapi hati-hati, aku antar kamunya nggak mau,”


“Aku sama driver aja,”


“Tuh ‘kan, ya udah pergi deh, padahal aku bentar lagi pulang,”


“Ya semakin cepat semakin baik, kalau aku cepat berangkat nanti cepat juga sampai rumah ‘kan. Lagian biar Mas bisa santai aja sama Abang, jadi aku pergi sendiri, nggak apa-apa ‘kan?”


“Iya, hati-hati, kabarin kalau sudah sampai, dan pulangnya aku jemput,”


“Aku mau ngobrol bentar sama Arun terus jenguk mamanya,” ujar Shena memberitahu rencana dia setelah ini apa saja kepada suaminya agar tidak bertanya-tanya nantinya.


“Okay, hati-hati,” sekali lagi Dio berpesan pada istrinya agar hati-hati. Dio sebenarnya tidak keberatan Shena mau menjenguk, tapi bicaranya Shena sejak tadi itu seolah menyalahkannya, seolah tahu betul kalau dia akan melarang Arun untuk menemuinya mau kapanpun waktunya, dan segala macam yang membuat Dio jadi merasa jengkel.


Usai bicara dengan suaminya melalui sambungan telepon, Shena lekas bersiap untuk pergi menemui Arun dengan diantar oleh supir yang berjaga di depan.


Tapi sebelum itu, Ia mengetik pesan untuk Arun dengan tujuan memberitahu bahwa Ia jadi datang ke restoran yang telah disepakati.


Tidak kama pesannya terkirim, Arun menghubunginya. Shena segera menjawab panggilan lelaki itu.


“Halo, Shen, aku jemput kamu ya?”


“Nggak isah, aku diantar kok, kamu tunggu aja di sana,”


“Diantar sama siapa?”


“Driver,”


“Lho bukannya kamu hamil? Nggak mau aku jemput aja? Dio bolehin kamu pergi tanpa dia?”


“Aku yang minta untuk pergi sendiri, Mas Dio tentu aja mau antar aku tadi, tapi aku bilang nggak usah, karena kebetulan dia juga lagi pergi sama abangnya, aku takut terlalu lama kalau nunggu Mas Dio pulang,”


“Oh jadi sendiri aja?”


“Nggak, sama driver ‘kan aku bilang tadi,”


“Beneran?”


“Iya, tunggu aja di sana, nggak perlu datang ke rumah, Assalamualaikum,”


Shena mengakhiri sambungan telepon secara sepihak karena Ia ingin segera bersiap dan bergegas ke tempat dimana Ia akan bertemu dengan Arun.


******


“Kenapa lo buru-buru?”

__ADS_1


“Gue mau cepat sampai rumah,”


“Emang kenapa?”


“Kali aja sempat nganterin Shena pergi,”


“Lah nggak mungkin lagi. Orang dia nelpon lo udah dari berapa menit yang lalu ‘kan? Paling sekarang udah berangkat doi,”


Dio berdecak kemudian mulai melajukan mobilnya meninggalkan area parkir minimarket yang beberapa saat lalu disinggahinya bersama Sehan untuk beli makanan ringan dna juga minuman.


“Jujur gue kesel sama dia,”


“Kenapa sih? ‘Kan lo udah ngasih izin ke Shena, kesel karena apalagi?”


“Ya kesel aja karena dia nggak mau nunggu gue, padahal ‘kan harusnya bisa nunggu gue. Udah kayak apaan aja harus buru-buru ketemu dia,”


“Dia siapa sih?”


“Si Arun, Bang,”


“Barangkali Shena nggak mau diantar sama lo karena takutnya lo mau langsung istirahat nanti setelah sampai rumah. Berpikiran positif aja mendingan, Dio,”


“Padahal gue mau antar dia,”


“Ya kenapa lo nggak minta dia untuk nunggu lo aja?”


“Ya karena dia udah ngebet banget mau cepat-cepat pergi. Jadi ya udah gue biarin aja,”


“Ya udah jangan protes lagi sekarang!”


*****


"Shena kemana, Ma? Udah pergi?"


"Udah, bukannya udah pamit juga sama kamu?"


Dio dengan wajah datarnya menganggukkan kepala. Shanti langsung melirik Sehan meminta penjelasan kenapa Dio nampak berbeda sekarang, kelihatan tengah jengkel. Datang-datang menanyakan soal keberadaan Shena dengan wajah yang tidak sumringah seperti biasanya kalau dia masuk rumah.


"Dia kesal karena Shena nggak mau pergi sama dia, kayak yang ngebet banget mau ketemu Arun cepat-cepat, Ma, makanya begitu deh mukanya, kayak baju yang ditumpuk seminggu belum disetrika,"


Ardina terkekeh mendengar kelakar anak sulungnya yang sengaja dilontarkan untuk sang adik.


"Ya orang kamu nya aja belum sampai, kalau nunggu kamu takutnya lama, nah Shena itu nggak mau banyak basa-basi, kalau bisa cepat kenapa harus lama?"


"Lagian tadi lo udah setuju, Dio. 'Kan lo juga yang bolehin Shena pergi sama driver tadi, ah gimana sih lo,"


"Iya sih, cuma jengkel aja dalam hati, tapi ya emang gue yang bolehin. Cuma kenapa harus buru-buru gitu? Kayak nggak bisa nunggu gue aja, mau cepat banget, udah kayak ada hal penting aja,"


"Iya 'kan katanya mau ada yang diomongin sama Arun, Dio, udah lah jangan cemburu begitu,"


"Nggak cemburu, Ma, cuma kesal aja sama Shena yang segitunya sama Arun, aku tau sih emang aku juga yang ngebolehin,"


"Ya udah nggak usah sewot sekarang! Aneh nih orang, dia yang ngizinin, dia juga yang sewot,"


"Nanti kamu jemput aja Shena, kayaknya tadi dia pesan sama driver supaya jangan jemput, karena dia mau dijemput kamu, dia udah ngomong begitu belum?"


"Iya nanti aku yang jemput, Ma, tenang aja,"


Dio naik ke lantai atas tepatnya ke kamar, sementara Sehan dan Ardina menggelengkan kepalanya melihat punggung Dio yang sudah menjauh.


"Aneh-aneh aja adik kamu itu,"


"Iya emang aneh, Ma, orang di jalan aja tadi ngedumel dia, ketauan banget dia itu kalau cemburu, emang kayaknya Arun cari perhatian banget sama Shena. Kalau dipikir-pikir emang iya juga sih, kayak nggak ada teman lain aja, kenapa harus curhat sama Shena, lagian 'kan Shena belum tentu bisa bantu,"


"Tapi paling nggak Shena itu bisa jadi teman cerita dia, Bang. Shena busa bikin dia tenang. Mungkin untuk kesedihannya kali ini emang lebih enak disampaikan ke Shena, menurut dia mungkin begitu, Bang,"


"Iya sih, mungkin emang menurut dia lebih enak cerita ke Shena, cuma 'kan jadinya bikin Shena sama Dio bermasalah ya, Ma. Siapa yang nggak cemburu coba, mereka itu 'kan hampir dijodohin, Arun lebih dulu kenal Shena dan mereka berteman dekat, wajar aja Dio agak-agak jealous,"


"Namanya juga Dio, kalau nggak cemburuan ya bukan dia,"


*****


Shena menghampiri meja yang telah disebutkan nomornya oleh Arun di dalam pesan. Arun sudah tiba lebih dulu dan tidak lama kemudian Shena menyusul.


"Hai, Shen," sapa Arun dengan hangat pada Shena yang membalasnya dengan senyuman.


"Aku mau langsung aja ya, tujuan utama aku datang ke sini untuk minta maaf sama kamu, Run, maaf kalau sikap suami dan mertua aku udah bikin kamu sakit hati atau tersinggung, sebenarnya mereka nggak niat begitu kok,"


Arun menganggukkan kepalanya dengan hati yang senang karena Shena mau merendahkan hati untuk meminta maaf padahal yang telah membuatnya kesal itu bukan Shena, melainkan Dio dan juga mamanya itu.


"Iya, aku juga minta maaf udah sempat kesal sama kamu,"


"Nggak apa-apa, jadi gimana keadaan mama kamu?"


"Mama sakit kanker, Shen, aku benar-benar hancur banget begitu tau kabar itu. Jadi aku putusin untuk bawa mama ke Jakarta biar dirawat di sini, jangan di daerah kampung kita. Takutnya kurang maksimal pengobatannya. Doain ya, semoga cepat sembuh,"


"Ya Allah, jadi sakit kanker? kapan divonis sakit itu?"


"Ya sebelum aku datang ke rumah kamu, dua hari lalu kalau nggak salah,"


"Aku doain semoga cepat sembuh, jadi sekarang mama kamu di rumah sakit atau dimana?"


"Iya keadaannya lagi drop makanya lagi dirawat, mama dijaga sama papa, nanti gantian aku yang jagain,"


"Aku boleh ketemu nggak? Maksud aku, aku mau jenguk,"


"Boleh banget, mau kapan? Sekarang?"


Shena mengangguk cepat. Ia sudah meminta maaf secara langsung tujuan selanjutnya adalah menjenguk orangtua Arun yang divonis memiliki penyakit berat.


"Sekarang aja,"


"Okay, ayo, tapi kamu nggak mau minum dulu? Ini udah aku pesan untuk kamu lho,"


Shena segera meraih cangkir mint tea yang dipesan Arun untuknya. Setelah itu Ia mengajak Arun untuk bergegas pergi ke rumah sakit.


"Kamu udah izin sama suami kamu 'kan? Aku nggak mau nanti malah jadi bahan pertengkaran,"


"Udah kok, aku udah minta izin sama Mas Dio dan dia kasih izin,"


"Ya Mas Dio juga nggak mau berantem sama kamu, Run,"


"Tapi kenyataannya dia agak hobi ngajakin aku ribut,"


"Nggaklah, aku tau kok gimana Mas Dio, dia nggak bakal cari ribut kalau nggak ada yang dimulai,"


*****


Arun mengetuk pelan pintu ruang rawat mamanya. Setelah itu Ia teman tuas pintu dan mendorongnya hingga pintu terbuka.


"Assalamualaikum," ucap Arun dan Shena begitu memasuki ruang perawatan Mama Arun. Shena tersenyum membalas senyuman ibu dari temannya itu.


"Halo, Shena, gimana kabarnya?"


"Alhamdulillah baik, Tante,"


"Itu perutnya udah keliatan banget, apa jenis kelaminnya?"


"Belum tau, Tante, ini Insya Allah kembar,"


"Alhamdulillah tante senang dengarnya. Semoga sehat-sehat sampai lahiran ya, Shen,"


"Iya Alhamdulillah, Tante, terimakasih atas doanya. Tante juga sehat-sehat ya, jangan sakit, kasian nih Arun. Galau banget dia, Tante,"


"Iya amiin, kamu datang sendiri aja? Nggak sama suami?"


"Nggak, Tante, kebetulan suami lagi pergi sama abangnya. Titip salam aja ya, Tante,"


"Aduh ngerepotin bawa-bawa buah segala, terimakasih ya,"


Shena memang sengaja membeli parcel buah sebelum bergegas menemui Arun di restoran. Ia meminta diantar oleh driver ke supermarket untuk membeli parcel buah.


"Kalau Arun udah nikah, Tante udah sempat liat cucu dulu sebelum mati,"


"Tante, nggak boleh ngomong begitu. Namanya mendahului Tuhan. Tante harus yakin kalau tante bisa sembuh jadi bisa liat masa depannya Arun nanti yang bahagia sama pernikahannya. Tante kuat kok, aku yakin tante kuat. Semangat, Tante, pasti sembuh. Usaha nggak akan mengkhianati hasil,"


Pipi Shena diusap oleh mamanya Arun dengan lembut membuat Shena tersenyum dan nyaman. Hatinya ikut sesak begitu mendengar ucapan wanita itu tadi, apalagi Arun yang merupakan anak kandungnya.


"Kalau Tante semangat 'kan Arun juga pasti semangat,"


"Iya, sekali lagi terimakasih kamu udah mau datang, kasih doa dan semangat. Itu berarti banget untuk Tante, terimakasih ya, "


"Iya, tante di berobat di sini dulu, aku dengar dari Arun tante mau berobat di daerah aja. Arun 'kan mau berbakti sama tante, mau dampingi tante selama berobat, jadi Tante di sini dulu ya, kalau ada Arun 'kan juga enak. Ada yang ngurusin tante selain om,"


******


Dio melempar ponselnya ke atas ranjang. Usai Ia membabat habis bulu-bulu halusnya di sekitar dagu, Ia pikir Shena akan memberinya kabar mengenai keberadaannya. Ternyata tidak, padahal ia sudah menunggu tidak sabar sampai begitu keluar dari kamar mandi, Ia langsung meraih ponselnya. Seharusnya Shena ingat kalau Ia minta dikabari bila Ia sudah sampai di tempat bertemu dengan Arun ataupun di rumah sakit. Tapi kenyataannya sudah hampir dua jam Shena pergi, perempuan itu tidak kunjung memberitahu Ia dimana.


Dii menelpon sebanyak tiga kali juga tidak mendapatkan jawaban dari Shena yang sepertinya sibuk sekali.


"Gue nggak yakin nih dia minta jemput. Bisa jadi dia diantar pulang sama Arun. Orang dia aja nggak ngabari sama sekali,"


Memberitahu sudah sampai mana saja tidak sama sekali, bisa jadi nanti pulang Shena pun tidak ingat minta Ia agar datang menjemput, atau kemungkinan besar Arun akan mengantarkan Shena pulang.


Seharusnya memang Dio senang karena itu tandanya Arun mau bertanggung jawab dengan memastikan Shena sampai rumah dengan keadaan yang baik-baik saja. Tapi masalahnya adalah, Dio yang ingin menjemput istrinya itu, Ia tidak ingin Arun yang mengantarkan Shena pulang. Dio ingin dilibatkan.


Ketukan pintu membuat Dio terlonjak dari kesibukannya menggerutu di dalam hati. Dio langsung membuka pintu. Wajahnya yang semula kusut langsung berubah sumringah begitu melihat Shofea digendong oleh papanya.


"Eh ada Shofea,"


"Sengaja gue ajakin ke sini, lo ngapain sih? Tidur ya?"


"Nggak, emang kenapa?"


"Ya nggak apa-apa sih, cuma bingung aja kok nggak keluar kamar,"


"Di luar kamar juga ngapain, nggak ada yang gue lakuin, Bang, jadi mending di kamar nonton,"


"Ayo keluar, temenin anak gue main,"


"Jadi ini ceritanya lo nitipin Shofea ke gue, Bang?"


"Nggak, lo sama gue main sama Shofea daripada nggak ada kerjaan lo di kamar. Atau mungkin lo punya kerjaan yang harus lo selesain? Ya udah kalau gitu lo di kamar aja lanjut kerja, gue sama Shofea--"


"Eh nggak-nggak, gue mau keluar aja, udah bosen nonton,"


Dio langsung menutup pintu kamarnya mengikuti Sehan yang membawa Shofea ke lantai bawah dan Dio ada di belakangnya.


"Shena belum minta jemput, Dio?"


"Belum,"


"Oh belum kelar berarti, paling bentar lagi,"


"Lama banget perginya ya, mana nggak ngabarin sama sekali lagi,"


"Ya namanya juga lagi di luar, kadang nggak sempat buka handphone, wajar aja,"


Mereka berdua membawa Shofea ke ruang keluarga. Sehan meminta tolong pada Dio agar mengambilkan mainan anaknya di playground.


"Dah, Shofea main deh,"


Shofea yang beranjak dua bulan nampak semangat ingin memainkan boneka yang ada di depannya, tepatnya di pegang oleh Dio.


"Shofea, papa kamu galak nggak? Pernah sewot kalau ngurus kamu?"


Dio menenggelamkan kepalanya di perut Shofea dan mengajak anak itu bercanda alhasil Shofea terkekeh.


"Udah bisa diajakin bercanda dia dari awal. Pinter banget sih, mana murah senyum lagi. Gusinya keliatan mulu setiap liat Om ya,"


"Gusinya? Giginya kali,"


"Lah emang anak lo udah ada gigi? Belum, masih gusi,"


"Eh iya deh, lupa gue, Dio,"

__ADS_1


"Yee udah nggak sabar anak gede ya?"


"Lupa gue, harus diingatin dulu kalau Shofea belum punya gigi alias masih ompong cuma ada gusinya aja,"


"Kamu cantik banget, Sayang. Bagi-bagi nanti cantiknya ke anak Om ya, kalau cewek,"


"Yah elah itu mah nggak usah dibagi. Emang udah pasti bibit unggul, Insya Allah,"


"Aamiin, semoga cantik, murah senyum, pintar kayak Shofea ya. Shofea nih pintar banget, udah bisa dengerin orang ngomong dengan fokus seolah dia ngerti apa yang orang lain omongin, makannya juga udah pintar jadinya sekarang lebih ndut, terus aktif banget lagi, erghhh gemes banget! Pengen Om makan,"


Dio menggertakkan giginya menggambarkan bahwa Ia benar-benar ingin menggigit Shofea karena Ia benar-benar gemas sekali dengan Shofea yang matanya bening seperti telaga, alis matanya terbilang tebal, hidungnya runcing dan kecil, dan tidak lupa kulitnya yang bersih membuat Ia seperti bule nyasar.


"I love you, Shofea,"


"I love you lo mah buat Shena aja kali, Dio,"


"Iya kalau itu mah beda urusan," celetuk Dio yang mengundang tawa abangnya itu.


Terdengar suara bel membuat Dio langsung beranjak cepat untuk membuka pintu.


"Shena kali, Dio,"


"Iya mungkin,"


Ternyata dugaan Sehan benar. Memang yang datang adalah Shena yang ternyata diantar oleh Arun. Benar dugaan sebelumnya, Shena akan diantar Arun.


"Kok nggak minta jemput aku? Terus nggak ngabarin juga dari tadi,"


"Arun maksa mau antar aku, jadi ya udah aku nggak bisa nolak lagi, Mas, udah ditolak sih, cuma dia maksa,"


Dio menatap Arun dengan senyum kecilnya supaya tidak ketus-ketus sekali dengan orang yang sudah baik hati mau mengantar istrinya.


"Thanks udah antar Shena,"


"Okay, sama-sama. Makasih juga udah bolehin Shena jenguk mama gue,"


"Tha, gue pamit ya, sekali lagi makasih, kamu sehat-sehat ya,"


Shena tersenyum dan Ia mengangguk sesaat sebelum Arun beranjak meninggalkannya dan Dio yang diam mengamatinya sampai masuk mobil.


"Pertanyaan aku yang kedua belum dijawab," ujar Dio setelah mengajak Shena masuk ke rumah dan Ia menutup pintu.


"Iya aku nggak sempat, Mas, maaf banget. Soalnya aku sampai restoran itu cuma ngobrol bentar aja sama Arun terus langsung ke rumah sakit, lupa ngabarin kamu,"


"Nggak sempat lah, lupa lah, ada aja alasannya. Mana nggak minta jemput pula,"


"Kalau itu 'kan udah aku jelasin ya, Mas,"


"Aku nungguin kamu kasih tau udah sampai sini atau sampai mana, eh ditunggu-tungguin nggak ngabarin juga, akhirnya aku main aja sama Shofea, abisnya aku mau jalan jemput kamu juga bingung mau jemput dimana, kamu nggak kasih tau resto dan rumah sakitnya dimana,"


"Ya udah jangan sewot dong, Mas. Yang penting aku baik-baik aja,"


"Nggak sewot, Shen, cuma kesal aja kalau kamu udah kayak begitu. Bawa-bawa perut sendirian, aku nya nggak tau kamu dimana, jelas aja lah aku cemas,"


"Mas itu cemburu sebenarnya,"


"Cemasnya lebih daripada cemburu,"


Shena tersenyum dan berusaha meraih tangan suaminya untuk Ia genggam tapi Dio menolaknya halus.


"Nggak usah senyum-senyum! Aku ngomong serius kamu malah senyum, Shen,"


******


Shena berdehem seraya meletakkan satu cangkir teh hangat di hadapan Dio yang sedang fokus dengan ponselnya di balkon kamar.


Shena berusaha untuk membuat suasana hati suaminya kembali membaik. Sejak tahu Ia pulang dengan Arun dan tidak mengabarkan sama sekali selama pergi, Dio kelihatan kesalnya. Cuma memang berusaha Ia tutupi mungkin karena tidak mau membuat Shena terbebani. Dio kesal tapi tidak mau memperpanjang, Ia hanya menyimpannya di dalam hati saja. Dan sekarang Shena berusaha untuk membuat Dio tidak kesal lagi dengan cara dilayani dengan baik. Yang biasanya tidak mau mengganggu Dio bila tengah menyendiri atau sibuk bekerja, sekarang Shena mengganggu tapi dengan cara yang baik yaitu menghidangkan teh hangat dan juga kue kering.


"Diminum, Mas,"


"Ya, makasih ya,"


Shena beranjak dari kursi. Dio pikir istrinya itu ingin kembali ke dalam kamar ternyata malah berdiri di belakangnya dan memijat tengkuknya dengan lembut.


"Shen, aku 'kan nggak minta dipijat sama kamu,"


"Ya nggak apa-apa, memangnya nggak boleh aku pijat suami aku sendiri?"


"Nggak usah, kamu capek nanti. Lagian aku juga nggak pegal,"


Shena cemberut mendengar ucapan suaminya yang menolak dengan terang-terangan, walaupun alasannya takut Ia lelah tapi tetap saja penolakan itu hal yang sensitif untuk Shena.


Tapi Shena tidak menyerah, Ia tetap memijat Dio karena kenyatannya meskipun Dio menolak, Dio tetap menikmati pijatannya itu. Sampai matanya terpejam.


"Enak ya, Mas?"


"Nggak, biasa aja,"


Shena menekan pijatannya hingga Dio berdesis kesakitan. Ia juga menepuk tangan istrinya yang sudah lancang memijat tanpa ampun.


"Sakit, Bee,"


"Ya makanya hargai dikit kek, bilang makasih dan pijatannya enak, 'kan aku jadi senang dengarnya,"


"Iya okay, pijatan kamu enak banget, makasih ya, tapi aku nggak minta, jadi mendingan berhenti deh,"


"Ih kamu kenapa sih, Mas? Kamu masih marah sama aku?"


Shena akhirnya berhenti memijat suaminya itu. Ia duduk di hadapan Dio dan menatap Dio dengan wajah cemberut.


"Kamu masih marah sama aku? Padahal aku 'kan udah minta maaf, Mas. Kenapa kamu masih marah?"


"Nggak marah, aku mau tanya emangnya orangtua Arun sakit apa?"


"Mama Arun kena kanker, kasian deh, Mas. Tadi aku ketemu badannya udah kurus dan kayak kurang semangat gitu, jadi kasian sama Arun nya juga kalau mamanya nggak semangat otomatis Arun juga begitu,"


"Sok tau, jangan bilang nggak semangat, kamu 'kan nggak tau di dalam hatinya beliau gimana,"


Shena langsung menutup mulutnya dengan tangan karena ucapan suaminya. Ia sepertinya salah bicara. Padahal Ia hanya mengatakan apa yang Ia saksikan tadi.


"Katanya belum sempat punya cucu udah mau meninggal. Aku 'kan ikut sedih dengarnya, apalagi Arun yang anak kandungnya. Makanya aku bilang sama mama Arun supaya semangat nggak perlu mikir yang aneh-aneh, kalau kayak begitu 'kan namanya mendahului Tuhan,"


"Jadi Mas jangan kesal lagi ya, dan kalau Arun mau ngobrol sama aku, jangan Mas larang. Dia itu cuma butuh teman cerita aja kok, Mas,"


"Aku nggak akan larang kok, aku tau juga gimana perasaan dia. Asal memang ada topik untuk dibahas sama kamu, jangan maunya ketemuan aja terus ngobrolin hal nggak penting,"


"Kita sesama manusia harus saling memahami, Mas. Dia lagi butuh aku untuk jadi teman ngobrol jadi kita harus terbuka,"


Dio menganggukkan kepalanya. Ia yang diam tanpa suara membuat Shena berdecak karena merasa diabaikan.


"Mas, aku lagi ngomong lho,"


Dio yang semula menatap kosong ke depan langsung menolehkan kepalanya menatap Shena.


"Iya aku dengar,"


"Jadi gimana?"


"Gimana apanya, Shen?"


"Maksud aku, kamu nggak marah lagi 'kan?"


"Nggak, asal kalau pergi tuh jangan diem-diem aja, kabarin, terus minta jemput aku. Lagian ya, kalau kehamilan kamu makin besar aku nggak akan izinin kamu lebih sering-sering keluar. Bukannya berlebihan ngekang kamu atau gimana, tapi ngeri liat perut kamu itu, apalagi kalau nggak perginya sama aku,"


"Iya paham,"


"Paham sekarang, dilakuin apa nggaknya mah urusan belakangan. Iya nggak, Bee?"


Shena tertawa, sepertinya Dio tahuu sekali kebiasaannya yang sering paham diawal, nurut diawal, tapi nantinya belum tentu.


"Aku mau ke toko ya, Mas,"


"Keluar mulu, Shen,"


"Ya 'kan cuma ke toko, masa nggak boleh sih?"


"Ya udah terserah,"


"Itu teh diminum dulu," ujar Shena pada suaminya karena teh yang Ia buat diabaikan begitu saja.


"Kamu bikinin teh sama pijat aku karena mau bujuk aku supaya bolehin kamu pergi ke toko?"


"Nggak, Mas. Supaya kamu nggak kesal lagi lebih tepatnya,"


"Oh karena itu,"


"Jadi gimana ini? Aku boleh pergi ke toko?"


"Boleh, tapi aku antar jemput ya? Setuju nggak?"


Shena menganggukkan kepalanya dengan wajah sumringah. Akhirnya Ia diizinkan oleh suaminya untuk ke toko tapi dengan catatan diantar jemput oleh Dio. Shena tidak masalah, justru bagus, jadi Ia tidak perlu naik ini atau itu, tinggal duduk saja tahu-tahu sudah sampai.


"Setuju banget! Jadi Mas antar aku ya?"


"Aku jemput kamu juga,"


"Okay, makasih ya, Mas,"


Dio menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis. Ia tidak bisa sepenuhnya melarang Shena. Karena nanti Shena merasa dikekang dan malah tidak nyaman walaupun sebenarnya Ia ingin Shena istirahat saja di rumah.


"Jadi kamu mau ngapain di toko?"


"Mau liat-liat kegiatan di sana, Mas,"


"Udah biasa liat, ngapain liat lagi, Bee?"


"Ya nggak apa-apa, Mas. Apa nggak boleh?"


"Asal jangan kecapekan ya, nanti kamu bantu-bantu di sana terus akhirnya capek, ingat lagi hamil, Bee,"


"Ingat kok, Mas,"


"Udah gede juga,"


"Iya emang udah gede, kata mamanya Arun udah keliatan banget. Pas tau ada dua, beliau kaget,"


"Terus kalau tanggapannya Arun apa?"


"Nggak bilang apa-apa,"


"Kalian ngobrolin apa aja waktu ketemu?"


"Aku cuma minta maaf aja, terus habis itu kita ke rumah sakit. Memang benar-benar singkat banget pertemuan kita di resto tadi, Mas,"


"Oalah, tapi kok pulangnya lama?"


"Ya karena perjalanan sama banyak ngobrol sama mamanya Mas Arun, Mas,"


"Dih? Apa? Kamu manggil dia apa? Coba ulangin!"


Telinga Dio langsung lebar mendengar Shena memanggil Arun dengan sebutan Mas yang serupa dengan panggilan Shena terhadap dirinya.


Shena tertawa lebar menyadari kesalahan mulutnya. Ia langsung meraih tangn suaminya untuk Ia cium sekaligus meminta maaf tapi Dio menolak.


"Oh jadi panggilan kamu ke dia Mas ya?"


"Nggak lah, cuma salah ngomong aja tadi, Mas. Itu salah beneran, Mas,"


"Oh jadi beneran?"


"Ih salah ngomong! Nggak beneran,"


"Lah barusan ngomong beneran,"


"Maksud aku bener-bener salah ngomong, aku nggak manggil dia Mas, cuma kamu aja kok,"

__ADS_1


__ADS_2