
“Shen, kamu baik-baik aja, Nak? Kok abis antar Dio kamu nggak turun-turun ke bawah? Mama khawatir sama kamu,”
Ardina memasuki kamar anak dan menantunya. Ia memutuskan untuk menghampiri sang menantunyang tidak kunjung menanpilkan wajahnya setelah mengantarkan sang suami ke bandara. Ardina jadi khawatir, takut terjadi sesuatu pada Shena makanya Ia mendatangi Shena yang ternyata sedang berbaring di ata stempat tidur seraya fokus dnegan ponsel.
Begitu ibu mertuanya datang, Shena langsung beranjak duduk dan meminta maaf sambil tersenyum “Maaf ya, Ma. Aku emang agak lemas aja, tapi aku mggak apa-apa kok, Ma,”
“Beneran?”
Shena menganggukkan kepalanya. Ia hanya merasa badannya lemah setelah pulang dari bandara. Entahlah sebabnya apa.
“Kenapa, Sayang? Apa karena kamu ditinggalun Dio?”
Shena terkekeh kecil, sementara Ardina wajahnya serius karena pertanyaan yang Ia ajukan juga serius, bukan niat bercanda.
“Nggak kok, Ma. Aku masa sampai lemas ditinggal Mas Dio? Nggak, Ma. Karena emang lagi kecapekan aja kali,”
“Pantesan ya kamu nggak turun-turun. Mama khawatir banget sama kamu, Nak. Mama pikir kamu sakit, tapi sekarang kamu nggak lagis akit ‘kan ini?” Tanya Ardina pada menantunya seraya mengusap kening Shena.
“Nggak kok, Ma. Alhamdulillah aku nggak sakit cuma agak lemas aja, tapi sebenarnya aku sehat, Ma. Jadi Mama jangan khawatir ya,”
“Okay kalau gitu, kamu lagi mau seduatu nggak?”
__ADS_1
“Nggak, Ma. Memangnya kenapa, Ma?”
“Nggak apa-apa biar Mama buatin,”
“Hehehe aku nggak lagi ngidam, Ma,”
“Ya kali aja gitu,”
“Anaknya aja belum datang nih,” ujar Shena sambil tersenyum dan spontan mengusap perutnya dengan lembut.
“Mama bakal terima apapun yang terbaik menurut Allah kalau dikasihnya sejarang Mama senang banget. Karena akhirnya Mama punya cucu, tapi kalau belum dalam waktu dekat ya nggak apa-apa juga. Tandanya memang menurut Allah waktunya belum pas,”
“Makaish ya Mama udah pengertian banget sama aku. Mama nggak pernah menuntut apapun dari aku, Mama itu luar biasa baik, ibu kedua aku. Dan aku bersyukur banget bisa jadi anaknya Mama. Aku anak Mama ‘kan?”
“Iya dong, udah pasti itu,”
Shena tersenyum dan langsung memeluk Ardina yang menyambut pelukannya dnegan hangat. Ardina langsung mencium puncak kepala menantunya itu dengan lembut.
“Makasih ya, Ma. Makasih udah jadi orangtua yang luar biasa baik untuk aku,”
“Sayang, kamu itu juga orang baik, mama yang harusnya bilang makasih ke kamu. Karena kamu mau sabar ngadepin Dio, jadi istri dan anak yang baik pokoknya Dio, Mama, Papa, dan keluarga besar kami bersyukur banget punya kamu,”
__ADS_1
“Sama, aku juga begitu. Aku bahagia punya keluarga kedua yang benar-benar baik ke aku. Aku kayak bukan kayak orang lain deh,”
“Ya memang kamu bukan orang lain dalam keluarga kami,”
Ardina menjawil dagu menantunya itu. Lantas Ia melepaskan pelukan mereka dan Ia menatap Shena dengan sorot matanya yang teduh.
“Sekarang Mama mau pergi dulu ya sebentar, nanti kita lanjut lagi ngobrolnya,”
“Siap, Ma. Tapi kalau sku boleh tau, Mama mau kemana?”
“Mama mau ke toko kue sebnetar. Kamu mau nitip sesuatu, Sayang?”
“Nggak ada, Ma. Aku nggak mau nitip apa-apa ke Mama,”
“Beneran?”
“Iya, Ma,”
“Nggak lagi pengen sesuatu gitu?” Tanya Ardina dmabil mengusap perut Shena dan itu membuat Shena terpaku beberapa saat.
“Kenapa Mama tiba-tiba usap perut aku ya? Mama ‘kan belum tau kalau aku hamil, dan pertanyaan Mama juga kayak lagi nganggap aku lagi ngidam deh,”
__ADS_1