
Hari ini Shena menjalani yoga kehamilan ditemani oleh Dio. Setelah itu mereka berangkat bersama. Tapi suaminya pergi ke kantor, sementara Ia ke rumah orangtuanya.
Kedatangan Shena tentu saja tak diduga oleh mamanya yang pengertian sekali, tidak menuntut Shena untuk sering datang ke rumah Meskipun tak sering lagi datang ke rumah orangtuanya, tapi Shena tetap hampir setiap hari menghubungi mama atau papanya melalui pesan untuk menanyakan kabar mereka dan memberitahu kabarnya juga.
“Senang banget kamu datang ke sini,” ujar Nirma.
“Tapi maaf ya, Ma, Mas Dio langsung berangkat kerja abis antar aku ke sini soalnya dia udah agak telat, tadi temenin aku yoga dulu soalnya,”
“Iya nggak apa-apa, mama ngerti. Tadi Mas Dio juga udah pamit kok, ‘kan sempat salim mama,”
“Eh kamu udah sarapan belum?”
Shena menggeleng dan Ia bercerita kalau tadi dari subuh mengalami mual padahal biasanya tidak merasa mual sama sekali lagi.
“Oh, terus yang kamu mau apa, Nak? Kira-kira makanan yang nggak bikin mual apa? Mau bubur nggak? Mama sih masaknya nasi goreng sama ayam goreng aja ini. Tapi kamu mau nggak?”
“Makan nasi goreng mama aja. Aku udah kangen sama nasi goreng bikinan mama,”
“Beneran? Nggak bubur aja? Nanti mama beliin,”
“Nggak, Ma, aku mau nasi goreng aja,”
“Ya udah, ayo sini makan,”
Nirma mengajak anaknya untuk duduk di ruang makan. Shena langsung disambut dengan menu sarapan berupa nasi goreng dan ayam goreng.
“Nak, mau susu nggak?”
“Nggak, Ma. Udah mama duduk aja, nggak usah ngapa-ngapain temenin aku makan aja, Mama,”
“Okay, Sayang, mau mama suapin nggak?”
“Nggak usah, Ma, aku ‘kan udah gede. Bukan hanya gede usia tapi gede perut juga,”
“Ya udah makan sekarang, biar perut kamu keisi. Gimana hamilnya sekarang, Shen? Udah mulai kerasa banget ya?”
“Uh bukan lagi, Ma. Sekarang hampir tiap malam dibangunin sama yang gerak-gerak di dalam,”
“Alhamdulillah kalau aktif,”
“Iya, mana nyeri kadang, terus punggung ke bawah tuh suka pegal juga. Kaki aku sama tangan nih udah mulai keliatan bengkak, coba deh mama liat,”
Shena mendekatkan tangannya ke arah sang ibu supaya bisa dilihat apa yang Ia katakan itu benar adanya. Nirma langsung terkekeh melihat tangan anaknya yang memang beda dari biasanya. Kali ini lebih berisi. Tipe jari Shena itu tak terlalu panjang-panjang, jadi ketika berisi atau gemuk jarinya akan kelihatan lucu.
“Kayak tangan apa ya, Ma? Tangan badut kayaknya,”
“Ya nggak dong, tangan badut masa secakep tangan anak mama sih,”
“Naik berapa kilo sekarang, Shen?”
“Lima belas kilo terakhir aku nimbang. Aku makin takut liat timbangan, Ma. Takut nangis karena berat badan makin nambah,”
“Nggak apa-apa, Nak, wajar aja kok. Mama juga waktu hamil kamu sama kakak, beratnya nambah banget. Habis itu normal lagi dibantu sama olahraga ringan-ringan aja kalau emang udah bisa,”
“Terus ini perut bakal kempes ‘kan ya, Ma?”
Nirma terkekeh mendengar pertanyaan Shena yang bertanya sambil mengusap perutnya. Cemas perut tak bisa datar seperti sebelum hamil sudah menjadi hal biasa bagi ibu hamil dan saat ini Shena sedang ada di tahap itu.
__ADS_1
“Iya dong, Sayang. ‘Kan udah nggak ada bayi. Ya pasti bakalan kempes nanti. Kamu tenang aja, nggak usah cemas perutnya bakal kelebihan ukuran,”
“Tapi susah balik ke semula lagi ya, Ma?”
“Makanya nanti kalau seandainya sudah memungkinkan, ya olahraga aja tapi olahraga kecil-kecil gitu maksud mama, jangan langsung yang berat menguras energi,”
“Hmm begitu ya, Ma? Minum-minum jamu juga nggak, Ma? Jamu langsing dan singset?”
“Nggak ah, mama dulu nggak pernah minum-minum kayak begitu,”
“Oalah mama kempes sendiri aja ya, Ma? Sama olahraga tipis-tipis,”
“Iya, itu juga olahraga susah banget untuk nyempetin waktunya, karena ‘kan harus sambil ngurus anak, mana dua lagi ‘kan. Paling mama bisa olahraga pas udah sore karena papa udah pulang jadi Shena sama papa dulu sebentar sementara mama olahraga. Paling lima belas menit aja lari atau yoga, paling lama bisa setengah jam, cuma ada waktu segitu aja. Karena kadang papa nggak bisa terlalu diandelin. Apalagi kalau kamu udah cengeng, duh jadi pusing itu papa,”
Shena bertepuk tangan memuji kehebatan mamanya yang mampu menjadi ibu yang luar biasa. Menurut Shena itu tidak mudah. Yang Ia lihat dari orang terdekatnya, mengurus satu anak saja sulit minta ampun, apalagi kalau lebih dari satu.
“Aku harus belajar banyak sama mama. Hebat banget sih mama aku nih,”
“Kamu sama hebatnya, Sayang. Semangat ya, anak mama. Kamu pasti bisa jadi ibu yang nggak kalah hebat dari ibu-ibu lainnya di luar sana, mama yakin banget anak mama nih bisa,”
“Aamiin, aku sempat takut nggak bisa lho, Ma. Aku takut banget nggak bisa jadi ibu kayak ibu lainnya di luar sana. Aku takut gagal,”
“Gagal jadi ibu? Eh nggak boleh begitu mikirnya. Belum apa-apa masa udah pesimis duluan? Kamu pasti bisa, Shena. Yang lain bisa, kamu juga harus bisa dan pasti bisa kok, mama yakin banget,”
Kalau melihat perjuangan para wanita yang sudah menjadi Ibu, terkadang ada rasa khawatir dalam diri Shena Ia tak bisa menjadi seperti mereka. Shena memuji mereka dan tak henti berdecak kagum terhadap setiap perjuangan mereka.
“Ibu, maaf, ini ada undangan aqiqah dari Bu Teni tetangga komplek sebelah. Cucunya aqiqah, Bu,”
“Oh iya, makasih, Bi,”
Asisten rumah tangga Nirma datang membawa sebuah undangan aqiqah untuk Nirma agar hadir di acara aqiqah cucu dari teman sekaligus tetangga yang Ia ketahui anaknya mengandung dua cucu tapi entah kenapa yang namanya ditulis hanya satu saja di undangan tersebut. Dari situ Nirma merasa bingung.
“Hah? Jadi harusnya kembar gitu, Ma? Atau gimana?”
“Iya, anak perempuan yang nomor tiga hamil kembar seingat mama. Cuma ini kok hanya satu nama aja yang di tulis ya? Masa iya salah undangan?”
“Mungkin ada satu dan lain hal yang bikin cucu keduanya nggak ditulis namanya, Ma,”
“Iya kayaknya ya, coba mama telepon Bu Teni dulu deh. Mau bilang makasih untuk undangannya,”
Nirma segera menghubungi teman arisannya itu yang selalu saja melibatkannya dalam setiap acara yang dilaksanakan, dan Nirma hampir selalu hadir.
“Mama mau datang ke acara itu?”
“Iya Insya Allah datang dong, Sayang. Bu Teni itu udah dekat banget sama mama dan beliau baik,”
Ketika panggilannya dijawab oleh Bu Teni, Nirma langsung mengucap salam yang segera dibalas oleh Bu Teni.
“Ibu, makasih banyak undangannya,”
“Iya sama-sama, datang ya, Nir, ke aqiqah cucuku yang baru lahir. Alhamdulillah yang satu sehat, dan kami mau aqiqah nanti. Kalau yang satunya lagi meninggal,”
“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, turut berduka cita, Bu,”
Nirma tadinya tidak mau bertanya soal cucu Bu Teni yang satu lagi. Walaupun Ia sendiri tahu harusnya ada dua yang lahir karena mereka kembar. Tapi Bi Teni sendiri yang memberitahu. Nirma tak mau bertanya karena takut menyinggung perasaan Bu Teni.
Tapi begitu Bu Teni menjelaskan bahwa cucu satunya lagi telah tiada, Nirma ikut terpukul dan kaget tentu saja. Ia memposisikan dirinya sebagai Bu Teni yang pasti sedih sekali karena harusnya dua cucu yang lahir tapi takdir berkata lain.
__ADS_1
“Iya, Bu Nirma. Makasih untuk ucapannya. Sekalian juga nanti mau acara pengajian untuk mengenang kepergian. Bisa datang ya, Nir?”
“Insya Allah saya datang. Sekali lagi turut berduka cita ya, Bu. Ini yang terbaik dari Allah. Semoga si kecil yang baru lahir ini bisa sehat terus tumbuh besar sesuai harapan keluarga, Aamiin,”
“Aamiin terimakasih untuk doanya. Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam,”
Nirma meletakkan ponselnya di meja dengan wajah berbeda dari sebelumnya menggambarkan Ia tengah bersedih, Shena langsung menatapnya bingung.
“Kenapa, Ma?”
“Cucunya Bu Teni yang satunya lagi meninggal, Tha,”
“Innalillahi, pantas aja cuma satu yang aqiqah ya, Ma. Mudah-mudahan yang satunya sehat terus. Kasihan banget orangtuanya harus kehilangan satu anak mereka,”
”Iya, Sayang. Semoga sehat-sehat terus si kecil yang satu itu,”
“Jadi nggak berhasil dilahirkan dua-duanya ya, Ma? Nggak tega banget,”
“Mama juga nggak tanya penyebab meninggalnya karena apa. Mama nggak sampai hati mau tanya-tanya, takut bikin Tante Teni jadi sedih,”
“Jangan lupa datang, Ma,”
“Iya soalnya kata Tante Teni tadi mau ada acara pengajian untuk mengenang kepergian cucunya juga,”
Shena beranjak dari kursi yang Ia duduki setelah menyudahi makannya. Ia membawa piring ke dapur untuk Ia basuh sekaligus Ia mengambil air dingin.
“Ih ada es krim. Aku mau ya, Ma?”
Shena kesenangan sekali begitu melihat ice cream di dalam kulkas bagian atas atau freezer. Ia langsung minta bagian oleh mamanya.
“Boleh, ambil aja, Sayang. Asal jangan terlalu banyak, takutnya kamu batuk. ‘Kan nggak enak banget kalau lagi hamil terus batuk, kasihan sama kamu nya,”
“Iya, Ma. Aku cuma minta satu aja kok. Boleh ‘kan ya?”
“Iya boleh, ambil aja,”
“Kalau nambah boleh?”
“Lah mau nambah?”
Shena terkekeh, Ia prediksi, satu ice cream tidak cukup, sepertinya Ia akan kekurangan dna minta lagi. Tapi mamanya tidak melarang dan tidak mengizinkan juga.
“Terserah kamu aja, kalau masih okay, boleh minta satu lagi,”
“Yeayyy makasih ya, Ma,”
“Sama-sama, asal nggak berlebihan banget,”
Shena tidak jadi minum air putih dan akhirnya mendapat teguran dari mamanya. Terlalu senang bisa minum ice cream, Shena jadi mengabaikan air putih dan mamanya langsung memperingati.
“Eh minun air dulu sana, ‘kan habis makan,”
“Udah mau minum es krim ini,”
“Ya tapi sebaiknya minum air putih dulu, emang nggak nyangkut makanan di kerongkongan? Kok nggak didorong dulu sama air? Itu di dalam perut juga butuh air untuk cerna makanan,”
__ADS_1
Akhirnya Shena langsung mengambil air putih, tak jadi menyantap ice cream tanpa minum air putih terlebih dahulu karena mamanya sudah menyuruh Ia untuk segera minum air putih karena baru habis makan.