
“Aku udah di jalan pulang. Bentar lagi sampai, Ma, makasih udah megang anak-anak ya, Ma,”
“Iya sama-sama, udah kamu tenang aja, santai, nggak usah terburu-buru. Mereka baik-baik aja kok,”
“Makasih ya, Ma, maaf ngerepotin,”
“Ih apa sih kok ngomong begitu? Nggak suka Mama ah,”
“Hehehe okay kalau gitu aku tutup teleponnya ya, Ma,”
“Iya, Sayang,”
“Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam,”
Shena kembali menyimpan ponslenya di dalam tas. Ia merasa tenang usai memberi kanar kepada ibu mertuanya yang kali ini menjaga anak-anaknya untuk sementara waktu karena Ia baru saja selesai membeli keperluan untuk anak-anaknya.
Shena merasa lelah sekali hari ini. Ia dikejar-kejar oleh waktu. Pagi sampai siang kedua anaknya tak tidur, mata mereka benar-benar terbuka dan sedikit rewel, sulit untuk ditinggal bahkan ditinggal ke kamar mandi saja merengek padahal ada neneknya. Ia pun bingung kenapa mereka seperti itu padahal selama ini selalu menjadi anak-anak baik yang pengertian.
Ketika mereka akhirnya terlelap, Ia segera pamit pada Ardina untuk membeli keperluan dua anaknya itu. Susu sudah harus secepatnya dibeli karena sudah diperlukan sebab stok tinggal sedikit lagi. Ia tidak bisa hanya mengandalkan air susu darinya saja. Ia bersyukur anaknya suka menyusu dan tidak ada kendala apapun dengan susu yang mereka minum.
__ADS_1
“Bu, udah sampai,”
Pak Irham driver yang kebetulan ada di rumah ketika Shena hendak pergi memberitahu pada Shena yang terlelap bahwa sudah sampai di rumah. Shena segera keluar dari mobil. Padahal Ia masih sangat mengantuk. Tapi ternyata Ia sudah tiba di rumahnya. Rasa kantuk dikalahkan dengan rasa tak sabar untuk bertemu dengan kedua anaknya yang entah tenang atau justru rewel Ia tinggal bersama neneknya hanya satu jam lamanya. Ia benar-benar tergesa mencari apapun yang diperlukan Azalea dan Azanio selagi Ia pergi ke tempat belanja. Akhirnya berhasil juga Ia belanja satu jam. Selama ini tidak pernah. Setelah ounya anak, Ia memang jadi pintar cepat-cepat dalam melakukan sesuatu. Salah satunya belanja. Sebelum punya anak, mana pernah Ia belanja hanya perlu waktu satu jam. Paling sebentar itu dua jam.
“Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam, nah itu Mama tuh. Yeayy akhirnya Mama datang juga,”
Ternyata Ardina dan kedua cucunya berada di ruang tamu. Yang sedang dipangku oleh Shanti adalah Azanio sementara yang perempuan, Azalea berada di dalam stroler. Mereka berdua baru saja diajak mengelilingi rumah.
“Maaf ya, Ma, aku lama,”
“Justru kamu cepat banget, Mama jadi heran. Mana belanjaan banyak banget itu. Kamu nyarinya pasti kayak dikejer-kejer hantu ya?” Tanya Ardina sambil tertawa usai melihat supir yang mengantar Shena tadi mulai meletakkan belanjaan Shena di dalam rumah.
“Nggak, Sayang, aman kok. Udah kamu duduk dulu deh mendingan, napas dulu. Keliatan banget ngos-ngosannya,”
Shena tertawa dan pangsung duduk di sofa, tepat di depan stroler kedua anaknya. Ia tersenyum menatap Azalea yanga da di dalam stroler, dan anak itu langsung tersenyum seolah menyapa mamanya.
“Ih manis banget Mama langsung dikasih senyum. Tau ya Mama capek abis lari-larian dikejer hantu kalau kata Oma, makanya dikaishs enyum ya biar capek Mama hilang?”
“Pintar mereka, Shen. Nggak ada yang rewel,”
__ADS_1
“Alhamdulillah, makasih banyak ya, Ma,”
“Iya sama-sama, Sayang. Udah kewajiban mama juga jagain cucu-cucu mama selagi mama sehat,”
“Aku tadi buru-buru takut mereka rewel, dan ngerepotin mama,”
“Ih padahal nggak sama sekali. dan Bunda udah pesan-pesan dari rumah, santai aja belanjanya nggak perlu buru-buru, eh kamu nya malah tetap buru-buru, apa sih yang dikejar? Orang anak-anakmu semuanya anteng aja,”
“Soalnya tadi kan sempat rewel dikit, Ma. Aku tinggal ke kamar mandi pun nangis padahal biasanya juga nggak, terus mana nggak mau tidur-tidur mereka berdua. Untungnya pas aku tinggal tidur sih, makanya aku bisa pergi,”
Shena bersyukur akhirnya Azalea dan Azanio terlelap juga setelah dari pagi kedua mata mereka tidak kunjung terpejam. Begitu mereka tidur nyenyak, barulah Ia segera pergi dan menitipkan kedua anaknya sentara waktu kepada Ardina yang dengan senang hati menemani mereka berdua yang sedang terlelap dengan kedua mulut terbuka sedikit dan deru napas teratur.
“Oh iya Mas Dio belum pulang ya, Ma?”
“Belum, kalau dia udah pulang ini langsung dikuasain dua bocah sama dia, sekarang Bunda masih bebas main sama mereka berdua, kalau dia udah datang, wah langsung dibawa kabur ke kamar kali,”
“Padahal tadi katanya mau pulang makan siang, tapi kayaknya nggak jadi deh, atau lupa mungkin,”
“Kok gitu? Biasanya apa yang diomongin nggak lupa,”
“Atau nggak sempat kali ya, Ma?”
__ADS_1
“Ah harusnya kalau udah ngomong sama kamu ya disempet-sempetin lah, kalau nggak sempat ngapain ngomong? Bikin istri mikir aja,”
“Nggak apa-apa, Ma, ntar kan bisa makan bareng. Kerjaannya mungkin lagi banyak, Ma, jadi belum bisa ditinggal pulang. Nah makannya di kantor aja yang dekat, nggak habisin waktu,”