
“Kamu mau ini nggak? Aku beli tadi di pinggir jalan,”
“Apa itu?”
“Bubur jangung, mau? Aku suka lho makan ini, apalagi sama roti tawar,”
“Ada roti tawar, aku ambilin ya,”
Shena langsung berinisiatif untuk mengambil roti tawar, setelah mendengar ucapan suaminya bahwa dia suka roti tawar dimakan dengan bubur jagung yang baru dibelinya saat pulang dari kantor.
“Aku beliin buat kamu juga tuh. Cobain deh, enak tau,”
Dio ingin makan nersama istrinya. Ia tidka ingin kalau Shena hanya menemani tapi tidak ikut makan. Dan menurutnya makanan ini wajib Shena coba. Karena rasanya lezat.
“Aku nanti aja deh,” jawab Shena seraya meletakkan roti tawar di hadapan sang suami
“Ck, Sekarang aja, ayo makan bareng aku. Kamu nggak kau hargain aku nih ceritanya? Snegaja aku beliin buat kamu juga. Itu mumpung masih panas lho. Kalau maish panas tuh makin terasa enak,”
“Aku lagi nggak nafsu makan, nanti aja deh,”
“Lho, kenapa? Kamu baik-baik aja ‘kan?”
“Iya cuma lagi nggak nafsu aja. Mungkin karena flu batuk ini kali,”
“Ya ampun, belum sembuh juga udah tiga hari. Makanya ayo ke rumah sakit. Jangan susah kalau dibilangin, Shen,”
Alih-alih menikmati bubur jagungnya, Dio justru menegur istrinyanyang sudah tiga hari sakit tapi tidak kau diajak ke rumah sakit, bahkan ke klinik dekat rumah pun tidak mau sampai Dio bingung. Sebenarnya istrinya itu kenapa sampai semalas itu menemui dokter. Kalau sudah diperiksa itomatis dapat obat yang tepat bukan minum obat yang haisq diminum saja, tapi kenyataannya belum ada perubahan yang baik padahal sudah tiga hari.
“Nafsu makan kamu udah berkurang gitu, pasti lemas lah. Makanya aku ajak ke dokter,”
“Nggak mau, Dio. Jangan maksa aku tolong,”
“Ya terus mau ditunggu sampai kapan dong flu batuk kamu?”
Dio melepaskan sendok. Ia belum jadi makan. Istrinya ini perlu diberitahu hal yang sudah seharusnya dilakukan ketika sakit. Bukan hanya mengandalkan obat yang biasa diminum saja, tapi harus menemui dokter juga supaya diperiksa.
“Aku emang lumayan lama kalau sakit flu batuk, Dio. Jadi kamu jangan khawatir,”
“Ya tapi jangan dibiarin lah,”
“Tenang aja, bentar lagi juga sembuh. Kamu mendingan makan deh, ntar buburnya keburu dingin lho,”
“Ayo makan sama gue,”
“Udah bener ngomong aku kamu, maish juga belum biasa. Uh terserah kamu aja deh,” ujar Shena dengan cemberut dan menuangkan bubur jagung yang dibeli suaminya itu ke dalam mangkuk.
Melihat istrinya yang akan makan juga, Dio tersenyum senang. Ia langsung mengusap puncak kepala sang istri dan memujinya “Gitu dong, kalau jadi istri yang nurut ‘kan aku senang. Jangan susah kalau dikasih tau,” ujarnya setelah itu mulai menyuap bubur ke dalam mulut.
Ia menunggu Shena mencicipi bubur jagung yang Ia beli itu karena Ia ingin tahu penilaian Shena.
“Gimana? Enak nggak?” Tanya Dio pada istrinya setelah satu suap masuk ke dalam mulut Shena.
“Enak,”
“Nah ‘kan bener kata aku. Dihabisin ya,”
“Iya, makasih ya udah beluin aku ini,”
“Sama-sama, Shentik,”
“Shentik? Maksud kamu, aku temennya jentik nyamuk gitu? Hmm?”
“Yah salah paham dia,”
Dio menggaruk pelipisnya. Niat hati mau buat panggilan baru untuk istri yang unik, Shentik itu maksudnya Shena cantik. Dio tahu itu menggelikan untuk sebagian orang kalau tahu kepanjangannya, tapi biarlah. Dio suka yang unik.
“Shentik maksudnya jentik nyamuk ya? Aku temenan sama jentik nyamuk?”
“Astaga bukan gitu, Shentikku,”
“Terus apa dong?”
“Tebak coba, itu ada kepanjangannya lho,”
“Hah,l! Ada kepanjangannya? Serius?”
“Iya dong, coba tebak,”
“Shentik itu—-Shena cantik kali ya? Hahaha aku geer. Mana mungkin kamu punya panggilan yang aneh bin ajaib kayak gitu. Bukan Dio banget,”
“Kalau ternyata itu beneran panggilan buat kamu gimana? Dan emang gitu kepanjangannya,”
“Hah? Itu panggilan buat aku? Serius?”
__ADS_1
“Iyalah, kepanjangan dari Shentik adalah Shena cantik,”
“Ya ampun hahahaha,”
Shena tak bisa menahan tawanya. Panggilan dari Dio benar-benar aneh, tapi entah kenapa Ia suka, dan senang diberikan panggilan singkat seperti itu tapi artinya membuat hati berbunga-bunga.
“Beneran kepanjangannya itu Shena cantik?”
“Iya beneran lah,”
“Ya ampun, ada-ada aja. Lucu banget panggilannya, aku suka,”
“Serius? Alay ya? Geli ya dengarnya?”
“Nggak kok, lucu malah. Hahaha aku suka,”
“Suka tapi ketawa. Lo kayak ngeledek gitu sih,”
“Nggak ngeledek ih. Panggilannya lucu makanya aku ketawa,”
“Lo suka nggak panggilan alay bin lebay dari gue?”
“Suka dong. Tapi itu nggak alay, nggak lebay,”
“Gue manggil lo kayak gitu kalau lagi berdua aja,”
“Kenapa? Malu ya?”
“Takut diketawain,”
Baru juga tiga suap Shena menikmati bubur jagung itu, tiba-tiba Shena mual. Padahal sedanga syik mengobrol dengan suaminya. Terpaksa Ia beranjak menuju kamar mandi di dekat tangga untuk mengeluarkan isi perutnya yang mendesak ingin secepatnya keluar.
Dio bingung ketika melihat Shena tiba-tiba pergi begitu saja. Ia langsung mengikuti dan ternyata istrinya ke kamar mandi.
“Kamu kenapa, Shen?”
Shena tidak sempat lagi menjawab karena sudah terlanjur mengeluarkan isi perutnya. Dio membelalakkan kedua matanya kaget melihat Shena muntah. Ia spontan memijat pelan tengkuk istrinya itu.
“Astaga, Shen. Kamu kenapa? Kok muntah, Shen?”
Shena sudah selesai memuntahkan isi perutnya, Ia juga sudah membersihkan mulutnya menggunakan air mengalir, sekarang Shena masih diam di depan wastafel dengan tatapan kosong. Dio yang melihat itu semakin cemas. Istrinya tidak baik-baik saja. Pucat, badannya kelihatan lemah sekali, ditambah lagi barusan sudah mengeluarkan isi perutnya.
“Shen, udah selesai muntahnya?”
Shena menganggukkan kepala pelan. Dio bersyukur karena setidaknya sang istri masih bisa menanggapi pertanyaan yang Ia lontarkan.
Begitu tiba di depan pintu, Dio langsung mendorong pintu kamar menggunakan punggungnya dan Ia segera menempatkan istrinya di atas ranjang.
“Kamu istirahat ya, jangan ngapa-ngapain dulu. Aku ambilin air hangat sebentar,”
“Nggak usah,”
“Apa sih? DiajK ke rumah sakit nggak usah, diambilin air minum nggak usah. Semuanya aja nggak usah,”
Tidak tertahankan lagi rasa kesalnya. Maka dari itu Ia menjawab Shena dengan ketus. Setelah itu Dio bergegas ke lantai bawah untuk mengambil air hangat.
Dio tidak peduli lagi dengan bubur jagung kesukaannya karena ada yang lebih penting sekarang. Alih-alih mengisi perutnya yang lapar, Dio lebih memilih untuk memberikan perhatiannya kepada Shena yang sedang sakit.
“Eh kenapa buru-buru gitu, Dio?”
Ardina kaget ketika melihat anaknya buru-buru keluar dati dapur sampai air dari gelas yang dibawanya tumpah sedikit. Ardina penasaran dnegan alasan anaknya itu tampak panik.
“Shena abis muntah, Ma. Sekarang aku mau bawain air hangat buat dia. Aku ke kamar dulu ya, Ma,”
“Ya Allah, ya udah buruan kasih air hangat,”
Dio menganggukkan kepala dan melanjutkan langkahnya ke kamar, diikuti oleh mamanya yang penasaran sekali dengan apa yang terjadi pada menantunya.
“Bawa aja lah Shena ke rumah sakit, Dio. Jangan sibiarin di rumah. Udah sampai muntah begitu berarti udah nggak beres,”
Disela menaiki tangga, Ardina menyuruh anaknya untuk membawa sang istri ke rumah sakit karena menurut Ardina lebih baik diperiksa segera. Sudah sampai muntah berarti kondisi badan Shena benar-benar sedang tidak baik. Bukan hanya flu dan batuk saja sepertinya.
“Iya tapi dia nggak mau, Ma. Aku juga bingung harus gimana. Dia nggak mau diajakin ke rumah sakit, bahkan ke klinik pun dia nggak mau. Aku heran juga kenapa dia susah banget padahal untuk kebaikan dia juga ‘kan,”
“Ya udah sabar, jangan kesal, jangan marah ke Shena. Kasihan dia, Dio kalau kamu karahi yang ada kondisinya makin drop,”
“Aku nggak marah, aku cuma khawatir, Ma. Tapi kalau dia anggap aku karah, ya udah lah terserah dia. Intinya aku khawatir,”
Pembicaraan antara anak dan ibunya itu berakhir setelah tiba di depan pintu kamar Dio. Ardina mendorong pintu selebar mungkin dan membiarkan Dio masuk lebih dulu kemudian Ia yang menyusul.
“Sayang, kamu kenapa? Kita ke rumah sakit ya?”
Ardina langsung menghampiri Shena itu, dan duduk di dekatnya. Ardina lihat Shena lemah sekali. Ia semakin dibuat khawatir.
__ADS_1
“Ke rumah sakit ya, Shen?”
“Nanti aja, Ma,”
“Shena masuk angin kali ya, Ma?”
“Iya bisa jadi. Atau ada salah makan?”
“Barusan Shena makan bubur jagung, Ma. Tapi aku nggak kenapa-napa kok. Lagian Shena baru juga makan tiga atau dua suap ya? Aku lupa pastinya, yang jelas baru dikit banget. Terus tiba-tiba dia muntah,”
“Ya udah balurin minyak dulu di perut sampai ke punggungnya,”
Ardina meraih minyak aromaterapi di meja rias setelah itu Ia serahkan pada Dio sambil berkata “Ayo dibalur semuanya.”
Dio menganggukkan kepalanya. Ia segera menyingkap baju yang dikenakan oleh Shena tapi ditahan oleh Shena.
“Nanti aja, ada Mama,”
“Ya nggak apa-apa dong, ngapain malu sama Mama sih? Mama itu ‘kan orangtua kamu, Shen,”
“Malu juga sama kamu. Udah biar aku aja,”
Dio berdecak dan langsung menjauhkan botol minyak aromaterapi itu dari jangkauan Shena ketika Shena hendak merebutnya.
Ia ingin melakukan kewajibannya sebagai suami yaitu membantu mengurangi rasa sakit istri. Di luar sana, para suami berlomba-lomba melakukan apapun demi kesehatan istrinya, sekarang dio ingin membalurkan minyak aromaterapi di badan istrinya tapi malah mendapat penolakan dengan alasan malu.
“Sayang, kenapa harus malu sama Mama sih? Mama ini ‘kan orangtua kamu, jangan malu lah. Ayo dibalurin minyak itu biar badan kamu hangat, nggak mual lagi. Oh iya Mama buatin yang tradisionalnya deh. Mama bikin air lemon campur madu deh biar kamu minum dan mualnya hilang,”
“Ma nggak usah repot-repot, aku udah nggak mual lagi kok,”
“Duh sayang jangan ngomong kayak gitu ah. Kamu nggak pernah bikin repot. Biar kamu mendingan, nggak datang-datang lagi mualnya,” ujar Ardina sebelum akhirnya Ia keluar dari kamar meninggalkan Shena dan Dio yang sedang membalurkan minyak aromaterapi di perut Shena.
“Bisa duduk bentar? Biar aku balur sampai ke leher belakang kamu,”
Shena menganggukkan kepalanya. Ia langsung beranjak duduk. Di perut sudah dibalur, sekarang di punggung sampai ke leher. Dio memablur dengan lembut dan membuat Shena nyaman.
“Gimana? Nggak kepanasan ‘kan minyaknya, Shen?”
“Nggak kok,”
Dio menurunkan baju Shena yang sebelumnya Ia singkap kemudian Ia menyuruh Shena untuk tidur lagi.
“Jangan sibuk ngapa-ngapain dulu lho pokoknya. Kamu harus banyak istirahat, okay?”
“Iya makasih,”
“Sama-sama,”
“Eh tadi aku bawa air putih hangat tuh, lupa lagi nyuruh kamu minum,”
“Nggak, aku minum buatan Mama aja deh nanti,”
“Ya udah kalau gitu tunggu dulu sebentar,”
Dio menatap Shena yang maish pucat. Tangan Shena juga lumayan dingin ketika Ia genggam. Maka dari itu Ia langsung berinisiatif untuk mematikan pendingin udara di kamar, kemudian Ia gosok-gosok tangan Shena untuk menghadirkan rasa hangat.
“Kamu sebenarnya kenapa sih? Kok sampai kayak gini? Aku kaget tiba-tiba kamu bangun terus lari ke kamar mandi. Ternyata malah muntah,”
“Aku nggak kuat banget tadi sama mualnya. Rasanya pengen muntah detik itu juga tapi aju usahain supaya sampai kamar mandi. Gawat kalau sampai muntah di meja makan, menjijikan,” ujar Shena seraya terkekeh.
“Makanya jangan kecapekan dulu, Shen. Kamu tuh lagi sakit flu batuk, terus tetap aja sibuk,”
“Nggak sibuk lah, emang aku apa?”
“Ya kamu emang sibuk kok. Kamu tetap nyuci baju semgaja curi waktu supaya aku nggak keburu pegang cucian itu, kamu tetap ngepel kamar, tetap bantuin Bibi masak, ya pokoknya kamu itu tetap sibuk. Kalau lagi sakit itu harus banyak-banyak istirahat bukannya kecapekan,”
“Tapi aku nggak capek kok, seriusan,”
“Nggak capek gimana? Orang jelas-jelas kmau kuliah masih jalan, ngerjain tugas kuliah ayo, tugas rumah juga ayo. Semua kamu embat,”
“Besok nggak usah kuliah dulu deh, dengar ya kata-kata gue!” Lanjut Dio dengan tegas sambil menatap Shena dengan serius.
Shena langsung mengangguk. Mana berani Ia membantah setelah melihat suaminya sudah bicara serius dan tegas seperti tadi.
Ardina masuk ke dalam kamar dan pangsung memberikan minuman yang sudah Ia buat itu kepada menantunya.
“Makasih banyak ya, Ma. Maaf udah bikin Mama repot,”
“Ih Mama nggak repot sama sekali. Kamu iangan ngomong gitu ah,”
Shena menyeruput minuman hangat yang dibuat oleh ibu mertuanya itu. Rasanya nikmat sekali, ada manis dan masam sedikit, hamgatnya juga pas. Perutnya langsung terasa hangat di dalam.
“Ini enak banget minumannya, Ma,”
__ADS_1
“Alhamdulillah kalau enak, Nak. Memang ini ampuh kalau di Mama waktu itu aps hamil Dio muntah-muntah,”
Mendengar kata hamil, Shena pangsung kepikiran. “Apa iya aku hamil? Emang badan aku agak beda rasanya belakangan ini. Tapi ‘kan aku juga lagi flu sama batuk, paling dari situ,” batin Shena yang berprasangka kalau belakangan ini badannya memang terasa beda tapi Ia berpikir kalau itu dari flu dan batuknya.