
“Iya sama-sama, datang ya, Nir, ke aqiqah cucuku yang baru lahir. Alhamdulillah yang satu sehat, dan kami mau aqiqah nanti. Kalau yang satunya lagi meninggal,”
“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, turut berduka cita, Bu,”
Nirma tadinya tidak mau bertanya soal cucu Bu Teni yang satu lagi. Walaupun Ia sendiri tahu harusnya ada dua yang lahir karena mereka kembar. Tapi Bi Teni sendiri yang memberitahu. Nirma tak mau bertanya karena takut menyinggung perasaan Bu Teni.
Tapi begitu Bu Teni menjelaskan bahwa cucu satunya lagi telah tiada, Nirma ikut terpukul dan kaget tentu saja. Ia memposisikan dirinya sebagai Bu Teni yang pasti sedih sekali karena harusnya dua cucu yang lahir tapi takdir berkata lain.
“Iya, Bu Nirma. Makasih untuk ucapannya. Sekalian juga nanti mau acara pengajian untuk mengenang kepergian. Bisa datang ya, Nir?”
“Insya Allah saya datang. Sekali lagi turut berduka cita ya, Bu. Ini yang terbaik dari Allah. Semoga si kecil yang baru lahir ini bisa sehat terus tumbuh besar sesuai harapan keluarga, Aamiin,”
“Aamiin terimakasih untuk doanya. Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam,”
Nirma meletakkan ponselnya di meja dengan wajah berbeda dari sebelumnya menggambarkan Ia tengah bersedih, Shena langsung menatapnya bingung.
“Kenapa, Ma?”
“Cucunya Bu Teni yang satunya lagi meninggal, Shen,”
“Inna lillahi, pantas aja cuma satu yang aqiqah ya, Ma. Mudah-mudahan yang satunya sehat terus. Kasihan banget orangtuanya harus kehilangan satu anak mereka,”
”Iya, Sayang. Semoga sehat-sehat terus si kecil yang satu itu,”
__ADS_1
“Jadi nggak berhasil dilahirkan dua-duanya ya, Ma? Nggak tega banget,”
“Mama juga nggak tanya penyebab meninggalnya karena apa. Mama nggak sampai hati mau tanya-tanya, takut bikin Tante Teni jadi sedih,”
“Jangan lupa datang, Ma,”
“Iya soalnya kata Tante Teni tadi mau ada acara pengajian untuk mengenang kepergian cucunya juga,”
Shena beranjak dari kursi yang Ia duduki setelah menyudahi makannya. Ia membawa piring ke dapur untuk Ia basuh sekaligus Ia mengambil air dingin.
“Ih ada es krim. Aku mau ya, Ma?”
Shena kesenangan sekali begitu melihat ice cream di dalam kulkas bagian atas atau freezer. Ia langsung minta bagian oleh mamanya.
“Iya, Ma. Aku cuma minta satu aja kok. Boleh ‘kan ya?”
“Iya boleh, ambil aja,”
“Kalau nambah boleh?”
“Lah mau nambah?”
Shena terkekeh, Ia prediksi, satu ice cream tidak cukup, sepertinya Ia akan kekurangan dna minta lagi. Tapi mamanya tidak melarang dan tidak mengizinkan juga.
“Terserah kamu aja, kalau masih okay, boleh minta satu lagi,”
__ADS_1
“Yeayyy makasih ya, Ma,”
“Sama-sama, asal nggak berlebihan banget,”
Shena tidak jadi minum air putih dan akhirnya mendapat teguran dari mamanya. Terlalu senang bisa minum ice cream, Shena jadi mengabaikan air putih dan mamanya langsung memperingati.
“Eh minun air dulu sana, ‘kan habis makan,”
“Udah mau minum es krim ini,”
“Ya tapi sebaiknya minum air putih dulu, emang nggak nyangkut makanan di kerongkongan? Kok nggak didorong dulu sama air? Itu di dalam perut juga butuh air untuk cerna makanan,”
Akhirnya Shena langsung mengambil air putih, tak jadi menyantap ice cream tanpa minum air putih terlebih dahulu karena mamanya sudah menyuruh Ia untuk segera minum air putih karena baru habis makan.
“Mama, kok tumben ada stok ice cream? Biasanya nggak ada ice cream di kulkas. Apa aku aja nih yang baru tau kalau mama papa udah mau lagi minum yang dingin-dingin?”
“Itu kemarin papa beli katanya lagi pengen banget sama minuman dingin itu akhirnya papa beli tapi nggak tau kenapa banyak banget, kamu mau bawa?”
“Nggak deh, Ma. Nanti pasti jadinya mencair kalau dibawa ke rumah. Udah aku makan di sini aja, Ma,”
“Eh iya juga deh, kalau kamu bawa ke rumah takutnya kamu jadiin itu sebagai cemilan, semua yang berlebihan itu nggak bagus,”
“Mama tau aja maunya aku gimana, tapi aku takut soalnya lagi hamil. Menghindari yang namanya sakit ini dan itu,”
“Iya bagus, Sayang. Memang seharusnya begitu,”
__ADS_1