Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 31


__ADS_3

“Lo mau kemana? Kok rapi gitu?”


Sore ini Dio baru saja pulang dari kantor. Selepas kuliah, Ia langsung ke kantor membantu meringankan tugas ayahnya. Dan pulang-pulang, Ia melihat istrinya sedang bersiap dengan pakaian yang tak biasa. Maksudnya adalah, Shena mengenakan pakaian untuk pesta yang kesannya elegan berwarna hitam namun ada sedikit kilau di bagian dadanya.


“Aku mau datang ke acara pernikahan teman SMP aku. Izin pergi sebentar ya. Aku nggak akan lama kok, yang penting udah nunjukkin muka aja. Soalnya nggak enak kalau nggak datang. Dia udah berapa kali tuh hubungin aku nyuruh datang karena kata dia sekalian reuni,” ujar Shena meminta pengertian suaminya supaya tidak merasa keberatan bila Ia pergi sebentar untuk menghadiri acara pernikahan teman lamanya.


Dio duduk di tepi ranjang mengamati Shena yang saat ini sedang memoles bibirnya dengan sesuatu yang berwarna merah muda dan berkilau.


“Dio, nggak apa-apa ‘kan?”


“Ya menurut lo gue nggak ngasih izin gitu? Hah? Lo ‘kan udah siap-siap begini, masa iya nggak gue izinin. Kalau emang niat mau minta izin, ya harusnya sebelum siap-siap lah. Kalau seandainya nggak gue izinin gimana? Berarti penampilan lo ini bakal sia-sia dong?”


“Ya kalau kamu nggak kasih izin, aku nggak bakal jadi pergi. Aku ganti baju lagi,”


“Masa iya lo bakal nurut?”

__ADS_1


“Iyalah, aku ‘kan istri kamu. Aku minta maaf ya baru izin sekarang. Soalnya aku telepon kamu nggak bisa-bisa, kirim chat juga sama, jadi ya udah deh aku terpaksa siap-siap duluan sebelum minta izin ke kamu dengan harapan kamu kasih izin,” jawab Shena seraya tersenyum menatap suaminya yang masih menjadi pengamat kegiatannya saat ini.


“Sendiri aja?”


“Iya, aku cuma sendiri. Nggak sama siapa-siapa. Kamu nggak percaya ya? Kalau gitu—“


“Apaan sih? Siapa yang nggak percaya? Lagian lo mau sama siapa juga gue nggak peduli. ‘Kan yang jelek nama lo juga, karena orang udah tau lo nikah sama gue,”


“Serius nih nggak peduli?” Tanya Shena dengan senyum usilnya yang menyebalkan di mata Dio.


Shena melipat bibirnya ke dalam mendnegar ucapan Dio yang entah kenapa kedengaran beda. Hati Shena menghangat sambil bergumam dalam hati “Kayaknya Dio cemburu ya? Kalau benar, aku senang banget,”


“Jadi kalau misalnya aku ajak kamu ikut sekarang, kamu keberatan nggak?” Tanya Shena seraya berdiri karena Ia sudah siap berpenampilan apa adanya tapi tetap memukau bahkan Dio mengakuinya walaupun tidak terang-terangan.


“Maksudnya lo pengen gue ikut lo kondangan gitu?”

__ADS_1


“Iya, kalau kamu nggak keberatan sih. Terserah kamu aja, Dio,”


“Nggak, gue nggak keberatan. Okay kalau gitu gue siap-siap. Akhirnya ya, ingat juga kalau punya suami,”


Dio sudah menghilang di balik pintu kamar mandi meninggaljan Shena yang mengernyitkan keningnya karena kebingungan.


“Hah? Maksud Dio ngomong gitu apa sih? Emang aku nggak pernah ingat kalau aku punya suami?”


“Tolong siapin baju gue ya, Shena,”


“Okay, aku siapin sekarang,”


“Harusnya dari tadi lo ngajak gue,”


“Ya ‘kan aku harus mikir-mikir dulu sebelum ngajak kamu, takut banget kamu nolak dan malah bikin aku sakit hati,”

__ADS_1


“Ya nggak lah. Kalau lo ngajak gue, itu artinya lo ingat punya suami,”


__ADS_2