
“Hati-hati ya, Mas. Pelan aja bawa motornya,”
“Iya, tenang aja. Insya Allah aku baik-baik aja,”
Shena mencium punggung tangan adio sebelum keluar dari kamar. Lelaki itu sudah menggunakan jaket, kaus kaki, dengan ransel di punggungnya yang berisi perlengkapan liburan sudah termasuk air putih untuk Dio bila haus dalam perjalanan.
Dio mencium kening Shena juga perut Shena. Ia agak lama membungkuk di depan perut Shena setelah mencium, sebab Ia tengah mengajak anaknya mengobrol di dalam hati.
“Sayang, papa pergi sebentar ya. Jangan rewel, baik-baik di perut mama. Okay, anak pintar? Papa langsung pulang nanti terus bawa oleh-oleh juga. Ya walaupun buah mama sih oleh-oleh nya tapi kamu ‘kan juga kebagian ya? Pokoknya jangan rewel di perut mama. Assalamualaikum,”
Dio kembali berdiri tegap sambil masih mengusap perut Shena. Kemudian Ia mencium kening Shena sekali lagi.
“Aku mau liburan nih, nanti kalau udah lahiran aku ajak kamu liburan ya, yang agak jauh deh,”
“Yeayy bener ya?”
“Iya bener lah, masa aku boong? Aku ajakin ke tempat yang sesuai sama keinginan kamu. Kamu penginnya kemana, nanti aku turuti,”
“Aduh enggak sabar nih aku,”
“Sabar, lahiran aja belum,”
Mereka keluar dari kamar. Dio langsung ke garasi motor. Ternyata abangnya sudah berada di atas motor sendiri.
“Asek yang mau liburan,”
“Lah lo juga,”
“Asekk yang kayak bujang, liburan sendiri,” ejek Sakti mengundang tawa mereka semua yang melepas kepergian Dio dan Sehan.
Memang sudah seperti bujang saja anak-anak Sakti itu. Pergi hanya seorang diri tanpa pasangan yang terpaksa tidak ikut karena sedang mengandung. Pasangan mereka juga sangat mendukung karena mereka tahu suami-suami mereka itu perlu refreshing.
“Beneran ikhlas ‘kan nih dua-duanya ngasih izin kita pergi?” Tanya Sehan seraya menatap Shena dan Tania. Mereka berdua langsung mengangguk. Tak ada rasa keberatan sama sekali. Karena hanya sebentar dan juga tidak begitu jauh sebenarnya. Baik Sehan maupun Dio juga sudah minta izin baik-baik.
“Ikhlas dong,”
“Iya bener ikhlas, Abang,” sahut Shena setelah Tania.
“Okay kalau begitu. Assalamualaikum,”
“Assalamualaikum, pergi dulu ya,”
“Waalaikumsalam, hati-hati ya,”
“Sip, Ma,”
__ADS_1
Dio dan Sehan melajukan motor meninggalkan sebentar istri-istri mereka yang menginginkan mereka pergi berlibur padahal awalnya tak dipungkiri mereka merasa keberatan.
“Dah, kita masuk yuk,”
Ardina mengajak menantunya untuk masuk ke dalam rumah. Sudah malam, angin malam kurang baik untuk mereka yang hanya mengenakan baju dengan lengan sampai siku.
“Dingin ya,”
“Iya makanya Mama ajak masuk, Shen,”
“Sampe merinding aku, Ma,”
Shena mengamati bulu-bulu tangannya yang berdiri. Padahal hanya sebentar saja ada di luar tadi, hanya untuk melepas kepergian suaminya saja.
“Istirahat, Shena, Tania. Jangan tidur terlalu malam mentang-mentang nggak ada suami yang ngomelin,”
“Iya, Ma,”
Yang cerewet menyuruh istirahat dan tidak kelelahan adalah suami. Sementara saat ini Dio dan Sehan sedang pergi sampai besok.
“Soalnya Sehan sama Dio sama-sama titip pesan. Katanya kalau istrinya bandel, jewer aja,”
Tania dan Shena terkekeh dan tidak takut dijewer Ardina. Mana tega Arsina melakukannya. Melihat mereka terbeset sedikit karena pisau saja, Shanti sudah cemas sekali.
******
“Oh benar udah berangkat ternyata. Iya mama selalu doakan anak-anak mama. Jadi malam ini kamu tidur sendiri?”
Terdengar suara kekehan Shena di seberang sana yang mengundang Nirma juga tertawa. Sheba kelihatan menikmati kesepiannya malam ini.
“Iya nih, Ma. Aku cuma tidur sendirian aja,”
“Kamu ke sini aja kalau enggak,”
“Insya Allah besok deh, Ma,”
Nirma menertawakan Shena yang sendiri tapi dibawa senang, menandakan kalau Ia memang tidak keberatan sama sekali suaminya pergi dan itu bagus untuk ketenangan Dio selama pergi.
“Ya udah, selamat istirahat ya, jangan tidur terlalu malam, jaga kesehatan,”
“Iya, mama juga,”
“Okay, Sayang. Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam, Ma,”
__ADS_1
******
“Assalamualaikum, bidadari,”
“Waalaikumsalam, Mas. Udah dimana?”
Pukul tiga pagi Shena dibangunkan oleh suara dering ponselnya. Sengaja Ia menggunakan nada dering supaya kalau suaminya telepon, Ia bisa langsung menjawabnya.
“Lagi tidur ya? Aku ganggu?”
“Enggak kok, Mas, udah sampai belum?”
“Udah mau nih, cuma lagi mampir ngopi dulu bentar. Habis itu lanjut ke vila deh,”
“Sampai sana usahakan tidur, Mas. Biar di jalan pulang kamu enggak ngantuk,”
“Iya nanti juga pasti tidur kok, yang lain juga gitu. Maaf ya ganggu kamu jadinya,”
“Enggak kok, Mas. Aku emang nungguin kabar kamu cuma malah ketiduran,”
“Tadi tuh sempat ada kendala. Motor teman aku ada yang mati tapi Alhamdulillah baik-baik aja kok,”
“Ya Allah, untungnya enggak apa-apa ya, Mas,”
“Iya, bisa nyala lagi,”
“Emang gara-gara apa?”
“Kehabisan bensin, lagian bukannya diisi dulu ya sebelum pergi,” Dio tertawa menceritakan salah seorang temannya yang kehabisan bensin. Bukan karena kendala apa-apa sebenarnya. Hanya karena habis bensin. Tadi Shena sudah lumayan kepikiran juga padahal.
“Oalah aku kira karena kendala di mesin nya,”
“Bukan, Bee. Tapi habis bensin. Terus aku antar ke pom untuk beli baru deh balik lagi ke tempat dimana motornya mati untuk ngisi bensinnya,”
“Ya udah, kamu hati-hati ya, Mas,”
“Iya, kamu juga. Lanjut tidur aja. Nanti kalau aku udah sampai di vila, aku kabarin kamu ya,”
“Okay siap, jangan lupa kasih tau ya,”
“Iya enggak lupa ko. Assalamualaikum, eh titip salam untuk anak aku,”
Shena tertawa mendengar kalimat terakhir Dio. Sempat-sempatnya titip salam. Sepertinya Dio mulai rindu dengan anaknya.
“Iya nanti aku sampaikan, Waalaikumsalam,”
__ADS_1