
Shena melenggang santai memasuki kantor suaminya dengan lunch box di tangannya. Ia datang tanpa memberitahu Dio yang pasti akan terkejut melihat kedatangannya.
Shena harap Dio tidak marah kalau Ia datang ke kantor. Dio selalu menyuruhnya diam-diam saja di rumah, memperbanyak istirahat. Padahal Shena butuh menyegarkan pikiran juga. Walaupun memang di rumah sangat nyaman tapi Shena ingin menikmati pemandangan di luar rumah juga.
“Selamat siang, Bu,”
“Siang juga, Pak Dio ada di kantor? Atau lagi di luar?”
Sekretaris Dio tersenyum ramah kemudian langsung mengantarkan Shena sampai ke depan pintu ruangan suaminya.
“Ada di dalam, Bu. Silakan masuk,”
“Oh iya, terimakasih,”
Shena segera mengetuk pintu dan terdengar sahutan dari dalam yang mempersilahkannya masuk.
“Asaalamualaikum, Mas,”
“Waalaikumsalam,”
“Lho kok ke sini? Enggak bilang-bilang,”
Shena terkekeh dan segera mendekati Dio. Dio terkejut sekali kelihatannya. Jelas saja, karena memang Shena ke kantor Dio tidak berkata apapun sebelumnya.
“Bee, kok ke sini sih? Bukannya di rumah aja, bawa makan siang pula,”
“Iya buat kamu sama aku. Ke sini karena aku mau makan siang sama kamu, Mas. Boleh ‘kan? Tolong boleh ya, aku udah ke sini lho, Mas. Masa harus sia-sia?”
Dio mana tega melihat wajah Shena yang memohon pengertiannya supaya tak menyuruhnya pulang.
“Kamu ke sini naik apa? Jangan bilang naik ojek, ingat lagi hamil, Shen,”
“Enggak kok, aku naik mobil,”
“Oh pesan online ya?”
“Ya, betul sekali,”
“Ya udah, ayo makan sekarang, habis itu aku antar kamu pulang ya,”
“Tapi baru juga se—-“
“Enggak ada tapi-tapi, Bee. Nurut apa kata aku, okay?”
Shena menghembuskan napas kasar. Padahal Ia ingin sekali sedikit lama di dalam ruangan suaminya.
“Aku di sini ‘kan enggak ngapa-ngapain, Mas. Masa enggak boleh lama di sini? Aku enggak akan ganggu kamu kok,”
“Ya udah, boleh. Tapi duduk aja,”
Shena langsung memekik pelan sambil bertepuk tangan. Dio yang melihat itu tertawa. Hanya karena diizinkan lama di ruangannya, Shena kelihatan senang sekali.
“Sekarang makan aja dulu,”
“Tapi pulangnya boleh nanti ‘kan?”
“Boleh, asal diam aja, duduk di sofa dengan tenang, atau boleh juga tidur di kamar aku,”
“Di sofa aja, aku mau duduk-duduk menikmati suasana di dalam ruangan kamu, Mas,”
“Aku aja muak sama ruangan aku sendiri karena udah kelewat bosan, kamu malah mau di sini,”
“Ya karena kamu ‘kan udah lihat setiap hari, kalau aku jarang banget,”
Dio ingin bergabung dengan istrinya di sofa namun Shena melarang. Shena ingin ke meja kerja Dio dengan satu lunch box yang ukurannya besar.
“Kamu kerja aja, Mas. Biar aku suapi mau enggak?”
“Hmm beneran? Memang enggak apa-apa kalau kamu suapi aku? Kamu ‘kan juga mau makan,”
“Ya enggak apa-apa, biar sesekali romantis gitu ‘kan. Udah lama enggak suap-suapan kayak abege baru pacaran,”
Dio tertawa puas. Memang sudah jarang sekali Ia dan Shena saling menyuapi makanan satu sama lain. Meskipun makan bersama, tapi makannya tetap dengan tangan masing-masing.
“Bee, awas ya ada yang tumpah di meja kerja aku,”
“Enggak ada air kok, ini juga kotak makan aku pegang,”
“Iya, aku cuma mengingatkan aja,”
Lauk yang dibawa Shena ada gurame dan udang asam manis, tahu goreng, dan juga tumis jamur. Shena juga tidak meletakkan air minum di meja suaminya melainkan Ia selipkan diantara paha dan juga tempat duduknya sekarang.
Ia menyuapi Dio pertama kali, kemudian barulah dirinya sendiri. Dio makan dengan lahap. Siapa yang tidak senang didatangi Istri ke tempat kerja, dibawakan makanan bahkan disuapi juga. Kurang dimanja apalagi.
“Aku sebenarnya senang kamu ke sini karena kamu itu jarang banget ke kantor aku waktu masih kerja. Sekarang ke kenator aku jadi aku senang, tapi tetap aja aku khawatir karena harusnya kamu diam aja di rumah terus istirahat,”
“Aku udah istirahat terus, Mas,”
“Kamu di rumah tetap aja sibuk, Bee. Yoga iya, masak iya, belum lagi ikut mama cek taman tiap hari, udah dilarang mama masih aja keras kepala,”
“Karena aku biasanya gerak, Mas. Biasa sibuk kerja, tapi sekarang harus di rumah, jadi bosan banget, dan bingung harus apa. Akhirnya ngerjain apa aja yang perlu aku kerjain di rumah,”
“Kamu dulu, aku udah tadi,”
Dio menyuruh Shena untuk menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri sebab beberapa saat lalu mulutnya baru saja diisi, sementara Shena belum.
“Kalau udah kenyang kasih tau ya,”
“Belum, perut aku kebetulan emang udah lapar banget, eh kamu datang, jadi aku girang deh,”
“Tadi kelihatan kesal ah, gara-gara aku ke sini,”
“Iya lah, Bee. Kamu tau alasan aku kesal karena apa ‘kan? Kamu harus istirahat,”
Makanan sudah hampir habis, dan Shena mengaku sudah kenyang, sehingga Dio lah yang akan menghabiskan dan masih disuapi oleh istrinya itu.
Setelah suapan terakhir, Shena tak sengaja menjatuhkan kotak makan ke meja kerja Dio. Matanya membelalak terkejut. Dio pun sama. Sesaat lelaki itu terdiam bingung harus bagaimana. Meskipun tak ada kuah, tapi tetap ada minyak yang akhirnya menodai kertas-kertas pentingnya.
Shena tak berani menatap suaminya. Ia takut, benar-benar takut dan juga merasa bersalah. Ia sangat ceroboh hingga membuat kertas yang berkaitan dengan pekerjaan suaminya menjadi kotor. Memang benar apa yang dikatakan orang-orang terdekatnya bahwa Ia memang orang yang tidak bisa tidak hati-hati.
Dio yang sudah sadar dari keterkejutannya langsung bergegas menyingkirkan kotak makan dari atas mejanya. Ia bodoh karena tak melakukannya sejak tadi. Ia terlalu kaget sampai bingung tadi, Ia tidak tahu harus melakukan apa.
“Mas, aku—“
“Udah aku bilang tadi, di sofa aja, tapi kamu nya malah mau di meja kerja aku, akhirnya jadi kayak begini,”
Meskipun Dio tidak marah atau membentaknya, tapi tetap saja Shena merasa sedih karena dirinya adalah penyebab dari kekacauan hari ini. Masalahnya, Ia sudah membuat lembaran-lembaran dokumen pekerjaan suaminya kotor hanya dalam waktu singkat. Saus asam manis dari gurame dan udang berhasil membuat meja Dio kotor juga, tak hanya kertasnya saja.
“Aku minta maaf, Mas,”
Shena langsung membantu suaminya untuk mengamankan yang sekiranya masih bisa diselamatkan.
“Maafin aku ya, aku benar-benar enggak sengaja,”
Dio tak menjawab, Ia sibuk dan panik dengan kejadian ini. Kalau kertas yang tidak penting, Ia tidak akan sepanik sekarang.
“Maafin aku ya, Mas,”
Terhitung sudah lebih dari satu kali Shena meminta maaf tapi Dio belum juga menanggapi, hal itu membuat Shena meringis dalam hati.
“Ya Allah, aku udah salah banget. Mas Dio pasti marah karena aku udah bikin kekacauan kayak gini,”
“Kamu duduk aja mendingan, biar aku panggil cleaning service untuk bersih-bersih meja,”
“Aku aj—“
“Jangan bantah, Shen. Ini akibat dari kamu yang bantah aku,” lugas Dio tanpa menaikkan nada suaranya tapi berhasil membuat Shena membeku.
Akhirnya Shena duduk di sofa. Sementara Dio memutuskan untuk menghubungi cleaning service agar segera membersihkan meja kerjanya.
“Aku mau tanggung jawab, Mas. Apa yang harus aku kerjakan untuk—“
“Enggak usah, biar aku aja. Kamu enggak usah mikirin ini,”
“Mas, aku benar-benar minta maaf, aku enggak sengaja. Jangan marah ya, Mas,”
“Aku enggak marah. Ada aku marah sama kamu tadi?”
“Tapi kamu enggak jawab setiap aku minta maaf,”
“Aku anggap kamu enggak salah, makanya aku enggak jawab. Jadi enggak usah minta maaf lagi, okay?”
“Tapi tetap aja aku salah, Mas,”
Dio menoleh terkejut ketika mendengar suara Shena yang serak menahan tangis. Ketika Dio menatapnya, Shena makin sulit menahan laju air matanya.
“Tuh ‘kan, siapa yang dibikin susah, siapa yang nangis,”
“Aku minta maaf udah bikin Mas susah,”
“Enggak usah nangis! Bisa enggak? Jangan cengeng, Shen. Aku aja enggak marahin kamu kok. Kenapa kamu malah nangis?”
“Karena aku merasa bersalah sama Mas. Aku minta maaf banget ya, Mas,”
“Aku sampai bosan dengar kamu minta maaf terus. Udah sepuluh ada kali ya?”
“Aku salah, aku ngaku makanya aku minta maaf. Tolong maafin aku,”
Dio beranjak mendekat pada Shena yang kini benar-benar menangis. Shena kelihatan tidak ingin menangis sebenarnya cuma rasa bersalah yang sudah menekan Ia untuk mengeluarkan air mata.
Dio memberi sentuhan lembut di surai hitam sang istri kemudian Ia yang berdiri menunduk untuk memberikan ciuman di kening Shena.
“Aku maafin kamu, dan aku juga minta maaf karena udah bikin kamu nangis, okay?”
“Kamu enggak salah, aku yang salah. Karena aku enggak dengar omongan kamu akhirnya kejadian lah itu. Apa yang harus aku buat, Mas? Aku bisa kok ngerjainnya. Aku buat ulang file-file yang udah aku bikin kotor,”
“Enggak usah, biar aku aja. Kamu enggak usah mikirin itu, tadi aku ‘kan udah ngomong,”
“Beneran, Mas?”
Shena masih dengan isak tangisnya menawarkan bantuan atas dasar tanggung jawab terhadap apa yang sudah Ia perbuat. Namun Dio menolak dengan halus. Ia tidak mau membuat Shena merasa kesulitan. Memikirkan diri sendiri dan kandungannya saja pasti sudah membuat Shena penat. Apalagi bila ditambah dengan dokumen-dokumennya.
__ADS_1
“Kamu enggak usah mikirin mau tanggung jawab. Biar aku aja, dan aku minta tolong sama kamu, berhenti nangisnya,”
“Udah,”
Tapi napas Shena masih belum normal. Ia masih terisak walaupun air matanya tidak keluar lagi.
Dio tersenyum mengacak lembut rambut Shena. Perempuan ini sangat menghargai kerja kerasnya. Sehingga ketika Ia tak sengaja merusak maka akan langsung punya inisiatif untuk bertanggung jawab. Ia yakin Shena bisa. Shena bisa diandalkan menjadi pemilik tokonya sendiri yang memimpin karyawan-karyawannya, pasti bisa menggantikan dokumen yang telah Ia buat kotor.
Tapi Dio tidak mau istrinya susah-susah melakukan itu. Ia ingin Shena fokus saja dengan dirinya sendiri dan juga kandungannya.
“Jangan nangis lagi, aku enggak suka lihat kamu sedih, Shen. Masa kayak begini aja kamu nangis, enggak habis pikir aku,”
Suara ketukan pintu membuat Dio langsung bergegas membuka pintu. Seorang pria berseragam hitam yang bertugas membersihkan ruangannya tersenyum pada Dio.
“Ayo silakan masuk,”
Dio langsung membuka pintu lebar-lebar mempersilakan cleaning service masuk ke dalam ruangannya untuk membersihkan meja kerjanya yang sudah bersih dari dokumen-dokumen. Semuanya sudah Dio simpan di tempat yang aman, lemari berisi buku-bukunya.
“Kamu mau aku antar pulang sekarang enggak?”
“Mau, aku mau langsung pulang aja, enggak mau di sini lagi, takut ada lagi yang aku rusak,”
“Hei, jangan ngomong gitu,”
“Aku kesal sama diri aku sendiri yang enggak bisa hati-hati. Tapi ya udah lah, mau diapakan lagi? Udah terjadi juga,”
“Nanti setelah meja bersih, aku antar kamu pulang ya, biar istirahat di rumah,”
Shena mengangguk tidak membantah. Memang paling baik Ia di rumah saja. Karena ke kantor suaminya malah bikin ulah. Walaupun kata Dio yang tadi itu bukan kesalahannya tapi tetap saja Ia merasa bersalah. Kalau bukan Ia, siapalagi yang salah? Dio? Jelas bukan, karena Dio tak tahu apa-apa. Lelaki itu hanya tinggal menerima suapannya saja, sementara dirinya lah yang memegang kotak makan atau lunch box berisi nasi dan juga lauk pauk yang Ia bawa dari rumah.
******
"Ibu, ada kiriman untuk Shena,"
"Oh ya, Pak,"
Wrdina menerima kiriman yang diantarkan oleh security rumah. Ardina melihat di dalam paper bag tidak ada nama pengirimnya.
"Pak, ini kiriman dari siapa?"
"Tadi enggak dibilang dari siapa, Bu. Cuma untuk Shena aja katanya,"
"Oh begitu, ya udah terimakasih ya, Pak. Lain kali ditanyakan ya, Pak,"
"Maaf, Bu. Saya lupa. Lain kali saya bakal tanyain kalau ada kiriman lagi. Saya permisi, Bu,"
"Iya, Pak,"
Pak Tris kembali ke pos sementara Ardina menatap paper bag di tangannya dengan raut bingung.
"Dari siapa ini? Kok enggak dibilangin dari siapa sama kurirnya,"
Ardina melihat ke dalam dan Ia tidak menemukan kertas atau apapun yang bertuliskan nama si pengirim.
"Aku fotokan aja ke Shena supaya dia tahu,"
Ardina memotret kiriman tersebut untuk Shena sekaligus menanyakan menantunya itu sedang apa. Ia ingin menelpon tapi takut mengganggu, maka perlu tahu dulu apakah Shena sedang ada waktu untuk mengobrol dengannya atau tidak.
***
-Shen, kamu liburan ya? Asyikkk selamat bersenang-senang-
Shena tersenyum membaca pesan yang dikirimkan Jerry temannya untuk dirinya. Sepertinya Jerry tahu dari sosial medianya yang mengabadikan Universal studio dan Merlion yang menjadi ikon dari negeri singa itu. Kali ini Ia memang sedang berlibur.
-Iya, Jerr. Thanks ya-
-Oleh-oleh jangan lupa yow-
Shena hanya membalas pesan terakhir Jerry itu dengan jempol saja, tanpa kata-kata. Jerry memang sudah masuk list orang yang akan Shena sambangi untuk memberikan buah tangan hasil berburu selama Ia berlibur di Singapura. Ngomong-ngomong Shena belum punya balasan untuk makanan kiriman Jerry waktu itu.
-Kamu bulan madu, Shen?-
Jerry mengiriminya pesan lagi yang kali ini tidak langsung dibalas oleh Shena sebab suaminya minta dibuatkan susu.
"Duh anak bayik,"
Dio tertawa menyadari manjanya pada Shena. Karena lagi asyik main, Ia enggan untuk bangun sedikitpun dari ranjang.
"Yang manis, Bee. Kamu kalau bikin minuman kadang hemat gula,"
"Bukan hemat, Mas. Memang sengaja supaya enggak terlalu banyak. Kamu kalau soal gula keterlaluan. Udah berumur lho, harus mikirin kesehatan,"
"Enak aja berumur,"
Shena tertawa lepas karena suaminya yang menolak dikatakan telah berumur. "Memang tiap manusia berumur 'kan, Mas?"
"Biasanya itu sebutan untuk orang yang udah tua 'kan?"
"Enggak tahu,"
"Ih kamu mah, dari gula ke orang tua. Enggak nyambung banget, Bee,"
Dengan jengkel Ia meraih ponsel Shena yang akan Ia gunakan sebagai pengalihan atas kekalahannya.
Yang langsung menyanbutnya ketika menyalakan layar ponsel sang istri adalah ruang obrolan antara Shena dengan Jerry.
-Kamu bulan madu, Shen?-
Pesan itu belum dibalas oleh Shena. Dio keluar dari ruang obrolan dengan Jerry kemudian Ia membuka sosial media Shena saja daripada makin jengkel karena setelah kalah bermain, Ia malah mendapati Jerry mengirimi pesan untuk istrinya Bertanya soal bulan madu segala. Entah apa urusannya dengan dia? Mau bulan madu atau madu bulan, suka-suka Shena lah.
Di beranda Ia banyak menemukan postingan-postingan orang lain dari berbagai penjuru.
Melihat postingan orang lain yang sedang menikmati Singapore flyer. Dio mendadak ingin sekali naik bianglala itu.
"Bee..." Panggil Dio.
Shena datang dengan satu gelas susu berwarna cokelat untuk suaminya. Itu susu kemasan yang sengaja Ia bawa untuk Dio karena Dio termasuk orang yang menyukai susu dan susu itulah yang menjadi favoritnya.
"Kenapa?"
"Kita ke Singapore flyer yuk,"
"Itu wahana wisata juga?"
"Bianglala, Bee. Naik MRT dulu kita,"
"Mau, aku mau banget. Kapan? Coba tanya Erik dulu deh, Mas. Soalnya dia tuh yang pegang agenda," ujar Shena yang turut membawa para karyawan toko online nya untuk berlibur.
"Aku pengin ke sana setelah lihat postingan orang di instagram kamu,"
"Ayo aja aku mah. Aku senang diajak kemana aja,"
Dio keluar dari sosial media istrinya setelah itu kembali ke aplikasi chatting. Ia mendapati pesan dari bundanya yang masuk.
"Eh ada chat dari mama belum kamu buka,"
"Baru masuk mungkin,"
Dio membuka pesan yang dikirimkan Ardina berupa gambar. Di bawahnya ada kalimat yang menanyakan kabar Shena dan dirinya hari ini.
"Bee, ada yang ngirimin kamu ini. Mama ngirim fotonya,"
Shena mendekati layar ponsel untuk melihat foto yang dikirim Ardina. Ada sebuah paper bag yang entah isinya apa.
"Dari siapa, Mas?"
"Coba kamu telepon mama aja. Mama nggak bilang dari siapa kiriman itu. Kamu beli baju bayi lagi nggak?"
"Enggak, Mas. Lagian ini paper bag, bukan paket dari toko online kayaknya,"
"Hmm iya juga sih,"
Biasanya kalau paket dari toko online, kemasannya rapi dan aman. Tapi ini hanya paper bag saja.
Shena duduk bersandar di kepala ranjang sembari merekatkan ponsel genggamnya pada telinga sementara Dio menikmati susu hangatnya sendiri, tidak tengok kanan kiri. Supaya lengkap, Ia mencari teman untuk susu hangat itu berupa biskuit.
"Halo, Ma,"
"Gimana hari ini? Udah di hotel lagi?"
"Udah di hotel, Ma," jawab Shena seraya terkekeh.
"Oh iya itu kiriman dari siapa, Ma?"
"Kata Pak Tris, enggak dibilangin dari siapnya, Tha. Mama juga bingung,"
"Oh enggak tahu dari siapa ya, Ma. Padahal aku enggak pesan apa-apa dari toko online,"
"Mama juga enggak tahu isinya apa,"
"Aku boleh minta tolong bukain enggak, Ma? Aku penasaran banget,"
"Boleh kok, sebentar ya. Mama video call aja deh,"
Ardina langsung mengubah panggilan suara menjadi panggilan video agar Shena melihat langsung ketika Ia membuka kiriman itu.
"Oh ini kayaknya baju ya, Shen,"
Begitu dibuka memang benar baju satu stel tapi kenapa seksi sekali ya? Sampai-sampai Shena bingung dan panik menoleh pada suaminya yang ternyata juga menunggu tak sabaran kiriman apa yang diterima bundanya untuk Shena.
"Hah? Kok baju seksi? Kamu beli, Shena?"
"Enggak, Mas. Aku mana pernah beli baju begitu,"
Celana pendek dengan baju tanpa lengan yang bahannya benar-benar tipis. Shena sampai terperangah dan susah meneguk salivanya.
"Ya ampun, itu dari siapa sih?"
"Dio kali nih yang beli tapi pura-pura nggak tahu dan sengaja namanya dirahasiakan,"
"Enggak sama sekali, Ma. Aku tahu Shena enggak bakalan mau makai yang begituan. Ngapain aku beliin buat dia? Daripada sayang enggak dipakai mending beli yang lain,"
__ADS_1
Shanti terkekeh mendengar ucapan anaknya yang kedengarannya sangat meyakinkan.
Shena bingung harus bereaksi seperti apa. Ia senang diberikan hadiah. Itu termasuk hadiah 'kan? Tapi kenapa harus baju seksi? Langsung panas bukan malah berbunga-bunga.
"Ini lingerie,"
"Tipis banget ih,"
Shena kelihatan ilfeel sekali melihat baju yang ditunjukkan Ardina secara keseluruhan.
"Siapa yang berani kasih kamu itu, Shen? Serius bukan kamu yang beli 'kan, Shen?"
"Ya Allah, beneran bukan aku, Mas. Percaya deh sama aku. Aku enggak suka pakai baju kayak begitu!" Bisik Shena di akhir dan penuh penekanan seraya menatap Dio dengan geram. Harusnya Dio percaya atau yakin dengan ucapannya yang benar-benar jujur mengatakan bahwa bukan Ia yang membeli baju seksi itu.
"Terus dari siapa ya ini?" Ardina juga ikut bingung. Ia penasaran sebenarnya. Siapa yang sedang bermain-main sekarang. Antara Shena atau Dio. Karena kalau dari orang lain, masa iya yang diberikan adalah lingerie? 'Kan banyak baju lain yang lebih wajar.
"Ini enggak sopan sih menurut aku, Bee. Kalau benar bukan kamu yang punya. Maksudnya apa coba ngasoh baju kayak begitu?"
"Barangkali yang kasih ini perempuan, Mas,"
"Ya tapi tetap aja enggak ada sopan santun. Kayak enggak ada baju lain aja. Kalau memang kehabisan ide mau kasih apa ke kamu, ya mendingan enggak usah ngasih sama sekali,"
"Ya udah sabar, Di,"
Ardina menyadari kalau Dio justru tersinggung dengan pemberian orang itu pada Shena.
Shena sudah memiliki suami, kalau seandainya yang memberikan itu adalah seorang pria, maka pria itu kurang ajar. Kalau perempuan, maka dia kurang kerjaan. Banyak hal lain yang bisa diberikan mengapa harus baju yang super seksi?
"Celana pendek banget, cuma sepuluh sentimeter kali itu. Mana baju tipis banget terutama bagian perut. Dua cup kelihatan kanan kiri. Ih apa-apaan sih,"
******
Mood Dio benar-benar rusak setelah tahu Shena mendapatkan kiriman baju yang menurutnya sangat terbuka. Itu tidak sopan bagi Dio.
Dan jujur Ia ragu tentang Shena benar-benar tidak tahu apapun soal pengirimnya. Entah mengapa Dio berpikir kalau Shena sebenarnya tahu siapa pengirimnya atau bahkan Shena sendiri yang membelinya cuma Ia tidak mau mengaku.
"Kamu mau kemana?"
"Bikin susu juga sama kayak Mas. Aku enggak ada teman ngobrol, Mas diam-diam aja. Ya udah aku mau minum susu aja,"
"Kamu serius enggak sih? Kamu enggak tahu siapa yang punya kerjaan ngirimin kamu yang tadi?"
Shena geregetan, jujur saja. Dio kenapa tidak percaya sekali padanya? Ia sudah jujur seratus persen tidak tahu apapun soal baju tadi.
"Aku serius, Mas. Aku nggak tahu siapa pengirimnya, apa niatnya ngirim itu untuk aku, dan aku tegaskan sekali lagi, bukan aku yang beli baju itu. Itu baju yang nggak ‘normal’ menurut aku. Ngapain banget aku beli baju model begitu," ujar Shena seraya mengutip kata normal menggunakan kedua tangannya.
"Kamu kenapa sih enggak percaya sama aku, Mas?"
"Bukan nggak percaya sama kamu, cuma gimana ya? aneh aja menurut aku, Bee. Masa iya ada yang ngirimin kamu itu? Kok kurang ajar banget? Dia tahu tau enggak kalau kamu itu punya suami? Enggak wajar lah dia ngirimin baju semacam itu ke kamu,"
"Siapapun tahu kalau aku udah nikah. Ya mungkin aja itu salah kirim, Mas,"
"Shen! Itu jelas enggak salah kirim. Untuk Shena kata Pak Tris tadi 'kan? Ya berarti memang punya kamu,"
Dio yang kelewat geram sampai mengeluarkan suara tingginya ketika menyebut nama Istrinya itu agar tidak mengatakan bahwa baju tersebut merupakan kesalahan pengiriman barang.
Shena menghela napas pelan. Ia tersenyum, tidak mau turut emosi. Nanti malah tidak berujung kalau mereka berdua sama-sama marah.
"Kamu cemburu ya, Mas?"
"Ya jelas aja! Kamu pikir sendiri deh gimana kalau jadi aku? Apa enggak bingung setelah tiba-tiba istrinya terima baju seksi begitu? Enggak sopan tahu enggak?!"
Dio kalau lagi cemburu, seram juga sampai membuatnya deg-degan. Dio jarang sekali mengeluarkan nada tingginya.
"Sabar, Mas. Aku tahu itu salah. Tapi jangan marah sama aku ya. Aku benar-benar enggak tahu apapun tentang baju itu,"
Shena sampai mengurungkan niatnya untuk membuat susu agar Ia bisa bicara dengan pelan-pelan oleh Dio. Shena duduk di dekat kaki suaminya yang menjulur dan duduk di kepala ranjang.
"Mas, jangan marah ya. Jangan curiga kalau aku punya orang lain terus dia yang ngasih itu untuk aku atau curiga kalau aku yang beli tapi aku enggak mau ngaku,"
"Maaf, tapi memang aku sempat mikir kayak begitu, Bee. Aku takut ada yang lain,"
Bibir Shena melengkung ke bawah mendengar pengakuan suaminya. Ia mencubit kaki Dio yang dimana itu berhasil membuat beberapa helai bulu kaki Dio terangkat.
"Sakit, Bee,"
"Artinya kamu enggak percaya sama aku ya! Kamu mikir aku punya pacar gitu? Terus pacar aku yang ngirimin baju itu untuk aku? Aku engak segila itu, Mas. Kalau aku mau main-main, harusnya dari awal kita menikah aja, disaat kamu benar-benar nyakitin aku. Maaf kalau aku mengungkit masa lalu, tapi kamu udah nyebelin banget,"
Shena beranjak dari duduknya kemudian bergegas keluar dari kamar, tak jadi mau bikin susu karena kesal.
Dio yang menyaksikan kepergian istrinya pasca permasalahan yang mereka bahas barusan, hanya bisa menghela napas kasar dan meraup wajahnya.
"Aku tuh cuma takut aja kamu balas dendam, Bee. Aku takut kamu ninggalin aku. Kamu paham sama ketakutan aku enggak sih? Maaf udah curiga ke kamu tapi memang itu yang aku takutkan,"
****
Tok
Tok
Tok
Cklek
Shena senang ketika mencoba peruntungan membuka pintu kamar Kaleela berharap tidak dikunci dan ternyata benar tidak dikunci sehingga Ia bisa langsung masuk. Di kamar Kaleela rupanya ada Lala dan Kalina.
Ia bukan lari dari masalah. Justru ucapan yang tadi Ia lontarkan adalah penyelesaian dari masalahnya dan Dio. Kalau Ia tetap di kamar melanjutkan pembicaraan dengan Dio, maka bisa-bisa tidak berakhir sampai besok.
"Eh Shen. Kenapa ke sini?"
"Enggak apa-apa. Mau aja, emang enggak boleh, La?"
Lala yang ditanya begitu tertawa. Ia mencubit gemas paha Shena yang baru saja duduk di sebelahnya.
"Ya boleh lah. Apa sih yang enggak boleh buat bos?"
"Kalian lagi ngapain sih?"
"Ngobrol aja, Sheb. Sama bahas skin care, biasa lah, kayak enggak tahu aja pembahasan kita kalau udah kumpul,"
"Eh lo enggak dicari sama pak bos?"
"Enggak, udah tidur," jawab Shena asal. Entah benar sudah tidur atau belum suaminya itu yang penting Ia sudah menjawab.
"Kenapa lo enggak tidur juga, Shen?"
"Nanti aja, belum ngantuk,"
"Harusnya di kamar aja, 'kan bulan madu,"
Shena menggerutu dalam hati. Tidak ada bulan madu yang ada hanyalah pertengkaran akibat satu stel baju seksi lingerie.
Shena benar-benar geram sekali dengan kiriman itu dan Ia bersumpah yang memberikan baju itu untuknya segera diberikan pelajaran yang setimpal oleh pencipta. Sebab karena si pengirim itulah Ia dan Dio yang sebelumnya baik-baik saja malah bertengkar. Dan memang benar yang dikatakan Dio sejak tadi bahwa si pengirim benar-benar kurang ajar tidak tahu sopan santun mengirimkan baju yang seksi untuk perempuan bersuami.
Kalau selama ini Shena dilihatnya mengenakan pakaian yang terbuka, Shena mungkin tidak akan tersinggung, begitupun Dio. Masalahnya Shena saja selalu menggunakan baju yang sopan. Sangat tidak pantas memberikan baju seksi untuk Shena. Apalagi kalau terbukti yang mengirimkan adalah seorang pria. Dio kalau berhasil ketemu dengan orangnya, tentu akan memberikan pelajaran.
"Shen, kok lo ngelamun sih?"
"Hmm enggak, siapa yang ngelamun?"
"Kelihatan banget, Shen. Mikirin apa? Cerita aja kalau mau,"
"Aku pengin tanya deh,"
Shena memilih untuk tidak bercerita, melainkan bertanya pada mereka barangkali ada salah satu dari mereka yang mengiriminya baju itu.
"Kalian ada yang kirim baju ke rumah aku enggak?"
"Baju? Gue sih enggak,"
"Enggak, Shen,"
"Gue juga enggak. Lo 'kan jual baju ngapain gue kasih baju? Enggak deh, canda," ujar Kalina terakhir seraya terkekeh.
"Ih Kalina serius, jangan bercanda. Kamu kirim baju ke aku?" Tanya Shena pada karyawan perempuannya yang sudah Ia anggap sebagai sahabat bahkan saudara. Barangkali saja mereka sedang ingin memberinya kejutan.
"Enggak, kalau mau ngirim pasti gue bilang ke lo,"
"Seriusan? Enggak ada yang ngirimin baju ke aku?"
"Enggak ada seriusan, masa bohong?"
"Emang kalau boleh tahu baju apaan sih, Shen?"
"Aneh deh, tiba-tiba tanya begitu. Ada yang kirimin lo baju ya?"
Shena mengangguk membenarkan. Ia sudah tahu jawabannya. Ketiga pegawainya itu tidak ada yang mengirimkan baju untuknya. Lantas siapa? Shena dilanda kebingungan sekarang.
"Baju apa?"
"Baju pokoknya,"
"Lah iya baju apa? Gue tahu baju tapi baju yang kayak apa gitu lho?"
"Baju--baju--baju seksi,"
Shena ingin menjawab ragu-ragu tapi akhirnya keluar juga jawaban itu yang langsung mengundang tawa ketiga temannya.
"Kok pada ketawa sih?"
"Paling itu kerjaan Pak bos, Shen. Lo udah tanya dia? Jadi maksdunya itu baju enggak ada nama pengirimnya gitu ya?"
"Iya, aku enggak tahu siapa yang kirim baju itu ke aku dan Mas Dio juga enggak bilang kalau itu kiriman dia,"
"Hah? Serius lo? Pak bos enggak ngaku?"
Shena menganggukkan kepalanya. Kalau Dio mengaku, Ia tidak akan pusing memikirkan siapa yang telah mengirimkan baju itu. Masalahnya Dio tidak mengakui kalau dialah pengirimnya. Bahkan lelaki itu malah kelihatan marah sekali.
"Terus siapa kalau bukan Pak bos? Kok aneh kirim-kirim baju begitu ke lo?"
"Makanya itu, aku juga takut banget nih. Siapa yang ngirim ya?"
__ADS_1