
"Shena, kamu kenapa, Sayang?"
"Nggak apa-apa, Ma. Emang aku kenapa, Ma?"
Ardina menyadari mata Shena yang merah dan wajahnya yang agak basah. Tadi Ia tinggal tidak begitu keadaan Shena.
"Abis diomelin sama Dio tuh tadi,"
"Hah? kok bisa? kenapa emangnya?"
Ardina langsung bertanya sementara Sakti menatap anaknya dengan datar tapi Dio sudah dibuat takut. Ayahnya kalau sudah menatap datar seperti itu tandanya kesal. Sekalipun tanpa menatap tajam, Dio tahu ayahnya tengah kesal.
"Aku omelin bukan karena apa-apa, Pa, Ma,"
"Aku baik-baik aja kok, Ma. Emang aku keliatan beda gimana maksud Ma?"
Shena tidak mau memperpanjang masalah. Nanti suaminya jadi kena teguran dan Ia tidak mau hal itu terjadi. Memang Ia yang salah jadi Dio tidak patut disalahkan sepenuhnya. Dio tidak akan mengomelinya kalau saja Ia bisa hati-hati ketika melangkah menuruni anak tangga. Wajar Dio marah karena Ia khawatir takut terjadi sesuatu padanya yang tengah mengandung. Kalau sampai jatuh bahaya sekali untuk kandungannya.
"Jadi Shena tuh 'kan kebiasaan dia nggak bisa hati-hati orangnya ceroboh banget. Tadi pas turun tangga dia hampir jatuh, terus aku marah nggak sengaja bentak eh di dengar abang yang baru datang. Akhirnya aku juga diomelin sama Abang, dinasehatin panjang kali lebar,"
"Karena perkara itu aja kamu sampai marah. 'Kan bisa kasih tau secara baik-baik,"
"Udah begitu terus, Pa. Tapi Shena emang ngulangin kesalahannya terus. Ya gimana aku nggak kesel banget tadi. Aku cuma takut dia kenapa-napa. Kalau terjadi sesuatu sama dia 'kan aku juga yang stres nanti,"
"Ya niat kamu nggak salah kamu nggak mau Shena kenapa-napa cuma jangan sebegitunya juga lain kali ya,"
"Kasih Shena biasa aja. Insya Allah dia kenapa-napa kok, bunda yakin dia bisa jaga diri. Jadi kamu jangan ngomel mulu,"
Dio terkekeh, ia bebas dari omelan mamanya setelah Ia menjelaskan. Papa mamanya sudah bisa menerima kenapa dia sampai marah pada Shena. Tapi bukan berarti dia bisa seenaknya marah karena khawatir.
Dio langsung memasang sikap hormat dan membungkuk singkat. Kelakuannya itu mengundang tawa mereka yang melihatnya.
"Aneh banget, tadi aja ngomel sekarang lawak,"
"Siapa yang ngelawak sih? orang nggak ada tuh,"
Daun telinga Dio ditarik oleh ayahnya yang setelah itu langsung membawa cucunya ke halaman depan rumah.
"Akhirya Opa bisa gendong Shofea lgi sore-sore di sini. Shofea kangen nggak?"
Sakti sering sekali bahkan hampir setiap hari menggendong Shofea ketika sudah pulang bekerja dan dibawanya ke depan rumah yang sudah teduh kalau sore. Shofea suka terlelap juga karena terlalu nyaman digendong oleh kakeknya dan merasa nyaman dengan semilir angin sore. Tidak begitu lama Sakti akan membawanya masuk ke dalam agar cucunya bisa tidur dengan nyaman di kamar.
Asal cuaca bagus, Shofea dan dirinya sehat, pasti Ia membawa Shofea ke halaman depan rumah dan Shofea tidak pernah rewel, Ia menikmati diajak ke halaman rumah oleh kakeknya.
Sekarang Shofea justru kelihatan segar sekali mungkin karena sebelum ke rumah, Shofea sudah tidur.
"Jadi sekarang Shofea ditinggal mama bentar ya? Shofea nggak diajak dulu karena mama mau jenguk orang yang sakit, Shofea pergi sama papa aja deh, nyariin Opa nggak tadi? hmm?"
"Ngghh,"
Shofea melenguh sambil memengusap matanya sendiri. Sakti yang melihat itu segera menyingkirkannya. Ia takut tangan Shofea melukai mata atau wajahnya sendiri.
"Kebiasaan nih ngucek-ngucek mata atau nggak muka, nanti kalau luka terus berdarah gimana? pakein sarung tangan lagi aja ya? mau nggak? kayaknya udah nggak mau nih, soalnya udah gede, udah banyak gaya cucu Opa nih,"
Sakti menikmati waktu kebersamaannya dengan sang cucu. Ia menggendong sambil terus mengajak Shofea berinteraksi.
****
"Shena, jangan baca novel terus. Mana sambil duduk pula. Nanti aku sobek-sobek itu novel kamu ya. Kebiasaan banget nggak kenal waktu deh, udah ada dua jam kali tuh duduk aja mantengin novel,"
Shena merengut ketika novel yang Ia baca tiba-tiba direbut begitu saja oleh suaminya yang tampan itu.
Dio hari ini libur. Ketika siang, Ia pergi makan dengan ayahnya. Saat Ia akan pergi Shena sudah mulai membaca novel. Dan sampai Ia datang, ternyata masih membaca novel juga.
"Heran banget aku sama kamu. Kok nggak bosan-bosan sih baca novel terus? hmm?"
"Ya sama aja kayak Mas. Kadang suka lupa waktu kalau udah main game di handphone," Shena membalik situasi. Barusan suaminya mengomeli karena Ia terlalu banyak membaca novel. Shena akhirnya juga menyindir Dio yang kerap tidak kenal waktu kalau sudah bermain dengan game online di ponsel genggamnya.
"Ya tapi aku nggak sampai berjam-jam juga kali, terus aku juga nggak lagi hamil dan aku sambil tiduran lho jadi nggak capek. Lah kamu apa? lagi hamil, duduk mulu. Emang pinggang nggak pegel apa?"
Shena tertawa mendengar sindiran suaminya itu. Shena segera menyentuh pinggangnya sendiri kemudian Ia menggeleng.
"Nggak kok, Mas. Aman-aman aja tuh, jadi tolong ya kembaliin novel aku. Okay nggak aku baca tapi aku simpan aja,"
"Masalahnya ya, posisi kamu tuh nggak berubah sama sekali dari pas aku mau pergi sampai sekarang aku udah pulang. Kamu nyaman banget duduk sambil baca novel berjam-jam ya, aku sama papa padahal keluar dua jam ada lho, itu 'kan termasuk lama,"
"Ya nggak apa-apa, Mas. Yang penting aku senang dan nggak pegal pinggangnya,"
"Tapi nggak baik kalau kayak gini terus, Shena,"
"Ya terus aku harus ngapain dong kalau nggak baca novel? aku bingung. Yang penting shalat dzuhur udah, ngaji udah tiap pagi. Urusan rumah tangga juga udah. Aku bingung harus ngapain,"
"Tidur! makan!"
"Tidur makan terus, udah kayak kebo. Lah kebo aja cari kesibukan di sawah,"
"Nggak suka aku kalau kamu udah jawab begitu,"
Shena langsung melipat bibirnya ke dalam. Ia kelepasan menyahuti tiap ucapan suaminya. Ia tidak sengaja melakukan itu karena mungkin terlalu kesal dilarang Dio membaca novel.
"Udah makan belum? aku udah makan tadi sama papa,"
Shena spontan menggeleng tanpa memikirkan setelahnya Dio akan apa. Ya tentu saja kesal dan melotot tajam.
"Tuh 'kan, keasikan sama novel yang dibaca akhirnya lupa makan,"
Shena segera beranjak dari duduk dan baru terasa pegal di pinggangnya. Shena segera meluruskan pinggang dan tangannya pelan-pelan.
"Hmm kasian deh pegal-pegal, lagian sih ngabisin waktu sama novel keterlaluan banget. Ayo makan! kamu harus makan sekarang, aku temenin ke bawah,"
Dio keluar lebih dulu usai mepetakkan dengan kasar novel yang ia pegang di atas tempat tidur. Sebelum Shena keluar dari kamar menyusul suaminya, Ia membuka novelnya untuk mencari halaman terakhir yang Ia baca. Karena Dio mengambilnya tiba-tiba, Shena jadi belum sempat menandai halaman tersebut.
"Duh yang mana tadi ya? Mas Dio sih main asal rebut aja, aku belum tandain tuh yang terakhir aku--"
"Shena, masih mau baca novel? aku udah nunggu di luar lho, nggak taunya kamu malah buka novel,"
"Iya sabar, Mas. Ini aku lagi cari halaman terakhir yang aku baca. Gara-gara kamu ambil bukunya langsung tanpa bilang, akhirnya aku bingung deh halaman mana yang tadi aku baca terakhir kali,"
"Ya udah itu bisa dicari nanti. Pentingin dulu itu perut kamu yang kosong, Bee,"
"Iya sebentar,"
Shena bersikeras untuk mencari-cari. Ia mencoba untuk mengingat nomor halamannya. Ketika memory di kepala nya memberikan jawaban, barulah Shena mencari cepat halaman tersebut. Ia baca sebentar dan Ia ingat bahwa memang benar halaman yang terakhir Ia baca ada di halaman seratus dua puluh satu. Shena segera menandai halaman tersebut jadi ketika Ia akan lanjut membaca mudah untuk mencarinya.
Dio menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan sang istri yang sudah kecanduan sekali dengan buku terutama novel. Sejak awal menikah ia tahu Shena gemar membaca novel.
Tapi memang ketika Shena masih sibuk bekerja, Shena tidak bisa setiap hari membaca novel.
Giliran sudah hamil dan banyak di rumah, barulah Shena punya banyak kesempatan untuk membaca novel.
Sebenarnya Dio juga sadar kalau Shena tak bisa disalahkan sepenuhnya. Sebab Shena pasti bosan dan bingung mau melakukan apa. Jadi daripada dia kemana-mana atau melakukan kegiatan yang berat lebih baik membaca novel saja. Tetapi yang Dio tidak sukai adalah, Shena kerap lupa waktu.
Terbukti sekarang Shena belum makan. Beruntungnya ditanya langsung oleh Dio. Coba kalau tidak, Shena pasti tidak akan ingat, dan kalau seandainya Dio belum tiba, Shena pasti masih bertahan di posisi nyamannya tadi.
"Ayo kita makan, Mas," ujar Shena dengan antusias keluar dari kamar usai menyimpan buku novel miliknya.
"Kamu lah yang makan, aku mah udah makan tadi sama ayah,"
"Mas makan apa?"
"Ayam goreng sama nasi kuning,"
"Oh, enak nggak?"
"Enak, itu aku bawain buat di rumah,"
"Yeaay makasih ya, Mas,"
Dio menganggukkan kepalanya dan itu membuat Shena mendengus. "Apa susahnya bilang sama-sama dengan muka tersenyum? ini Mas malah datar aja mukanya. Masih kesel sama aku karena aku baca novel ya?"
"Bukan kesel karena baca novel tapi kesel karema kamu nggak tau waktu,"
"Iya deh, aku minta maaf sama Mas,"
"Ya jangan sama aku lah, sama anak-anak kita tuh yang udah kelaparan karena mamanya malah sibuk baca novel,"
"Eh tapi sebenarnya aku belum rasa lapar tau, Mas. Berarti anak-anak juga belum,"
"Ya karena mereka belum bisa ngomong aja. Kalau udah, udah ribut dari tadi minta makan. Orang 'kan kalau lagi sibuk emang kadang nggak sadar udah lapar atau haus. Saking sibuk sama kegiatan,"
"Mas sering begitu ya kalau di kantor?"
"Iya, sadar belum makan setelah jam dua atau tiga kadang-kadang,"
"Ya ampun telat banget kamu makannya, Mas,"
"Ya emang iya, tapi kamu jangan ngikutin aku. Kamu 'kan ada dua bayi di dalam perut. Jangan sampai kamu mereka berdua kelaparan,"
Dio menarik kursi dan mempersilahkan Shena untuk duduk menghadap sepuluh kotak nasi kuning beserta lauk pauk.
"Mas sama ayah makan ini tadi?
Dio mengangguk di sela kegiatannya menuang air minum di gelas untuk sang istri yang kli ini baru mau makan siang setelah sebelumnya terlalu sibuk dengan novel yang Ia baca.
"Nih minumnya, ayo dimakan sekarang. Habisin ya, jangan disisain,"
"Sepuluh kotak aku habisin?"
"Ya kalau kamu kuat mah nggak apa-apa. Tapi aku rasa nggk deh,"
Shena terkekeh, mana kuat Ia menghabiskan sepuluh kotak nasi kuning dengan lauk pauknya itu. Yang ada juga ia muntah.
"Makasih ya, Mas,"
"Iya, udah nggak usah bilang makasih, makan aja sekarang,"
Shena mengangguk dan Ia langsung menyantap makanan di depannya itu dengan lahap.
"Gimana rasanya? enak nggak?"
"Enak banget, Mas. Aku emang udah nebak dalam hati pasti enak nih, eh ternyata beneran enak. Sambal sama ayam goreng nya itu lho, mantap kali,"
"Wuidih, Alhamdulillah kalau emang enak,"
"Mas beneran udah kenyang?"
"Udah dong,"
Dio menjadikan istrinya sebagai objek yang Ia tatap dengan lamat-lamat. Ia senang melihat Shena makan dengan lahap.
"Kayaknya kamu udah lapar deh,"
__ADS_1
"Keliatan ya? tapi kayak belum ngerasa lapar, Mas,"
"Iya karena sibuk baca novel 'kan aku bilang,"
"Mas sama papa cuma makan aja? ngomong-ngomong nggak jadi main golf,"
"Nggak, Bee. Makan aja tadi,"
"Rame tempat makannya, Mas?"
"Nggak, emang kenapa?"
"Aku jadi pengen makan di tempat langsung deh, Mas. Boleh nggak?"
"Boleh aja, tapi kapan? sekarang?"
"Ya nggak lah, Mas. Kalau sekarang aku udah kenyang makan sama yang Mas bawa ini?"
"Ya udah bilang aja kalau emang udah pengen makan di sana. Emang enak sih tempat makannya juga. Maksud aku tuh nyaman banget,"
"Tuh 'kan makin pengen ke sana,"
"Besok aja Insya Allah kalau kamu mau,"
"Mau deh, besok ya,"
"Ya, di sana nyaman banget sampai aku nggak kau pulang,"
"Lah beneran sampai segitunya ya?"
Dio tertawa dan Ia menganggukkan kepalanya. Sebenarnya biar nyaman bagaimana pun, Ia tetap ingin pulang ke rumah. Itu hanya candaannya saja.
*****
Shena bangun terlampau siang sekali hari ini. Sudah pukul delapan Ia baru bangun padahal biasanya tidak seperti ini.
Berdasarkan yang Shena ingat, kalau tidak salah ini bangun tersiang yang pernah terjadi sepanjang dirinya ada di dunia.
"Astaghfirullah, ini mah udah nggak bener lagi jadi istri. Mas Dio aja udah berangkat kerja kayaknya,"
Shena semalam tidur larut sekali bahkan hampir jam tiga pagi itupun bangun lagi di pukul lima karena harus menunaikan kewajiban ibadah uda rakaat. Niatnya hanya ingin membaringkan badannya sebentar karena kepalanya pusing tapi ternyata justru lanjut tidur.
Semalam Shena susah tidur tapi Shena juga tidak tahu apa penyebab Ia sulit memejamkan matanya. Ia tidak merasakan yang namanya kantuk sama sekali. Justru betah melamun dan berubah-ubah posisi sementara lelaki di sampingnya yang tidak lain adalah suaminya justru tidur setelah shalat Isya bersamanya.
Shena turun ke lantai bawah untuk memastikan suaminya sudah berangkat kerja.
Ia bergegas ke meja makan, ternyata Dio belum berangkat. Ia tengah sarapan dengan bundanya saja, sementara Sakti belum Shena lihat sosoknya.
"Ya Allah, Mas, aku minta maaf bangun kesiangan,"
"Eh udah bangun ternyata,"
"Kok Mas ngak bangunin aku?"
"Sengaja, soalnya kamu pules dan kasian mau bangunin kamu,"
"Harusnya bangunin aja, Mas. Tadi niatnya habis shalat shubuh cuma mau baringan bentar eh malah ketiduran,"
"Ya udah nggak apa-apa, Sayang. Nggak ada yang marah kamu bangun siang,"ujar Ardina seraya tersenyum mengusap bahu Shena yang panik sekali kelihatannya hanya karena perkara bangun lebih siang dari biasanya.
"Kamu kok tumben belum berangkat, Mas?"
"Iya lagi mau agak santai, nggak apa-apa lah telat dikit,"
"Dia masih berat ninggalin kamu katanya. Pengen pamit langsung tapi kamu nya lagi tidur. Katanya kalau dia nunda bentar pergi kerja, barangkali kamu udah bangun tanpa dia bangunin, akhirnya sekarang masih di rumah deh,"
"Mas, kenapa harus nunggu aku? duh, aku makin merasa bersalah ini. Harusnya nggak usah pamit, Mas,"
"Selain emang maunya pamit langsung, aku emang lagi pengen santai dikit hari ini,"
"Terus Papa kemana, Ma? apa udah berangkat?"
"Oh kalau Papa jangan ditanya. Papa berangkat kayak biasa, Shen,"
"Duh, sekali lagi maaf ya,"
"Ish kamu nih kenapa minta maaf terus sih, kamu nggak salah, Sayang. Udah daripada minta maaf terus lebih baik kamu sarapan deh, bareng sama bunda dan Mas kamu tuh,"
"Aku nggak enak banget masa nggak bantu bikin sarapan malah kesiangan bangunnya,"
"Ssst eh! kenapa harus nggak enakan sih? di sini nggak ada aturan si ini atau itu harus bantu bikin sarapan. Kalau pun kita nggak turun ke dapur, Bibi 'kan Insya Allah bisa diandelin. Malah tiap mau kita bantuin bibi yang nyuruh udahan,"
"Iya mending kamu sarapan sekarang yuk,"
Shena menganggukkan kepalanya. Ia segera menuang sedikit nasi goreng di atas piring makannya setelah itu Ia pamit ke dapur sebentar ingin membuat susu hamilnya.
"Bunda liat-liat kamu nih nggak perhatian ya sama Shena. Kok kamu nggak pernah nurutin ngidam dia sih? terus nggak pernah juga tuh bikin susu hamil,"
Dio membelalak terkejut begitu mamanya punya anggapan seperti itu kepadanya.
"Bukan nggak nurutin, Ma. Emang Shena yang nggak ngidam. Hampir tiap hari aku tanyain mau apa? dia bilang nggak mau apa-apa terus. Nah masalah bikinin susu hamil, aku sebenarnya udah pernah cuma dua kali gagal,"
*****
"Gagal kenapa?"
"Yang pertama air kebanyakan sampai tumpah, yang kedua kekurangan susu dan terlalu banyak air. Jadi kata Shena aku nggak usah bikinin dia susu lagi daripada gagal terus,"
"Ya Allah, padahal timbang bikin susu lho. Kayak begitu aja harus gagal. Kamu bener-bener deh, Dio,"
"Tapi kamu harusnya bikin lagi dong,"
"Iya nanti aku belajar lagi deh. Aku juga pengen banget, Ma. Cuma Shena tuh bawel sebenernya. Nanti aku dilarang-larang, diminum sih sama dia pasti, cuma kalau nggak enak aku yang ngerasa bersalah 'kan. Misal kebanyakan air, kebanyakan susu, atau segala macamnya. Kalau masalah ngidam bukan aku nggak mau nurutin, Ma. Emang dia yang nggak mau apa-apa,"
Dio menegaskan sekali lagi bahwa Ia bukan tidak mau menjadi suami yang baik dengan memenuhi semua keinginan sang istri tapi selama hamil Shena memang tidak banyak permintaan. Kalau ada pun, pasti Ia penuhi selagi sanggup.
Shena kembali bergabung di meja makan dengan membawa satu gelas susu hamil untuk dirinya sendiri.
"Shen, Mama boleh ngomong sesuatu sama kamu nggak?"
"Boleh, Mama, mau ngomong apa?"
Shena menatap Ardina dengan tatapan penasaran. Ia sampai menghentikan sejenak makannya demi mendengarkan mertuanya bicara.
"Kamu tuh kalau lagi pengen ini atau itu, langsung bilang sama Dio biar Dio turutin. Kok kamu hamilnya tenang-tenang aja sih? jarang banget pengen ini itu, kamu yang nahan atau emang bayi nggak minta apa-apa?"
Shena tersenyum, Ia pikir Ibu mertuanya ingin membicarakan hal penting apa di meja makan, rupanya soal permintaan selama hamil. Shena akui ia memang tak banyak keinginan tapi bukan Ia yang mau seperti itu. Memang dari dalam jarang minta apa-apa.
"Aku nggak nahan, Ma. Kalau emang lagi nggak pengen sesuatu ya udah, aku nggak mau ngada-ngadain,"
"Makan juga semakin susah belakangan ini, jangan begitu dong, Shen. Mama sedih kalau kamu telat-telat makan, kasian sama bayi 'kan,"
"Iya, Ma. Insya Allah aku nggak telat-telat makan lagi kok, Mama tenang aja ya,"
"Mama khawatir sama cucunya, Shen. Malanya jangan telat makan, jangan susah makan, harus jaga kesehatan,"
"Siap, Mas,"
"Mama pikir kalau hamil kembar tuh malah gampang lapar dan banyak makan lho. Tapi kamu kok nggak ya? mungkin emang beda-beda,"
****
"Bee, ini tumben banget kamu posting foto kita berdua di akun instagram aku,"
Shena melirik sekilas kemudian tertawa. Ia pikir Dio tidak akan sadar kalau Ia baru saja memposting foto di akun instagram suaminya karena Dio itu terbilang tidak sering membuka sosial media miliknya sendiri.
"Iya aku iseng,"
"Tapi kenapa mukanya nggak keliatan? cuma dagu sampe perut doang masa,"
"Itu sekalian posting outfit lho, Mas. Biar estetok,"
"Oalah estetik?"
"Yes! betul sekali,"
"Tumben banget nih eksis di dunia maya biasanya mah suka liat postingan orang aja tapi jarang posting di akun sendiri udah gitu sekalinya posting cuma pemandangan sama benda mati doang lagi. Ih kamu nih aneh banget. Beda ya kayak cewek kebanyakan,"
"Yang penting udah ada satu tuh muka aku. Kamu yang suruh posting, tapi kayaknya bakal aku hapus deh. Kayak yang udah-udah,"
"Ih jangan! udah cakep ada satu foto muka biar feed nggak begitu terus. Tetap estetok kok,"
"Lah ngikutin jadi estetok,"
Shena tertawa karena suaminya mengikuti gaya bahasanya. Ia mengganti estetik menjadi estetok dan Dio tak mau kalah.
"Itu muka aku yang ada di akun kamu bisa tolong diapus aja nggak?"
"Nggak! cuma satu doang masa nggak boleh,"
Shena berdecak karena bentuk protes nya tak dihiraukan oleh sang suami yang beberapa bulan lalu memposting foto wajahnya dengan emoji hati di bawah foto tersebut. Shena benar-benar kaget sekaligus malu. Ia tak pernah percaya diri untuk melihat mukanya sendiri di dunia maya.
"Udah di akun aku, terus di akun kamu juga. Nanti muka aku mejeng di akun siapa lagi ya, Mas?"
"Nggak apa-apa, Sayang. Aku nyuruh kamu posting muka kamu di feeds supaya bukan benda mati atau pemandangan mulu yang diliat,"
"Ih nggak juga. Orang ada foto genggaman tangan kita kok, Mas,"
Dio berdecak dan Ia segera meraih ponsel istrinya kemudian menggulir layar. Kali ini pembahasan mereka adalah postingan di akun sosial media.
"Ya emang sih ada tangan kita berdua. Tapi mukanya mana? nggak ada muka manusia di situ. Makanya aku suruh posting foto aku,"
"Nanti aku posting foto Mas pakai caption "Punyaku" boleh nggak?"
"Boleh banget, emang mau? nggak mengurangi estetok?"
"Aku sih mau-mau aja. Tapi nggak jadi deh, nanti banyak yang suka,"
Dio tertawa dan ia sudah beberapa kali dengar alasan itu. Lagi-lagi Shena tak mau membagikan potret wajahnya karena takut banyak yang menaruh hati.
"Terus Mas ngapain posting foto aku di akun Mas? nggak takut ada yang suka?"
"Awal-awal takut sih. Cuma kalau dipikir-pikir nggak apa lah sesekali. Lagian fotonya juga bukan yang aneh-aneh. Cuma foto candid kamu aja dan itu hasil bidikan aku,"
"Woah berarti gedean posesifnya aku daripada Mas ya,"
Shena malu-malu mengakui kalau Ia begitu posesif tidak mau suaminya disukai orang makanya tidak memposting. Sementara Dio tidak seperti itu.
"Aku 'kan pernah ya, Mas, waktu itu posting foto Mas sama aku. Nah ada orang yang komen 'ganteng banget tuh boleh dong liat sini' aku semenjak itu kesal banget. Langsung aku arsip fotonya. Dan nggak hanya satu orang aja, ada lima orang kayaknya yang bilang Mas ganteng, gagah, segala macamnya lah pokoknya. Aku kapok abis itu,"
Dio kaget mendengar cerita istrinya. Baru kali ini Shena menyampaikan penyebab atau alasan terbesar Ia memilih untuk menjadikan foto Dio atau foto mereka berdua sebagai koleksi pribadi.
__ADS_1
"Seriusan, Bee?"
"Iya, makanya itu aku langsung arsip foto terus udah nggak pernah lagi post foto apapun tentang Mas, tadinya aku juga nggak kau posting foto aku, tapi Mas nyuruh banget. Akhirnya aku nurut karena kalau diliat-liat emang akun aku sepi banget postingannya cuma yang gitu-gitu aja kayak pemandangan, cangkir, lukisan, bunga, atau apalah. Tadinya mau posting foto berdua Mas aja biar ada yang beda dari feed Instagram aku. Tapi nggak jadi karena aku takut kejadian kayak waktu itu lagi. Kesel banget aku lho, Mas. Padahal kamu bukan artis tapi ada aja yang muji begitu, ya emang kamu ganteng sih tapi daripada kotorin kolom komen aku mending komen di lapak orang aja deh,"
******
Hari ini Shena menjalani yoga kehamilan ditemani oleh Dio. Setelah itu mereka berangkat bersama. Tapi suaminya pergi ke kantor, sementara Ia ke rumah orangtuanya.
Kedatangan Shena tentu saja tak diduga oleh mamanya yang pengertian sekali, tidak menuntut Shena untuk sering-sering lagi datang ke rumah karena kandungannya yang semakin besar. Yang terpenting baginya keadaan Shena dan kandungannya baik-baik saja. Meskipun tak sering lagi datang ke rumah orangtuanya, tapi Shena tetap hampir setiap hari menghubungi mama atau papanya melalui pesan untuk menanyakan kabar mereka dan memberitahu kabarnya juga.
“Senang banget kamu datang ke sini,”
“Tapi maaf ya, Ma, Mas Dio langsung berangkat kerja abis antar aku ke sini soalnya dia udah agak telat, tadi temenin aku yoga dulu soalnya,”
“Iya nggak apa-apa, mama ngerti. Tadi Dio juga udah pamit kok, ‘kan sempat salim mama,”
“Eh kamu udah sarapan belum?”
Shena menggeleng dan Ia bercerita kalau tadi dari shubuh mengalami mual padahal biasanya tidak merasa mual sama sekali lagi.
“Oh, terus yang kamu mau apa, Nak? Kira-kira makanan yang nggak bikin mual apa? Mau bubur nggak? Mama sih masaknya nasi goreng sama ayam goreng aja ini. Tapi kamu mau nggak?”
“Makan nasi goreng mama aja. Aku udah kangen sama nasi goreng bikinan mama,”
“Beneran? Nggak bubur aja? Nanti mama beliin,”
“Nggak, Ma, aku mau nasi goreng aja,”
“Ya udah, ayo sini makan,”
Nirma mengajak anaknya untuk duduk di ruang makan. Shena langsung disambut dengan menu sarapan berupa nasi goreng dan ayam goreng.
“Nak, mau susu nggak?”
“Nggak, Ma. Udah mama duduk aja, nggak usah ngapa-ngapain temenin aku makan aja, Mama,”
“Okay, Sayang, mau mama suapin nggak?”
“Nggak usah, Ma, aku ‘kan udah gede. Bukan hanya gede usia tapi gede perut juga,”
“Ya udah makan sekarang, biar perut kamu keisi. Gimana hamilnya sekarang, Shen? Udah mulai kerasa banget ya?”
“Uh bukan lagi, Ma. Sekarang hampir tiap malam dibangunin sama yang gerak-gerak di dalam,”
“Alhamdulillah kalau aktif,”
“Iya, mana nyeri kadang, terus punggung ke bawah tuh suka pegal juga. Kaki aku sama tangan nih udah mulai keliatan bengkak, coba deh mama liat,”
Shena mendekatkan tangannya ke arah sang ibu supaya bisa dilihat apa yang Ia katakan itu benar adanya. Nirma langsung terkekeh melihat tangan anaknya yang memang beda dari biasanya. Kali ini lebih berisi. Tipe jari Shena itu tak terlalu panjang-panjang, jadi ketika berisi atau gemuk jarinya akan kelihatan lucu.
“Kayak tangan apa ya, Ma? Tangan badut kayaknya,”
“Ya nggak dong, tangan badut masa secakep tangan anak mama sih,”
“Naik berapa kilo sekarang, Shen?”
“Lima belas kilo terakhir aku nimbang. Aku makin takut liat timbangan, Ma. Takut nangis karena berat badan makin nambah,”
“Nggak apa-apa, Nak, wajar aja kok. Mama juga waktu hamil kamu, beratnya nambah banget. Habis itu normal lagi dibantu sama olahraga ringan-ringan aja kalau emang udah bisa,”
“Terus ini perut bakal kempes ‘kan ya, Ma?”
Nirma terkekeh mendengar pertanyaan Shena yang bertanya sambil mengusap perutnya. Cemas perut tak bisa datar seperti sebelum hamil sudah menjadi hal biasa bagi ibu hamil dan saat ini Shena sedang ada di tahap itu.
“Iya dong, Sayang. ‘Kan udah nggak ada bayi. Ya pasti bakalan kempes nanti. Kamu tenang aja, nggak usah cemas perutnya bakal kelebihan ukuran,”
“Tapi susah balik ke semula lagi ya, Ma?”
“Makanya nanti kalau seandainya sudah memungkinkan, ya olahraga aja tapi olahraga kecil-kecil gitu maksud mama, jangan langsung yang berat menguras energi,”
“Hmm begitu ya, Ma? Minum-minum jamu juga nggak, Ma? Jamu langsing dan singset?”
“Nggak ah, mama dulu nggak pernah minum-minum kayak begitu,”
“Oalah mama kempes sendiri aja ya, Ma? Sama olahraga tipis-tipis,”
“Iya, itu juga olahraga susah banget untuk nyempetin waktunya, karena ‘kan harus sambil ngurus anak, mana dua lagi ‘kan. Paling mama bisa olahraga pas udah sore karena papa udah pulang jadi Shena sama papa dulu sebentar sementara mama olahraga. Paling lima belas menit aja lari atau yoga, paling lama bisa setengah jam, cuma ada waktu segitu aja. Karena kadang papa nggak bisa terlalu diandelin. Apalagi kalaukamu udah cengeng, duh jadi pusing itu papa,”
Shena bertepuk tangan memuji kehebatan mamanya yang mampu menjadi ibu yang luar baisa. Menurut Shena itu tidak mudah. Yang Ia lihat dari orang terdekatnya, mengurus satu anak saja sulit minta ampun, apalagi kalau lebih dari satu.
“Aku harus belajar banyak sama mama. Hebat banget sih mama aku nih,”
“Kamu sama hebatnya, Sayang. Semangat ya, anak mama. Kamu pasti bisa jadi ibu yang nggak kalah hebat dari ibu-ibu lainnya di luar sana, mama yakin banget anak mama nih bisa,”
“Aamiin, aku sempat takut nggak bisa lho, Ma. Aku takut banget nggak bisa jadi ibu kayak ibu lainnya di luar sana. Aku takut gagal,”
“Gagal jadi ibu? Eh nggak boleh begitu mikirnya. Belum apa-apa masa udah pesimis duluan? Kamu pasti bisa, Shen. Yang lain bisa, kamu juga harus bisa dan pasti bisa kok, mama yakin banget,”
Kalau melihat perjuangan para wanita yang sudah menjadi Ibu, terkadang ada rasa khawatir dalam diri Shena Ia tak bisa menjadi seperti mereka. Shena memuji mereka dan tak henti berdecak kagum terhadap setiap perjuangan mereka.
“Ibu, maaf, ini ada undangan aqiqah dari Bu Teni tetangga komplek sebelah. Cucunya aqiqah, Bu,”
“Oh iya, makasih, Bi,”
Asisten rumah tangga Nirma datang membawa sebuah undangan aqiqah untuk Nirma agar hadir di acara aqiqah cucu dari teman sekaligus tetangga yang Ia ketahui anaknya mengandung dua cucu tapi entah kenapa yang namanya ditulis hanya satu saja di undangan tersebut. Dari situ Nirma merasa bingung.
“Yang mama ingat Bu Teni mau punya dua cucu dari anak ketiganya. Ini tapi kok cuma satu ya?”
“Hah? Jadi harusnya kembar gitu, Ma? Atau gimana?”
“Iya, anak perempuan yang nomor tiga hamil kembar seingat mama. Cuma ini kok hanya satu nama aja yang di tulis ya? Masa iya salah undangan?”
“Mungkin ada satu dan lain hal yang bikin cucu keduanya nggak ditulis namanya, Ma,”
“Iya kayaknya ya, coba mama telepon Bu Teni dulu deh. Mau bilang makasih untuk undangannya,”
Nirma segera menghubungi teman arisannya itu yang selalu saja melibatkannya dalam setiap acara yang dilaksanakan, dan Nirma hampir selalu hadir.
“Mama mau datang ke acara itu?”
“Iya Insya Allah datang dong, Sayang. Bu Teni itu udah dekat banget sama mama dan beliau baik,”
Ketika panggilannya dijawab oleh Bu Teni, Nirma langsung mengucap salam yang segera dibalas oleh Bu Teni.
“Ibu, makasih banyak undangannya,”
“Iya sama-sama, datang ya, Nir, ke aqiqah cucuku yang baru lahir. Alhamdulillah yang satu sehat, dan kami mau aqiqah nanti. Kalau yang satunya lagi meninggal,”
“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, turut berduka cita, Bu,”
Nirma tadinya tidak mau bertanya soal cucu Bu Teni yang satu lagi. Walaupun Ia sendiri tahu harusnya ada dua yang lahir karena mereka kembar. Tapi Bi Teni sendiri yang memberitahu. Nirma tak mau bertanya karena takut menyinggung perasaan Bu Teni.
Tapi begitu Bu Teni menjelaskan bahwa cucu satunya lagi telah tiada, Nirma ikut terpukul dan kaget tentu saja. Ia memposisikan dirinya sebagai Bu Teni yang pasti sedih sekali karena harusnya dua cucu yang lahir tapi takdir berkata lain.
“Iya, Bu Nirma. Makasih untuk ucapannya. Sekalian juga nanti mau acara pengajian untuk mengenang kepergian. Bisa datang ya, Nir?”
“Insya Allah saya datang. Sekali lagi turut berduka cita ya, Bu. Ini yang terbaik dari Allah. Semoga si kecil yang baru lahir ini bisa sehat terus tumbuh besar sesuai harapan keluarga, Aamiin,”
“Aamiin terimakasih untuk doanya. Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam,”
Nirma meletakkan ponselnya di meja dengan wajah berbeda dari sebelumnya menggambarkan Ia tengah bersedih, Shena langsung menatapnya bingung.
“Kenapa, Ma?”
“Cucunya Bu Teni yang satunya lagi meninggal, Shen,”
“Inna lillahi, pantas aja cuma satu yang aqiqah ya, Ma. Mudah-mudahan yang satunya sehat terus. Kasihan banget orangtuanya harus kehilangan satu anak mereka,”
”Iya, Sayang. Semoga sehat-sehat terus si kecil yang satu itu,”
“Jadi nggak berhasil dilahirkan dua-duanya ya, Ma? Nggak tega banget,”
“Mama juga nggak tanya penyebab meninggalnya karena apa. Mama nggak sampai hati mau tanya-tanya, takut bikin Tante Teni jadi sedih,”
“Jangan lupa datang, Ma,”
“Iya soalnya kata Tante Teni tadi mau ada acara pengajian untuk mengenang kepergian cucunya juga,”
Shena beranjak dari kursi yang Ia duduki setelah menyudahi makannya. Ia membawa piring ke dapur untuk Ia basuh sekaligus Ia mengambil air dingin.
“Ih ada es krim. Aku mau ya, Ma?”
Shena kesenangan sekali begitu melihat ice cream di dalam kulkas bagian atas atau freezer. Ia langsung minta bagian oleh mamanya.
“Boleh, ambil aja, Sayang. Asal jangan terlalu banyak, takutnya kamu batuk. ‘Kan nggak enak banget kalau lagi hamil terus batuk, kasihan sama kamu nya,”
“Iya, Ma. Aku cuma minta satu aja kok. Boleh ‘kan ya?”
“Iya boleh, ambil aja,”
“Kalau nambah boleh?”
“Lah mau nambah?”
Shena terkekeh, Ia prediksi, satu ice cream tidak cukup, sepertinya Ia akan kekurangan dna minta lagi. Tapi mamanya tidak melarang dan tidak mengizinkan juga.
“Terserah kamu aja, kalau masih okay, boleh minta satu lagi,”
“Yeayyy makasih ya, Ma,”
“Sama-sama, asal nggak berlebihan banget,”
Shena tidak jadi minum air putih dan akhirnya mendapat teguran dari mamanya. Terlalu senang bisa minum ice cream, Shena jadi mengabaikan air putih dan mamanya langsung memperingati.
“Eh minun air dulu sana, ‘kan habis makan,”
“Udah mau minum es krim ini,”
“Ya tapi sebaiknya minum air putih dulu, emang nggak nyangkut makanan di kerongkongan? Kok nggak didorong dulu sama air? Itu di dalam perut juga butuh air untuk cerna makanan,”
Akhirnya Shena langsung mengambil air putih, tak jadi menyantap ice cream tanpa minum air putih terlebih dahulu karena mamanya sudah menyuruh Ia untuk segera minum air putih karena baru habis makan.
“Mama, kok tumben ada stok ice cream? Biasanya nggak ada ice cream di kulkas. Apa aku aja nih yang baru tau kalau mama papa udah mau lagi minum yang dingin-dingin?”
“Itu kemarin papa beli katanya lagi pengen banget sama minuman dingin itu akhirnya papa beli tapi nggak tau kenapa banyak banget, kamu mau bawa?”
“Nggak deh, Ma. Nanti pasti jadinya mencair kalau dibawa ke rumah. Udah aku makan di sini aja, Ma,”
“Eh iya juga deh, kalau kamu bawa ke rumah takutnya kamu jadiin itu sebagai cemilan, semua yang berlebihan itu nggak bagus,”
__ADS_1
“Mama tau aja maunya aku gimana, tapi aku takut soalnya lagi hamil. Menghindari yang namanya sakit ini dan itu,”
“Iya bagus, Sayang. Memang seharusnya begitu,”