Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 61


__ADS_3

“Diundur jadi besok perginya, entah kenapa gue senang, karena hari ini seharian gue bisa sama lo,”


Dio mengeratkan pelukannya di perut sang istri. Pagi ini Ia ingin menghabiskan waktu satu hari sebelum Ia berangkat ke Lombok esok hari.


“Kita mau ngapain seharian ini? Aku bingung,”


“Lo pengen jalan-jalan kemana?”


“Hmm nggak tau emang kamu mau jalan-jalan?” Tanya Shena sambil menolehkan kepalanya ke sebelah kanan dimana suaminya berbaring memeluknya.


“Ya kalau lo mau jalan, gue ayo aja, tapi kalau sekarang gue pagi pengen baringan sama lo,”


Dio mencium tengkuk Shena yang langsung membuat Shena merinding. Dio yang mengetahui istrinya gugup langsung terkekeh.


“Kamu kenapa sih? Kayak yang pengantin baru aja? Padahal ‘kan nggak,”


“Ya abisnya kamu—“


“Kenapa? Nggak suka aku peluk?”


“Bukan nggak suka, kaget aja,”


Dio mengulangi perbuatannya barusan. Lagi-lagi Ia mengecup tengkuk istrinya beberapa kali kemudian diakhiri dengan kecupan di pipi.


“Ntar deh siang-siang kita jalan yuk,”


“Kemana?”


“Terserah lo aja mau kemana,”


“Ya kok terserah aku? Terserah kamu aja,”


“Ya terserah kamu lah. ‘Kan besok mau aku tinggal pergi, nah kamu mau aku bawa kemana?”


“Hmm main di timezone aja deh,”


“Hahahaha,”


Dio terbahak mendengar ucapan istrinya. Yang benar saja, haruskah Ia menuruti pemrintaan Shena yang aneh itu? Main di wahana bermain yang biasa digunakan oleh anak kecil? Ya ampun, tidak pernah terbayangkan dalam benak Dio kalau itu akan Ia lakukan.


“Ya emang kenapa? Nggak boleh ya?”


“Ya—-gue nggak tau sih boleh atau nggak cuma kita ‘kan udah dewasa, emang lo nggak malu apa?”


“Nggak, pengen hadi anak kecil aku malah,”


“Kenapa? Enak jadi orang dewasa lah,”


“Nggak, bercanda. Aku pengen aja gitu ke sana. Apa aku ngid—eh ya udah deh nggak apa-apa kalau kamu nggak mau,”


“Ya udah mau-mau, okay kita ke timezone kalau emang lo mau ke sana,”


“Kamu malu ya?”


“Ya iyalah malu, tapi nggak apa-apa deh, demi istri,”


“Berarti nggak ikhlas tuh, ya udah nggak usah mendingan, kita makan aja di luar gimana?”

__ADS_1


“Nggak apa-apa gue ikhla skok. Kota ke timezone aja gue mau nurutin kemauan lo,”


“Beneran?”


“Ya beneran lah, masa gue bohong,”


“Ya udah kalau gitu kita ke timezone abis itu kita makan ya?”


“Iya boleh, tapi di tempat main itu ada barasan umur nggak sih? Gue belum pernah ke sana pas udah dewasa, jujur. Gue ke sana pas masih kecil,”


“Iya sama aku juga belum pernah ke sana setelah dewasa. Nanti coba kita tanyain aja,”


“Okay, tapi kalau seandainya kita nggak boleh masuk gimana?”


“Ya udah nggak apa-apa kita nggak udah maksain. Kita langsung cari makan aja,”


“Beneran nggak apa-apa?”


“Nggak apa-apa,”


“Lo nggak kecewa gitu?”


“Nggak, kenapa harus kecewa?”


“Ya kali aja lo bakal kecewa terus sedih sampai nggak mau makan,”


“Hahaha kamu ada-ada aja. Mana mungkin aku begitu. Ya nggak lah,”


“Ya udah berarti kita langsung makan ya kalau misalnya nanti kita nggak boleh masuk wahan bermain itu,”


“Okay,”


“Kamu mau kemana?”


“Mau tidur,”


“Tidur lagi? Ini udah jam amebilan pagi lho,”


“Ya nggak apa-apa gue ngantuk lagi,”


“Ya udah kenapa pelukannya mau dilepas?”


“Gue mau tengkurap,”


“Jangan! Peluk aku aja,” ujar Shena dengan lugas, dan itu mengundang senyum Dio. Istrinya tidak rela kalau Ia melepaskan pelukannya padahal Ia ingin tengkurap dan barangkali Shena risih Ia peluk terus.


“Oh jadi gue nggak boleh lepas oelukannya nih?”


“Jangan, kayak gini aja udah,”


“Emang lo nggak risih gitu?”


“Nggak kok kalau risih aku pasti ngomong lah,”


“Oh ya udah,”


Akhirnya Dio tidak jadi tengkurap. Ia tetap berbaring dengan memeluk Shena dan tidak lama kemudian Dio terlelap. Shena yang bisa merasakan hembusan napas suaminya sudah teratur menerpa sebagian wajahnya langsung mendongak, dan Ia tersenyum melihat suaminya sudah tidur.

__ADS_1


“Udah tidur ternyata, cepat banget kamu tidurnya, Dio,” gumam Shena sambil memgusap punggung tangan Dio yang ada di atas perutnya.


“Nak, kamu pasti senang ya akhir-akhir ini Papa kamu sering pegang kamu, walaupun papa kamu itu belum tau kehadiran kamu tapi kamu senang ‘kan disentuh lembut sama dia?” Batin Shena mengajak anak dalam kandungannya itu bicara. Shena tahu tidak akan mendapat jawaban tapi Ia memang senang mengajak anaknya untuk berinteraksi.


“Kamu tenang aja, Papa kamu pasti nerima kamu apa adanya kok, jangan khawatir ya, Nak,”


Tanpa sadar air mata Shena terjatuh, Shena langsung menghapusnya dan menarik napas panjang.


“Eh Shen, lo kenapa?”


Shena terkejut ketika tiba-tiba saja mendengar suaminya bertanya. Ia langsung menatap Dio dengan sorot mata bingung. Tadi suaminya sudah tidur, lalu malah bangun tiba-tiba.


“Kamu—kamu—bukannya udah-udah itu ya—udah apa namanya? Udah—tidur?”


“Belum nyenyak, lo kenapa sih? Lo nangis?”


“Nggak lah, amsa iya aku nangis,”


“Terus kenapa matanya kayak basah begitu sih? Lo habis hapur air mata ya ‘kan? Jujur aja sama gue,”


“Nggak, Dio. Kamu nggak usha khawatir. Aku nggak lagi nangis kok,”


“Beneran nih?”


“Iya beneran dong masa aku bohong,”


Dio langsung menatap fokus wajah istrinya smabil Ia mernagkum wajah mungil istrinya itu. Entah kenapa Ia tidak percaya mendengar ucapan Shena.


“Lo serius nggak sih?”


“Iya aku serius ih,”


“Jujur sama gue! Jangan bohong,”


“Hahahaha aku nggak bohong, Dio. Emang aku nggak kenapa-napa kok,”


“Kayak abis nangis gitu sih,”


Ciri-ciri orang yang baru saja menangis itu bisa Dio lihat hanya dengan mata saja tanpa bantuan alat apapun.


“Ah lo bohong sama gue,”


“Ya udahlah terserah kalau emang kamu nggak percaya,”


“Apa lo nggak nyaman ya gue peluk?”


“Nggak, okay-okay aku jujur nih ya biar kamu nggak banyak tanya terus. Aku barusan emang nangis tapi bukan karena masalah apapun,”


“Tuh ‘kan bener abis nangis, kalau nggak ada masalah, lo nangis karena apa dong?”


“Karena aku terharu aja gitu,”


“Hah? Terharu maksudnya gimana?”


“Iya aku terharu, waktu itu ‘kan aku nggak pernah dipeluk sama kamu, nah sekarang kamu meluk aku. Jadi aku merasa terharu,”


“Ya ampun, Shen, jangan ngomong gitu dong, gue nggak bisa ah dengar lo ngomong gitu. Maafin gue ya, plis maafin gue,”

__ADS_1


Dio merasa hatinya hangat sekali setelah mendengar ucapan istrinya itu, tapi ada rasa bersalah yang begitu besar lagi-lagi datang. Dulu Ia adalah orang yang benar-benar jahat.


__ADS_2