Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 47


__ADS_3

Tidak ada yang lebih nikmat daripada menikmati es krim setelah olahraga, ditambah lagi bersama suami. Shena benar-benar bersyukur bisa ada momen seperti ini bersama Dio. Semoga bukan pertama dan terakhir kalinya mereka olahraga bersama, dan menikmati es krim bersama.


Shena tidak peduli baik atau tidak menyantap minuman dingin itu sehabis jalan pagi, tapi yang jelas nikmat bagi Shena yang pagi ini menjadi teman olahraga suaminya.


“Ini kita baru abis bakar kalori tapi kita langsung ngisi kalori lagi, Shen,” ujar Dio seraya tertawa.


“Mana dingin lagi, sehat nggak sih?”


“Anggap aja sehat, ya tapi nggak tau sih sebenarnya,”


Dio terbahak mendengar jawaban Shena yang membingungkan antara pasrah dan tidak mau tahu.


“Yang penting sama kamu. Nikmat es krim nya tih jadi nambah berkali lipat,”


Sepasang suami istri itu berhenti di taman untuk istirahat. Dan kebetulan melihat penjual es krim lewat. Akhirnya Shena langsung tergiur untuk membeli.


Shena langsung minum air putih setelah es krimnya habis namun Ia kesulitan untuk membuka tutup botol minumannya. Terbiasa apa-apa sungkan, dan ingin usaha sendiri, Shena terus memutar tutup botol tanpa meminta bantuan, Dio yang melihat itu akhirnya geleng-geleng kepala.


“Lo kenapa sih nggak minta bantuan sama gue?”


Dio langsung mengambil botol tersebut dari tangan istrinya dan Ia membuka tutup botol. Setelahnya Ia serahkan kepada sang ustri kagi.


“Susah banget minta tolong?”


“Hehehe makasih ya,”


“Ha he ha he aja lo. Minta tolong makanya. Mau sampai kapan lo putar terus itu tutup botol? Sampai besok pagi?”


Shena tertawa mendengar suaminya menasehati supaya Ia tidak sungkan meminta bantuan apapun lagi.


“Makasih ya,”

__ADS_1


“Sama-sama,”


“Aku tuh mau usaha sendiri dulu,”


“Ya apa susahnya sih minta tolong? ‘Kan tinggal bilang ‘Dio tolong bukan botol minum aku’ emang susah ngomong gitu?”


“Nggak sih,”


Shena meneguk air minum sampai dahaganya hilang. Es krim tidak membuat hausnya hilang, hanya memanjakannya saja.


“Duren Duren Duren,”


Shena langsung menoleh ketika mendengar ada yang menjajakan buah durian menggunakan mobil terbuka.


“Ih mau duren,”


Shena sudah lama tidak menyantap buah yang aroma nya sangat khas itu dan suka meniadi perdebatan di antara sebagian orang karena banyak yang suka tapi banyak juga yang tidak suka.


“Lo mau?”


“Biasa aja sih,”


“Ya udah nggak jadi,”


Dio tiba-tiba bergegas menghampiri mobil penjual durian yang sedang berhenti di depan taman karena ada yang sedang memilih.


“Eh Dio,”


Shdna memanggil suaminya sambil menyusul. Ia bingung karena tiba-tiba suaminya pergi.


“Bentar,”

__ADS_1


“Mau ngapain?”


“Beli duren lah,” jawab Dio yang membuat Shena kaget.


“Hah? Kamu mau beli duren untuk siapa?”


“Untuk lo, Shena,”


Dio langsung memilih durian yang sekiranya manis dan banyak dagingnya supaya Shena puas menyantap itu.


“Serius itu buat aku?”


“Iyalah,”


“Kamu baik banget, langsung nurutin maunya aku lho,”


“Ya mumpung ada,”


“Kita nanti makan bareng ya?”


“Iya,”


“Suka ‘kan? Nggak mual ‘kan?”


“Gue bisa makan duren kok ya walaupun biasa aja sih nggak suka-suka banget kayak lo,”


“Kamu kok tau aku suka banget?”


“Tau lah, keliatan semangat banget begitu liat duren,”


“Iya emang, aku heran ada orang yang nggak suka,”

__ADS_1


“Ya namanya juga selera, Shen. ‘Kan beda-beda,”


“Iya sih, untung kamu nggak benci duren. Kalau nggak, ribet juga deh. Istrinya suka duren, tapi suaminya nggak,”


__ADS_2