
“Ini ‘kan yang lo mau? Gue harus bangun pagi-pagi buat temenin lo belanja. Lo sengaja ya nyuruh nyokap bokap gue supaya bangunin gue supaya gue temenin lo?”
Shena sudah menduga kalau di dalam perjalanan pasti Dio melampiaskan isi hatinya setelah dibangunkan paksa oleh papanya dengan menggunakan metode ancaman.
Kalau Dio tak bekerja, Ia tak punya uang tambahan selain dari papanya, dan Ia tidak siap kalau mobil, kartu kredit, atau fasilitas-fasilitas lainnya pemberian Sakti ditarik kembali oleh Sakti hanya karena Ia tidak menuruti perintah Sakti.
“Aku nggak nyuruh Mama Papa untuk bangunin kamu. Aku tadi udah mau berangkat sendiri tapi mereka minta aku untuk bangunin kamu dan ajak kamu pergi, tapi aku keberatan. Karena aku tau kamu lagi tidur pulas, aku nggak mau ganggu istirahat kamu. Papa tetap aja datang ke kamar untuk bangunin kamu. Aku pikir Papa nggak berhasil minta kamu untuk temenin aku, ternyata—“
“Ya berhasil lah, orang bokap gue ngancem gue mau ngambil fasilitas gue, mau larang gue untuk ikut kerja. Lah kalau fasilitas diambil, gimana gue hidup? Kalau gue nggak kerja gimana gue bisa dapat uang tambahan? Sementara gue diajarin untuk tanggung jawab sama lo,”
Shena tersenyum mendengar kalimat terakhir yang terlontar dari bibir suaminya. Walaupun perlakuan Dio belum bisa dikatakan baik, tapi setidaknya Dio mau belajar bertanggung jawab atas dirinya dengan cara memberikannya uang nafkah.
“Aku minta maaf udah ganggu istirahat kamu, nanti kamu bisa tunggu di mobil aja kok, dan aku belanja,”
“Mana bisa? Ntar lo ngadu ke mama papa,” ujar Dio dengan nada ketusnya. Ia yakin Shena akan laporan pada kedua orangtuanya bila Ia memilih untuk tetap bertahan di mobil sementara Shena belanja.
“Ya ampun, aku nggak bakal begitu, Dio. Kamu tenang aja, aku nggak pernah laporan soal keburukan kamu kok. Aku nggak mau suami aku jelek di mata siapapun, aku ‘kan udah ngomong itu berulang kali,”
“Ya tapi gue nggak percaya! Lo pasti bakal laporan ke papa mama kalau gue cuma diam di dalam mobil nggak bantuin lo belanja, terus gue kena omel lagi, fasilitas gue beneran ditarik, dih ogah banget gue,”
“Nggak akan, kamu tenang aja. Lagian ya, aku udah biasa mandiri kok soal belanja bulanan. Bahkan dari sebelum nikah sama kamu. Makanya aku sebenarnya nggak mau ditemenin sama kamu karena aku bisa sendiri, dan aku nggak mau kamu marah-marah kayak gini karena terpaksa temenin aku belanja. Daripada kuping aku panas dnegar kamu marah, mendingan sku pergi belanja sendiri tapi Mama Paoa nggak setuju,”
“Heh! Lo bilang kuping lo panas dengar gue ngomel?”
Shena tertawa, Dio sakit hati mendengar Ia terlalu jujur. Kenyataannya memang seperti itu. Shena enggan mendengar suaminya marah, jadi selagi Ia bisa melakukan apapun sendiri tanpa bantuan Dio, maka Ia akan lakukan sendiri ketimbang harus mendengar Dio marah-marah disebabkan karena tak ikhlas membantunya.
“Gue nih, muak liat lo mulu, masih mending lo yang kupingnya panas. Selain muak, hati gue juga berontak karena harus satu atap bahkan satu tempat tidur sama orang yang nggak gue suka sedikitpun,”
__ADS_1
Shena menghembuskan napas kasar, dan berusaha untuk tetap tersenyum walaupun kata-kata yang dilontarkan oleh suaminya cukup menggoreskan luka.
****
Shena keluar dari mobil setelah mobil yang dikendarai oleh suaminya tiba di area parkir pasar terdekat dari rumah mereka.
Melihat Dio ikut keluar dari mobil Shena tentunya bingung. Apakah Dio tak mau mendnegarkan sarannya sulaya Dio tetap di mobil saja sampai Ia selesai belanja? Padahal Ia benar-benar tidak masalah sama sekali kalau suaminya menunggu di dalam mobil. Jadi suaminya itu bisa istirahat, walaupun tempatnya tidak senyaman di kamar. Tapi setidaknya Dio bisa istirahat dan tak perlu lelah mengikutinya belanja.
“Kamu mau ikut masuk ke pasar juga, Dio?”
“Ya iyalah,”
“Nggak usah, kamu lebih baik istirahat aja di dalam mobil daripada kamu capek ‘kan ngikutin aku belanja. Kalau kamu diam di dalam mobil, setidaknya rasa bersalah aku yang udah ganggu waktu istirahat kamu jadi sedikit berkurang,”
“Nggak, gue bakal ngikutin lo,”
“Kamu yakin? Emang nggak apa-apa turun ke pasar,”
“Kenapa lo ragu gue mau ikut lo masuk ke dalam pasar? Hmm?“
“Ya soalnya kamu cowok, dan kamu ‘kan anak satu-satunya, orangtua mampu, pasti nggak pernah ke pasar, aku nebaknya sih begitu, benar atau salah?” Shena takut-takut menebak, tapi supaya suaminya tidak salah paham, Ia sampaikan alasan kenapa Ia ragu Dio mau masuk ke pasar.
“Ya emang benar, tapi bukan berarti gue nggak bisa. Daripada gue di mobil, terus lo bakal ngomong ke mama papa, mendingan gue ikut lo aja. Sesekali mau liat suasana di pasar kayak apa,”
Shena tersenyum, jadi ini pertama kalinya Dio akan masuk ke dalam pasar. Ia senang, sekaligus merasa bangga karena menjadi orang yang pertama kalinya berhasil membawa Dio ke pasar tradisional.
“Ya udah kalau emang kamu mau masuk nggak apa-apa, ayo tapi jangan marah ya kalau misalnya bau, becek, atau rame,”
__ADS_1
“Nggak, gue udah tau gambarannya kok. Gue menghargai setiap tempat yang gue datangi, dan gue menghargai setiap profesi,
Shena menatap suaminya dengan perasaan senang. Ternyata Dio bisa bijaksana juga ketika mode kasarnya disingkirkan terlebih dahulu.
Akhirnya mereka berdua masuk ke dalam pasar. Begitu masuk, ternyata tidak begitu buruk juga. Memang ramai orang, ada aroma-aroma tidak sedap dari ikan, ayam, daging, tapi menurut Dio itu semua bisa Ia terima.
“Kita beli ikan dulu ya,”
Dio menganggukkan kepalanya dan mengikuti kemana saja langkah kaki istrinya yang ingin membeli ikan ketika pertama kali masuk ke dalam pasar. Setelah memilih ikan, Shena mengajak suaminya untuk menghampiri meja penjual ayam.
“Sini gue bantuin,”
Dio mengambil alih belanjaan ikan yang dijinjing oleh istrinya. Perasaan Shena saat itu bahagia sekali hingga tak bisa digambarkan dengan kata-kata.
“Makasih ya, suami aku,”
Dio merotasikan bola matanya. Tak apa reaksi Dio seperti itu, setidaknya Dio sangat baik pagi ini. Dari mulai bersedia meninggalkan tempat tidurnya, bersedia juga mengantarkannya belanja bahkan membantu membawa belanjaan. Walaupun keikhlasan Dio dalam melakukan semua kebaikan itu masih diragukan, tapi setidaknya Dio sudah berusaha untuk menjadi suami yang baik dan itu sudah lebih dari cukup bagi Shena. Masalah ikhlas atau tidak, itu urusannya Dio dengan yang Maha kuasa.
“Kita sekarang beli ayam. Oh iya udang, cumi, kepiting, makanan-makanan laut gitu nggak ada di sini, adanya di supermarket sebelah pasar, nanti aku juga mau belanja di sana nggak apa-apa ‘kan?”
“Iya,”
“Makasih ya,”
“Hm,”
“Sering-sering kayak gini mau nggak?”
__ADS_1
“Nggak, kalau nggak disuruh nyokap bokap gue,”
Shena tertawa karena tebakannya benar. Ia sudah menebak suaminya akan menjawab seperti itu.