Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 73


__ADS_3

“Hai, Shen. Aku udah sampai ya, lagi mau ke mobil nih,”


“Assalamualaikum dulu dong,”


“Assalamualaikum, oh iya lupa hehehe. Saking mau cepat-cepat ngabarin kamu nih,”


“Alhamdulillah kalau udha sampai, kamu sama papa bsik-baik aja ‘kan? Perjalanan udaranya nggak ada kendala ‘kan?”


“Nggak ada, Shen, smeua lancar tanpa kendala, berkat doa lo sama Mama,”


“Berkat doa bersama lah. Okay deh ntar kabarin aku lagi kalau misal udah sempat ya,”


“Iya pasti aku kabarin kok, tenang aja. Tadi begitu mendarat nih, yang langsung aku ingat itu kamu lho,”


Mendnegar ucapan suaminya, Shena tertawa. Sedikit tidka percaya tapi Dio tidak tertawa dan berkata bahwa Ia serius dan Dio bingung kenapa Ia malah tertawa mendengar kejujurannya.


“Eh aku serius tau. Emang beneran yang aku ingat itu kamu, Shen. Padahal dulu-dulu mah nggak pernah,”


“Tandanya kamu udah cinta mati sama aku hahahaha kepedean aku ya,”


“Lah emang,” jawab Dio tanpa ragu, Dio tidak setuju kalau Shena mengatakan dirinya terlalu percaya diri karena kenyatananya memang seperti itu. Dio sudah cinta mati pada Shena makanya selalu ingat Shena, dan merasa berat ketika akan meninggalkan Shena.


“Ya udah aku tutup dulu teleponnya. Aku udha mau naik mobil nih sama Papa,”


“Mau langsung ke penginapan ya, Mas?”

__ADS_1


“Iya dong, kemana lagi? Ke hati kamu? Jiahhh belum apa-apa udah gombal aja,”


“Iya kamu kayak anak baru gede aja sih jadi suka gombal hahaha,”


“Nggak apa-apa, yang penting kamu senang ‘kan? Jujur aja deh,”


“Iya senang kok senang, Mas. Ya udah kalau gitu aku tutup teleponnya ya, selamat istirahat. Kalau udah sempat jangan lupa kabarin aku ya, Mas,”


“Okay sip, Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam,”


Shena langsung tersenyum begitu sambungan telepon antara dirinya dan sang suami berakhir kemudian Shena meletakkan ponselnya di atas nakas dan Ia berbaring.


*****


Sakti menggoda anaknya yang langsung tertawa salah tingkah. Tak mau akalh Dio juga melakukan hal yang sama.


“Kan sama kayak Papa. Orang Papa juga begitu ‘kan? Ngabarin Papa pertama kali,”


“Ya Papa sih emang udah biasa begitu ya. Itu udah jadi kebiasaan Papa,”


“Iya bakal jadi kebiasaan aku juga, Pa, heheheh,”


“Bagus, kebiasaan-kebiasaan yang baik kayak gitu jangan ditinggalkan. Karena setelahnya kita bakal merasa tenang udah ngaish kabar ke istri, dan nanti begitu situasinya di balik, kita bakal ngwrti kenapa kita harus seorng-sering ngabarin istri. Karena cemas itu nggak enak lho,”

__ADS_1


“Iya aku setuju, Pa. Aku udah pernah ngerasian soalnya. Waktu itu Shena ke rumah temannya tanpa aku dan Shena lupa ngabarin aku. Udha gitu handphone dia nggak aktif lagi. Sampai lewat maghrib belum pulang-pulang twrnyata emang tugas yang sia kerjain bareng temannya tuh banyak makanya dia lama pulang ke rumah. Waktu itu aku khawatir banget. Pikiran aku udah kemana-mana. Aku takut terjadi sesuatu sama Shena,”


“Nah ‘kan, kamu udah merasakan sendiri gimana nggak enaknya cemas. Makanya jangan buat istri kamu cemas juga. ‘Kan kita nya juga tenang kalau udah ngabarin istri. Sama-sama tenang lah intinya,”


“Iya, Pa,”


“Apalagi nanti kalau udha punya anak. Uh makin nggak tenang deh kalau belum ngabarin, belum dengar suara istri dan anak,”


Seketika Dio jadi membayangkan kalau nanti Ia sudah dikaruniai malaikat kecil. Ia jadi penasaran, benarkah yang dikatakan oleh Papanya itu?


“Makanya punya anak jangan ditubda-tunda,”


“Aku nggak nunda kok, Pa,”


“Ya bagus, kapan aja dikasih artinya kamu nerima ‘kan?”


“Tapi kalau dalam waktu dekat aku ragu deh, Pa. Aku kayaknya belum siap,”


“Udah dibicarakan sama Shena?”


“Udah,”


“Dia sedih nggak?”


“Nggak,”

__ADS_1


“Sebenarnya jadi orangtua itu ya memang momentum untuk belajar setiap saat, PPa rasa nggak ada yang benar-benar siap jadi orangtua karena memang tanggung jawabnya luar biasa besar. Tapi kita ‘kan bisa belajar setiap saatnya. Kalau udah dikasih, ya artinya Tuhan udah menganggap bahwa kita siap jadi orangtua,”


__ADS_2