
"Mas, tadi aku dengar kabar dari teman aku kalau orang itu datang lagi, Mas. Dia pakai masker dan topi. Tadi pagi yang kamu lihat juga penampilannya begitu ya, Mas? Tapi apa benar dia berani datang ke sini lagi?"
Dio membuang kasar napasnya. Shena ini sudah merasa benar-benar tidak nyaman makanya menghubungi dirinya, Ia tahu betul Shena tidak mungkin sampai menelpon hanya untuk laporan kalau Ia bisa mengendalikan rasa cemasnya seorang diri.
"Jadi gimana, Bee? Kamu mau aku ke sana sekarang?"
"Enggak, Mas. Aku enggak mau kamu ninggalin kantor karena sebenarnya aku juga baik-baik aja cuma aku takut,"
"Ya biar kamu enggak takut harus ada aku 'kan?"
Shena menggigit bibirnya kemudian sekarang kuku-kuku tangan kanannya. Ia bimbang harus bagaimana. Satu sisi Ia tidak bisa tenang bekerja setelah diberitahu oleh temannya bahwa tadi ada orang asing datang tapi di lain sisi Ia tidak ingin Dio meninggalkan pekerjaannya.
Walaupun sebelumnya Shena sudah dihibur oleh Erik dengan mengatakan bahwa orang itu datang untuk meminta sumbangan, tapi tetap saja Shena tidak bisa berhenti memikirkan. Rasanya selama ini tidak ada yang pernah datang mencarinya tiba-tiba tanpa ada kesepakatan sebelumnya apalagi hingga membuat Kalina yang tadi tak sengaja bertemu dengan orang itu merasa merinding artinya memang menurut Kalina, orang itu aneh dari penampilan dan gestur yang tengok kanan kiri seolah mencari Shena yang Kalina katakan sedang pergi keluar.
Memang tadi Shena sedang tidak di toko karena pergi dengan Lala ke mini market untuk beli ice cream dan rujak.
"Ya udah kalau aku enggak diziini ke sana, kamu jangan cemas begitu, Bee. Tenang aja, kamu juga di sana enggak hanya sendiri 'kan?"
"Enggak, Mas. Ramai seperi biasa cuma aku yang mikirin orang itu terus,"
__ADS_1
"Ya ampun, Bee. Suami sendiri belum tentu dipikirin, kamu malah mikirin orang lain,"
"Mas, aku serius lho sekarang,"
Dio terkekeh pelan. Shena sedang tidak bisa diajak bercanda. Salahnya juga yang tidak bisa menempatkan lelucon di tempatnya.
Jelas saja Shena memikirkan dirinya yang merupakan suami Shena. Cuma kali ini beda cerita. Shena memikirkan orang itu karena merasa cemas atau takut dia berbuat sesuatu.
"Jadi aku enggak usah ke sana?"
"Enggak usah, kamu kerja aja. Aku tutup ya teleponnya. Aku udah agak lega setelah cerita ke kamu, Mas,"
"Waalaikumsalam, Mas,"
Shena keluar dari toilet usai menghubungi Dio. Ia merasa lebih nyaman bicara berdua dengan suaminya di toilet demi menenangkan dirinya sendiri juga. Jadi setelah buang air kecil, Ia mengeluarkan ponsel dengan tujuan menghubungi Dio dan bercerita sehingga sedikit merasa lega.
"Oy siapa nih di kamar mandi? Buruan, gue udah kebelet mau keluar nih,"
Shena cepat-cepat membuka kunci pintu kamar mandi toko setelah mendengar suara Lala dari luar.
__ADS_1
Shena tertawa karena wajah Lala yang tidak bisa dikondisikan lagi. Lala langsung masuk ke kamar mandi setelah Shena keluar.
"Kampret si Shena ya. Malah ketawa temannya nahan mules,"
Shena masih tertawa karena Ia mendengar gerutuan Lala. Lalu Ia menyahuti dari depan kamar mandi, "Makanya jangan makan sambal banyak-banyak, Lala. Jadi sakit perut 'kan,"
"Lah lo juga, Shen,"
Tidak lama kemudian suara buang angin sampai ke telinga Shena. Perempuan pemilik toko itu langsung berjalan cepat untuk menjauh.
"Lala masa kentut pas ada aku, ya ampun. Songong si Lala ya,"
Shena kembali bekerja sementara Lala sedang esktra membangun dinding pertahanan karena perutnya yang mulas sekali setelah menghabiskan rujak.
"Lala mana? Kebelet itu orang,"
"Iya, lagi nabung dia, buat masa depannya,"
"Njir si Shena lawak banget ngomongnya,"
__ADS_1