Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 35


__ADS_3

“Dio! Udah gila! Lo kayak macan baru keluar dari kandang. Jangan ngadi-ngadi lo! Udah abis berapa gelas tuh?!”


Dio tertawa ketika gelasnya direbut oleh Niko. Dio semestinya memang tidak minum, karena kalau sudah asyik, maka Ia akan lupa dengan daratan.


“Usah aus banget kayaknya lo, emang berapa lama sih nggak minum?”


“Nggak tau, gue nggak ingat,”


“Jangan dimulai makanya! Akhirnya keterusan kan lo. Sambil main handphone, tangan jalan aja ngambil minuman,”


Dio yang mulai setengah sadar tertawa mendengar ucapan Niko. Dio tidak tertarik untuk menikmati live musik di kafe, apalagi mengamati para perempuan yang sedang bergoyang menikmati alunan musik. Dio justru sibuk dengan game online, dan minuman yang ada di depannya.


“Lo nggak bakal bisa pulang sendiri, njir. Mesti dianterin nanti,”


“Santai-santai, gue sadar kok,”


“Sadar pala lo peak! Mata lo aja udha nggak fokus gitu. Ntar aja pulangnya, lo nggak bakal dicariin sama nyokap bokap lo ‘kan? Kayaknya nggak ya? Soalnya lo bukan bocah esde lagi,” ujar David. Bertanya tapi akhirnya jawab sendiri. David baru sadar kalau Dio itu sudah dewasa, jadi kemungkinannya sangat kecil bila dicari oleh orangtua apalagi ini juga baru jam sebelas malam. Masih terbilang wajar untuk-laki-laki seusia Dio sibuk dunianya sendiri:

__ADS_1


“Paling dicariin sama bininya,” sahut Niko.


“Nggak lah, dia tau gue pergi,”


“Ya tapi dia pasti nungguin lo, oon! Dia khawatir kali tuh di rumah nungguin lo nggak balik-balik, ini udah jam sebelas,”


“Ya elah, belum pagi buta,”


“Jangan pagi buta pulangnya, bodoh. Nggak kasian sama bini lo apa? Bentar lagi balik lo! Udahan minumnya,”


Kalau tidak ada teman-temannya, Dio pasti akan lebih mabuk daripada sekarang. Jangankan paham dengan apa yang diucapkan oleh teman-temannya, sudah dipastikan Dio sudah memejamkan mata dengan badan yang lemas. Ini beruntungnya Dio masih bisa diajak bicara, matanya juga masih terbuka walaupun sudah beda.


Dio yang sudah berdiri langsung ditarik lengannya oleh Niko. “Nanti dulu! Segerin tuh mata lo, ntar gue anterin, tenang aja,”


“Nggak-nggak, gue balik sendiri aja,”


“Jangan sinting lo, Dio. Kalau lo kenapa-napa gimana?“

__ADS_1


Dio berdecak sambil kembali duduk. Ia menatap Niko yang punya niat baik mengantarkan dirinya pulang.


“Heh! Kalau lo nganterin gue pulang, terus lo pulang gimana?”


“Ya gue pulang setelah antar lo ke rumah lah,”


“Nggak, motor gue gimana? Gue bakal balik sendiri,”


Dio keras kepala. Ia bergegas pergi meninggalkan teman-temannya. Dio merasa sudah cukup menikmati waktu kesendiriannya di kafe, sekarang waktunya Ia kembali ke rumah.


“Ah udah payah gue. Kayaknya udah kelamaan nggak minum jadinya sekali minum pusing banget pala gue,” oceh Dio ketika sudah duduk di atas motornya.


“Air putih kali ya,”


Dio turun lagi dari jok motor ketika mepihat ada warung kecil dan di sana Ia membeli satu botol air mineral. Ia teguk hingga setengah, setelah itu Ia siram wajah dan juga setengah kepalanya biar matanya segar, benar-benar terbuka sempurna.


“Nah gini lebih aman,” ujar Dio seraya berjalan mendekati tempat sampah untuk membuang botol air mineral yang sudah kosong.

__ADS_1


“Semoga aja Shena udah tidur supaya dia nggak tau gue minum. Ribet ngejelasinnya ke dia,”


__ADS_2