Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 88


__ADS_3

“Kamu ada main ya sama dia? Murahan banget, baru pisah udah punya yang lain. Luar biasa, pantes aja mau banget pisah dari aku ya,”


Nada meradang ketika dituduh seperti itu oleh mantan suaminya yang dengan kurang aja mengira bahwa Dio adalah selingkuhannya yang membuat Ia luar biasa menginginkan perpisahan.


“Jangan asal ngomong kamu ya! Kenapa aku mau banget pisah sama kamu? Harusnya kamu sadar diri! Memang sebaik apa kamu sampai aku mau mempertahankan kamu? Hah?”


Nada mendorong dada mantan suaminya yang pagi-pagi sudah datang ke rumah dan langsung marah-marah tanpa tahu malu. Sudah tidak ada urusan, tapi masih saja menghampiri dan mempermasalahkan perpisahan padahal sebelumnya sudah sepakat untuk berpisah.


“Dan perlu kamu ingat ya, dia itu bukan siapa-siapa aku! Dia teman aku yang kebetulan mau nolongin aku,”


“Halah omong kosong! Jelas-jelas dia perhatian kayak begitu mau nyerahin dirinya demi bantu kamu,”


“Itu karena dia laki-laki baik! Makanya dia mau nolongin aku waktu liat aku hampir dipukul sama kamu! Dia aja yang cuma teman bisa baik sama aku, lah kamu apa? Kerjaannya cuma ngelakuin kekerasan aja. Cuih! Najis! Laki-laki kayak kamu itu nggak pantas sama perempuan manapun, karena bisanya cuma nyakitin,” Nada berdecih jijik setelah itu berbalik untuk masuk ke dalam rumah. Tapi tiba-tiba saja rambutnya ditarik oleh Gani dengan kurang ajarnya.


Nada meringis sakit minta agar dilepaskan namun Gani tetap saja menarik rambutnya. Nada langsung berteriak meminta tolong pada asisten rumah tangganya.


“BI TOLONG BI!”


Tidak lama kemudian wanita yang dipanggil oleh majikannya itu langsung berlari tergopoh dan melihat majikannya disakiti, Ia langsung mengambil tindakan untuk menonjok lelaki yang merupakan mantan majikannya juga.


“Pergi! Jangan ganggu Ibu lagi!”


Meskipun ibu-ibu, tapi Bibi hebat juga dalam menumbangkan orang yang kurang ajar macam Gani. Buktinya Gani bisa mundur dan cengkramannya di rambut Nada bisa terlepas.


“Rumah ini udah dalam pengawasan polisi jadi anda harus hati-hati. Kalau datang ke sini lagi, akan ada polisi yang tangkap anda. Sekarang lebih baik anda pergi! Jangan pernah datang lagi ke rumah ini dan ganggu majikan saya!” Ujar Bibi dengan tegasnya. Ia mengancam mantan tuannya itu supaya tidak berani lagi menampilkan batang hidungnya di rumah ini apalagi menyakiti Nada. Sudah cukup Nada disakiti terus oleh pria itu selama hidup berumah tangga. Saatnya Nada bahagia tanpa lelaki itu di sisinya.


Gani angkat kaki dari hadapan Bibi dan Nada yang memilih diam selama Bibi bertindak tegas pada Gani.


“Bi, makasih banyak ya, untung Bibi datang cepat. Mulut aku tadi hampir dibungkam pakai tangan dia,”


“Iya sama-sama, Bu. Lain kali jangan buka pintu untuk orang begitu,”


“Tadi aku pikir ada tamu yang datang makanya langsung aku bukain pintu, eh nggak taunya dia yang datang,”


“Aduh, sakit juga tarikan di kepala aku,”


“Ya Allah, pakai minyak kalau pusing, Bu,”


“Lagian ini si Pak satpam kemana sih? Bisa-bisanya dia lolos,”


Nada langsung bergegas ke post keamanan rumahnya untuk mencari security yang menjaga rumahnya.


Seharusnya Gani tidak dibiarkan masuk karena lelaki itu membahayakan sekali untuk seluruh penghuni rumah. Dia seperti setan yang tanpa sungkan menyakiti asal emosinya terluapkan.


“Eh kemana ini si bapak?”


Nada tidak menemukan pak satpam di pos. Pantas saja Gani bisa masuk dengan mudah, ternyata penjaganya saja tidak ada di tempat.


“Bapak, kemana nih? Kok nggak di pos?” Nada mengencangkan suaranya supaya yang dipanggil bisa segera datang.


Tidak lama kemudian, yang dicari Nada keluar dari arah taman. Ia langsung mempercepat langkah begitu melibat Nada ada di dekat pos nya.


“Ada apa, Bu?”


“Kemana tadi?”


“Habis dari toilet, Bu,”


“Tadi ada Gani datang ke sini dan dia ngelakuin kekerasan sama saya. Bapak pergi tapi gerbang nggak dikunci,”


“Ya Allah, maaf-maaf, Bu. Saya lupa banget. Maafin kelalaian saya ya, Bu,”


“Okay nggak apa-apa, lain kali jangan begitu lagi ya. Dia itu udah jadi orang jahat bagi kita, Pak. Jangan dibiarkan masuk. Dia bisa aja bunuh orang di dalam rumah ini,”


“Iya, Bu, saya paham, sekali lagi maaf udah lalai, Bu,”


“Iya, kalau begitu saya masuk dulu,”


Nada langsung beranjak masuk ke dalam rumah usai berpesan pada security rumahnya agar lebih baik lagi dalam menjaga rumah. Ia tidak ingin Gani lolos lagi. Seperti apa yang tadi Ia katakan pada satpam, Gani itu orang jahat. Dan dia bisa saja melakukan kriminal dengan membunuh penghuni rumah kalau dia berhasil masuk. Yang diincar nomor satu pasti dirinya.


Ia bingung kenapa Gani masih berusaha untuk mengganggunya padahal mereka sudah berpisah dan sebelumnya juga sudah ada kesepakatan untuk berpisah.


Tapi sekarang jadi ketahuan kalau Gani sepertinya tidak terima dengan perpisahan yang telah terjadi. Bukan siapa-siapa lagi bagi Nada tapi masih berani menyakiti Nada. Sampai Bibi pun turun tangan mengancam lelaki itu dengan mengatakan bahwa rumah sudah diawasi oleh polisi. Rumah yang pernah juga ditempati oleh Gani itu adalah rumah hasil kerja keras Nada dan kebetulan dekat sekali dengan kantor polisi. Nada sudah minta bantuan pada petugas sana kalau memang ada apa-apa, Ia akan menghubungi atau datang dan Ia minta mereka menanggapi dengan cepat.


Nada sudah setakut itu sampai melibatkan pihak yang berwajib. Nada ingin dirinya dan juga penghuni rumahnya yang lain dalam keadaan aman terus.


Terlampau takut, bahkan Nada mulai mencari-cari rumah di lokasi berbeda. Sudah ada beberapa pilihan tapi Ia masih bimbang ingin meninggalkan rumah yang Ia tempati sekarang, takutnya tidak senyaman tinggal di sini bila seandainya Ia pindah ke rumah yang lain.


“Bu, beruntung banget udah lepas dari bapak. Kalau nggak, duh saya nggak bisa bayangin deh,”


“Mungkin aku udah nggak ada nyawa lagi ya, Bi,” sahut Nada seraya terkekeh pelan. Sempat ada keraguan sebelum memutuskan untuk berpisah dari Gani. Padahal Gani sudah menyakitinya. Nada terlalu mencintai lelaki itu dan tidak mau hidup tanpa dia padahal Nda sendiri perempuan mandiri, apa-apa bisa sendiri. Jadi seharusnya tidak ragu untuk berpisah dari laki-laki yang begitu pintar melukai hati dan juga fisiknya.


“Akhirnya Ibu berani untuk pisah. Saya senang banget dengar keputusan ibu waktu itu. Karena saya sendiri juga udah nggak tahan liat perlakuan dia,”


“Makasih ya, Bi, udah dukung aku terus, udah dampingi aku, aku benar-benar merasa ada teman disaat aku harus jalanin apa yang ada di depan mata,”


“Iya, Bu, sama-sama. Saya senang Ibu bisa lepas dari sumber rasa sakit ibu, saatnya cari kebahagiaan lain, orang yang cuma bisa nyakitin di lupain aja, nggak penting, Bu,”


Nada tertawa dan Ia merangkul asisten rumah tangganya itu dengan hangat. Orangtuanya jauh dan hanya ada Bibi yang dekat dan berperan layaknya orangtua. Itu membuatnya bersyukur sekali.


“Nggak cuma aku, dia pun pernah nyakitin teman aku yang niatnya mau nolongin aku. Gani mau tampar aku kayak biasanya, terus teman aku datang mau nolongin. Eh teman aku itu malah dihajar juga sama dia sampai tumbang. Aku sempat merasa bersalah banget, cuma untungnya dia udah nggak apa-apa sih, aku juga merasa bersalah sama istrinya karena saat itu istrinya ngeliat pertengkaran antara suaminya sama Gani,”


“Kayaknya dia ada penyakit kali ya, Bu. Hobinya ngelakuin kekerasan aja, saya heran banget,”


“Iya mungkin, udah gitu tanpa tahu malu datang lagi ke saya, seolah urusan belum selesai, padahal udah pisah semuanya udah selesai. Hadeh, ada-ada aja ya,”


“Sebaiknya cari jodoh secepatnya, Bu. Biar dia takut sama pasangan ibu nanti,”


“Ah Bibi nih. Emang dikira gampang cari jodoh? Aku lebih selektif lagi, Bi, karena udah pernah gagal sekali, aku nggak mau salah pilih lagi. Aku nggak mau punya pasangan yang baik di awal nikah aja tapi makin lama usia pernikahan makin parah aja kelakuannya,”


“Semangat, Bu! Pasti bisa dapat yang lebih baik,”


******


“Aku beli bubur nih, Mas. Makan dulu yuk,”


“Orang udah nggak sakit ngapain beli bubur sih? Kamu pergi sendiri beli buburnya?”


“Nggak kok, sama Mama,”


Selepas shalat shubuh, Dio kembali melanjutkan tidur. Hari ini Ia tidak bekerja karena sampai malam diare masih suka datang padahal sudah minum obat. Akhirnya Shena menyuruh suaminya istirahat dulu di rumah dan Dio patuh.


“Jadi Mas nggak mau nih kalau aku beliin bubur?”


Dio duduk di sofa kamar setelah itu Shena meletakkan bubur untuk suaminya sekaligus air minum juga.


“Mau, tapi nasi biasa juga nggak apa-apa, Bee,” jawab Dio dengan panggilan kesayangan untuk Shena di akhir kalimatnya.


“Kebetulan aku juga lagi mau bubur, Mas,”


“Ya udah nggak apa-apa, aku mau kok, enak juga makan bubur,”


“Silahkan dimakan kalau gitu, jangan dibuang-buang ya,”


“Nggak pernah mau buang, Sayang,”


“Mau aku suapin?” Tawar Shena.


“Nggak usah, kamu makan aja mendingan, nggak usah sibuk ngurus aku terus,”


“Ih kok ngomongnya gitu, emang salah kalau aku urus suami aku sendiri?”


“Ya nggak salah sih, cuma jangan keterusan, kamu aja belum makan,”


“Iya, ini aku makan,”


Shena dan Dii pindah ke lantai yang dilapisi permadani tebal dan halus setelah itu mulai makan berdua.


“Kamu beneran ditemani sama Mmaa?”


“Iya, Mama sekalian mau belanja, jadi aku ikut deh,”


“Oalah ke pasar?”


“Iya, tapi cuma bentar aja,”


“Ya udah makan deh yang banyak,”


“Makasih ya, udah dibeliin bubur. Bangun-bangun aku udah tinggal makan aja,”


“Emang biasanya bangun-bangun aku suruh masak dulu?”


Dio terkekeh sambil menggelengkan kepala. Mau sakit atau tidak memang Shena selalu menyiapkan makanan untuknya.


“Kok beda sih buburnya, Bee,”


Shena menghentikan kunyahan di mulutnya mendengar ucapan Dio. Ia mengecap buburnya sendiri dan dia tidak menemukan perbedaan sama sekali. Bubur yang Ia beli sekarang sudah menjadi langganannya sejak lama makanya dibeli terus kalau lagi kepingin bubur. Menurut Shena tetap saja lezat.


“Beda gimana, Mas?”


“Ya beda aja gitu, kayak bukan bubur yang biasa,”


“Ini bubur yang biasa kok, Mas,”


“Tapi kok pahit?”


“Hah? Pahit? Masa sih? Aku nggak kok, nih coba bubur punya aku deh,”


Shena langsung mengulurkan bubur miliknya pada Dio yang langsung diterima oleh lelaki itu. Setelahnya Dio langsung menyantap milik istrinya.


Shena juga menyantap bubur milik suaminya yang tidak pahit sama sekali. Sepertinya yang salah adalah indera perasa suaminya, bukan bubur.


“Ini juga pahit menurut aku,”


“Tapi nggak, Mas. Barusan aku coba punya kamu nggak pahit kok, itu karena kamu lagi sakit kali ya,”


“Tapi menurut aku pahit lho, Bee,”


“Menurut aku nggak ah,”


Dio kembali melahap bubur milik dirinya sendiri. Shena yang melihat itu langsung melarangnya.


“Ya udah kalau emang kamu nggak nafsu makan itu, biar aku beliin yang lain. Kamu mau apa?”


“Nggak usah, aku abisin aja yang ini, Bee,”


“Tapi kata kamu pahit. Mungkin karena kamu lagi sakit kali, jadi makanan yang masuk rasanya nggak enak. Tadi juga nyicip kue bilangnya nggak kayak biasa buatan mama, berarti ‘kan nggak enak, cuma kamu nggak mau aja bilang begitu ke aku,”


“Iya emang nggak seenak biasanya,”


“Nah ya udah, berarti benar kamu begitu karena emang lagi nggak nafsu makan apa-apa. Masa apa yang dimakan dibilang nggak enak,”


“Maaf ya, Sayang, emang menurut aku nggak enak. Bukan nggak menghargai tapi emang—“


“Iya nggak apa-apa, Mas. Mama kalau dengar juga pasti ngerti. Kalau lagi nggak enak badan memang kadang suka begitu. Apa yang masuk ke mulut rasanya nggak enak dan kadang juga pahit padahal ya kalau dimakan pas sehat enak-enak aja,”


“Tapi aku habisin kok, aku nggak mau bunga-buang makanan,”


“Tapi jangan dipaksa, aku mau cari enaknya kamu aja, Mas. Kamu mau makanan apa? Bilang sama aku biar aku bikin atau beli,”


“Eh nggak usah. Aku udah kenyang, ini bakal aku habisin,”


“Jangan dipaksa, Mas,”


“Aku tetap mau habisin, Bee. Kamu tenang aja, meskipun nggak terlalu enak tapi aku tetap suka,”


Shena jadi bingung sekarang menyediakan makanan untuk suaminya yang dalam fase makan ini nggak enak dna makan itu nggak enak.


“Aku nggak usah makan deh nanti,”


“Hah? Kok ngomong gitu?”


“Ya abisnya apa-apa nggak enak,”


“Karena Mas lagi sakit aja itu, nanti juga balik nafsu makan lagi kok,”


“Ada-ada aja penyakit ya. Udah dihajar sama mantannya si Nada, sekarang malah diare nggak sembuh-sembuh, tambah lagi pusing nih,”


“Kamu pusing, Mas?”


Dio menganggukkan kepalanya membenarkan pertanyaan sang istri. “Dan uap yang keluar dari hidung aku juga panas,”


“Ya Allah, kamu nggak istirahat sih, Mas. Semalam malah bangun jam dua belas terus tidur lagi udah jam tiga, gimana penyakit nggak nambah?”


“Aku udah kebanyakan tidur. Dari abis isya udah tidur. Wajar aja kalau bangun jam segitu, Bee,”


Menurut Dio bukan karena Ia kurang tidur makanya penyakit datang. Memang kondisi tubuhnya sedang menurun saja tapi datang penyakitnya berbarengan setelah dihajar oleh mantannya Nada.


“Makanya nggak usah ikut campur lagi deh sama masalah orang, jadinya kamu yang ngerasa sakit. Habis ada urusan sama dia, kamu malah diare terus sekarang pusing dan katanya bakal demam juga,”


“Jangan nyalahin Nada atau mantannya itu, Sayang. Emang salah aku aja yang nggak bisa ngelawan. Nada ‘kan nggak minta aku bantu dan dia juga nggak suka aku ikut campur,”


“Iya, aku juga nggak nyalahin kok. Takut banget aku nyalahin dia,”


“Duh yang lagi cemburu,”


“Lah? Siapa yang cemburu? Abisnya kamu ngomong begitu seolah aku nyalahin Nada. Aku bingung lah kenapa kamu ngomong begitu,”


“Iya maaf kalau aku salah ngomong,”


“Bukan kalau lagi, Mas. Emang kamu udah salah banget ngomong begitu,”


“Iya-iya, aku minta maaf. Nggak maksud untuk bikin kamu sakit hati atau tersinggung, Sayang. Maafin aku sekali lagi ya,”


Dio mengedipkan matanya seraya mencium istrinya tanpa menyentuh bibir. Shena melanjutkan makannya, Ia sudah terlanjur kesal karena omongan Dio barusan. Padahal Ia tidak menyalahkan Nada. Hanya saja Ia menyayangkan sikap Dio yang gegabah tanpa perhitungan. Niat hati menolong orang, tapi malah mengorbankan diri sendiri. Kalau tahu begitu, biar saja Nada menyelesaikan urusannya sendiri dengan mantan suaminya yang mungkin belum selesai meskipun mereka sudah berpisah.


“Sayang, maaf ya. Mau maafin aku ‘kan?”


“Iya,”


“Iya apa?”


Shena diam dengan wajah yang masih datar tanpa ekspresi. Dio menahan tawa melihat itu. Sepertinya akan sulit membuat Shena kembali membaik suasana hatinya usai Ia bikin tersinggung.


“Eh nanti mau ke pasar malam nggak? Nanti malam ‘kan ada pasar malam tuh, Bee. Kita ke sana yuk. Ajakin Abang sama Kak Tania,”

__ADS_1


“Nggak ah, Mas aja kalau mau,”


“Aku sendirian dong?”


“Iya Mas sendiri aja,”


“Ya kali aku sendiri, Sayang. Kalau Abang sama Kak Tania ikut, aku jadi nyamuk mereka dong,”


“Ya nggak apa-apa, aku nggak mau ikut,”


“Ayolah ikut, masa nolak sih? Tumben banget, karena masih ngambek sama aku ya?”


“Hmm nggak,”


“Ya udah ikut sama aku ya,”


“Liat nanti aja deh,”


“Mau ya? Mau dong,”


“Aku bilang liat nanti aja, Mas, jangan maksa deh,”


“Okay, aku nggak maksa deh, tapi ikut ya. Sama Abang dan Kak Tania. Kayaknya mereka mau deh, Bee,”


“Nanti gimana sama Shofea? Kasian dia ditinggal sendiri kalau mama papanya pergi,”


“Ya ‘kan bisa dibawa, Sayang,”


“Nggak dikasih sama mama kali, Mas,”


“Iya sih, paling juga mama yang bakal jagain itu bocil, nggak bakal dikasih keluar udah malam,”


“Lagian kamu aneh-aneh aja, anak kecil mau diajak ke pasar malam. Dia ngerti juga nggak, jadi ngapain diajak,”


“Ya kali aja dia mau tau suasana di sana, Bee, barangkali dia mau belanja juga. Jajan gulali rambut nenek ‘kan di sana ada, terus makan bakso tusuk, naik bianglala, macam-macam di sana ‘kan ada ya,”


“Ya kali dia nyobain itu semua itu, ada-ada aja kamu, Mas,”


“Nanti aku ngomong ah sama Abang. Mudah-mudahan abang mau ikut. Jadi ceritanya kayak pacaran gitu tapi nggak bawa anak,”


“Paling Kak Tania yang nggak mau,”


“Harus maulah, biar bereempat,”


“Eh nggak boleh maksa gitu. Nggak gampang ninggalin anak, Mas,”


“Ya makanya dibawa aja aku bilang,”


“Tapi nggak boleh pasti, ih Mas nih nggak ngerti-ngerti deh,”


Sebelum berhasil diajak ke pasar malam, pasti akan ada pertentangan dari Ardina dan Sakti sebagai kakek dan nenek Shofea. Agatha yakin sekali Shofea tidak diizinkan ikut kalau mama papanya ingin mencari hiburan di pasar malam. Paling-paling Shofea diambil alih sementara oleh mereka berdua yang justru senang kalau dititipkan Shofea.


*****


Sore ini Shena langsung menyambut suaminya yang baru saja pulang bekerja. Seperti biasa, wajah Andra kelihatan penat tapi Ia berusaha menampilkan senyum terbaiknya.


“Kamu mau aku buatkan minum apa, Mas?”


“Nggak usah, air putih aja, Bee,”


“Okay, tunggu sebentar ya,”


Shens langsung bergegas mengambilkan air putih sesuai permintaan suaminya yang hari ini tidak minta dibuatkan apa-apa sepulang bekerja.


“Nah, ini, Mas,”


Dio tidak langsung mandi. Ia duduk di sofa kamar dengan lengan kemeja terlipat dan beberapa bagian kemeja yang kusut. Kaos kaki juga masih membalut kakinya, ketika Shena akan meninggalkannya, lelaki itu melarang.


“Nggak usah, aku aja, kamu hobi banget lepasin kaus kaki aku deh,”


“Ya emang kenapa?”


“Aku ‘kan bisa sendiri, Sayang,”


“Ya udah kalau aku mau ngelakuinnya masa dilarang sih?”


Shena meraih kaos kaki suaminya. Setelah itu Ia letakkan di dalam laundry bag. Barulah Ia menghampiri Dio lagi.


“Gimana hari ini, Mas? Kayaknya capek banget nih, tumben nggak langsung mandi,”


“Iya, capek banget,”


“Ya udah mandi aja dulu, nanti aku pijat,”


“Nggak usah ah, kamu lebih capek lagi,”


“Nggak kok, kata siapa aku capek?”


“Bawa dua anak emang nggak capek?”


Sampai sekarang baik Dio maupun Shena masih tidak menyangka kalau hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Shena akan memiliki anak yang kembar.


****


“Bang, mau sepuluh ya,”


“Apaan tuh? Datang-datang langsung bilang mau sepuluh,”


Dio tertawa mendengar ucapan penjual serabi. Ia segera turun dari sepedanya untuk menunggu pesanan serabinya jadi.


“Ya serabi dong, Bang. Nggak ada yang lain, ‘kan udah langganan jadi tanpa basa-basi langsung ngomong begitu,”


“Oh kirain mau istri sepuluh,”


“Astaghfirullah, ya kali, Bang. Saya diusir nanti kalau macam-macam. Dua aja nggak sanggup apalagi sepuluh,”


“Ah Mas Dii mah sepuluh juga sanggup itu. Banyak duit nya kok,”


“Aamiin aja dulu kalau abang ngomong saya banyak duit, barangkali jadi kenyataan,”


“Bisa aja nih merendahnya,”


Dii tertawa sambil menempatkan badannya untuk duduk di sebuah kursi untuk menunggu serabi selesai dibuatkan.


“Kok tumben nggak sama Mba Shena?”


“Dia di rumah, saya cuma sepedaan sendiri aja, Bang,”


“Oh, soalnya lagi hamil ya? Jadi dikurangi pergi-perginya,”


“Yoi, betul banget. Apalagi bawa dua bocah, dia mau sepedaan ya saya bilang nanti-nanti dulu,”


“Bonceng atuh, Mas,”


“Tetap aja nggak bisa tenang, Bang. Takut kenapa-napa, nanti saya yang nyesal. Mau sih ngajak dia sepedaan cuma saya terlalu takut,”


“Kalau jalan pagi sama sore?”


“Kadang mau, kadang juga males,”


“Ini Mas Dio, serabi udah jadi,”


Dio menerima dengan sumringah. Ia curi pandang ke dalam kantong plastik tanpa warna dimana serabi berada.


“Eh kok lebih, Bang?”


“Buat ibu hamil,”


“Waduh, makasih banyak ya, Bang,”


“Yoi sama-sama,”


Dio segera memberikan uang untuk membayar dan Ia langsung pergi begitu saja mengabaikan seruan Bang Olib penjual serabi yang memanggilnya karena uang yang Ia berikan lebih banyak dari harga serabi.


“Mas Dio ini kelebihan,”


“Iya ambil aja,” sahut Dio seraya menoleh dan tersenyum.


“Makasih banyak,”


“Sama-sama, laku terus ya,”


“Sip, makasih doanya,”


Dio naik ke atas sepeda dengan satu kantong plastik berisi serabi yang Ia sangkutkan di stang sepeda. Dio sudah selesai bersepeda, kini saatnya Ia kembali ke rumah dengan oleh-oleh makanan yang semakin jarang ditemukan otu.


****


“Sini, Shofea sama Aunty aja, Cantik,”


“Shena memanggil keponakannya yang tengah menangis digendong oleh mamanya sembari keluar dari kamar.


“Kenapa nangis? Shofea ngambek atau gimana?”


“Iya ngambek dia. Gara-gara kebangun sama papanya yang iseng,”


“Uh kasian, papa emang ngapain, Nak? Hmm?”


Shena meraih Shofea ke dalam gendongannya kemudian Ia timang-timang supaya Shofea berhenti menangis. Melihat matanya yang merah dan bibir melengkung ke bawah, Shena tidak tega sekali. Hatinya ikut meringis sedih.


“Biasalah, Tha. Bang Sehan ‘kan suka iseng. Anaknya dicium-cium padahal lagi tidur. Akhirnya bangun, ya walaupun emang udah dari tadi tidurnya tapi ‘kan kalau dia belum bangun artinya dia belum puas tidur. Nah akhirnya nangis waktu kebangun,”


“Oh Papa iseng ya, Sayang? Nggak apa-apa, mungkin papanya Shofea gemes banget sama Shofea jadi nggak tahan mau cium. Kalau cium Shofea pas Shofea udha bangun ‘kan takut ya terlalu lama tuh, jadi dicium pa Shofea lagi tidur deh,”


Shena tersenyum melihat Shofea yang masih saja menangis dengan bibirnya yang terbuka memperlihatkan gusi-gusi yang kosong tak berpenghuni.


“Dah, jangan nangis lagi. Nanti jadi berkurang cantiknya, pasti papa juga udah diomelin sama mamanya Shofea ya,”


“Woah itu uda pasti. Aku ngomel, Bang Sehannya malah ketawa-tawa. Dia kadang emang nyebelin. Liat anak nangis juga dia sering ketawa, katanya lucu gemesin ngeliat Shofea nangis,”


“Ayo kita ke bawah aja deh,”


Shena tadinya mau masuk ke kamar tapi Ia ingin meredakan tangisnya Shofea. Jadi Ia bawa anak itu ke lantai dasar, sekalian menunggu Dio yang betah sekali di luar. Belum juga pulang dari bersepeda.


“Nah ‘kan, dibawa jalan, Shofea diam nih, Kak,”


“Iya tau aja dia dibawa keluar kamar,”


“Kayaknya emang bosen di kamar muluk, liatnya itu-itu lagi ya, Nak,”


“Tapi kadang kalau udah bosen di luar juga dia merengek ‘kan, nah begitu dibawa ke kamar mulai diam. Emang Shofea nih udah banyak maunya, Aunty. Dia udah bisa protes,”


“Nggak apa-apa, Sayang. Protes aja selagi mama papa bisa penuhi protesan nya Shofea,”


Tania terkekeh karena Shena memberikan dukungan untuk anaknya supaya tidak sungkan-sungkan protes bila memang ada yang perlu diprotes olehnya.


“Assalamualaikum, teman-teman semuanya,”


“Waalaikumsalam, heboh banget si Mas ya,”


Dio berlari kecil menghampiri Shofea yang tangisnya sudah berhenti. Dan Dio bisa lihat kalau keponakannya itu habis menangis. Shofea benar-benar sangat diterima di keluarga ini. Kelak Shofea dewasa pasti Ia akan merasa bersyukur karena hadir di tengah-tengah mereka yang baik kepadanya.


“Abis nangis nih roman-romannya,”


“Iya emang, Om Dio. Baru aja berhenti karena diajak turun sama Aunty,”


“Duh, kenapa nangis sih, Cantik? Ngambek kenapa?”


“Dibangunin sama papanya. Dicium-cium sampai bangun, akhirnya ngambek,”


“Dih bener-bener itu orang satu ya. Nggak kasian sama anaknya lagi tidur malah diganggu. Tenang, Shofea, Om bakal omelin dia. Kasih Om sangat, cepat!”


“Semangat!” Dio berseru sendiri, menyemangati dirinya sendiri juga. Dan kelakuannya itu mengundang tawa Shofea yang kecil.


“Eh ketawa dia, aduh-aduh kalau ketawa makin cantik meskipun giginya nggak ada,”


“Ih Mas jangan ngeledek begitu!” Shena yang tidak terima keponakannya diejek oleh sang paman tak punya gigi walaupun di depannya ada kata cantik. Sementara Tania sendiri justru tertawa.


“Ya ‘kan emang giginya nggak ada. Itu ompong semua. Gusinya sepi udah kayak kuburan di malam jumat,”


“Mas ih ada-ada aja deh. Masa ponakan sendiri dikatain begitu,”


“Nggak ngatain, Bee. Emang kenyataan begitu ‘kan?”


“Ini karena belum tumbuh aja. Shofea, nanti kalau gigi kamu udah tumbuh cepat kasih tau Om Dio ya, minta beliin apa kek sama dia, jangan yang murah, sebagai tebusan rasa bersalah udah ngeledekin kamu,”


“Waduh berat nih, nggak lagi-lagi deh ngeledekin Shofea. Tapi boleh lah, nggak masalah. Om Dio mah orangnya nggak pelit apalagi sama keponakan sendiri, sekarang jadi satu-satunya pula,”


Dio mendekat akan mencium kening Shofea namun Shena langsung memiringkan badannya otomatis Shofea jadi menjauh dari Dio.


“Ih kok gitu sih?”


“Kamu lagi keringetan tuh, mending mandi dulu baru deh boleh cium-cium Shofea,”


“Eh iya lupa belum mandi. Abisnya gemes banget liat Shofea senyum. Jadi pengen gigi pipinya tuh, udah makin berisi aja si pipi ya, makin montok,”


“Iya dong, dikasih asupan terus, Om,” sahut Tania seraya mengusap pipi anak cantiknya itu.


“Yang banyak makannya, Sayang, biar makin ndut, jadi lebih enak diuyel-uyel, nih kayak begini—“


“Ih Mas! Jangan dipegang-pegang dulu,”


“Iya lupa, lagian cuma mau pegang pipi doang, ih pelit banget,”


“Ya tetap aja itu tangan kamu habis dari mana-mana. Nggak boleh dulu pegang Shofea, Mas,”


“Iya deh ngalah aku,”


“Shofea, tante kamu tuh nyebelin banget. Masa Om nggak boleh pegang-pegang kamu ya,”


“Tuh ‘kan dibilangin malah ngadu,”


Dio segera berlari kecil menuju ruang makan untuk meletakkan serabi yang Ia beli di sana.


“Mas, mandi aja dulu. Makan nanti,”

__ADS_1


“Siapa yang mau makan? Orang aku taruh serabi di meja,”


“Kamu beli serabi?”


“Lah dari tadi kemana aja, Bu? Emang nggak liat aku nenteng kantong plastik tadi?”


“Woah makasih, Mas,”


“Tau aja istrinya mau,” ledek Tania yang mengundang tawa Dio juga Shena.


“Aku padahal asal beli aja itu, Kak. Aku nggak tanya-tanya Shena mau atau nggak,”


“Tapi emang beneran aku lagi mau itu lho, Mas, kok bisa kebetulan gitu ya?”


“Namanya juga jodoh. Jadi satu keinginan, satu pikiran, ya pokoknya satu sama lah,” sahut Tania membuat kedua adiknya itu terkekeh.


Dio langsung bergegas ke kamarnya untuk membersihkan badan sehabis olahraga sore dengan mengayuh sepeda.


Ia sempatnya pagi. Kalau pagi paling-paling bisanya hanya hari libur dan itupun sering malas sekali. Kalau lagi mau, waktu sore lah yang digunakan. Dio menyadari dirinya semakin malas berolahraga padahal makan yang enak dan tidak sehat lancar terus.


“Shofea cantik, udah nggak nangis lagi nih ya?”


“Aman, Aunty,”


“Alhamdulillah nggak nangis lagi. Seneng banget Aunty kalau Shofea nggak nangis lagi setelah Aunty gendong,”


“Kamu makan serabi aja dulu, Shen. Biar Shofea sama aku,”


“Nggak apa-apa aku aja yang gendong. Kakak udah mandi? Mandi aja dulu kalau belum, biar Shofea si cantik sama aku,”


“Belum sih, tadi udah hampir mandi eh Shofea nangis,”


“Ya udah kakak mandi aja dulu,”


“Beneran Shofea sama kamu?”


“Iya bener, Kak. Aman sama aku mah, nggak aku isengin,”


“Aku percaya kalau sama kamu, kalau sama papanya malah ragu,”


Shena tertawa mendengar pengakuan Tania yang tidak menaruh rasa percaya seratus persen pada suaminya untuk menjaga Shofea dengan baik karena sering sekali Sehan membuat anaknya menangis. Entah apa yang dia lakukan, tahu-tahu sudah menangis dan membuat Tania kaget, padahal Tania lagi sibuk ini dan itu sebagai seorang ibu dan istri.


“Ya udah aku mandi bentar ya, Shen,”


“Iya, Kak,”


Tania bergegas ke kamarnya untuk mandi. Di dalam kamar Ia menoleh pada suaminya yang tengah menonton berita.


Tahu kalau istrinya hanya datang sendiri ke kamar, Sehan langsung menanyakan keberadaan putri kecilnya itu.


“Sayang, Shofea dimana?”


“Sama Aunty nya,”


“Oalah, pantesan nggak kamu bawa ke sini,”


“Males aku bawa ke kamar, ada monster jahat,”


Tawa Sehan meledak seketika saat istrinya menyamakan Ia dengan sosok monster. Ada kata jahatnya pula.


“Bukan monster jahat dong, Sayang,”


“Iyalah kamu itu monster jahat, Bang. Masa anak dibikin nangis mulu,”


“Itu nggak sengaja, aku ciumin doang dia bangun terus nangis,”


“Itu sengaja namanya. Erghh suka ada-ada aja kamu,”


“Nggak enak kalau nggak iseng sehari sama Shofea. Liat dia nangis lucu banget. Nggak cium dia rasanya ada yang kurang makanya aku ciumin muluk,”


“Nggak boleh cium lagi nanti ya, baru tau rasa,”


“Janganlah, masa aku nggak boleh cium anak kita?”


“Ya abisnya kamu bandel,”


“Aku mau mandi dulu,”


“Okay, aku bebas tugas berarti nih? Nggak jagain Shofea waktu kamu mandi,”


“Nggak, lebih aman sama Shena,”


Setelah berkata seperti itu, Tania langsung bergegas mandi meninggalkan suaminya yang jahil itu tertawa.


“Aku bukan monster pokoknya,” Sehan sedikit mengeraskan suaranya supaya sang istri bisa menangkap suaranya.


“Monster! Kamu itu monster, Bang,”


*****


“Halo, Cantik,”


Shena membawa keponakannya ke meja makan untuk melihat menu makan malam yang sudah siap.


“Wuih Bibi hebat tuh, Shofea. Udah siap semuanya,”


“Aunty lebih hebat lagi, Shofea. Masih aja bantu-bantu,” sahut Bibi yang membuat Shena terkekeh. Menu makan malam ini kebetulan dibuat oleh Bibi dan Shena.


“Itu ada serabi dibawain Mas Dio, Bi, makan dulu, Bi,”


“Iya gampang, Mba,”


“Bee,”


“Ya?”


Shena menoleh ketika ada yang memanggilnya. Tidak lain dan tidak bukan adalah suaminya. Hanya dia yang memanggil dirinya dengan sebutan seperti itu.


“Kenapa, Mas?”


“Nggak apa-apa cuma mau manggil aja,” ujar Dio seraya tersenyum dan kini mencubit pipi Shena begitu tiba di sebelah Shena.


“Eh ada ponakan cantiknya Om. Betah ya digendong Aunty ya,”


“Betah lah, mama nya lagi mandi,”


“Cie ditinggal mama mandi cie, mana papa kamu, Nak? Kok tumben nggak sama papa?”


“Lagi musuhan sama papa kayaknya nih. Gara-gara digangguin tidurnya,”


“Enang ya, ntar Om omelin. Tenang, Cantik, serahkan semuanya sama Om,”


“Lebay nih Omnya Shofea. Udah kayak mau mengemban tugas negara aja,”


“Iya itu tugas dari Shofea supaya papanya nggak bandel lagi,”


“Eh itu kok serabi belum dimakan?”


“Nanti aja ah, lagi main sama Shofea,”


“Sini aku gendong Shofea nya, biar kamu cicip serabi,”


“Udah sering cicip, Mas. Itu serabi langganan ‘kan?”


“Iya sih, tapi nggak apa-apa cicip dulu lah,”


“Nanti aja, Mas. Aku lagi gendong Shofea nih,”


“Sini sama aku aja Shofea nya,”


“Nggak ah, aku masih betah,”


“Ya ampun, Shofea cantik jadi rebutan ya,” ujar Bibi mendengar perdebatan kecil antara Shena dengan istrinya.


“Tau nih, pelit banget, masa nggak mau kasih Shofea ke aku,”


“Kasih-kasih, emang Shofea mainan apa?”


“Ya maksudnya biar aku yang gendong. Kamu mau cicip serabi ya silahkan dicicip lah,”


“Nggak, nanti aja,”


“Ih aku mau gendong dia juga, Sayang,”


“Mas nih nggak bisa liat orang senang deh. Aku ‘kan lagi—“


Suara Shofea yang merengek menghentikan perdebatan antara paman dan bibinya itu. Sontak saja Dio dan Shena tertawa. Shofea sepertinya protes tidak senang bila Andra dan Shena berdebat memperebutkan dirinya, sama-sama ingin menggendongnya. Padahal bisa bergantian, Ia juga tidak rewel.


“Tuh ‘kan, bocahnya ngambek ‘kan. Dia tuh kasih tau ke kamu supaya aku aja yang gendong,”


“Dih mana ada ceritanya begitu. Dasar tukang ngarang!”


Dio tertawa dan terpaksa mengalah dulu tidak menggendong keponakan pertama nya itu. Padahal Ia ingin sekali sebab Ia sudah bersih dan segera jadi bebas mau gendong atau cium Shofea.


“Duduk apa, nggak capek berdiri mulu?”


“Nggak, takutnya Shofea merengek,”


“Nggak, Sayang. Dia mah pengertian. Kalau yang gendong capek terus duduk dia nggak merengek apalagi nangis kok, coba aja kalau nggak percaya,”


Shena duduk di kursi makan masih dengan membawa Shofea. Dio yang menarik kursi itu supaya agak jauh dari meja sebab Shena sambil menggendong bayi cantik takut dia tersentuh meja.


“Tuh ‘kan pinter banget dia, nggak mau repotin Aunty nya. Buktinya diam aja itu,”


“Ah aku mau gendong padahal, aku udah mandi nih,”


“Bentar dulu ih, aku dulu napa, Mas,”


“Ya udah iya-iya, nggak maksa deh,”


Alih-alih ingin menggendong keponakannya lagi, Dio sekarang justru mengajak keponakannya itu bercanda. Ia berlaku aneh di depan Shofea dengan menunjukkan mimik wajah yang beragam. Mulai dari sedih hingga bibirnya benar-benar melengkung sampai yang gembira dengan memperlihatkan senyum lebarnya yang benar-benar lebar.


“Mas ngapain sih?”


“Lagi jadi lenong, biar Shofea ketawa,”


“Udah ketawa dia,”


“Iya sampai gusinya yang keliatan,”


“Untung nggak bilang ompong lagi kamu, Mas. Kalau ngomong begitu lagi, aku cubit mulutnya,”


“Emang kenyataan dia ompong, Bee,”


“Ya tapi nggak masalah dong. Emang belum waktunya tumbuh gigi, lagain tetap cantik kok,”


“Siapa bilang ompong nggak cantik? Aku ‘kan cuma bilang ompong aja. Emang Shofea tetap cantik kok,”


“Nggak boleh ngatain Shofea ompong pokoknya,”


“Duh galak banget Aunty kamu, Shofea,”


“Nanti kalau udah tumbuh gigi, langsung gigit itu hidungnya Om, Shofea. Biar dia inget udah pernah ledekin Shofea ompong muluk,”


“Sebelum gigit hidung aku, mending tabok hidung bapaknya dulu, ‘kan nggak kalah mancung tuh. Dia lebih nyebelin lagi soalnya,”


“Jangan, kalau sama orangtua dosa,”


“Lah, kalau ke aku nggak dosa gitu?”


“Nggak, aku yang dosa nanti karena aku yang nyuruh,”


Agatha tertawa dan itu mengundang Shofea untuk tertawa lagi padahal sebelumnya anak itu kelihatan bingung dengan pembicaraan antara paman dan juga Bibinya itu.


“Aku yang gendong sekarang,”


“Ya udah nih, dari tadi ribut minta gendong terus,”


Shena menyerahkan Shofea pada Dio dan anak itu sepertinya senang sekali. Ua terkekeh dan tangannya bergerak-gerak seperti ingin menggapai sesuatu.


“Yeayy senang dia kalau aku gendong,”


“Aku yang gendong juga senang kok, Mas,”


“Iya sih, tapi kalau sama Om nya lebih senang lagi,”


“Aku makan serabi ya,”


“Iya silahkan, Ibu. Dari tadi udah saya suruh,”


“Mumpung Shofea lagi sama kamu, Mas,”


“Iya makan aja udah,”


“Eh gimana sama chat nya Nada? Udah kamu balas, Mas?”


“Belum, nanti aja,”


“Ih kok nanti-nanti. Keburu dia datang ke rumah lho,”


“Ya kali dia datang ke rumah. Emang dia tau rumah aku? Lagian walaupun dia datang, nggak masalah. Aku temuin dia terus aku suruh ketemu aja sama teman aku yang tau soal rumah-rumah,”


“Bisa aja dia tau rumah kamu, Mas. Dia ‘kan teman kamu, dan kamu di rumah ini udah dari kecil ‘kan,”


“Iya sih, tapi nggak mungkinlah, lagian kayaknya aku nggak pernah deh ngajak dia ke sini,”


“Yakin? Masa iya nggak pernah ngajak pacar ke sini?”


“Kok pacar?“


“Dia mantan kamu ‘kan, Mas?”


“Iya sih, tapi seingat aku nggak pernah aku bawa ke sini, Sayang,”


“Pasti dibawa lah, ‘kan mau kamu kenalin ke papa mama,”

__ADS_1


“Belum sempat kenal kayaknya. Aku nggak pernah bawa dia ke sini, beneran deh,”


__ADS_2