Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 139


__ADS_3

"Aku minta maaf udah bikin kamu sedih,"


Shena tersenyum kecil mendengar ucapan sang suami. Dio menyadari kalau dirinya sudah membuat Shena sedih. Dio lagi-lagi terlalu keras menurut Agatha ketika menegur Agatha yang tidak berhati-hati melangkah menuruni anak tangga.


Shena pikir suaminya datang ke dapur karena ingin minta dibuatkan minuman juga tapi ternyata tidak, justru Dio datang ingin meminta maaf setelah ada basa-basi dulu.


"Kamu mau maafin aku nggak?" tanya Dio dengan sorot matanya yang teduh. Dio ingin mendengar jawaban atas permintaan maaf yang barusan Ia lontarkan. Selama Shena belum menjawab, Ia tidak akan tenang.


"Shen, kamu nggak mau maafin aku ya? aku keterlaluan ya? maaf aku kelepasan bicara pakai nada tinggi. Maaf ya udah ngasih tau kamu dengan cara yang nggak baik. Jujur aku kesal setiap kali kamu nggak bisa jaga diri kamu dengan baik. Kamu itu jarang banget hati-hati, sering banget ceroboh,"


"Aku juga minta maaf udah bikin kamu marah, Mas,"


Dio berdesis mendekatkan telunjuknya di depan bibir sang istri kemudian Ia mengecup kening Shena dengan lembut. Setelahnya Ia tersenyum.


"Kamu nggak salah. Aku yang murni benar-benar salah di sini. Seharusnya aku bisa kasih tau kamu dengan cara yang baik. Ini malah nggak, aku malah bentak kamu dan akhirnya bikin kamu nangis. Bahkan di dapur pun nangis,"


Kening Shena mengernyit ketika mendengar ucapan suaminya. Entah darimana Dio tahu kalau Ia sempat menangis di dapur sebelum akhirnya Ia membasuh wajahnya agar air mata yang mengalir di wajahnya bersih tak bersisa.


"Kamu sok tau, Mas," ujar Shena seraya terkekeh. Dio berdecak dan memalingkan wajahnya.


"Emang aku nggak tau apa?"


"Kamu nebak 'kan? udah gitu salah lagi nebaknya,"


"Lah emang aku tau kok. Kamu pasti nangis tadi,"


"Tau darimana?"


"Ya keliatan lah. Ngapain baru bikin teh padahal udah dari tadi di dapur? pasti lagi nangis dulu 'kan tadi? terus cuci muka juga,"


"Ya emang kalau aku cuci muka artinya aku nangis?"


"Iya, aku yakin kamu nangis. Aku nggak bisa dibohongin. Padahal dari tadi udah di dapur agak lama tapi tehnya belum dibuat-buat,"


"Iya karena aku tadi ngangon kambing dulu, bukan di dapur nangis,"


"Heleh bohong," Dio menjulurkan lidahnya. Ia semakin tidak percaya dengan pengakuan Shena yang tidak menangis katanya.


"Malah pakai alasan ngangon kebo segala. Emang dikiran aku bocah esde ya?"


"Ya kalau aku nangis emang kenapa?"


"Tuh 'kan ngaku juga,"


Dio mengecup hidung sang istri dan lagi-lagi meminta maaf pada istrinya itu.

__ADS_1


"Maaf ya, Sayang,"


"Iya, kamu udah berapa kali minta maaf ya,"


"Aku merasa bersalah. Sebenarnya tadi aku nggak mau banget minta maaf karena aku takut kamu nggak berubah kebiasaannya,"


"Jadi kamu minta maaf nggak ikhlas nih?"


"Ya ikhlas dong, Bee. Cuma aku tadinya emang nggak mau minta maaf karena kamu tuh kebiasaan jelek selalu dipelihara nggak pernah berubah. Selalu aja bisa celakain diri sendiri. Aku 'kan jadi marah banget tadi. Cuma abang tuh yang suruh aku minta maaf sama kamu. Sampai aku nggak dibolehin sama Abang untuk gendong Shofea karena aku belum minta maaf sama kamu. Akhirnya ya udah, aku kesini minta maaf,"


"Oh ternyata karena abang ya,"


"Iya, tadinya aku belum mau minta maaf--"


"Belum mau atau nggak mau?"


"Dua-dua nya deh. Karena aku takut kalau aku minta maaf kamu ceroboh lagi. Soalnya tiap aku abis marahin aku pasti minta maaf 'kan? nah kamu ngulang lagi kesalahan yang sama. Aku 'kan jadi marah banget,"


"Ya udah aku bawa minuman ini dulu ke Abang,"


"Tapi kamu maafin aku nggak?"


Shena mengangguk singkat. Ia akan bergegas keluar dari dapur. Teh hangat yang Ia buat untuk Sehan harus segera diantar sebelum dingin.


"Kok cuma ngangguk aja sih?"


"Bilang kalau kamu udah maafin aku. Kalau cuma ngangguk kepala aja berarti maaf nya masih setengah-setengah nggak full,"


"Lah bisa begitu ya,"


"Iya buruan ngomong, jangan dikunci mulutnya terus cuma ngangguk aja,"


Shena menghela napas pelan kemudian membuka mulutnya untuk menjawab, supaya tidak hanya mengangguk saja seperti apa yang dikatakan oleh Dio barusan.


"Iya aku maafin kamu,"


Dio tersenyum lebar mendengar penuturan Shena. Akhirnya Ia dimaafkan, tidak ada masalah lagi diantara Ia dan juga Shena.


"Okay, aku mau antar minum dulu nanti udah keburu berubah jadi dingin,"


Dio mengangguk dan Ia segera mengikuti istrinya ke ruang tamu menghidangkan air teh yang Shena buat untuk Sehan.


Sehan yang melihat adik iparnya meletakkan teh di meja langsung berdecak. Sebetulnya Ia tidak perlu dilayani macam tamu.


"Shen, udah dibilang sama gue barusan nggak usah nyiapin minum segala, udah kayak sama tamu aja,"

__ADS_1


"Abang 'kan emang tamu. Apa Abang lupa ya? orang udah pindah kok, tandanya itu tamu,"


"Gue bisa ambil sendiri,"


"Iya nggak apa-apa, Bang. Oh iya ada puding aku ambil bentar ya,"


Shena lihat-lihat ada yang kurang di atas meja. Ternyata Ia baru menyiapkan minuman saja, makan belum ada satupun. Akhirnya Shena bergegas kembali ke dapur untuk mengambil puding yang ada di lemari pendingin.


Setelahnya Ia bawa ke ruang tamu. Sehan makin menggelengkan kepalanya.


"Ih udah dibilang nggak usah kayak tamu gue nya,"


"Nggak apa-apa, Bang. 'Kan tamu harus dilayani dengan baik,"


"Makasih, Shen,"


"Sama-sama, Bang,"


Sehan segera menyeruput teh hangatnya sebentar dan apa yang ia lakukan itu mengundang tatapan mata Shofea yang tak lepas darinya. Shofea masih ada di dalam gendongannya dan ketika Ia minum Shofea menatap dalam diam sambil bibirnya bergerak seperti menginginkan apa yang diminum Sehan.


Sehan tertawa melihat anaknya seperti itu. "Haus, Nak? mau ini? nggak boleh, adanya susu tuh di dalam mobil? mau nggak? biar papa ambilin,"


"Sini Shofea sama gue aja, lo lanjut minum,"


Sehan tak lagi melarang Dio menggendong anaknya sebab Ia yakin Dio sudah meminta maaf pada Shena.


"Udah minta maaf?" tanya Sehan untuk memastikan. Kalau sampai Dio belum minta maaf atau dia malah sewot pada Shena di dapur gara-gara dilarang menggendong Shofea karena belum minta maaf, Sehan akan memberi pelajaran untuk adiknya itu.


"Udah lah,"


"Ya udah biasa aja jawabnya. Santai, Bro,"


"Lo tenang aja. Gue udah minta maaf sama Shen,"


"Ya baguslah kalau begitu. Gue seneng, dan gue minta sama lo jangan diulangi lagi ya. Lo tuh kebiasaan kalau udah marah nggak bisa banget tahan emosi, gua tau niat lo baik. Lo pengen istri lo lebih hati-hati lagi kaana dia lagi hamil tapi kadang cara lo ngasih tau malah ngomel kan istri lo jadi sedih,”


"Ya karena gue udah terlalu kesel, Bang. Shena begitu terus soalnya. Nggak sekali dua kali dia bikin gue khawatir selama hamil. Buset sering banget! sampe gemes sendiri gue,"


Shena tersenyum kecil mendengar suaminya menggebu-gebu mengungkapkan kekesalannya bila ia tidak bisa menjaga dirinya dengan baik.


"Ya tipe orang itu emang beda-beda. Ada yang bisa dipercaya untuk jaga dirinya sendiri, ada yang kebalikannya,"


"Tugas lo ya bukan marah, tapi ingetin baik-baik, terus selagi ada peluang lo dampingin, lo 'kan suaminya jadi harus banyak campur tangan juga jagain Shena terlepas dari dia bisa atau nggak jaga dirinya sediri,"


"Iya, Bang,"

__ADS_1


"Jangan iya-iya doang tapi lo ulangin lagi,"


__ADS_2