Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 58


__ADS_3

“Aku harus beli susu ibu hamil nih, tapi gimana minumnya ya? Belum ada yang tau aku hamil,”


Shena sedang melihat-lihat susu untuk wanita hamil. Ia ingin sekali membeli, tapi Ia bingung bagaimana cara meminumnya disaat orang rumah belum ada yang tahu Ia sedang mengandung.


Shena berpikir sebentar sampai akhirnya Ia ketemu ide untuk menyimpan susu did alam kamarnya saja. Di dalam laci juga bisa, atau di dalam kotak obat yang jarang tersentuh oleh Dio.


“Masalah tempat nyimpan udah ada solusi, nah sekarang masalah baru datang. Gimana caranya sulaya Dio nggak usah tau aku beli ini? Nanti ‘kan pas bayar belanjaan ini di kasir, Dio pasti ada. Dan dia bakal tau aku beli susu ibu hamil. Aduh, jadi banyak yang bikin bingung gini sih,” batin Shena sambil memijat pangkal hidungnya. Setelah tahu dimana Ia bisa menyimpan susu ibu hamil yang Ia beli nantinya. Tiba-tiba Ia ingat kalau saat ini Ia pergi bersama Dio, dan suaminya itu pasti akan tahu Ia beli susu ibu hamil karena Dio tentunya akan mendampingi selama kasir menghitung total belanjaan mereka.


Shena menghembuskan napas kasar setelah berhasil mendapat keputusan “Ya udah deh aku belimya nanti-nanti aja. Daripada Dio malah bingung nantinya karena aku tiba-tiba beli susu ibu hamil,”


“Shen, kok malah diam di rak susu ibu hamil sih? Katanya mau beli susu buat lo sendiri,”


Shena tersentak kaget ketika Dio tiba-tiba datang menepuk bahunya. Dio bingung melihat istronya malah diam di depan rak susu ibu hamil bukan malah mencari ausu untuk dirinya senidir.


“Lo mau beliin susu hamil buat siapa, Shen?”


“Hah? Nggak ada,”


“Ya terus ngapain di sini? Katanya mau beli susu buat diri sendiri,”


“Iya ini mau ngambil kok,”

__ADS_1


“Kenapa ke rak susu ibu hamil?”


“Iya tadi pengen liat-liat aja sebenarnya,”


“Ngapain liat-liat? Emang ada yang bikin lo tertarik gitu? Kok gue nggak ngeliat apapun yang menarik di rak susu ibu hamil ini ya?”


Shena mengangkat kedua bahunya. Dio tidak tertarik karena Dio tidak hamil dan Dio belum tahu kalau Ia sedang hamil.


“Ya udah aku ambil susu untuk aku sendiri dulu ya,” ujar Shena smabil berpindah posisi tidak lagi di depan rak susu ibu hamil.


“Perlu bantuan gue nggak? Lo pilih yang mana?”


“Nggak, aku—susunya ‘kan udah biasa sayu merk,”


“Yang penting punya aja dulu, Dio,”


“Ya udah, sering-sering dong diminum jangan jarang, biar lo sehat,”


“Emang kalau aku nggak sehat kenapa?”


“Yee pake ditanya. Ya gue nggak mau lah istri gue nggak sehat,”

__ADS_1


“Kenapa?”


“Kasian,”


“Kasian? Aku dikasianin nih ceritanya,”


“Ya nggak tega aja gue kalau ngeliat lo sakit,”


“Dulu perasaan tega-tega aja deh, bodo amat malah,”


“Ya itu ‘kan dulu, sekarang gue nggak mau kiat lo sakit!


“Awas aja ya kalau sampai lo sakit,”


“Wah ngancem nih ceritanya?”


“Gue nggak mau lo sakit, Shen. Nggak tega liat lo sakit. Waktu muntah aja gue rasanya sesak ngeliat lo. Padahal bukan gue yang ngerasain,”


“Hmm manis banget,”


Shena tersenyum menatap suaminya sekilas. Dio tidak ragu-ragu lagi mengungkapkan kekhawatirannya. Shena senang sekali rasanya.

__ADS_1


“Jadi lo jangan sampai sakit ya!”


__ADS_2