
“Ya Allah, Mas… Mas…aku nggak habis pikir sama kamu. Kalau aja kamu nggak ikut campur, keadaan kamu nggak akan kayak begini,”
Shena masih menjadi pengemudi mobil yang turut serta membawa suaminya yang baru saja dihajar oleh mantan suami Nada.
Shena kalap sekali dan sampai sekarang masih, walaupun tadi kata dokter Dio baik-baik saja. Dan lukanya juga sudah diobati. Beruntungnya hanya luka ringan saja yang di bibirnya, kemudian sudah diperiksa juga bagian perut yang sempat ditendang dan juga diinjak oleh lelaki itu, semua dipastikan baik-baik saja.
Sekarang Shena mengendarai mobil ke rumah. Hatinya sedikit tenang karena Ia sudah membawa suaminya ke rumah sakit. Meskipun Shena menolak, tapi tetap saja Shena bawa ke tempat perawatan orang sakit itu supaya semuanya bisa dipastikan baik-baik saja.
Sehabis dipukuli itu, Dio kelihatan lemah padahal sebelumnya tidak. Berangkat ke acara, kondisi Dio normal saja.
“Aku nih udah jarang berantem. Jadi lemah, padahal itu belum ada apa-apanya,”
“Belum ada apa-apanya gimana? Kalau tadi dia nggak pergi, kamu udah dihajar habis-habisan sama dia, Mas. Aku nggak mau ya kamu ulangi kesalahan ini lagi. Kamu itu nggak boleh ikut campur urusan orang, Mas,”
“Tapi niat aku ‘kan baik, Shena. Aku mau nolongin orang. Tadinya mah aku mau bodo amat aja, tapi karena dia mau ngelakuin kekerasan sama perempuan dan perempuan itu orang yang aku kenal, makanya aku tolong,”
“Iya aku tau niat kamu baik, kamu mau nolongin teman kamu, tapi aku yang khawatir sama kamu! Kalau kamu kenapa-napa gimana?! Hah?”
“Ssstt udah-udah, jangan kayak gitu, fokus aja nyetir,”
“Ya emang dari tadi udah berusaha fokus,”
Shena melajukan mobil sambil bicara dengan suaminya. Ia tidak ingin Dio mengulangi hal yang sama. Ia cemas sekali melihat Shena dihajar tadi, di lain sisi Ia juga marah pada lelaki itu karena dengan kurang ajarnya mencelakai sang suami.
Mobil yang dikendarai Shena memasuki komplek perumahan. Tidak lama kemudian roda mobil mendarat dengan selamat di garasi rumah.
Shena segera membuka pintu mobil dan keluar membantu suaminya yang sebenarnya bisa keluar sendiri walaupun dengan langkah yang agak sulit sambil memegangi perutnya.
“Kenapa perutnya?”
“Nggak apa-apa, kram kayaknya,”
“Ya udah makanya ayo istirahat,”
“Mas Dio kenapa?”
Security rumah yang menyambut kedatangan mereka langsung bingung melihat Dio yang dipapah oleh istrinya.
“Nggak apa-apa, Pak. Lagi cemen aja, padahal cuma digituin doang,”
“Ih kamu jangan terlalu meremehkan badan kamu. Bukan cemen, artinya memang dia itu keterlaluan nyerangnya,”
“Saya bantu,”
“Nggak apa-apa, Pak. Biar aku aja, makasih ya, Pak,” ujar Shena.
“Beneran, Mba? Kan lagi hamil, agak susah bantu Mas Dio,”
“Aku bisa, tenang aja, Pak,”
Shena merangkul pinggang suaminya sementara Dio melingkarkan tangannya di bahu Shena. Ia sudah berusaha jalan dengan normal tapi memang sulit karena perut bagian atasnya masih sedikit terasa nyeri.
Sampai di dalam, rumah sunyi, sepertinya yang lain di kamar. Dio menghela napas lega mengetahui keadaan rumahnya yang sepi tanpa sang mama yang berkeliaran. Nanti kalau Ardina tahu keadaannya dan tahu penyebab mengapa Ia jadi terluka, Ardina pasti akan khawatir berat dan banyak bicara padanya. Tadi Ia sudah puas mendengar Shena bicara menasehatinya, kali ini Ia ingin istirahat saja tanpa mendengar apapun lagi.
Sampai di kamar, Shena langsung membaringkan sang suami di atas ranjang. Setelah itu Ia membuka kancing kemeja yang dikenakan sang suami.
“Mau aku kompres, Mas?”
“Nggak usah, Bee. Aku baik-baik aja, cuma sakit dikit doang, dan nggak tau kenapa lemes, kayaknya sih karena ngantuk. Enak juga disetirin mobil sama kamu ya, nggak geradakan walaupun panik,”
“Aku kompres aja,”
Shena tetap akan mengompres perut bagian atas suaminya yang katanya masih sedikit nyeri, barangkali bisa membantu mengurangi rasa nyeri.
Shena tanpa mengganti baju merawat suaminya yang niat hati menolong orang tapi malah kena batunya.
“Memang kurang ajar banget laki-laki itu ya. Aku tandain dia, benci banget aku sama dia,”
Dio tersenyum tipis melihat istrinya yang sibuk mengompres sambil bicara. Sampai kapanpun Shena tidak akan terima suaminya diperlakukan seperti itu.
“Dia temperamental banget ya, Mas. Aku nggak bayangin deh jadi Nada yang hidup sehari-hari sama dia gimana. Habis terus kali badannya dia buat ya,”
“Aku juga nggak sangka sih kalau penyebab mereka pisah karena suaminya yang kasar begitu. Baguslah mereka pisah, jadi Nada bisa lepas dari orang kayak dia,”
“Dan untungnya belum punya anak, Mas. Coba kalau udah punya anak, kasian mentalnya. Pasti dia bakal nyaksiin pertengkaran orang tua, kekerasan ayah ke ibunya, terus perpisahan orangtuanya juga. Kasian banget kalau kayak begitu ‘kan,”
“Udah, Sayang. Aku mau tidur,”
“Jangan dulu, ganti baju supaya enak tidurnya,”
Dio menganggukkan kepalanya. Ia segera beranjak duduk dan menanggalkan kemejanya, sementara sang istri mengambilkan pakaian ganti untuk sang suami.
“Perlu bantuan aku ganti bajunya, Mas?”
“Nggak usah, aku sendiri aja,”
Dio akan berdiri dan Shena langsung menahannya. “Kamu mau kemana, Mas?” Shena berdiri di hadapan Dio menahannya agar tidak pergi kemana-mana, dan istirahat dengan nyaman di atas tempat tidur.
“Aku mau ke kamar mandi pipis sekalian ganti baju,”
“Oh, ya udah aku bantu sekarang,”
Shena mendampingi sang suami yang ingin ke kamar mandi. “Udah, sampe luar aja, jangan masuk,”
“Okay, hati-hati ya,”
“Iya, kamu tenang aja sih, aku itu sehat, Bee. Jangan khawatir gitu. Cuma lemes aja kok, bukan karena apa-apa,”
Dio memasuki kamar mandi dengan baju ganti di tangannya. Selain ingin mengganti pakaian yang Ia kenakan sekarang, Dio juga ingin buang air kecil. Supaya tidurnya nyenyak, memang harus melakukan dua hal itu.
“Mas, kamu mau aku bikinin teh hangat nggak?”
“Nggak usah, Bee, aku mau langsung tidur aja,”
Dio langsung keluar dari kamar mandi setelah berganti pakaian kemudian Ia meletakkan baju kotornya di laundry bag dan segera membaringkan badannya di atas ranjang. Shena berjalan menghampiri dan tiba-tiba saja di tengah langkahnya, Ia merasakan nyeri di bagian perut.
Ia meringis dan suaminya itu langsung menoleh. Seketika wajah Dio panik melihat Shena merunduk sambil memegangi perutnya sendiri.
“Bee, kamu kenapa?”
Dio bergerak cepat turun dari ranjang untuk menghampiri istrinya. Tanpa aba-aba Ia menggendong Shena dan langsung dibaringkannya di tempat tidur.
“Sayang, kamu kenapa? Perut kamu sakit? Hah?”
“Iya, sakit, nggak tau kenapa tiba-tiba aja sakit banget, Mas,”
“Ya Allah, kenapa? Yaudah kita ke rumah sakit sekarang ya, itu mungkin efek karena kamu tegang tadi. Makanya aku bilang jangan khawatir sama aku, jangan panik, aku baik-baik aja,”
“Tadi aku bahkan lari datang ke kamu, Mas,”
“Ya Allah, Shena kamu kenapa ngelakuin itu?”
“Aku panik, Mas. Aku udah nggak ingat apa-apa lagi. Yang penting bagi aku cepat sampai di dekat kamu dan bantuin kamu. Aku minta maaf udah salah berbuat kayak gitu,”
Shena bicara sambil meringis. Hal itu semakin membuat suaminya kalut. “Ya udah, mau ke rumah sakit ya? Mau ‘kan?”
“Nggak, aku nggak mau kemana-mana. Tolong ambil minyak kayu putih aja, Mas, biar aku balurin,”
Shena langsung bergerak mengambil benda yang diminta istrinya untuk meringankan rasa sakitnya.
“Ini kram aja,”
“Aku nggak yakin, aku pengen kamu diperiksa dokter,”
“Mas, jangan apa-apa ke dokter,”
“Kamu sendiri aua tadi bawa aku ke rumah sakit padahal aku nggak kenapa-napa,”
“Tapi itu masalahnya beda, Mas. Kalau Mas ‘kan habis dihajar orang, kalau aku nggak, ini sakit kram aja,”
“Yang bener kamu? Jangan ada yang ditutupi dari aku, Shena,”
“Iya, tenang aja, Mas,”
Dio membantu Shena untuk membalur seluruh bagian perutnya yang mulai membesar karena usia kandungan.
“Jangan kayak gitu lagi dong, Shena. Kamu itu emang suka banget nggak ingat lagi hamil,”
“Iya emang aku nggak bisa jaga anak aku, Mas,”
“Gara-gara aku. Maaf ya, kamu jadi begini, padahal harusnya kamu nggak perlu cemas. Aku pasti baik-baik aja,”
“Aneh kamu, Mas. Kamu itu suami aku, gimana ceritanya aku nggak panik liat kamu dihajar begitu sama orang lain?”
Dio mengusap perut Shena dengan lembut setelah itu memperbaiki baju Shena yang sempat Ia singkap barusan.
“Tidur ya, makasih udah nolongin aku tadi,”
“Lain kali jangan begitu lagi, Mas, aku nggak suka kalau kamu nolongin orang tapi malah ngorbanin keselamatan kamu sendiri, kalau bisa nggak usahlah ikut campur masalah orang,”
Shena menganggukkan kepalanya. Shena bukan tidak suka suaminya menolong orang. Hanya saja Shena berpesan pada Dio secara tidak langsung agar Dio tidak lagi ikut campur dalam urusan orang yang tak ada sangkut paut dengan dirinya kemudian menolong tapi malah berakibat fatal untuk dirinya sendiri.
“Iya, aku paham. Sekali lagi makasih udah bolong aku, udah khawatir sama aku. Maaf juga udah bikin kamu panik. Tapi lain kali kamu juga nggak boleh lupa sama keadaan diri kamu sendiri. Harusnya, biarin aja aku mati sekalipun asal kamu baik-baik aja, Shena. Kalau seandainya tadi kamu lari terus jatuh dan kamu sama anak kota kenapa-napa gimana? Aku nggak mau banget kalian celaka, Shena,”
“Mas, jangan ngomong begitu. Semua harus baik-baik aja, Mas ataupun aku pokoknya nggak boleh kenapa-napa. Itulah sebabnya aku khawatir banget waktu liat kamu dipukuli,”
Dio tersenyum tipis. Kemudian Ia menunduk dan mencium kening istrinya itu dengan lembut. Ia berbaring di samping Shena yang sudah merasa lebih baik usia merasakan nyeri di perutnya tari. Nyeri yang tak bisa Ia gambarkan atau tebak penyebabnya apa. Tapi menurutnya itu hanya kram saja.
__ADS_1
Dio cemas, Ia tidak akan bisa tidur setelah mengetahui istrinya merasakan sakit tadi. Meskipun sebenarnya Ia mengantuk dan lemah juga, tapi Ia takut terjadi sesuatu pada Shena ketika Ia tidur.
“Tidur, Mas, jangan cuma ngelamun aja,”
Rupanya Shena juga tidak bisa terpejam. Ia menoleh ke samping dimana suaminya tengah berbaring menghadap langit-langit kamar.
“Kamu sendiri kenapa nggak tidur? Masih sakit ya?”
“Nggak kok, udah hilang sakitnya,”
“Benar? Nggak bohong sama aku ‘kan?”
Shena menggelengkan kepalanya. Ia benar-benar mengatakan hal yang sebenarnya. Sakit semakin tidak bisa Ia rasakan dengan jelas lagi. Shena juga sempat takut sekali, mengingat sebelumnya Ia diserang kecemasan barangkali itu berpengaruh ke kandungannya, dan tadi Ia juga sempat menghampiri Dio dengan langkahnya yang cepat.
“Mas, kamu nolongin Nada hanya karena rasa kemanusiaan atau yang lain?”
Dio langsung mengubah posisi tidurnya menjadi miring menghadap Shena yang barusan bertanya. Pertanyaan Shena itu membuatnya bingung.
“Maksudnya gimana?”
“Iya aku tanya, kamu nolongin dia karena rasa kemanusiaan aja bukan karena yang lain ‘kan?”
“Yang lain tuh apa maksudnya, Bee?”
“Misalnya kamu masih suka sama dia dan nggak mau dia disakiti sama mantannya,”
Dio melipat bibirnya ke dalam. Ia berdehem sambil beranjak duduk. Shena menatap matanya dengan sorot mencari jawaban.
“Siapapun bakal aku bantu sekalipun dia bukan mantan aku dan kebetulan aku lihat kejadiannya kayak tadi,”
“Aku benar-benar nggak nyangka lho kamu bakal nyamperin mereka yang lagi ribut tadi. Niat kamu baik, Mas, tapi aku tetap nggak suka kalau kamu nolong orang tanpa perhitungan,”
“Iya aku nggak akan kayak gitu lagi,”
Dio mencium kening Shena setelah itu merengkuh Shena dan menyuruh Shena untuk segera memejamkan matanya.
“Kalau ngerasa sakit atau apa, bilang sama aku ya, jangan sungkan,”
“Okay, Mas. Mending Mas juga istirahat aja biar nanti enakan perutnya, nggak sakit lagi,”
“Peluk aku nggak?”
Shena terkekeh kemudian masuk ke dalam pelukan sang suami. Ia menenggelamkan kepalanya di dada Dio dan menghidu aroma yang membuatnya nyaman dan betah lama-lama di sisi Dio.
*****
-Dio, gimana keadaan lo? Udah lebih baik?-
Shena membaca direct massage dari instagram suaminya yang ada di ponselnya. Akun sang suami kebetulan tertinggal di ponselnya dan sekarang sedang Ia mainkan. Tapi Ia malah menerima pesan masuk seperti itu dari akun instagram bernama Nada.
“Nada mantannya Mas Dio nih. Masih merasa bersalah kali dia ya?”
Shena langsung mengetik balasan untuk Nada, Ia memberitahu bahwa keadaan Dio sudah membaik.
Shena sedang bekerja dan dia belum pulang. Dia tidak mungkin membuka-buka akun sosial medianya bila sedang bekerja.
Setelah itu, Shena keluar dari akun instagram suaminya dan kembali ke akun miliknya lagi tanpa menjelajah beranda lagi.
Ia keluar dari halaman instagram kemudian Ia turun ke lantai dasar. Shena mendengar suara kakak sepupu suaminya yang tengah berbincang dengan sang putri, Ia langsung menghampiri.
Tania mengalami keguguran yang membuatnya beserta keluarga sangat-sangat terpukul. Tapi beberapa hari dari kejadian, tidak sengaja Tania dan sang suami menemukan soerang bayi perempuan di halte yang mereka lintasi. Tanpa pikir panjang mereka langsung membawnaya ke rumah, dan tidak lupa memberikan nama dengan nama yang cantik yaitu Shofea. Keputusan Tania dan Sehan untuk mengakui anak itu sebagai anak mereka didukung oleh keluarga. Bagi mereka, itu bukan sebuah kebetulan, tapi memang sudah direncanakan oleh sang pencipta untuk memghibur duka lara Tania sebagai ibu, Sehan sebagai ayah dan juga keluarga besar. Kehadoran Shofea di dunah ini membuat hari-hari penghuni rumah menjadi lebih berwarna. Sehan dan Tania belum diizinkan oleh Ardina untuk kembali ke tempat mereka, Jepang. Karena mereka masih ingin bersama Shofea lagipula menurunArdina Shofea masih terlalu kecil kalau sudah harus dibawa ke Jepang.
Daripada Shena kepikiran dengan Nada yang rupanya tahu instagram suaminya, lebih baik Ia bermain dengan Shofea saja supaya tidak stres memikirkan mantan dari suaminya.
“Eh ada Aunty,”
“Shofea kok nggak bobo siang? Biasanya bobo kok,”
“Udah bangun barusan, Shena. Terus rewel di kamar. Pas aku bawa keluar langsung senyum-senyum,”
“Oh bosen di kamar ceritanya. Udah bisa ngerasa bosen juga ini bayi ya, udah nggak suka tidur terus ya?”
Shena mencium lengan Shofea yang mulai kelihatan gemuk. “Ih kapan sih ini roti sobeknya makin keliatan? ‘Kan Aunty mau gigit biar kenyang,”
Tania tertawa mendengar celetukan adik iparnya.
Shofea memang kelihatan semakin berisi terlihat dari lengan dan kakinya. Menurut dokter sekarang Shofea sudah ideal baik berat badan maupun tingginya.
“Ini udah bisa digigit, Aunty,”
“Masih kurang ini, Aunty nggak kenyang kalau rotinya cuma segini. Ndutin lagi ya? Okay?”
Shofea terkekeh dengan gusinya yang kosong dan itu membuat Shena gemas dan ikut tertawa. Anak itu benar-benar hiburan sekali untuknya.
“Shofea,”
“Ih udah bisa nyaut si cantik nih,”
Bertepatan dengan Shena memanggilnya, Shofea justru mengeluarkan gumamannya, seolah dia menyahuti panggilan Aunty nya itu.
“Shofea udah gede sebelum waktunya ini kayaknya,”
“Iya, makin hari ada aja nih tingkahnya, Aunty. Papa pulang kerja, dia udah tau banget. Nggak lagi nengok-nengok aku karena udah ada papanya. Udah kangen banget dia,”
Shena tertawa mendengar ucapan kakak iparnya yang tengah melaporkan perilaku anaknya itu.
“Giliran papa kerja, Shofea sama siapa hayo?”
Shofea menatap Shena dan mamanya bergantian masih dengan senyumnya. Shena menggertakkan giginya gemas. Ia ingin benar-benar menggigit Shofea tapi ‘kan tidak mungkin. Keponakan sendiri masa iya digigit, kejam sekali dia.
“Shofea anak cantik,”
“Shofea anak imut,”
Shena bernyanyi sesuka hatinya untuk menghibur hati Shofea yang kembali terkekeh mendengarnya bernyanyi sambil mendekatkan wajahnya ke arah Shofea.
“Ketawa terus ya, murah senyum dan ketawa terus anak ini, Shofea nanti kalau udah gede jangan senyum terus, jangan ketawa terus. Lebih sering pasang muka jutek aja supaya nggak ada cowok yang deketin. Kalau Shofea murah senyum terus nanti ada aja yang suka sama Shofea, malah Aunty rasa banyak banget. Nggak usah senyum ya, cemberut aja terus,”
Tania tertawa mendengar Shena bicara seperti itu pada anaknya. Dan Shofea mendengarkan dengan baik. Matanya tidak berkedip ketika mendengarkan Auntynya bicara, wajahnya juga menampilkan keseriusan.
“Ada-ada aja Aunty nih masa nyuruh aku nggak senyum, nanti boro-boro suka, yang ada pada lari semuanya,”
“Soalnya Shofea nih jadi inceran nanti. Cantik banget sih abisnya,”
“Banyak yang cantik, Aunty. Bukan hanya Shofea aja,”
“Nggak, pokoknya Aunty fans fanatik Shofea,”
“Okay, berarti aku fans fanatik si kembar juga dong,”
Shena terkekeh seraya mengusap perutnya. Belum apa-apa anaknya sudah punya fans fanatik.
“Assalamualaikum,”
“Suaranya Dio tuh, Shena, tumben dia udah pulang. Belum sore ‘kan ini,”
“Iya aku bukain pintu dulu ya, Kak,”
Tania mengangguk mempersilahkan adiknya itu untuk membukakan pintu karena suaminya pulang.
Shena tersenyum menyambut suaminya. Ia mengulurkan tangan ingin mencium punggung tangan suaminya tapi Dio malah berlari masuk ke dalam sampai Tania yang melihat Dio melewatinya begitu saja tanpa basa-basi merasa bingung. Tidak biasanya Dio langsung masuk begitu saja melewati orang.
“Kayaknya ada yang nggak beres nih,”
“Iya coba samperin. Dio sakit perut kali, Shen,”
Shena langsung beranjak ke kamar menyusul suaminya yang barusan berlari masuk ke dalam tanpa mengatakan apapun.
“Mas, kamu kenapa?”
“Bentar, Bee, aku ada urusan,”
Shena menghela napas pelan melihat suaminya yang buru-buru melepas kemeja dan celana kerjanya setelah itu masuk ke dalam kamar mandi.
Benar dugaan Tania tadi. Sepertinya Dio sedang sakit perut. Urusan yang dimaksud Dio itu adalah buang air besar. Dia mau buang air besar tapi bilangnya malah ada urusan.
“Kamu sakit perut ya, Mas?”
“Iya dari tadi di kantor mules terus,”
“Ya Allah, emang kamu makan apa, Mas? Salah makan kali ya? Kamu makan yang terlalu pedas mungkin,”
“Kayaknya nggak deh,”
Shena langsung bergegas untuk membuatkan teh hangat untuk suaminya supaya perutnya sedikit tenang, tidak berontak terus.
Biasanya Dio tidak mau langsung minum obat kalau menurutnya masih belum terlalu parah. Tapi tetap Ia siapkan obat diare, kapanpun Dio minum yang penting sudah siap.
Dio keluar dari kamar mandi dengan mengusap-usap perutnya seperti wanita hamil yang sudah merasakan kontraksi.
Shena yang melihat itu menahan tawanya. Selain mengusap, lelaki itu juga menepuk-nepuk perutnya sendiri.
“Ketawa aja, jangan ditahan. Kayak ibu hamil yang begah aku ya?”
Shena akhirnya terkekeh dan Ia mengangguk membenarkan. Dio pun ikut tertawa jadinya.
“Ih dari tadi mules terus perut aku, Bee,”
__ADS_1
“Kamu makan apa emangnya?”
“Aku makan nasi padang aja kok tadi dan biasanya nggak apa-apa tuh, nggak ada cerita mules sampai berapa kali mondar-mandir kamar mandi,”
“Mungkin kamu kebanyakan makan sambal kali, Mas,”
“Nggak, porsi kayak biasa aja, tapi tetap juga sakit perut,”
“Ya udah kalau gitu istirahat aja dulu. Tapi ini diminum teh hangatnya biar perut kamu enakan, terus mau minum obat kapan,”
“Nanti ajalah obatnya, aku mau tidur dulu,”
“Ya udah, istirahat deh, sampai pulang cepat gitu kenapa?”
“Aku udah lemes, Bee. Pengen tidur, di jalan masih juga sakit perut aku padahal sebelum pulang udah ke kamar mandi,”
“Ya Allah sampai segitunya kamu, Mas. Apa coba yang salah? Perasaan makanan di rumah biasa aja nggak ada yang jadi pemicu kamu sakit perut. Tadi pagi setelah sarapan baik-baik aja ‘kan?”
“Iya, mulainya itu kalau nggak salah dua jam yang lalu,”
“Makanya bawa bekal aja dari rumah, Mas,”
“Ngerepotin ah,”
“Nggak lah, Mas. Justru aku senang siapinnya. Kamu malah nolak terus kalau mau aku bawain bekal padahal apa susahnya? Tinggal bawa aja tempat makan ke kantor,”
Dio menyeruput teh yang dibuat Shena hingga habis tanpa sisa. Perutnya langsung terasa hangat.
“Duh, enak banget teh nya, pake racikan apa?”
“Hah? Nggak ada,”
Shena mana pernah pakai racikan ini itu untuk sekedar buat teh. Sama saja bahannya. Teh, gula, dan air.
“Pake racikan kali tuh,”
“Racikan apa? Mas mau dibuatin teh jahe?”
“Nggak, itu aja udah cukup. Tapi enak banget makanya aku pikir pake racikan. Maksud aku racikan cinta,”
Shena memutar bola matanya jengah. Sudah sakit saja masih bisa melucu. Ia segera menyuruh Dio untuk beristirahat, jangan banyak bicara lagi supaya segera sembuh.
“Kamu mau dibuatin makanan apa? Biar nanti bangun tidur ada yang dimakan sesuai maunya kamu, Mas,”
“Nggak ada, kamu nggak usah buatin apa-apa,”
“Ya udah, kamu tidur dulu deh,”
Dio kalau sudah sakit, terkadang agak susah juga untuk disuruh makan. Oleh sebab itu Shena ingin membuat makanan yang sedang diinginkan suaminya.
“Mas Dio lagi nggak mau apa-apa. Terus aku buat makanan apa dong? Bingung nih,”
Shena masih berdiri menatap suaminya yang berbaring diatas tempat tidur sambil memejamkan kedua matanya.
“Kasian banget kamu, Mas. Pulang-pulang malah diare, padahal sebelumnya sehat,”
Shena keluar dari kamar dengan membawa gelas kosong yang digunakan Dio untuk minum teh tadi. Ia akan membasuhnya di dapur.
“Ngapain kamu, Shen?”
“Ini cuci gelas, Ma,”
“Lah, gelasnya Dio itu. Dia udah pulang?“
“Udah barusan, Ma,”
Shena selesai membasuh gelas suaminya kemudian Ia keringkan sebelum diletakkan di dalam rak.
Kemudian Ia menoleh pada ibu mertuanya yang tengah mengambil sayur sop. Shanti ingin menikmati sayur itu tanpa nasi. Karena kebetulan baru dihangatkan, pasti makin lezat.
“Kenapa udah pulang? Tumben ya, biasanya sorean,”
“Lagi sakit perut, Ma,”
“Lho, makan apa memangnya? Kok bisa sakit perut?”
Ardina menghentikan tangannya yang tengah menuang sayur ke mangkuk kemudian Ia menatap Shena yang baru saja memberitahu bahwa suaminya sakit perut.
“Katanya tadi cuma makan nasi padang aja. Biasanya ‘kan aman-aman aja makan itu, Ma, mungkin emang lagi nggak baik keadaan perutnya Mas Dio,”
“Terus udah minum obat?”
“Katanya nanti aja habis bangun tidur, Ma,”
“Ya udah, kita makan sayur ini yuk, bunda kepengen nih mumpung masih hangat,”
“Iya mama makan aja, aku ke kamar dulu ya, Bun. Takutnya Mas Dio perlu apa-apa,”
“Oh ya udah kalau gitu, nggak mau makan bareng bunda nih?”
“Aku udah makan tadi, Ma,”
“Tawarin Dio makan, kali aja dia mau makan sayur sop,”
“Iya, Ma, nanti aku tawarin,”
Shena segera bergegas kembali ke kamar. Begitu Ia tiba di kamar, suaminya masih terlelap dengan pulasnya.
Kalau saja Dio bangun, Shena mau menawarkan suaminya itu makan, atau sekali lagi bertanya makanan apa yang sedang diinginkan suaminya itu.
“Sayang…”
“Eh? Ngigau, Mas?”
Shena langsung bergerak mendekati suaminya yang bergumam sambil menggerakkan kepalanya.
“Mas, kenapa?”
“Enggh duh pengen ke kamar mandi lagi,”
Dio langsung beranjak dari tempat tidur ketika perutnya kembali berontak. Tanpa basa-basi Dio bergerak ke kamar mandi meninggalkan istrinya yang cemas.
“Kok jadi diare begitu ya? Aduh Mas…Mas, kamu ada-ada aja, minum obat malah nanti-nanti,”
“Nggak tau nih, bikin repot aku aja jadi mondar-mandir ke kamar mandi,”
“Mas, jangan ngomong gitu, Allah yang kasih penyakit kamu lho, jangan protes,”
“Tapi aku bingung, Sayang. Kenapa jadi sakit perut tiba-tiba begitu? Padahal aku nggak salah makan kok, biasanya juga nggak masalah mau makan nasi padang dimana aja,”
“Perut Mas emang lagi sensitif berarti. Waktunya Mas dikasih sakit,”
Dio keluar dari kamar mandi dengan meringis sambil menyentuh perutnya lagi. Shena langsung memegang tangannya ketika Ia berjalan menuju tempat tidur.
“Ada-ada aja Mas nih. Makanya minum obat ya?”
“Nanti dulu, Bee. Aku baru aja minum teh tadi,”
“Ya udah, tapi ingetin minum obat, nanti makin parah lho,”
“Iya tenang aja,”
“Tenang aja gimana, Mas. Kamu tuh lagi sakit gimana aku bisa tenang,”
“Jangan panik, nanti perut kamu nggak enak lagi kayak waktu kemarin aku berantem sama mantannya Nada,”
“Nggak kok, perut aku aman, Mas. Adik bayi ngerti papanya lagi sakit jadi nggak mau bikin cemas. Eh ngomong-ngomong Nada, dia tadi DM ke instagram kamu tuh, maaf aku yang jawab supaya dia nggak bertanya-tanya lagi soal keadaan kamu,”
“Nggak apa-apa jawab aja. Emang dia tanya apa?”
“Tanya kondisi kamu. Mungkin dia masih khawatir kali karena kamu abis berantem sama mantan suaminya,”
“Kok dia tau instagram aku? Orang aku sama dia nggak saling follow,”
“Mungkin dia cari tau, Mas,”
“Seingat aku sih, aku sama dia nggak saling follow. Tapi coba deh aku liat dulu,”
Dio langsung meraih ponselnya untuk mencari tahu. Ia buka akun instagram, tidak lupa nengecek direct message dan ternyata memang benar ada pesan dari Nada. Begitu Ia periksa apakah Ia dan Nada saling mengikuti ternyata awalnya tidak tapi sekarang Nada mengikutinya.
“Oh dia baru follos aku tuh,” ujar Dio seraya meletakkan ponselnya di atas nakas.
“Terus gimana, Mas?”
“Ya udah nggak gimana-gimana, Sayang,”
“Jawab aja,”
“Dia ada chat aku lagi nih barusan,” ujar Dio ketika baru membuka direct mesaage lagi dan menemukan pesan yang baru saja dikirim oleh Nada.
-Sekali lagi maaf ya, Dio. Gue benar-benar nggak tau kalau mantan gue itu bakal berulah lagi, dan kali ini ngelibatin lo. Gue nggak enak sama istri lo. Dia pasti kesal banget sama gue karena suaminya dihajar sama mantan gue. Maaf banget ya bilang ke Shena. Gue berharap setelah ini Shena nggak jera ketemu sama gue, dan semoga aja mantan suami gue itu nggak pernah datang lagi ke kehidupan gue apalagi sampai berbuat kekacauan lagi-
Shena mengamati suaminya yang sedang serius membaca pesan dari Nada. Karena prnasaran akhirnya Shena ikut membaca. Ia mendekatkan posisinya tepat di sebelah Dio, bahkan kepalanya melekat dengan lengan Dio.
“Oh dia minta maaf lagi tuh, Mas,”
“Iya minta maaf ke kamu. Dia nggak enak karena dia tau gimana perasaan istri kalau duaminya diapa-apain orang, dan dia merasa bersalah karena yang hajar aku itu ‘kan mantan duaminya dia, padahal sebenarnya dia nggak salah sih. Yang dalah tuh mantannya. Udah selesai tapi masih aja cari perkara. Kadang aku bingung deh sama orang kayak gitu. Nggak tau malu banget. Udah selesai masih mau cari masalah, padahal ‘kan udah punya jalan hidup masing-masing, kenapa harus ganggu lagi coba? Itu kemungkinan dia belum bisa terima perpisahan yang udah terjadi,”
__ADS_1