
Berhubung Papanya tidak mau memberitahu dimana Shena, dan juga bagaimana keadaan Shena, Ia diharuskan untuk usaha mencari tahu sendiri, jadi sekarang Dio terpaksa mencari informasi dari pihak yang sekiranya bisa membantunya.
Ia menghampiri dua orang pegawai yang baru saja keluar dari ruang instalasi gawat darurat. Dio berharap dari mereka Ia bisa mendapatkan informasi.
“Sus, maaf saya mau tanya pasien atas nama Shena dimana ya? Saya suaminya mau liat keadaannya, dia udah di ruang rawat inap ya, Sus?”
“Oh iya, barusan naik tuh ke ruang VIP sakura 167 lantai dua,”
“Makasih infonya ya, Sus,”
“Iya sama-sama,” ujar staf berseragam putih. Kebetulan yang Dio tanyakan itu yang sempat menangani pasien dengan nama Shena.
Dio langsung bergegas akses untuk naik ke lantai dua yang telah disebutkan tadi. Dio merasa senang karena Ia tak sulit mencari informasi tentang Shena.
******
__ADS_1
Ardina tersenyum melihat menantunya sudah terlelap. Ardina mengusap kening Shena yang masih terasa panas.
“Ya Allah, angkat penyakit menantuku. Aku nggak tega liat dia sakit kayak begini,” gumamnya.
Malam ini Shena tidur di rumah sakit, tempat yang berbeda dari biasanya, dan kali ini ditemani oleh ibu mertuanya. Seharusnya memang ada Dio juga di sini, tapi entah dimana Dio sekarang. Ardina cek ponselnya. Ia pikir pesan-pesannya dibalas oleh Dio tapi ternyata tidak.
“Dio benar-benar nggak punya perasaan ya. Udah nggak pulang, nggak mau juga baca pesan-pesan orangtuanya yang ngasih tau keadaan istrinya. Dia udah bodo amat aja,”
Ardina beranjak untuk ke kamar mandi. Tapi suara ketukan pintu membuatnya mengurungkan niat awal.
“Ngapain kamu ke sini?”
“Aku mau tau keadaan Shena,”
“Bagus kalau udah peduli, walaupun harus mati-matian dulu dihubungi dan nggak ada tanggapan dari kamu sama sekali,”
__ADS_1
“Yang penting aku udah datang ke sini ‘kan, Ma. Gimana Shena? Kok dia bisa sampai dirawat sih?”
“Ya gimana nggak dirawat? Dia demam tinggi, kepalanya, tapi hasil pemeriksaan semuanya bagus. Tadi dia sampai pingsan asal kamu tau,”
“Iya aku dikasih tau Bibi. Aku pikir dia udah sembuh,”
Ardina tersenyum tak habis pikir sambil geleng-geleng kepala. Shena sudah smebuh itu hanya pikiran Dio saja, tapi yang sebenarnya terjadi hari ini Shena benar-benar menurun sekali keadaannya.
“Kamu cuma nebak Shena udah sehat, padahal boro-boro sehat, hari ini Shena nggak keluar kamar sama sekali, padahal dia nggak pernah kayak gitu. Terus dia pingsan. Kamu nggak mau dengerin omongan Mama, Dio. Kamu keterlaluan, kamu kurang ajar. Mama suruh pulang tepat waktu karena kamu harusnya emang ada di samping Shena karena Shena lagi sakit, kamu temenin dia ke rumah sakit. Tapi apa? Kamu malah nggak pulang-pulang dan akhirnya Shena pungsan kamu nggak tau. Untung Bibi datang ke kamar, kalau nggak mungkin kita semua juga nggak tau kalau Shena pingsan, dan bisa jadi keadaannya lebih parah dari itu karena nggak secepatnya dibawa ke rumah sakit,”
Begitu tiba di depan ruang Shena, Dio langsung mendengar Ardina bicara panjang lebar melampiaskan rasa kesalnya terhadap Dio.
“Aku minta maaf, Ma,”
“Nggak butuh permintaan maaf kamu. Shena udah terlanjur di sini, dan kamu nggak ada waktu dia butuh kamu. Tapi Mama bersyukur ya, setidaknya masih ada mama papa yang peduli sama Shena, yang sayang sama Shena, disaat suaminya sendiri bodo amat,”
__ADS_1