Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 107


__ADS_3

“Beliin, Mas. Aku malu ngomongnya,”


“Lah kamu aja malu, apa kabar aku, Sayang?”


Shena merengut dengan bibir yang melengkung ke bawah. Ia minta tolong pada Dio agar Dio yang melakukan transaksi, Ia tinggal tunjuk dan Dio yang ambil kemudian membayar. Tapi Dio menolak mentah-mentah karena Ia sendiri malu. Masalahnya semua anak-anak di dekat penjual itu.


“Jadi kamu nggak mau nih?! Hah?!”


Karena Shena sudah akan merajuk, terpaksa Dio menuruti permintaan istrinya itu. Ia segera mendekati si penjual tapi sebelum itu Ia bertanya pada istrinya ingin boneka yang mana. Setelah Shena memberitahu barulah Dio mengatakannya pada si penjual sekaligus menyerahkan uang.


“Ini cara jalaninnya gimana, Bang?“


“Tinggal ditekan aja tombol di punggung boneka nya,”


“Ini pakai batre ‘kan ya?”


“Iya betul, Mas. Buat anaknya ya?”


“Bukan, buat istri saya,” ujar Dio seraya menoleh pada istrinya yang tersenyum malu.


“Oh ngidam ternyata,”


“Hah? Tau darimana, Bang?”


“Ya tumben aja cewek dewasa mau beli, apa mungkin karena suka aja kali ya?”


“Iya begitu, Bang, katanya sih bukan karena ngidam,” ujar Dio pada si penjual yang langsung terkekeh pelan. Setelah membeli boneka barulah Shena mengajak suaminya itu untuk pulang.


“Kamu yakin mau pulang sekarang nih?”


“Iya, aku udah nggak mau apa-apa lagi, aku cuma mau setel ini di kamar, duh nggak sabar banget deh,”


“Kamu makin aneh deh, Sayang. Boneka yang dimau, bukan malah tas sepatu atau apa,”


“Itu mah udah kenyang,”

__ADS_1


Shena memeluk boneka kecil yang sudah dibelikan oleh suaminya itu. “Makasih ya, Mas,” ujar Shena yang ingat belum melontarkan kalimat terimakasih pada sang suami. Padahal Dio sudah berkorban menebalkan muka ketika ditatap oleh anak-anak saat membeli boneka itu tanpa mengajak anak.


“Itu anak-anak pada nonton doang, beli nggak,”


“Ya mungkin ada yang nggak dibolehin sama orang tuanya. Aku aja dulu begitu kok, nggak selamanya mau beli ini itu dibolehin langsung kadang dibeliin besokannya, itu aku diajarin untuk sabar,”


“Kamu senang sama boneka itu?”


Shena menganggukkan kepalanya cepat. Kalau Ia tak senang, tidak akan Ia beli boneka itu. Sampai Ia minta belikan pada Dio artinya Ia senang sekali.


“Kamu nggak mau beli apa-apa lagi ‘kan, Mas?”


“Nggak, Sayang, kita pulang aja,” ujar Dio yang langsung mengundang senyum lebar Shena. Perempuan itu senang karena bila cepat pulang, artinya cepat juga menghidupkan si boneka agar berjalan-jalan di kamar.


Shena langsung mengusap perutnya yang terasa masih penuh begitu duduk di dalam mobil. Dio yang melihat itu terkekeh.


“Kamu kekenyangan ya, Sayang?”


“Iya kenyang banget,”


“Kita langsung pulang ya, Sayang? Nggak kemana-mana lagi ‘kan?”


“Nggak dong, kita langsung aja pulang. Aku udah nggak sabaran liat boneka ini menunjukkan aksinya,”


“Mau kamu taruh dimana itu boneka nya? Hmm?”


“Di nakas?”


“Apa nggak jatuh?”


“Hmm belum tau juga sih, Mas,”


“Ya udah coba aja nanti ya. Eh tapi kalau malam-malam nyalain itu agak serem nggak sih, Na? Aku kok ngebayanginnya ngeri ya?”


“Ngeri gimana sih? Kamu takut?”

__ADS_1


“Iya kayak boneka hantu aja jalan-jalan sendiri,”


“Tapi itu bukan boneka hantu. Dia nggak gerak sendiri tapi digerakkin sama batre, kamu nih takutan banget deh, aku aja biasa aja kok,”


“Ya karena memang kamu suka makanya nggak takut,”


“Mas, liat deh, lucu banget masa!”


Shena memanggil suaminya yang tengah mengisi daya baterai ponsel. Dio kaget karena istrinya semangat sekali memanggil.


“Kenapa sih, Sayang?”


“Ini liat deh, lucu banget. Dia beneran bisa jalan,” unar Shena memberitahu suaminya lagi.


Begitu sampai di rumah, Shena langsung membasuh kaki dan tangan juga mengganti baju, sementara Ken juga begitu. Setelah merasa bersih, barulah Shena mulai sibuk dengan boneka itu. Sempat bingung tombol hidup dan mati adanya dimana karena Ia cari di punggung tidak langsung ketemu, begitu Ia raba lebih dalam lagi, barulah Ia menemukan tombol yang dicarinya itu, lalu Ia langsung menekannya saya boneka itu berjalan.


“Aku sempat bingung tombolnya dimana, soalnya bulu si panda tebal lho,”


“Tapi akhirnya bisa ketemu ‘kan?”


“Iya bisa, ini makanya udah jalan,”


“Terus itu mau ditaruh dimana, Sayang?”


“Hmm aku bingung sebenarnya, menurut kamu taruh dimana ya?”


“Kata aku simpan dalam lemari, terus kita langsung tidur,”


“Ih kok dalam lemari? Ya nggak bisa aku liat dong?”


“Emang mau kamu nyalain malam ini? Dia capek lho, Shen. Baru aja bangkit dari mati suri, udah disuruh jalan-jalan mulu,”


Shena terkekeh mendengar perumpamaan yang disebut suaminya itu. Karena baru diaktifkan, jadi sebutannya baru saja bangkit dari mati suri.


“Ya udah terserah kamu deh mau taruh dimana. Lagian aneh banget beli kayak gituan segala, kayak lagi ngidam aja, makin curiga aku jadinya,”

__ADS_1


Dio mengusap tengkuknya dan menatap Anatha dengan tatapan bingung bertanya-tanya, “Shena sebenarnya kenapa sih? Aneh banget,”


__ADS_2