Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 134


__ADS_3

“Shofea, Om datang nih, kamu lagi ngapain?”


Shofea digendong oleh Shena membukakan pintu rumah untuk menerima tamu yang datang.


“Assalamualaikum,”


Dio dan Shena mengucap salam begitu pintu dibuka oleh Tania. Shofea langsung tersenyum lebar dan tangannya bergerak-gerak, seolah tengah bersorak sorai paman dan bibinya datang ke rumah.


“Cantik banget sih, hmm,”


“Udah mamam belum?”


“Udah, Aunty,”


“Huwaa mau gendong,”


“Gendong aja, Aunty,”


Tania langsung memberikan kain pelapis yang menjuntai dari bahu ke perutnya supaya Shena dan Dio bisa menggendong Shofea tanpa harus berganti baju, karena sudah ada yang melapisinya.


“Aunty kangen banget, padahal baru sehari ya kita pisah. Duh, Sayang, pengen bawa kamu balik deh,”


Shofea mengamati Shena yang bicara sambil tersenyum tipis. Mata Shofea yang sebening telaga menatap Shena dan itu membuat hati Shena menghangat nyaman.


“Eh makan dulu ya,”


Shena dan Dio duduk di ruang tamu. Shofea masih ada di gendongan Shena dan suaminya tak mau kalah ingin menggendong juga.


“Ih Mas nanti dulu,”


“Emang kenapa sih? Aku ‘kan pengen gendong, Sayang,”


“Iya nanti dulu, tunggu sebentar,” ujar Shena yang tidak mengizinkan suaminya menggendong keponakannya untuk sementara waktu karena Ia ingin puas dulu menggendong Shofea.


Tania bergegas menghampiri mereka setelah beranjak ke dapur minta tolong pada asisten agar membuatkan minum untuk Shena dan Dio yang sekarang datang. Tania sudah membawa kue toples lebih dulu ke meja ruang tamu dan minuman menyusul di belakangnya.


“Sampai malam ‘kan di sini? Kita makan malam aja dulu,”


“Nggak, Kak. Nanti Mama nangis kejer kalau aku sama Shena nggak pulang-pulang sampe malam,”


“Duh si Dio ada-ada aja,” Tania tertawa mendengar ucapan adik iparnya barusan.


“Masa iya bunda nangis kejer. Ah kamu nih suka ngaco kalau ngomong, Ndra,”


“Lah emang bener, Kak. Nanti Bunda bisa nangis kejer, ‘kan kasian kalau sampai nangis kejer karena aku sama Shena nggak pulang-pulang,”


“Bang toyib ya, Mas,”


“Iya, kamu Mba toyib,”


Tania terkekeh menggelengkan kepalanya mendengar lelucon antara Dio dan Shena yang saling melempar.


“Gantian aku yang gendong sekarang,”


“Okay, aku kasih nih, Shofea jangan nangis ya kalau digendong sama Om,”


“Nggak bakal lah, dia tau ini Omnya masa iya dia nangis, Sayang, nggak ada cerita tuh,”


Dio akan mengambil alih Shofea dari gendongan Shena namun anak itu merengek tapi Dio tetap mengambil alih dan detik itu juga Shofea menangis.


“Tuh kan nangis, Mas sih,”


“Kok aku, Bee? Nggak aku apa-apain,”


“Shofea emang kadang-kadang suka milih dia, Om, maafin ya,”


Dio akhirnya membawa Shofea beranjak berdiri. Ia timang-timang Shofea sambil Ia ajak Shofea berkeliling di sekitar rumah. Lama-lama Shofea berhenti menangis. Apa yang Dio lakukan berhasil membuat Shofea berhenti menangis. Tadi Shofea hanya tidak ingin lepas dari Shena tapi ketika digendong olehnya dan diajak berkeliling rumah, Shofea diam dan malah menikmati hal-hal baru yang kali ini Ia temui. Shofea sepertinya menyadari ada yang beda dari apa yang biasanya Ia lihat selama ini di rumah kakek dan neneknya. Kelihatan tatapan Shofea bingung dan mencari tahu.


“Shofea ini di rumah siapa sih? Bukan rumah Opa ya? Shofea kayaknya nyadar kalau ini bukan di rumah Opa,”


Shofea tiba-tiba saja terkekeh memperlihatkan gusinya yang kosong belum berpenghuni. Dio yang gemas menggertakkan giginya dan mencium pipi Shofea yang harum khas bayi.


“Pengen Om gigit boleh nggak?”


“Hmmm,”


“Oh boleh?”


Shofea bergumam dan itu Dio anggap sebagai jawaban. Dio mengapit pipi Shofea dengan kedua bibirnya dan Shofea bukan menangis justru tertawa. Dii jadi nyaman bercanda dengan Shofea. Kini mereka tengah berada di taman dan hanya berdua sehingga suasana hangatnya kian terasa.


“Wuih seger banget kita duduk di sini, Sayang,”


“Shofea, ikut Om aja yuk,”


“Hmm,”


Shofea lagi-lagi bergumam saja. Dii tahu itu hanya kebetulan tapi Dio senang karena Shofea seolah menanggapi ucapannya padahal belum tentu juga.


“Ayo ikut Om balik aja, Opa Oma kangen tuh sama kamu,”


“Hmm,”


“Dih, jawab mulu dia, pinter banget sih,”


Baru juga dibilang pintar, Shofea sudah mengeluarkan jurus sekali hembusan napas yang langsung membuat Dio melipat bibinya ke dalam.


Ya, Shofea buang angin. Dan itu membuat Dio diam sejenak, seolah meresapi aroma aneh yang masuk ke lubang hidungnya.


“Bukan main anaknya Abang ya, pinter banget, gue dikentutin,”


Dio mengapit pipi Shofea lagi dengan kedua bibirnya. Dio benar-benar gemas dengan anak itu. Rasanya tidak ingin berhenti menggendong dan mengajaknya bicara.

__ADS_1


Dio membawa anak itu ke ruang tamu lagi dan tentu mamanya Shofea harus tahu kalau anaknya itu hebat sekali. Dia bisa buang angin ketika dalam gendongan Dio, paman yang begitu menyayanginya.


“Nih Kak anaknya, aku serahin, aku ngambek gegara dia ngentutin aku,”


“Hah? Serius, Di? Maaf-maaf, Di,”


“Ya Allah, Shofea nih nggak sopan ya. Masa Om nya di kentutin? Nanti nggak disayang lagi lho,”


“Nggak apa-apa, Kak, santai,”


“Nggak ngambek beneran ‘kan, Di?”


Dio tertawa dan Ia menggerakkan tangannya beberapa kali. “Nggak lah, Kak,” ujar Dio masih dengan tawanya.


“Ah syukurlah, maaf ya, Dio. Shofea agak-agak nakal nih,”


“Sama kayak bapaknya. Hobi kentutin orang,”


“Duh, keturunan berarti,”


“Kakak emang selama ini aman dari serangan kentut abang?”


“Nggak juga sih,” ujar Tania seraya tertawa. Justru sering sekali Ia mengomeli Sehan kalau buang angin sembarangan.


“Jangan mau dikentutin, Kak. Tabok aja belakangnya biar nggak seenak jidat kentut,”


“Ya kalau aku tabok, takutnya dosa, Di, biar gimana juga dia suami,”


“Kamu ngomongin Abang, Mas. Kamu sendiri aja begitu,”


“Ssstt! Kamu jangan terlalu jujur dong,” Dio menatap istrinya tajam seraya mendekatkan telunjuk di depan bibir.


“Nggak hanya wajah dan sifat yang mirip, tapi kebiasaan pun mirip ya,”


“Tapi parahan Abang, seriusan deh, Kak,”


“Intinya sama aja, adikku,”


“Beda dong, Kak. Dia parah banget kalau kentut di deket aku. Udah gede suaranya, bau pula,”


*****


“Ini ada imbalan ya, Bee. Kamu harus bayar pokoknya,”


“Emang Mas mau apa imbalannya? Mudah-mudahan aku bisa bayar,”


Dio dihubungi oleh sang istri yang tiba-tiba ingin pergi ke toko buku. Dio yang kebetulan sedang lengang, tentu tidak menolak permintaan Shena. Tapi Dio tetap minta imbalan sebagai bentuk ucapan terimakasih karena sudah mau menemani Shena ke toko buku untuk membeli novel dan buku-buku lainnya seperti buku nama bayi, buku berisi bagaimana cara mendidik anak dan buku dengan isi menarik lainnya.


“Aku mau cium,”


“Hah? Cium? Kenapa harus itu sih? Aku nggak bisa deh kayaknya,”


Shena mencibir dalam hati. Ia pikir imbalan yang Dio maksud adalah uang, perhiasan, ponsel, atau barang-barang lain yang bernilai. Tapi ternyata Dio hanya minta ciuman.


“Yang bener aja kamu, Mas,”


“Ya emang kenapa? Kamu nggak mau kasih imbalan yang aku minta itu? Parah banget, masa suaminya minta—“


“Ya tapi aku mikirnya kamu minta imbalan yang lain gitu lho, Mas. Kayak uang misalnya. Lah ini cium,”


“Justru imbalan aku gampang ‘kan? Aku nggak minta yang susah-susah dan mahal, cukup sering cium aku aja sepanjang hari,”


“Ya kali sepanjang hari aku cium kamu, Mas, emang aku sama kamu nggak ada kegiatan lagi apa?”


“Sayang, jadi nggak mau kasih aku imbalan nih,”


“Ternyata kamu pamrih ya, Mas. Orangnya nggak ikhlas kalau nurutin maunya orang, ih aku nggak nyangka,”


Dio tertawa ketika Shena tengah menggerutu membicarakan dirinya yang minta imbalan setelah Ia memenuhi keinginan sang istri.


“Nggak apa-apa ‘kan kalau aku minta itu?“


“Nggak bisa, Mas. Kamu aneh-aneh aja sih,”


Dio berdecak kesal. Ia hanya meminta ciuman saja bukan hal lain, entah kenapa sulit sekali di anta Shena.


“Ya udah kalau nggak mau kasih deh, aku ngambek aja sekalian,”


“Ya udah ngambek aja, aku nggak ladenin, nggak aku bujuk-bujuk juga,”


“Kurang asyem!” Dio mengerang kesal dalam hati.


“Padahal itu imbalan paling mudah dan nggak nyusahin lho,”


Shena segera menempelkan tangannya yang sudah Ia buat seperti kuncup bunga ke pipi Dio.


“Dah aku cium tuh,” ujar Shena yang baru saja menggunakan tangannya sebagai simbol bahwa Dio telah dicium olehnya, padahal tidak. Shena melakukannya terang-terangan pula.


“Apaan cuma tangan begitu,”


“Ya sudah kamu tutup mata aja dulu, Mas,”


“Aku nggak salah dengar, Sayang? Kamu nyuruh aku yang lagi nyetir gini untuk tutup mata? Seriusan?”


Shena tertawa menyadari kekeliruannya. Dio tengah mengendarai mobil yang membawa mereka ke rumah setelah beli buku di toko buku, Ia malah mengungkapkan permintaan agar Dio menutup matanya.


Kalau Dio menutup mata, tidak yakin sampai rumah bisa selamat. Bagaimana ceritanya mengendarai mobil malah disuruh tutup mata. Shena sepertinya terlalu semangat ingin membaca buku sampai tidak berpikir dulu apa dampak yang akan terjadi setelah Ia menyuruh Dio tutup mata. Tentu saja Dio tertawa lepas, Ia merasa ucapan istrinya itu adalah sebuah lelucon.


“Makasih udah temenin aku ke toko buku ya, setelah antar aku pulang ke rumah, Mas mau balik ke kantor atau nggak?”


“Nggak, ini udah sore,”

__ADS_1


“Makasih ya, Mas,”


“Dua kali bilang makasih, nanti yang ketiga dapat piring cantik dan cinta spesial dari aku pake karet tiga ya,”


“Mas…Mas…ada-ada aja omongan kamu,”


“Mas, belok tuh, komplek sebelah kanan jangan Mas jalan terus,”


“Iya inget, Sayang. Emang kapan aku nggak ingat?”


“Mas pernah kelupaan lho, karena banyak pikiran ya, Mas?”


“Emang iya? Perasaan nggak deh, Sayang,”


“Iya, Mas. Kamu pernah kelupaan. Jadi mobilnya jalan terus padahal komplek ada di kanan, akhirnya kita muter balik. Kamu kebanyakan kerjaan kayaknya, terus abis itu masuk semua ke otak, akhirnya jadi begitu deh. Sampai letak rumah aja kelupaan,”


“Aku lupa deh sama kejadian itu, emang bener terjadi ya, Sayang?”


“Iya, Mas. Nggak mungkin dong aku bohong,”


“Kapan sih? Aku lupa banget,”


“Ya pokoknya kamu pernah begitu, Mas,”


“Woah berarti banyak yang dipikirin itu sampai-sampai lupa komplek rumah sendiri,”


“Makanya kalau ada yang ganggu pikiran kamu, jangan sungkan untuk cerita sama aku, Mas. Aku ini ‘kan teman cerita kamu, Mas,”


“Kerjaan aja yang aku pikirin, ngapain aku cerita ke kamu? Yang ada kamu stres sendiri, Shen,”


“Tapi kalau kamu cerita, beban pikiran kamu jadi berkurang, Mas, boleh kok ceritain apa aja, asal bukan tentang cewek, kayak Nada misalnya,”


“Wow emang kenapa tuh?”


“Ya nggak suka aja dengernya. Gerah gitu lho bawaannya,”


“Walaupun di bawah AC tetap gerah?”


“Tetap aja, Mas. Gerah bawaannya, dan pengen gerutu rasanya,”


Dio menghentikan laju roda mobilnya tepat di depan rumahnya. Ia segera melepaskan sabuk pengaman dan menoleh pada Shena yang duduk bersandar pasrah dengan mata terpejam.


“Lah tidur dia? Kok cepet banget sih?”


“Udah pasrah karena diserang ngantuk kayaknya nih,”


Dio segera mendekat ke arah Shena untuk melepaskan sabuk pengaman yang digunakan Shena namun ketika Ia hampir mencapai sabuk yang dijadikan pelindung itu, Shena tiba-tiba saja berseru sengaja mengejutkan Dio yang langsung berjengit kaget.


“Astaghfirullah, kamu apa-apaan sih, Sayang. Kenapa harus bikin kaget? Aku baru aja mau lepas seatbelt kamu,”


“Emang Mas kaget?”


“Pake tanya lagi,”


Dio melanjutkan niatnya tadi yang ingin melepaskan sabuk pengaman dari badan Shena. Setelah badan Shena terbebas, Ia langsung keluar dari mobil dan memutari bagian depan mobil untuk menyambut istrinya yang baru keluar dari mobil.


Dio segera merangkul bahu sang istri kemudian mereka berjalan masuk ke dalam rumah yang saat ini terasa sepi karena tiga penghuninya pergi sejak beberapa hari lalu ke tempat tinggal mereka sendiri.


“Assalamualaikum,”


“Waalaikumsalam, udah beli bukunya? Kok kayaknya cepet ya?”


“Iya aku nggak mau lama-lama, Ma, takutnya Mas Dio nggak betah nungguin aku,”


“Padahal aku mah betah-betah aja lho, Shen,”


“Tetap aku nggak enak sama Mas,”


“Biasanya kebanyakan cowok begitu ya, Shen,”


Shena mengangguk ketika ibu mertuanya minta pendapatnya soal kebiasan laki-laki kebanyakan kalau menunggu orang belanja pasti akan mudah bosan dan Shena tidak mau kalau sampai Dio seperti itu,


“Emang selama ini aku pernah begitu ya?”


“Nggak sih, tapi aku berusaha nggak lelet, Mas, supaya Mas nggak nunggu terlalu lama,”


“Kamu beli novel, Tha?”


Shena segera membuka tote bag dari toko buku yang isinya beberapa buku. Buku-buku itulah yang akan Ia baca disela waktu luang nantinya. Shena semakin tak sabar. Semakin besar usia kandungan, Ia semakin susah untuk melakukan apa-apa karena dijaga ketat oleh orang di rumah dan akhirnya memilih buku lah sebagai hiburan.


“Nggak cuma novel aja, Ma, ada buku-buku yang lain,”


“Cepet juga kamu milihnya ya,”


“Iya dong, sat set sat set milihnya abis itu jadi deh,”


“Aku naik dulu ke kamar, tapi aku nggak mau mandi,”


Dio berlalu begitu saja meninggalkan istri dan juga bundanya yang terheran-heran. Tidak biasanya Dio tidak mau mandi.


“Kenapa itu anak? Kok tumben nggak mau mandi katanya. Lagi nggak enak badan dia, Tha?”


“Nggak, Ma, Mas Dio sehat-sehat aja Alhamdulillah. Tapi aku samperin dulu deh, takutnya beneran nggak enak badan,”


Ardina menganggukkan kepalanya dan Shena segera mengayun langkahnya menaiki satu persatu anak tangga.


“Naik aja pelan-pelan, Shen, jangan terlalu cepat,”


“Siap, Ma,” sahut Shena seraya menoleh dan bersikap hormat. Shena melangkah sambil berpegangan supaya aman.


Setelah tiba di anak tangga paling atas, Ia menghela napas lega. Tanpa basa-basi Ia masuk ke dalam kamar dan suaminya tengah duduk bersandar di sofa.

__ADS_1


__ADS_2