Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 75


__ADS_3

“Shen, nih Mama bawa—eh Shena kemana?”


Ardina bingung ketika tidak menemukan menantunya di atas ranjang. Ia menatap ke arah balkon. Pintu penghubung balkon dan kamar tertutup rapat yang artinya Shena tidak di balkon. Sempat merasa khawatir, tapi akhirnya sirna rasa khawatir itu karena Ia mendengar gemercik air dari dalam kamar mandi.


“Ya Allah, aku kirain kemana mantuku itu, ternyata di dalam kamar mandi,”


Ardina memutuskan untuk duduk di tepi tempat tidur menunggu menantunya sampai keluar dari kamar mandi.


Ia baru saja mengecek toko rotinya dan Ia membawakan roti kesukaan Shena. Ia akan memberikannya secara langsung kepada Shena.


Ketika mendnegar kunci pintu kamar mandi dibuka, Ardina langsung berdiri dan menatap ke arah kamar mandi. Ia tersenyum ketika Shena keluar dari kamar mandi dengan senyum juga tapi tiba-tiba Shena melemah dan kemudian tumbang tapi beruntungnya Ia dengan sigap menangkap Shena kemudian Ia membawa kepala Shena pelan-pelan ke atas pahanya yang langsung duduk di atas lantai.


“Ya Allah, Nak. Kamu kenapa?”


Ardina menepuk lembut pipi Shena berusaha membangunkan Shena namun tidak ada hasil. “Shena, bangun, Nak. Kamu kenapa? Shen, tolong bangun. Jangan bikin Mama khawatir, Shen,”


Ardina mengguncak lengan Ehena juga selain menepuk lembut pipinya namun tidak membuat Shena terbangun sedikitpun.


“Shena, ya ampun kamu kenapa, Nak?”


Ardina bingungs ekali saat ini. Ia sempat tidka tahu harus apa, hingga akhirnya Ia beranjak mengambil ponsel di saku celananya. Ia menghubungi Bibi yang ada di lantai bawah.


“Bi, tolong naik ke kamar Dhena sekarang ya,”


“Siap, Bu,”

__ADS_1


Setelah itu Ardina menatap menantunya dnegan kecemasan yang tidka bisa dihitung seberapa besarnya. Yang jelas Ardina sangat cemas karena tiba-tiba saja Shena tumbang, padahal sebelumnya Shena baik-baik saja bahkan sempat tersenyum menatapnya.


“Ya Allah, kenapa mantuku ini ya, Allah?”


Pintu kamar Shena dibuka oleh Bibi yang tentus aja langsung terkejut melihat Shena terbaring di lantai dengan kepala yang berada di atas pangkuan majikannya.


“Astaghfirullah, Mba Shena kenapa ini, Bu?”


“Saya juga nggak tau, Bi. Ini tiba-tiba aja Shena pingsan, bisa bantu saya bawa Shena ke atas ranjang, Bi?”


“Bisa-bisa, Bu,”


“Okay, kita hati-hati ya, Bi,”


“Ya ampun, aku harusnya telepon dokter sekarang, tunggu sebentar, Bi,”


Terlampau paniks ampai Ardina lipa bahwa seharusnya yang Ia lakukan adalah menghubungi dokter supaya memeriksa Shena.


Setelah Ia menghubungi dokter, barulah Ia dan Bibi memindahkan Shena ke atas tempat tidur. Setelah Shena berbaring, Ardina meminta bantuan Bibi lagi.


“Bi maaf saya mau minta tolong lagi buatin teh pana sya untuk Shena,”


“Iya, Bu, apalagi yang dibutuhkan, Bu?”


“Untuk sementara kayaknya itu dulu, makasih banyak ya, Bi,”

__ADS_1


“Sama-sama, Bu, tunggu sebnetar ya, Bu,”


Bibi langsung beranjak keluar dari kamar Shena untuk memenuhi pemrintaan tolong dari Ardina selaku ibu mertua Shena yang benar-benar khawatir karena Shena jatuh pingsan secara tiba-tiba.


*********


Prang


Dio terperangah kaget ketika Ia tidak sengaja memecahkan gelas hingga semua pengunjung restoran terkejut akan suara dari gelas yang telah Ia pecahakan secara tidak sengaja itu.


Tadinya Ia ingin menyeruput jus jeruk dalam gelas itu tapi tiba-tiba saja jelansya jatuh. Tidak hanya Ia dan pengunjung lain yang kaget, papanya yang duduk tepat di hadapannya kaget bukan main sekaligue bertanya-tanya. Sakti melihat kecemasan di wajah putranya.


“Kamu kenapa, Dio?”


Dio belum menjawab, Ia akan jelaskan nanti tapi sekarang Ia harus bertanggung jawab. Ia segera berjongkok untuk membereskan serpihan gelas yang pecah.


“Mas udah biarin aja staf kami yang beresin,” ujar salah satu staf yangd atang menghampiri Dio.


“Nggak apa-apa saya aja,”


“Mas, nggak perlu. Ini biar staf kami aja ya, Mas nya silahkan lanjutkan makan,”


Dio langsung merasa tidak dnak hati. Ia tidak bermaksud untuk membuat kekacauan di restoran tersebut, Ia juga tidak ada niat menimbulkan kerugian, tapi Ia akan bertanggung jawab. Ia yang ingin membereskan serpihak gelas dilarang oleh staf restoran, sekarang Ia mengeluarkan uang dari dalam dompetnya dan kenudian Ia berikan pada staf yang sudah mulai membereskan serpihan gela skaca yang tak sengaja Ia pecahkan.


“Tolong diterima ya, jangan ditolak, saya mohon. Maaf udah mecahin gelasnya. Makasih juga untuk bantuannya “

__ADS_1


__ADS_2