Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 46


__ADS_3

“Dio, bisa jalan aja nggak? Aku capek, ini jujur banget,”


Dio terkekeh mendengar Shena mengeluh, dan sekarang perempuan itu sudah membungkuk sambil memegang kedua lututnya. Dio yang sudah tiga meter di depan Shena langsung putar balik menghampiri Shena.


“Ah payah, baru juga bentar kita lari, lo udah capek aja. Belum sepuluh menit lho ini,”


“Iya aku tau tapi aku capek. Emang aku payah kalau soal lari, sejak sekolah dasar juga begitu,”


Shena tidak mengelak kalau Ia memang payah dalam olahraga terutama berlari. Ia mudah sekali lelah. Fisiknya benar-benar tidak kuat bila digunakan untuk berlari.


“Emang ditakdirin bukan jadi atlet lari,”


“Kalau yang lain gimana?“


“Maksudnya olahraga lain? Sama aja, payah juga,”


“Berenang nggak tuh. Kita ‘kan pernah renang bareng dan gue liat lo bisa, lo keren,”


“Biasa aja, kamu jangan muji aku. Nanti aku terbang lho,”

__ADS_1


Sekarang Dio merasa mulutnya lebih ringan digunakan untuk memuji apapun yang ada dalam diri Shena atau yang dilakukan Shena kalau memang itu patut dipuji. Seperti kemampuan Shena dalam hal berenang. Mereka pernah berenang bersama satu kali, walaupun Dio sibuk berenang sendirian di kolam renang begitupun Shena yang akhirnya mengikuti apa yang dilakukan Dio yaitu tak acuh, saat itu mereka seperti orang asing yang kebetulan menggunakan fasilitas kolam renang bersamaan sehingga sibuk sendiri dan tak ada obrolan.


“Walaupun kita waktu itu sibuk berenang sendiri kayak orang musuhan atau orang yang nggak saling kenal ternyata diam-diam kamu merhatiin aku ya, Dio?”


“Ya iyalah, gue punya mata jadi pasti gue merhatiin lo ya walaupun cuma sedetik atau dua detik doang,”


“Beda sama aku berarti,”


“Apa?”


“Aku nggak merhatiin kamu sama sekali,”


Shena terkekeh dan dalam hati membenarkan. Dio tidak tahu saja kalau saat itu Shena berulang kali melirik Dio menggunakan ekor matanya, Shena juga berharap Dio mengajaknya berinteraksi tapi ternyata nihil. Sampai selesai berenang, mereka masih seperti orang yang tak saling mengenal.


Dio mengulurkan tangan ingin mengajak Shena berlari lagi. Tapi Shena menggelengkan kepalanya.


“Kamu duluan aja deh kalau mau lari, aku mau jalan aja biar nggak cepat capek. ‘Kan jalan juga termasuk olahraga,”


“Ya udah gue juga,”

__ADS_1


Dio memutuskan seperti itu karena jujur Ia tidak tega juga kalau memaksakan kehendak untuk berlari sementara istrinya sudah merasa jalur napasnya dipersempit akibat berlari.


“Kok barengan aku? Kamu tetap lari aja, Dio,”


Shena tahu suaminya mungkin kurang puas kalau hanya dengan jalan kaki, inginnya membajar lemak jahat dengan berlari, maka dari itu Ia mempersilahkan suaminya untuk berlari saja ketimbang malah berjalan kaki biasa seperti dirinya yang punya fisik lemah ini.


“Nggak apa-apa. Gue bareng lo aja,”


“Emang kenapa?”


“Ya nggak apa-apa lah, gue pengen bareng lo aja,”


“Tapi kamu emangnya nggak bosan apa jalan santai saka aku? Lebih suka lari ‘kan? Nggak bosan, lebih banyak keluar keringat juga,”


“Kayak gini juga keluar keringat kok. Daripada gue ninggalin lo sendirian. Gue nya sibuk lari, lo lagi ngos-ngosan di belakang gue,”


“Nggak apa-apa, aku nggak bakal hilang juga kalaupun kamu tinggalin lari, Dio,”


“Tapi gue mau bareng lo aja. Kalau gue lari sendiri, dan lo jalan sendiri di belakang gue ya mendingan dari awal nggak usah bareng aja sekalian, berangkat masing-masing, olahraga dan pulang juga gitu,”

__ADS_1


__ADS_2