Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 6


__ADS_3

“Heh lo ngapain pegang tangan gue?!”


Padahal Shena sudah berusaha selembut mungkin untuk menjauhkan tangan Dio yang berada di atas tangannya karena Ia ingin melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim disaat adzan sudah berkumandang.


Tapi ternyata gerakannya itu membuat Dio terbangun. Dan Dio salah paham. Dio mengira Shena yang menyentuh tangannya, padahal terbalik.


“Maaf, tapi bukan aku yang pegang,”


“Terus maksud lo? Gue gitu yang megang tangan lo?”


“Iya emang kenyataannya begitu, Dio,”


“Sembarangan lo kalau ngomong! Lo tuh yang genit megang-megang tangan gue,”


“Apa? Aku genit? Coba deh sebelum marah-marah, liat dulu posisi tangan kamu,” ujar Shena seraya menunjuk tangan suaminya yang melewati pembatas alias guling.


Dio langsung mengamati tangannya sendiri, dan barulah Ia terdiam setelah tahu kebenarannya. Dio berdecak pelan dan langsung menarik tangannya menjauh dari kawasan yang seharusnya menjadi milik Shena.


“Gue nggak sengaja, lo jangan geer,”


“Iya aku tau kok, makanya aku mau pindahin tangan kamu, tapi kamu nya malah salah paham. Jadi sekarang udah tau ‘kan siapa yang genit?” Tanya Shena seraya tersenyum tipis dan hal itu membuat Dio langsung menatapnya dengan tajam. Dio tidak terima karena secara tidak langsung Shena mengejeknya dengan cara membalik kata-katanya barusan.


“Lo ngatain gue genit?”


“Lho, tadi kamu yang bilang aku genit, padahal kamu yang pegang tangan aku, giliran aku jelasin, dan aku balikin kata-kata kamu, kok kamu nya nggak terima?”


“Banyak omong lo!”


Dio kelihatan kesal sekali. Ia memarahi Shena yang dengan berani membalik kalimat yang sebelumnya Ia tujukan untuk Shena.


“Ya udah nggak usah dibahas lagi. Sekarang kita sholat bareng yuk mumpung kamu udah bangun nih,”


Dio melirik Shena dengan sinis. Shena menghembuskan napas pelan. Sepertinya Dio tidak mau melaksanakan ibadah sholat shubuh dengannya.


“Ya udah kalau kamu nggak mau sholat bareng aku nggak apa-apa kok. Aku sholat sendiri, tapi kamu jangan lupain kewajiban kamu itu ya,”


“Ya udah buruan sana ambil wudhu duluan, abis itu gue. Kita sholat bareng,”


“Yeayy aku senang banget dengarnya, makasih ya kamu udah mau sholat bareng aku,”


Dio merotasikan bola matanya tak menanggapi ucapan terimakasih Shena yang bahagia sekali suaminya tak menolak untuk sholat bersama.


Setelah Shena yang mengambil air wudhu, kemudian Shena meminta suaminya yang kembali memejamkan mata supaya segera mengambil air wudhu.


“Dio, jangan tidur lagi, ayo ambil wudhu terus kita langsung sholat,”


“Iya, cerewet banget lo ah,”


“Bukan cerewet, takutnya kita telat sholat shubuh keburu siang,”


Dio langsung beranjak meninggalkan tempat tidur dan bergegas ke kamar mandi. “Gue juga tau kali kewajiban gue, nggak usah lo ajarin,” ujarnya sambil melewati Shena.


“Ya udah Alhamdulillah kalau kamu tau, aku ‘kan cuma sekedar mengingatkan aja,”


Shena mengambil perlengkapan sholat mereka. Yaitu mukena untuknya, kain panjang untuk suaminya juga sajadah masing-masing yang sekalian Ia gelar di atas permadani lembut.


Shena bahagia sekali pagi ini. Tangannya habis disentuh oleh Dio dan Ia melihat itu, walaupun Ia tahu kalau Dio tak sengaja melakukannya. Ditambah lagi Dio mau menjalankan sholat subuh bersamanya. Kebahagiaannya semakin lengkap.

__ADS_1


Selepas sholat subuh, Dio kembali mendarat di atas tempat tidur. Berhubung hari ini adalah hari minggu, Ia libur kuliah, dan libur kerja juga membantu mengurus usaha papanya, makanya Ia bisa tidur sepuasnya hari ini.


Sementara Shena langsung bergegas mandi. Karena rencananya pagi ini Shena akan ke pasar, dan supermarket untuk belanja kebutuhan bulanan.


Dio mengernyit ketika melihat Shena masuk kamar mandi dan tak lama kemudian terdengar suara air.


“Selalu kerajinan itu orang ya, mau kemana dia? Abis sholat subuh langsung mandi,”


Tak mau ambil pusing, hanya sedikit penasaran saja, tapi Dio memilih untuk tidur daripada melanjutkan rasa penasarannya.


Belum terlalu pulas Dio tidur, tiba-tiba Shena sudah selesai mandi. Shena keluar dari kamar mandi dengan penampilannya yang jauh lebih segar.


Aroma sabun dan shampo khas Shena juga berhasil sampai ke indera penciuman Dio yang akhirnya membuat Dio membuka matanya.


Dio mengamati Shena yang sekarang ini duduk di depan cermin sambil mengeringkan rambutnya sambil menyisir.


“Rajin banget lo abis subuh udah mandi,”


“Aku ‘kan emang mandinya pagi terus,”


“Iya gue tau, tapi ini ‘kan masih pagi banget,”


“Aku mau pergi,”


“Kemana?”


“Kamu penasaran?”


Dio berdecak dan memilih untuk memejamkan matanya. Mendengar pertanyaan Shena sekaligus tatapan mata Shena yang usil dari pantulan cermin membuat Ia geram dan malas untuk menanggapi. Kalau mau dijawab ya syukur, tidak dijawab bukan menjadi masalah untuknya.


******


“Oh iya, Sayang. Mama temenin yuk,”


“Nggak usah, Ma. Lebih baik Mama istirahat aja, ini ‘kan hari minggu,”


“Ah kalau Mama istirahat mulu kerjaannya, kecuali Papa tuh,”


“Mama mau Papa ajakin naik sepeda, Shena,”


Shena dan Ardina menoleh pada Sakti yang langsung menepuk lembut bahu istrinya sekilas sambil menaikkan salah satu alisnya dan tersenyum menatap Ardina.


“Yah ampun, kok diajakin sepedaan sih, Pa?”


Sakti tertawa mendengar istrinya mengeluh. Sakti tahu betul istrinya itu memang paling malas kalau diajak olahraga naik sepeda ataupun jalan kaki. Yang disukai oleh Ardina adalah yoga, dan senam.


“Nggak apa-apa, ‘kan jarang sepedaan, jangan nolak lah,”


“Nah ya udah berarti Mama sepedaan aja sama Papa sekalian jalan-jalan ‘kan, Ma,”


“Itu benar kata Shena,”


“Mama capek banget kalau sepedaan,”


“Ah sama aja, senam juga capek,”


“Ya tapi—-“

__ADS_1


“Nilai plus olahraga sepedaan itu adalah, Mama bisa liat-liat suasana baru, yang jarang Mama liat. Jadi hari ini Papa mau Mama ikut Papa naik sepeda,”


“Ya udah deh,”


Shena tersenyum melihat ibu mertuanya yang patuh tak menolak perkataan suaminya. Shena sudah mencium tangan Ardina, sekarang Ia melakukan hal serupa pada Sakti.


“Aku pamit ya, Ma, Pa,”


“Eh kamu cuma sendiri?” Tanya Sakti yang menggagalkan kaki Shena untuk melangkah pergi.


“Iya, Pa, aku sendiri aja,”


“Lho, kok nggak ditemenin sama Dio sih? Mumpung dia nggak ada kegiatan tuh, Dio libur ‘kan? Ya udah sama Dio aja,”


“Jangan, Pa. Dio lagi tidur, kasian kalau aku Dio harus temenin aku belanja,”


“Emang masalahnya apa? Belanja bulanan ‘kan nggak tiap hari, nggak tiap minggu, mumpung dia libur ya harusnya kamu ditemenin lah. Panggil sana, harusnya nanti lanjut tidurnya, sekarang tuh temenin istri ke pasar dulu, hitung-hitung olahraga juga ‘kan bawain belanjaan istri, jalan-jalan ngikutin istri belanja,”


Shena tersenyum meringis. Mana mungkin Ia meminta Dio untuk bangun dari tidurnya kemudian Ia ajak Dio pergi belanja bersamanya. Yang ada, Ia kena marah Dio. Ia tidak mau mencari masalah. Lagipula Ia menghargai waktu istirahat Dio yang tidak setiap hari bisa tidur sampai siang sepuasnya. Selagi kewajibannya sebagai manusia beragama sudah dilaksanakan, Shena tak melarang suaminya untuk melanjutkan tidur. Ia terbiasa belanja sendiri juga. Bahkan sebelum menikah terkadang Ia yang menggantikan peran mamanya dalam hal belanja bulanan jadi tanpa bantuan Dio, Ia bisa.


“Iya bener tuh kata Papa, coba ajak Dio. Sekalian lah kalian jalan berdua pagi-pagi ‘kan,”


“Tapi aku rasa nggak usah deh, Ma, Pa, aku nggak tega mau—“


“Nggak apa-apa, dicoba aja dulu. Dia pasti mau deh,”


“Sini Papa panggilin,”


Sakti langsung bergegas menaiki anak tangga satu persatu dan itu membuat Shena panik. “Pa, nggak usah, Pa,” ujar Shena yang masih tidak mau mengusik istirahat suaminya tapis ayang mertuanya, alias orangtua Dio ingin Dio lebih peduli pada Shena. Menemani Shena pergi untuk belanja bulanan itu hal yang cukup sederhana tapi membuat hati istri senang. Mungkin Dio tak menyadari itu, makanya akan Sakti beritahu sekarang.


Karena kelihatannya Shena ini berat sekali untuk membangunkan Dio dan mengajaknya untuk pergi menemani belanja, maka Sakti yang akan melakukannya.


Sakti mengetuk pintu kamar, sebelum akhirnya menekan tuas pintu yang ternyata tidak dikunci. Tanpa basa basi, Ia berjalan mendekati ranjang untuk membangunkan anaknya yang memang tertidur pulas.


“Dio, kamu udah sholat belum?”


“Udah, Pa, jangan ganggu aku, orang aku udah sholat tadi sana Shena,”


“Ya udah, sekarang kamu bangun,”


“Ngapain? Nggak ah, aku masih ngantuk,”


“Ya siapa suruh tidur malam. Semalam kamu tidur jam berapa?”


“Satu lebih,”


“Ya ampun, ngapain?”


“Ya baru bisa tidurnya jam segitu,”


“Sekarang kamu bangun, dan temenin Shena belanja sana,”


“Hah? Temenin Shena belanja? Nggak ah, pagi-pagi gini masa keluar buat belanja, aku nggak mau,” tolak Dio dengan lugas. Ia tidak mau meninggalkan tempat tidurnya hanya untuk menemani Shena belanja.


“Heh buruan bangun! Temenin Shena belanja, atau Papa bakal marah sama kamu ya. Papa nggak bolehin kamu kerja lagi sama Papa, kamu nggak boleh pakai mobil, kartu kredit—“


“Astaga,”

__ADS_1


Dio langsung beranjak meninggalkan tempat ternyaman nya. Ia menatap Sakti dengan kesal. Ia mendapatkan ancaman pagi ini.


“Iya-iya, aku temenin dia belanja,”


__ADS_2