Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 48


__ADS_3

“Makasih ya, Dio. Kamu baik banget beliin duren buat aku,”


“Iya sama-sama. Dimakan ya, habisin,”


“Mana bangak banget sampai beli lima, agak malu ya nenteng duren begini pulang ke rumah, abis olahraga pagi,”


Shena tertawa menahan rasa malunya karena menjinjing dua buah durian. Sementara suaminya tiga buah dipegang dengan tangan kiri.


“Hahahaha iya bener. Tapi nggak apa-apa, ‘kan yang kita bawa hasil beli, bukan maling,”


“Iya sih, tapi aku belum pernah beli duren nenteng pakai tangan gini ke rumah,”


“Gue juga, tapi nggak apa-apa demi istri,”


Shena tersenyum mendengar ucapan suaminya yang manis sekali, entah sadar atau tidak suaminya mengatakan seperti itu.


“Kita sering-sering olahraga bareng mau nggak?”


“Mau, asal lo nggak bosan aja olahraga bareng gue,”


“Nggak bosan dong, aku malah senang banget,”


Mereka akhirnya tiba di rumah. Langsung bergegas ke ruang makan untuk meletakkan durian di sana dan menyantapnya.


“Ayo party duren,”


“Temenin aku makan,”


“Iya gue temenin,”


“Mama mana ya?”


“Mama Papa udah nggak suka, ya mungkin karena udah tua kali takut ada pantangan,”

__ADS_1


“Tetap aja ditinggalin jangan habisin semua, buat Bi Mimi juga,”


“Okay kita makan satu dulu,”


Dio membuka durian dengan tangannya tak mengizinkan Shena untuk turun tangan. Aroma langsung menguar masuk ke indera penciuman mereka.


“Uh aromanya enak banget ini,”


Mereka sudah mencuci tangan dan langsung menyantap durian bersama. Ini benar-benar hal romantis menurut Shena walaupun tak ada adegan suap menyuap. Tapi jarang mereka menikmati suatu makanan hanya berdua saja.


“Kita baru abis olahraga tadi minum es krim, terus sekarang duren, bagus nggak sih?”


“Bagus-bagus aja, palingan bentar lagi mules kali,”


“Hahahaha makan kita agak bar-bar ya pagi ini,”


“Sesekali nggak apa-apa,“


“Dio aku senang lho kita punya waktu bareng gini. Dari mulai olahraga bareng, makan duren bareng,”


“Maaf aku berantakan makannya,”


“Iya nggak apa-apa,”


Shena gugup sampai akhirnya tidak sengaja tersedak. Ternyata seperti ini rasanya mendapat perlakuan manis dari suami.


“Selain duren apa lagi?”


“Yang aku suka?”


“Iya,”


“Kenapa Kamu mau tau apa aja yang aku suka?”

__ADS_1


“Ya emang nggak boleh?”


“Boleh sih, tapi—yang aku suka tuh banyak,”


“Ya udah apa?”


Dio tampak penasaran sekali apa yang disukai oleh Shena. Sebelumnya Dio tidak pernah kebanyakan ini, makanya Shena senang walaupun ini adalah hal sederhana. Tapi karena selama ini suaminya tak acuh, jadi sekedar kebanyakan kesukaan saja sudah Shena anggap sebagai hal yang luar biasa.


“Hmm kalau buah itu aku suka duren, anggur, klengkeng, melon, semangka, pepaya, udah kayaknya itu aja yang aku suka banget,”


“Jeruk, pisang, naga nggak suka?”


“Suka sih, tapi yang nggak suka-suka banget,”


“Kamu sukanya apa?”


“Sama kayak lo kurang lebih,”


“Oh ya? Kok bisa sama?”


“Ya kebetulan sama terus mau gimana?”


“Jodoh nih jangan-jangan,”


“Ya makanya nikah ‘kan,”


“Semoga jodohnya lama, sampai maut memisahkan. Aamiin, kamu bilang aamin juga dong, apa nggak mau ya berjodoh sama aku sampai maut—“


“Aamiin, udah gue aminin itu. Makanya jangan protes dulu, Shen,”


Shena tersenyum puas mendengar suaminya mengamini doa yang baru saja Ia ucapkan. Ia langsung tersenyum mencubit gemas lengan suaminya.


“Dih kok nyubit?”

__ADS_1


“Nggak apa-apa, senang aja kamu berarti punya doa yang sama kayak aku,”


__ADS_2