
“Mau ngapain? Jalan-jalan doang ini?”
“Iya, kamu capek ya dorong kursi roda aku? Makanya jangan pakai ini harusnya. Aku bisa kok jalan sendiri,”
“Terus lo bakal jatuh, diliat orang, laporan ke suster, terus gue yang kena, gue yang repot. Ogah banget gue direpotin lagi sama lo,”
“Nggak bakal jatuh, tenang aja,”
“Nggak bakal jatuh gimana? Jelas-jelas lo aja lagi sakit, masih pusing ‘kan kepala lo? Nanti kalau lo jatuh gimana?”
“Nggak, Dio,”
Shena mendongakkan kepalanya menatap sang suami yang kali ini baik sekali mau memuruti permintaannya yang ingin sekali jalan-jalan keluar dari ruang rawat inapnya.
“Ke taman yuk,”
“Nggak ah, nggak ada yang seru disitu,”
“Terus kamu mau kemana? Aku ikut kamu deh,”
“Kantin mau nggak? Gue mau minum jus nih, haus gue,”
__ADS_1
Shena menganggukkan kepalanya antusias. Ia kemanapun asal dengab Dio sudah bahagia luar biasa. Walaupun Ia inginnya ke taman, sementara Dio ingin ke kantin untuk beli jus, Ia tidak masalah sama sekali. Yang penting bersama Dio.
“Aku boleh minum jus nggak ya?”
“Nggak dingin boleh. Mau jus apaan lo?”
“Kok nggak dingin? Itu mah namanya bukan jus, tapi buah digiling,”
“Mau atau nggak? Kalau nggak mau ya udah nggak usah,”
Menurut Dio, akan lebih baik Shena tidak menikmati minuman atau makanan dingin dulu supaya semakin cepat penulihannya.
“Aku ‘kan nggak batuk, nggak flu,”
Shena menghembuskan napas kasar. Padahal setelah mendengar Dio mau beli jus, Ia juga ingin beli jus.
Minuman jus itu umumnya dingin, dan memang lebih nikmat disajikan ketika dingin. Tapi sayangnya Dio tidak mau mengizinkannya untuk minum jus yang dingin.
Setelah tiba di kantin, Dio langsung mencari tempat duduk yang masih belum ditempati. Setelah mendapatkan tempat, Ia langsung duduk. Dan tak lama kemudian ada yang menghampirinya dan bertanya apa menu yang Ia inginkan.
“Jus dua tapi yang satu nggak usah pakai es batu ya. Sama roti bakar dua deh,” ujar Dio.
__ADS_1
Setelah pelayan pergi, barulah Dio menatap Shena yang kini mengamati suasana sekitar. Menyenangkan sekali bisa keluar sebentar dari ruangan dan melihat suasana di luar.
“Lo kayaknya senang banget keluar kamar,”
“Iya emang, aku udah bosan di ruangan itu terus,”
“Padahal ‘kan enak nggak ngapa-ngapain, cuma istirahat, makan, nonton, main handphone,”
“Malah itu menurut aku nggak enak sama sekali. Aku terbiasa ada kegiatan, pas di rumah sakit jadi nggak ada kegiatan apapun,”
“Tuhan mau lo istirahat dulu dari smeua kesibukan lo. Ambil aja sisi positifnya dari sakit yang lo alamin sekarang,”
“Makasih ya kamu udah baik sama aku. Maaf ya kalau aku repotin kamu,”
“Sama-sama,”
“Kamu ikhlas nggak?”
“Kalau gue nggak ikhlas, gue nggak bakal di sini sekarang. Gue tinggalin lo, gue cari kesenangan gue sendiri, ketimbang harus jagain lo, jujur gue juga bosen di rumah sakit,”
Shena tersenyum dan menggenggam tangan Dio tiba-tiba. Apa yang dilakukan oleh Shena langsung membuat Dio terkejut dan spontan melepaskan tangan Shena tapi Shena tidak mau melepaskan.
__ADS_1
“Aku cuma mau pegang tangan suami aku sekali aja, masa nggak boleh? ‘Kan selama ini nggak pernah tuh. Makasih ya sekali lagi. Semoga setelah aku sembuh nanti, kamu tetap sebaik dan seperhatian ini,”