
“Pa, aku ikut Papa ya,”
Di tengah makan malam, Dio mengatakan niatnya itu yang sudah diaetujui oleh istrinya setelah mereka sempat membahas perihal ini disaat Ia bimbang.
“Kemana? Mau ikut Papa kemana kamu, Dio? Kayak waktu kecil aja mau ikut-ikut Papa,” ujar Sakti seraya terkekeh menatap anaknya itu.
“Aku mau ikut Papa ke Lombok,”
“Oh begitu? Udah dibahas belum sama istrimu?” Tanya Sakti apda anaknya kemudian menatap menantunya.
“Udah, Pa. Shena udah setuju malah dia yang dorong-dorong aku supaya ikut Papa,”
“Benar begitu, Shen? Kamu nggak keberatan?”
“Nggak, Pa. Dio boleh pergi kok, Pa. Aku nggak apa-apa di sini. ‘Kan aku ada Mama. Jadi Dio nggak perlu khawatir,”
“Nggak tau kenapa dia awalnya ragu banget mau ikut Papa, Shen. Padahal biasanya juga nggak ya,” ujar Sakti.
“Iya aku juga merasa gitu,” ujar Shena seraya tersenyum melirik suaminya yang duduk di sebelahnya.
Padahal selama ini Dio kalau mau pergi mendampingi papanya ke luar kota untuk urusan pekerjaan.
“Ya karena sayang banget sama Shena jadi bawaannya khawatir deh mau ninggalin Shena,” ujar Ardina seraya terkekeh.
“Atau Shena ikut aja yuk,”
“Nggak usah, Pa. ‘Kan Papa sama Dio mau pergi karena urusan kerjaan. Aku nggak usah ikut. Di rumah aja, aku ‘kan ada Mama di sini,”
“Ya udah okay,”
“Nanti aku siapin ya keperluannya, mau berangkat kapan?”
“Kapan, Pa?”
“Lusa ya kita berangkatnya,”
“Iya, Pa,”
Shena menganggukkan kepalanya mendengar obrolan antara suami dan juga ayah mertuanya. Berarti kalau tidak malam ini, Ia harus menyiapkan perlengkapan suaminya esok hari.
“Tenang aja, Dio. Shena aman kok di sini, jangan khawatir,”
“Iya, Ma,”
“Shena sama Mama bakal saling menjaga satu sama lain. Jadi kamu jangan khawatir,”
Dio menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Mama dan Papanya tahu aklau Ia khawatir meninggalkan Shena. Dan mereka bersyukur atas itu. Tandanya Dio yang dulu memang benar-benar sudah berubah. Mereka berharap pernikahan Dio dan Shena baik-baik saja sampai kapanpun.
Selesai makan malam, Shena masuk ke kamar sementara Dio ke halaman depan rumah mengobrol dengan Papanya sambil menikmati kopi.
“Sekarang aja deh aku siapin keperluannya Dio,” gumam Shena setelah menutup pintu kamar.
Shena langsung membuka lemari pakaian suaminya. Ia memilih pakaian untuk suaminya itu untuk dibawa ke Lombok.
Setelah mengambil pakaian, Ia letakkan di atas ranjang. Kemudian Ia mengambil peralatan mandi dan obat-obatan untuk suaminya itu.
Setelahnya Ia tata semua itu di dalam koper smabil ia mengingat-ingat apalagi yang dibutuhkan oleh suaminya.
“Oh iya kaos kaki sama jaketnya Dio belum, kalau handuk udah,” ujar Shena seraya bergegas mendekati lemari untuk mengambil apa yang menurutnya diperlukan juga oleh suaminya yaitu kaos kaki dan jaket.
Setelah itu Shena tata juga dua barang itu di dalam koper suaminya. Ia mengecek isi koper untuk memastikan tidak ada lagi barang suaminya yang tertinggal.
“Udah semua deh kayaknya,” batin Shena.
Sekarang Shena mengambil sandal kemudian Ia masukkan ke dalam pouch untuk suaminya di sana.
Shena baru saja selesai membereskan keperluan suaminya, tiba-tiba Dio datang masuk ke dalam kamar.
“Eh udah beres-beres?” Tanya Dio pada Shena yang akan menutup resleting koper.
“Iya, coba deh kamu cek ada yang ketinggalan nggak ya,” ujar Shena menyuruh suaminya itu memeriksa isi dalam koper.
Dio yang akan pergi jadi Dio pasti tahu apa saja yang dibutuhkan olehnya selama di saam.
“Pakaian dalam udah?”
“Udah dong, sekalian baju aku ambil,”
“Kaos kaki, handuk, jaket, kayaknya udah semua, Shen. Apalagi ya?”
“Hmm kayaknya sih udah nggak ada,”
“Ya udah aklau gitu aku tutup ya kopernya?”
“Kamu bawa obat-obatan?”
“Iya ‘kan selalu, untuk jaga-jaga,”
“Iya sih, makaish udah selalu ingat ya. Dulu aku sih suka lupa bawa obat-obatan sebelum sama kamu, kalau kamu rajin banget ingat bawa obat ya,”
“Iya kalau pergi kemana-mana itu yang jauh tetutama harus bawa persiapan obat-obatan biar kalau sakit di sana ‘kan setidaknya ada pertolongan pertama dulu sebelum ke rumah sakit. Misalnya sakit demam malam-malam ‘kan rasanya pasti susah ya keluar kamar untuk beli obat. Nah makanya harus ada obat buat kamu. Jadi kalau amit-amit sakit ya tinggal ambil aja di koper nggak perlu pergi-pergj ke apotek beli obat. Itu juga kbat yang sering kamu pakai aja sih, sama peralatan p3k yang sederhana. Intinya yang bisa dipakai untuk pertolongan pertama deh sebelum ke rumah sakit. Ada minyak-minyakan juga tuh kalau misla di dalam perjalanan kamu ngerasa nggak dnak di perut. ‘Kan suka gitu ya kalau pergi jauh-jauh, belum lagi suka pusing kepala,”
Dio tersenyum menyaksikan bagaimana perhatiannya. Dio mengusap puncak kepala Shena dnegan lembut.
“Makasih ya,”
“Sama-sama,”
“Ya udah sekarang gue mau siap-siapin laptop sama file dulu yang mau dibawa,”
“Iya silahkan,”
Shena akan memindahkan koper ke belakangan pintu, tapi Dio melarangnya. “Biar gue aja, ini berat,”
“Aku aja,”
“Gue aja, Shen, kenapa sih susah banget dikasih tau. Ini berat, kalau lo nggak kuat gimana coba?”
“Aku kuat kok, gampang ini mah,”
Dio berdecak dan tetap mengambil alih koper. Dio tidak senang ketika Shena tidak memikirkan keadaannya sendiri. Sudah tahu kopernya cukup berat malah mau dipindahkan sendiri. Memindahkan koper yang sudah terisi dari atas tempat tidur ke lantai itu juga perlu tenaga.
“Bentar ya gue mau ke ruang kerja dulu,” ujar Dio pada istrinya setelah memindahkan koper di belakang pintu kamar supaya mudah nanti ketika akan dibawa.
Shena menganggukkan kepalanya mempersilahkan sang suami keluar dari kamar untuk mengambil keperluannya di dalam ruang kerja.
“Duh kok perut aku nggak enak ya, agak mual. Kenapa ini ya,”
Shena duduk di tepi ranjang sambil mengusap perutnya yang terasa tidak nyaman, Ia mual tiba-tiba apdahal kalau mual malam itu terbilang sangat jarang.
“Aku kayaknya terlalu kenyang kali ya? Tapi porsi makannya biasa kok, dikit-dikit juga,” batin Shena sambil bergegas ke kamar mandi untuk jaga-jaga. Kalau isi perutnya mendesak seklai ingin keluar maka tinggal Ia keluarkan saja, tanpa perlu Ia melangkah cepat-cepat ke dalam kamar mandi.
Shena akhirnya muntah juga. Setelah itu perutnya langsung lega. Seperti biasa kalau Shena habis muntah, pasti Ia akan merasa lemas.
Shena keluar dari kamar mandi dan membalurkan minyak penghangat badannya itu di perut. Setelah itu Ia memutuskan untuk berbaring di atas tempat tidur.
“Aduh kok aku mual malam ini ya? Biasanya juga nggak kok,”
Disaat Dio membuka pintu kamar, Shena langsung cepat-cepat memejamkan kedua matanya dan itu membuat Dio berpikir kalau istrinya sudah tertidur. Dio tidak tahu kalau istrinya baru saja muntah.
“Cepat banget tidurnya, Shen,” gumam Dio.
“Padahal lagi mau ngajakin ngobrol,”
“Kenapa?”
Shena langsung membuka mata dan bersuara begitu tahu suaminya mau mengajak Ia mengobrol.
“Eh, belum tidur lo?”
“Lagi mau,”
“Oh ya udah tidur aja deh,”
“Kamu mau ngobrolin apa?” Tanya Shena pada suaminya yang sudah membawa laptop serta dokumen dan Dio sekarang meminta Shena bergeser posisi, karena Dio ingin duduk tepat di sebelah Shena, di tepi tempat tidur kiri.
“Nggak, pengen tanya aja sekali lagi beneran nggak apa-apa ya kalau gue pergi? Lo nggak keberatan ‘kan, Shen?”
Shena tersenyum, dan Ia segera beranjak duduk menatap suaminya sambil tersenyum lembut.
“Aku nggak apa-apa, Dio. Kamu jangan khawatir,”
“Nggak apa-apa? Nggak keberatan ya?”
“Nggak kok,”
“Oh iya lo mau dibawain apa nih? Bilang aja sama gue,”
“Aku nggak minta dibawain apa-apa kok, kamu kembali dengan keadaan sehat aja aku udah bersyukur dan senang banget,”
“Seriusan nggak mau dibawian oleh-oleh? ‘Kan tumben nih gue tanyain mau apa? Biasanya kalau gue pergi sama Papa ke daerah mana gitu, gue nggak penrah nanya itu ke lo. Sekarang gue oengen nanya. Dan lo jawab dong, mau apanya. Biar nanti gue bawain dari sana,”
“Aku nggak usah dibawain apa-apa, seriusan deh. Kamu dan Papa pilang dengan keadaan sehat selamat aja aku udah senang banget, seriusan deh. Aku nggak berharap apa-apa,”
“Hmm ya udah deh kalau gitu, ntar gue aja yang mikir mau bawain lo apa pas sampai di sana,”
“Ih nggak usah, kamu dnegar nggak sih?”
“Nggak apa-apa, gue pengen bawain oleh-oleh,”
“Ih kok kamu susah sih dibilangin. Lebih baik kamu di sana fokus kerja aja. Aku nggak mau kamu jadi mikirin oleh-oleh buat aku dan akhirnya kerjaan kamu terbaikan. Tujuan kamu ke sana ‘kan untuk bantu kerjaan Papa bukan untuk liburan senang-senang,”
“Justru Papa sellau ngomong ke gue kalau kerja di luar kota atau negeri, itu sempati cari oleh-oleh. Karena apa? Ya mumpung ke sama. Jangan mentang-mentang tujuannya kerja terus nggak ingat sama yang di rumah, dan lagipula kata Papa kalau beli oleh-oleh itu ya sekalian cuci mata biar nggak bosan ngeliatnyankerjaan mulu,”
“Hmm iya sih Papa benar. Tapi ‘kan jadinya fokus kamu nanti terbagi. Antara kerjaan sama oleh-oleh,”
“Ya nggak lah, mikirin oleh-pleh ya nanti setelah kerjaan beres. Emang kayak gitu kata Mama. Harus cuci mata, cari pengalihan dati kerjaan. Nah kalau sebelumnya gue ke luar lota beli buat serumah, lo kadang sengaja nggak gue bagi, sekarang gue mau lo istimewa. Gue tanyain lo mau apa gitu? Biar gue—“
“Nggak usah, aku tunggu kamu di rumah, aku nggak nunggu oleh-oleh apapun itu kok,”
“Ah ya udah ntar gue beli apa aja di sana yang menurut gue menarik dan cocok buat lo. Gitu aja deh daripada lo nggak mau buka mulut,”
Shena terkekeh menyaksikan suaminya menggerutu akibat Ia yang tidak mau memberikan jawaban Ia ingin dibawakan apa oleh Dio dari Lombok.
Dulu saat Dio sedang benci-bencinya kepada Shena, setiap dio diajak oleh Papanya ke luar kota untuk urusan pekerjaan, Dio memang sering membawakan sesuatu untuk orang penghuni rumah, terkadang kalau lagi baik dio membelikan juga untuk istrinya, tapi terkadang kalau jahatnya lagi kambuh, Dio abaikan istrinya itu.
Sakti dan Ardina kaget ketika sampai di rumah bagi-bagi buah tangan, Dio tak memberikan apapun untuk istrinya sementara untuk para asisten rumah tangga Dio pikirkan. Tapi di lain kesempatan Dio ulangi lagi walaupun sudah dimarahi oleh Papa dan Mamanya itu. Dio selalu berdalih Shena tidak pesan apa-apa. Itu jawaban tidak masuk akal. Dio punya handphone, punya kuota internet, punya nomor ponsel istrinya juga, jadi apa susahnya bertanya Shena mau apa? Jadi alasan Dio itu dianggap mengada-ngada, alias tidak masuk akal.
“Sekarang lo istirahat gih,”
Shena menganggukkan kepalanya lantas berbaring miring memunggungi Dio yang masih duduk di posisinya yang tadi.
“Besok mau nggak jalan pagi sama gue, Shen?”
“Mau dong, besok ya?”
“Iya kalau lo mau,”
“Mau-mau. Aku mau banget,”
“Okay besok kita jalan pagi. Lo kuliah pagi jam berapa?”
“Aku jam sembilan,”
“Ya udah, tidur sekarang,”
“Kamu mau tidur juga?”
“Emang kenaoa nanya kayak gitu?”
“Ya nggak apa-apa cuma pengen nanya aja,”
“Iya gue mau tidur sekarang cuma gue mau simpan ini dulu,”
Dio bergegas mengambil ranselnya untuk menyimpan laptop dan dokumen-dokumen yang hendak Ia bawa pergi.
“Nanti pas mau berangkat jangan tidur malam-malam, Dio,”
“Iya tenang aja lo,”
“Kalau tidur malam-malam, nanti di perjalanan pusing karena kurang tidur, sama kalau aku ya, jadi mual tau. Nggak tau kenapa kalau kurang tidur sebeleum pergi jauh bawaanya pusing banget terus mual. Kenapa gitu ya?”
“Gue juga gitu kok kadang, bukan lo doang sebenarnya,”
“Oh ya?”
“Iya gue jadi pusing sama mual, tapi kadang aja sih, nggak kayak gitu terus,”
“Iya aneh, kalau kurang tidur suka banget pusing sama mual kalau mau perjalanan jauh tapi kalau tidur nya cukup pas mau berangkat, itu aku baik-baik aja,”
“Ya udah sekarang lo tidur jangan kurnag tidur besok ‘kam mau pergi,”
“Pergi kemana?”
“Pergi jalan pagi,”
“Ya ampun hahaha, itu bukan pergi jauh,”
“Lah sama aja pergi jauh itu namanya,”
“Iya deh suka-suka kamu,”
“Padahal timbang pergi kelilimg komplek doang ya,”
“Iya itu makanya, jauh darimana nya ya itu?”
“Jauh menurut gue, Shen,”
Dio selesai menyimpan keperluannya untuk bekerja selama di Lombok setelah itu Ia berbaring di atas tempat tidur bersama suaminya. Tiba-tiba Ia dipeluk. Hal seperti ini sudha menjadi hal yang biasa dilakukan Dio kalau mau tidur, berbeda dnegan waktu itu yang paling tidak sudi memeluk Shena di segala kondisi, sekarang selagi ada kesempatan Dio tidak akan menyia-nyiakannya.
“Lo nggak muak ‘kan gue peluk terus, Shen?”
__ADS_1
“Hmm? Nggak dong masa muak dipeluk suami, aku justru senang asal ya jangan erat-erat soalnya aku sesak, kasian juga ini—“
Shena seketika ingat kalau Ia belum berkata seujujurnya tentang bayi dalam kandungannya. Nanti Dio bingung siapa yang Ia kasihani.
“Kasihan siapa?“ tanya Dio pada istrinya yang baru saja mengasihani ‘sesuatu’ bila Ia memeluk terlalu erat hingga membuat Shena kurang nyaman karena sedikit sesak.
“Hei kasihan siapa?” Tanya Dio sambil menyentuh dagu Shena yang masih Ia peluk saat ini.
“Hmm?”
“Kasian siapa?”
“Nggak, bukan kasian siapa-siapa,”
“Dih nggak jelas lo ah,”
“Heheheh,”
“Siapa nggak? Jawab dong jangan gitu,”
“Nggak, bukan siapa-siap. Emang aku tadi ngomong apaan sih? Aku aja nggak ingat. Kayaknya aku udha mulai mabuk nih,”
“Hah? Lo mabuk? Emang minum apaan?”
“Minum—air putih aja sih,”
“Ya terus kenapa mabuk?”
“Maksud aku, mabuk karena—-ngantuk ih! Bukan karena minum yang aneh-aneh,”
“Oalah kirian gue begitu,”
“Hahhaha nggak lah,”
Shena memejamkan matanya, Ia berhasil mengalihkan perhatian Dio yang sebelum penasaran seklai Ia mengasihani siapa kalau seandainya Dio memeluknya erat-erat.
“Kalau kamu peluknya terlalu erat kasina anak kita, Dio. Takut ya dia nggak nyaman ya walaupun kalau dipeluk kamu itu pastu kebahagiaan buat dia,” batin Shena.
Dio menggunakan satu tangannya yang menjadi alas kepala Shena untuk mengusap dengan lembut puncak kepala Shena. Tangan satunya lagi ada di atas perut Shena. Entah kenapa reflek setiap meyentuh perut Dhena sekarang Dio jadi suka memberikan usapan lembut di sana sehingga membuat Shena semakin nyaman dalam pelukan suaminya dna pasti tidak lama setelah diusap perutnya Shena akan terlelap dengan pulasnya.
“Tidur yang nyenyak, Shen. Selamat malam, mimpi yang indah ya,” gumam Dio setelah itu menyematkan satu kecupan di puncak kepala Shena yang posisinya setara dengan bahunya.
Tidak lama kemudian Dio ikut terlelap dengan posisi memeluk istrinya itu. Mereka nyaman ada di posisi seperti itu, terkadang berubah posisi kalau sudah pagi, bahkan sering Shena terbangun dengan posisi suaminya masih memeluknya sehingga kalau Ia terdesak ingin buang ajr kecil atau mual Ia mesti sangat hati-hati lepas dari pelukan suaminya supaya suaminya itu tidak terjaga dari tidurnya.
*********
“Selamat pagi,”
“Pagi, wah mau kemana nih? Roman-romannya mau olahraga berdua ya? Udah pada pake celana olahraga,”
Shena dan Dio memasuki ruang makan, di sana sudah ada Ardina dan Skati yang siap untuk sarapan.
Setelah Shena membantu masak, Shena langsung naik ke lantai atas bersiap untuk olahraga seperti kesepakatan semalam beraama suaminya.
Sekarang Ia dan Dio ke ruang makan untuk mengambil air minum dan langsung disambut dengan ucapan Ardina yang sudha bisa menebak anak dan menantunya akan olahraga karena mereka berdua sama-sama mengenakan celana olahraga.
“Iya nih, Ma. Aku sama Shena sarapannya ntar aja ya, mau jalan-jalan dulu,”
“Oh gitu ya udah hati-hati ya,”
“Mama Papa selamat sarapan berdua aja hehehe,”
“Olah nggak apa-apa anggap masih oacaran, kamu sama Shena juga anggap lagi pacaran,”
Dio tertawa dan memberikan hormatnya “Siap, aku sama Shena pegi dulu ya, Ma, Pa, Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam, hati-hati,”
“Jagain istri kamu itu, Dio,”
“Okay, Pa siap,”
“Ma, Pa aku berangkat ya, Assalamualaikum,”
Shena tak lupa berpamitan juga pada kedua mertuanya itu.
“Waalaikumsalam, Sayang. Kalau mggak kuat jangan dipaksain, ntar kamu sakit lagi kalau kecapekan,”
“Iya, Ma,”
Shena tersenyum, setidaknya walaupun belum ada yang tahu kalau Ia sedang mengandung tapi perhatian mertuanya memang selalu penuh untuknya, seperti Ia sedang mengandung. Benar-benar ingin Ia selalu aman dan baik-baik saja.
Shena dan Dio mulai berjalan santai di sekotar komplek perumahan. Shena mempersilahkan suaminya itu untuk lari-lari kecil namun Shena memilih untuk jalan santai. Mana punya nyali untuk lari-lari. Ini saja Shena berharap anaknya senang diajak jalan-jalan, bukan malah menolak. Tadinya ragu juga mau jalan pagi. Ia malas sekaligus takut anaknya tidak mau, tapi bingung juga bagaimana cara menolak ajakan Dio, karena nanti pasti Dio bingung tumben-tumben ya Ia menolak diajak untuk jalan pagi.
“Yah besok gue berangakt deh,”
“Iya nggak apa-apa,“
“Dipercepag lho itu, tadinya mau lima hari lagi apa ya? Terus tiba-tiba jadi ganti lusa,”
“Nggak apa-apa, kapan aja juga nggak masalah kok. Kamu ‘kan udah siap bawaannya,”
“Tapi hati gue nggak siap,”
“Ya ampum hahaha. Kamu bisa alay juga ya, Dio?”
“Emang itu gue alay ya?”
“Ya menurut kamu gimana?”
“Hmm nggak sih biasa aja menurut gue,”
“Kamu alay itu, biasanya juga nggak ngomong-ngomong soal hati ah,”
“Ya gimana ya, gue berat aja giu kali ini, gue juga nggak tau kenapa. Biasanya santai-santai sja tuh kalau mau pergi kemanapun,”
“Ya karena kamu—mungkin karena kamu udah sayang sama aku jadinya kamu berat deh ninggalin aku,”
“Hmm iya kali ya, kayaknya begitu deh,”
“Tapi kamu nggak usha khawatir, aku Insya Allah baik-baik aja kok,”
“Iya,”
Dio mengusap puncak kepala istrinya itu kemudian Ia mengecup singkat pelipis Shena dan itu membuat Shena langaung menegurnya.
“Ih jangan cium-coum smebarangan! Ini lagi di luar tau!”
“Ya elah orang cuma bentar doang, cuma sup sedetik doang, lagian kalau emang mereka mikir yang nggak-nggak biarin aja, tinggal unjukkin buku nikah gampang ‘kan? dan lagipula yang aku cium pelipis doang, bukan bibir. Aku juga tau kali,”
“Ya tapi tetap malu lah,”
“Duh, Shen, yang masih belum sah aja udah banyak yang di luar batas, saling memuaskan di tempat umum udah sering tuh dilakuin pasangan belum ada ikatan apa-apa. Lah yang baruan cuma cium sedetik doang di pelipis masa nggak boleh. Orang nggak ada siapa-siapa juga kok,”
“Kalau mau negitu di rumah aja paling aman. Eh ngomong-ngomong tadi ngomong banyak alsnagan belum ada ikatan slaing memuaskan itu emang beneran? Kamu pernah liat?”
“Hahaha nggak lah, aku nonton berita aja, ‘kan banyak tuh orang yang makin garang soal nafsu di depan umum,”
“Eh enak aja kalau ngomong,”
“Hahahaha bercanda, aku bercanda, jangan marah ya,”
Shena tertawa dan lansgung meminta maaf pada suaminya itu sambil mengusap dagu suaminya sekilas.
“Mana pernah aku ebgitu, sejauh ini aku kalau pacaran ya maish terbilang wajar lah, adi mulut aja nggak pernah paham ‘kan?”
“Lho, kamu nggak pernah adu mulut? Maksudnya nggak pernah berantem gitu sama pacat kamu?”
Dio berdecak pelan, susah ya bicara dengan orang yang polos. Bisa-bisanya Shena menganggap adu mult yang Ia sebut tadi adalah beradu argumen, padahal maknanya bukan itu.
“Ih bikan begitu, Shentik,”
“Shentik-Shentik, emang aku apaan dipanggil Shentik,”
“Maksudnya Shena cantik,”
“Halah bisa aja kamu,”
“Bukan itu maksud aku,”
“Ya terus apa dong?”
“Adu mulut tuh yang aku sbeut barusan maksudnya adalah ciuman, bukan adu mulut berantem gitu lho. Kalau berantem ya pernah lah, namanya juga hubungan. Hebat amat kalau nggak berantem,”
“Oh kirain nggak pernah berantem. Maaf ya aku salah pengertian soalnya adu mulut itu ‘kan biasanya ya sebutan untuk orang yang berdebat gitu lho,”
“Iya tapi bukan itu, Shentik,”
“Iya-iya aku paham,”
“Emang apa? Udah paham-paham aja tapi nyatanya belum oaham lagi nih,”
“Udah paham ‘kam tadi kamu udah jelasin maksud adu mulut itu ya ciuman. Bener ‘kan?”
“Iya bener, arti adu mulut yang sebanrnya ‘kan berdebat ya, nah kalau aku pakai itu untuk bahasa alusnya ciuman,”
“Masa sih?”
“Apanya yang masa sih?”
“Masa iya kamu belum pernah ciumaj? Kamu serius nih?”
“Iya lah aku serius, kamu nggak percaya?”
“Hmm kok bisa?”
Shena ragu-ragu mau tanya atau tidak. Tapi Ia penasaran mengingat Dio itu ‘kan mencintai kekasihnya sekali saat itu, mereka pacaran juga lumayan lama kalau Ia tak salah ingat selama dua tahun. Apa tidak pernah terbesit di pikiran Dio untuk mencium kekasihnya? Jujur Ia ragu.
“Oh jadi lo nggak percaya sama gue nih ceritanya? Hmm?”
“Nggak-nggak bukan gitu. Aku cuma bimgung aja gitu. Kok bisa? Kamu ‘kan cinta sama cewek itu, terus kalian pacaran juga lumayan lama ‘kan? Apa nggak mau gitu merasa tertanamg untuk—ya sehanrnya emang mggak boleh sih tapi ‘kan kamu sendiri bilang banyak yang ngelakuin hal itu,”
“Nggak mau, kalau cinta justru ya jangan macam-macam. Lalau cinta tuh ngejaga ‘kan? Bukan malah ngerusak?”
Shena menganggukkan kepalanya. Sekarang Ia tahu alasan suaminya tidak mau macam-macam dengan kekaishnya dulu.
“Kamu setiap pacaran kayak gitu?”
“Iya paling cuma pegangan tangan aja terus kalau mau pisah ya pelukan. Udah gitu doang,”
“Masa sih? kamu kayaknya berani deh, suka tantangan,” ujar Shena sambil tertawa terbahak-bahak.
Sementara Dio mendengus. Kenapa istrinya tidak percaya? Padahal Ia serius tidak pernah macam-macam. Tapi aklau Shena tidak percaya juga tidak apa. Wajar saka Shena beprikir seperti itu mengingat betapa cintanya Ia dulu pada mantan kekasihnya.
“Ya kalau nggak percaya sih terserah kamu ya. Aku nggak maks akamu untuk percaya. Tapi yang jelas aku emang belum pernah macam-macam,”
“Kalau sama aku ya macam-macam,”
“Ya iyalah orang udah nikah. Ya kali nggak macam-macam. Tapi aku udah telat juga sih macam-macamnya. Karena apa? Ya kita ‘kan sempat jadi orang aisng dulu setelah nikah,”
“Iya itu kamu yang anggap aku orang asing. Kalau aku sih nggak,”
Dio langsung kenggenggam tangan istrinya kemudian Ia kecup demgan hangat.
“Maaf ya,”
Shena tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Setiap Ia membahas masa lalu Dio slelau saja meminta maaf. Sepertinya rasa bersalah Dio belum habis juga.
“Aku pengen makan duren lagi deh, tapi dia nggak lewat, eh tapi takut nggak aman juga ya? Ya udah deh nggak usah aja,” celoteh Shena sambil mengedarkan matanya ke sekitar taman setelah Ia dan Dio lelewati taman.
“Lho, nggak aman gimana maksudnya? Makan ntar siang aja kalau emang nggak mau makan pagi,”
“Ya takut nggak aman aja,”
“Buat aku sama bayi kita,” lanjut Shena di dalam hati.
“Nggak amannya tuh kenaoa, Shentik?”
“Hmm nggak apa-apa takut mual,”
“Lah yang waktu itu kita beli diren di tamab teru skita makan begitu selesai jalan pagi kmau nggak mual tuh ya walaupun emang agak elstrem sih ya pagi-pagi makan duren, orang mah bubur, roti, ini duren,”
“Ya anggap aja duren tuh selai, harusnya kuta pakein roti tuh waktu itu,”
“Wah boleh juga, nanti aku coba ah kalau emang ada,”
“Hahahaha serius kamu mau gitu?”
Dio menganggukkan kepalanya. Menurut Dio tidak masalah Ia makan roti dengan duren. Entah baik atau tidak untuk kesehatan tapi yang jela situ menggugah selera sekali.
“Tapi itu bagus nggak sih? Takutnya nggak aehat lagi,”
“Ya biarin aja yang penting enak, hahaha. Lagian cuma seseklai doang. Lah buktinya wkatu itu gue maka duren pagi-pagi syukurnya baik-baik aja. Ya smeoga nanti kalau makan duren pake roti pagi-pagi juga baik-baik aja,”
“Ya udah terserah kalau mau nyoba mudah-mudahan aja kamu nggak sakit perut ya;”
“Jangan didoain gitu dong, cantik,”
“Nggak doain, aku cuma takut aka kamu sakit perut,”
“Sejauhbini gue makan duren nggak pernah sakit perut sih, pernah makan suren malam aman, makan duren pagi juga aman. Gue orangnya kuat,”
Shena terkekeh mendengar itu dan menganggukkan kepalanya. Tapi Ia belum menwmukan tanda-tanda ada penjual durian.
“Kayaknya nggak jual deh, kita udah lewat berpaa meter dafi taman belum ketemu juga sama penjual duren itu,”
“Iya ya kayaknya,”
“Kita makan yang wajar aja berarti, Dio,”
“Emang itu nggak wajar?
__ADS_1
“Ya takutnya gitu sih, aneh aja makan diren pagi-pagi,”
“Waktu itu kita udha pernah nyoba dan mantap banget, Shen. Nah gue pengen nyoba pakai roti tawar, bener kata lo anggao aja itu selai,”
“Ah aku nyesal ngomong gitu. Akhirnya bikin kamu pengen nyoba deh,”
“Hahahaha nggak apa-apa dong,”
Dio merangkul Shena dan mereka masih jalan santai entah belum tahu kapan akan pulang ke rumah.
Dio menoleh ke sebelahnya. Ia belum menemukan tanda-tanda istrinya lelah berjalan kaki.
“Kamu belum capek ya?”
“Hmm belum sih, karena mungkin jalan santai kali ya?”
“Oh gitu, kalau udah capek bilang ya jangan sungkan untuk bilang ke gue,”
“Okay sip,”
“Ada lontong sayur, Shen. Gue pengen deh, lo pengen nggak?”
“Nggak ah ‘kan di rumah udah masak,”
“Oh iya kamu udah masak ya? Okay deh kita makan di rumah aja kalau begitu,” ujar Dio yang tidka mau mengecewakan mamanya, bibi, dan juga istrinya yang sudah pagi-pagi masak untik orang di rumah.
“Kamu kalau pengen nggak apa-apa sih, terserah kamu, aku nggak larang,” ujar Shena sambil tersenyum,”
“Nggak ah, aku makan di rumah aja kalau gitu. Aku baru ingat kamu masak,”
“Nggak apa-apa beli aja,”
Ujar Shena sambil menoleh ke belakang dimana gerobak penjual lontong sayur berada.
“Nggak deh, lain kali aja. Aku bisa beli kapan-kapan kok, lagipula dia seirng banget ada di situh. Ntar kapan-kapan kalau misalnya kita jalan pagi lagi terus ketemu penjual lontong sayur itu, baru deh aku beli. Sekarang aku saralan di dumah aja sama kamu. Emang kamu masak apa kalau sku boelh tau,”
“Aku masak soto,”
“Seriusan, wah aku bakal nambah nih kayaknya,”
“Ah beneran nih? Kalau nggak nambah gimana?”
“Pasti nambah, karena enak. Ntar liat aja deh kalau nggak percaya,”
Shena melihat penjual jagung rebus dan mendadak Ia ingin itu. Ia langsung mengguncang pelan lengan suaminya dan bicara pelan “Aku amu beli jagung boleh ya?”
“Ya boleh lah amsa nggak boleh, ayo kita samperin penjualnya kalau gitu,”
Shena tersneyum dan mengangguk antusias. Ia dan suaminya itu langsung mempercepat langkah mereka untuk menghampiri penjual jagung rebus yang sedang duduk tak jauh dari mereka saat ini di atas sebuah bangku kecil.
“Pak, satu jagung berapa?” Tanya Dio pada penjual jagung.
“Lima ribu aja, Mas,”
“Okay saya beli—kamu mau berapa?” Tanya Dio pada istrinya.
“Berapa aja terserah,”
“Beli lima belas deh, Pak,”
Shsna mengangkat salah satu alisnya. Ia pikir suaminya akan beli dua buah saja tapi ternyata lumayan banyak juga lima belas jagung.
“Nah ini uangnya. Kembaliannya ambil aja sama Bbapak ya,”
“Alhamdulillah ya Allah, makasih banyak ya, Mas,”
“Sama-sama,“
Dio melihat dagangan bapak itu masih banyak sekali. Sepertinya belum ada yang laku. Usianya juga tidak muda lagi. Wajahnya kelihatan lesu, seharusnya memang sudah istirahat di dumah saja bukan memcari nafkah seperti ini. Dio bantu sebisanya saja. Mungkin dengan sedikit uang yang Ia berikan bisa sedikit meringankan beban bapak penjual jagung yang mungkin giat menjaul jagung seperti ini karena anaknya sedang sekolah, atau ada yang sakit di rumah. Dio tidak tahu apa saja yang bapak itu panggul di atas kedua bahunya yang sudah renta.
“Kamu belinya lumayan banyak juga,”
“Iya bagi-bagi aja, barangkali pada mau juga yang di rumah,”
“Iya, makasih udah beliin aku jagung hehehe. Aku nggak bawa uang lho, jadi aku ngandelin kamu tadi, makanya aku cuma diam doang, kamu yang ngomong hahaha,”
“Nggak apa-apa dong. Uang suami itu uanag istri,”
“Nah uang istri juga uang suami,”
“Nggak, aku nggak setuju. Yang benar itu uang istri ya uang istri. ‘Kan selama ini yang sering kita dengar begitu,”
“Hmm aku nggak setuju deh kalau itu,”
“Lho kenapa?”
“Ya karena menurut aku, sama aja. Uang aku ya punya kamu, nah uang kamu punyankamu juga. Jadi biar adil lah. Biar slaing, gitu lho, nggak hanya salah satu,”
“Hahaha kamu agak beda ya emang,”
Dio mengacak lembut puncak kepala istrinya itu. Kemudian Ia mengajak istrinya itu untuk pulang.
“Emang kenapa pulang sekarang?”
“Okay boleh, aku udah nggak sabar juga makan jagung rebus ini soalnya masih panas lho ternyata,”
“Tapi sarapan aja dulu. Makan apa yang kamu masak tadi,”
“Bareng-bareng kok masaknya, Dio,”
“Iya maksud aku, makan apa yang tqdi kamu amsak bareng Mama sama Bibi,”
Shdna paking tidak mau dibilang masak semdiri ketika kenyataannya Ia dibantu oleh orang lain.
“Aku tadi agak kesiangan,”
“Ya mungkin karena lo kecapekan kali ajdi tidurnya nyenyak banget dan kesiangan deh,”
“Capek apa? Aku nggak capek ah,”
“Ibu rumah tangga itu capek tau, yang belum punya anak aja capek apalagi yang udha punya anak. Gue liat nyokap gue soalnya tapi sekarang nyokap udah nggak secapke dulu sih sebenarnya karena gue ‘kan udah dewasa nggak diurus sama nyokap dua puluh empat jam lagi kayak dulu masih kecil. Jadi ya nyokap mulai ngerasa kurang aktifitas makanya ngurus bisnis toko rotinya itu deh,”
Dio dan Shena sudah berjalan ke arah rumah. Menurut Dio sudah waktunya mereka pulang karena Ia takut Shena kelelahan terlalu banyak berjalan. Mengingat belakangan ini Shena daya tahan tubuhnya lemah. Sedikit-sedikit kelihatan lemas, lalu sakit ini itu, dan membuat Dio khawatir.
Sampai di rumah Sakti sudah berangkat ke kantornya, sementara sang mama ada di taman sedang menyiram tanaman.
“Waalaikumsalam, udah pulang ternyata,” sambut Ardina pada anak dan menantunya itu yang langsung mengucap salam, begitu melewati gerbang.
“Ma, dibeliin Dio jagung rebus, makan yuk,”
“Ya udah makan aja sama kamu. Mama ‘kan udah makan, Nak. Oh iya kamu sama Dio sarapan dulu sana,”
“Iya, Ma,”
Dio dan Shena langsung bergega ske ruang makan. Tidak lupa membersihkan tangan mereka masing-masing dan Dio langsung duduk di kursi, sementara Shena menyiapkan makanan dulu untuk suaminya, kemudian untuk dirinya sendiri barulah Ia duduk di hadapan Dio.
“Nanti kalau udah sampai Lombok aku boleh mintq sesuatu nggak sama kamu?”
“Apa? Lo mau oleh-oleh apa? Nah gitu dong mau sesuatu. Jadi ‘kan gue nggak bingung mau bawa apaan buat lo,”
“Bukan oleh-oleh maksud aku, Dio,”
“Lho terus mau apa dong?”
“Kabarin aku ya kalau misalnya kamu udah sampai di sana. Pokoknya sering-sering kabarin aku, okay?”
“Oh kirain minta apaan. Gue kirain tuh lo mau minta baju atau makanan gitu yang spesifik,”
“Nggak kok, aku minta kamu kabarin aku aja. Bisa ‘kan?”
“Iya bisa nanti aku sering-sering kabarin kamu ya, tenang aja kalau itu,”
Jangan lupa ya biar aku nggak merasa khawatir sama kamu. Kalau dulu ‘kan seringnya kamu tuh nggak ngabarin aku, palng ngasih kabar kalau misalnya disuruh sama Papa ya? Bener nggak?”
“Iya tapi kali ini nggak kok tenang aja. Aku bakal kabarin kamu,”
“Beneran ya? Jangan bohong lho,”
“Iya, Shentik,”
“Apaan sih typo mulu nama aku nya,”
“Hahahaha iya deh, Shena. Aku bakal sering kasih kabar ke kamu kalau misal udha turun dari pesawat, sampai hotel, mau ada kegiatan ala gitu, aku bakal kabarkn kamu. Aku usahain ya, aku bakal belajar untuk menghargai rasa khawatirnya kamu itu,”
Shena tersenyum mendengar ucapan sang suami. Ia senang karena Dio mau memberinya kabar nanti selama pergi. Beda dari sebelum-sebelumnya yang tidak acuh. Lebih sering tidak memberikan kabar, kalaupun memberi kabar pasti karena disuruh oleh papanya itu.
“Terus di sana istirahat sama makan jangan diabaikan,”
“Siap, Ibu negara. Kamu jangan ngajarin aku aja ya, kamu sendiri juga harus gitu. Jangan mentang-mentang nggak ada aku, kamu jadi seenaknya aja d sini, maksud seenaknya tuh nggak makan yang benar, istirahat kurang. Ntar sakit lagi ‘kan aku yang bingung jadinya, karena aku lagi jauh dari kamu,”
“Iya-iya nanti aku bakal lebih sayang sama diri aku sendiri deh, aku janji nggak bakal telat makan, telat istiragat, aku janji,”
“Janji sama diri sendiri juga, jangan jamni sama aku soang. Aku nggak mau ya kamu abai sama kesehatan kamu,”
“Iya, dio,”
“Soalnya aku perhatiin kamu kok jadi lemah gitu daya tahan tubuhnya. Sering banget sakit deh perasaan,”
“Nggak, emang waktunya lagi sakit aja, nggak sering kok. Itu cuma perasaan kamu aja,” ujar Dio.
“Nggak ah, enang aku perhatiin kayak gitu. Kamu jadi sering sakit. Kenapa ya? Padahal makan sama aja ‘kan?”
“Iya emang lagi musim sakit kali ya,”
“Lah, aku nggak sakit-sakit tuh,”
“Ssstt jangan ngomong gitu. Nanti dikira Allah kamu mau sakit,”
“Ya nggak aku cuma mau bandingin diri kamu sama aku aja. Kamu bilang ‘kan lagi musim sakit, ah nggak juga. Aku syukurnya masih sehat bugar gini, emang daya tahan tubuh kamu yang lagi menurun tuh, Shen “
“Nggak apa-apa deh aku salit selagi ada kamu, Dio,”
“Ya elah jangan ngomong gitu dong. Gue jadi takut nih,”
“Takut kenapa?”
“Ya takut lo sakit beberan pas gue pergi, pokoknya jangan sampai ya. Jaga kesehatan kamu ya,”
“Siap, Tuan,”
“Aku serius lho, Shen,”
“Iya aku juga serius kok,”
Shsna menaik turunkan alisnya menatap sang suami yang langsung berdecak dam merotasikan bola matanya. Shena terkekeh melihat itu.
Mereka kembali makan kali ini tanpa suara, benar-benar menikmati menu sarapan yang ada.
“Kamu sebelumnya udah pernah ke Lombok belum?” Tanya Shena pada suaminya.
“Udah beberapa kali, emang kenapa?”
“Oh ya? Aku lupa, setelah nikah sama aku usah pernah ke Lombok?”
“Hmm aku juga lupa sih sebenarnya,”
“Hmm lupa ya,”
“Emang kenapa, Shen?”
“Nggak apa-apa cuma nanya aja,”
“Pengen ikut aku? Kamu betrbah pikiran ya?”
“Nggak, sok tau ah, orang aku cuma nanya,” ujar Shena seraya tersenyum.
“Ntar kalan-kalan sama aku ke sama ya, Shen,”
“Iya boleh kapan-kapan,”
“Di sana tuh nyaman banget. Ya sebenarnya di negara kita tercinta ini tempatnya nyaman-nyaman sih,“
“Ke sana itu lebih nyaman sama keluarga kecil nggak sih? Sama kayak Bali,”
“Hmm iya kamu bener. Tapi cocok juga buat yang masih belum punya jeluarga kecil. Misalnya masih single, mau liburan sama teman-teman juga okay banget atau buat yang belum punya anak juga okay banget. Ya kayak kita gini lah,”
“Oh gitu ya?”
Dio menganggukkan kepalanya. Menurut Dio liburan ke Lombok hanya berdua dengan pasangan juga tidak masalah, liburan dengan teman-teman juga pas, intinya Lombok itu bisa menjadi tempat untuk liburan bagi siapa saja yang mau dan yang butuh tempat bagus-bagus dan suasana yang menenangkan.
“Aku minta, kalau kita udah punya anak aja ke sana nya gimana?”
“Hah? Kalau kita udah punya anak? Yah kasih lana dong,”
“Nggak lama lagi kok,”
“Lama lah, Shentik,”
“Nggak lama, Dio,”
“Tau darimana nghak lama? ‘Kan sekarang sja kita belum dikasih dan kita juga nggak tau kapan dikasihnya,”
“Ya berdoa aja supaya secepatnya dikasih,”
“Udah dibilang gue belum siap. Gue nghak kau punya anak dulu jalau sekarang, lo paham nggak sih?”
Shena menunduk ketika suaminya itu mulai merubah nada bicaranya. Yang semula asyik dan menyenangkan sekarang jadi galak.
“Ya—ya udah nanti kalau udah siap punya anak, nah anaknya udah ada, kita baru deh ke aama. Menurut kamu gimana?”
“Iya aku setuju, tapi nggak dalam waktu dekat dong kalau gitu. Sekarang aja aku nggak mau punya anak dulu,”
__ADS_1
Shena menganggukkan kepalanya lemah. Shena harus menahan sakit hatinya itu entah sampai kapan karena suaminya benar-benar masih belum mau punya anak sementara anak kereka sudah ada di perut Shena dan tumbuh dalam keadaan sehat.