
"Harusnya sih enggak begitu ya. Lo 'kan udah punya suami. Gimana kalau suami lo tahu coba?"
"Mas Dio udah tahu dan dia kesal,"
"Gila! Suami lo udah tahu? Ya jelas aja dia kesal. Pasti dalam hati juga curiga lo punya pacar gelap, Shen,"
"Ya memang, dia sendiri bilang begitu tadi. Dia curiga aku punya laki-laki lain,"
Ketiga menatap Shena dengan serius. Gawat, pernikahan Shena saat ini sedang diberikan cobaan yang cukup menguras pikiran. Susah mengendalikan cemburu dan susah juga menjadi Shena yang merasa tertuduh padahal mereka sendiri yakin Shena tidak mungkin macam-macam. Shena sangat mencintai Dio yang menjadi suaminya itu.
"Sabar ya, Shen. Gue yakin lo enggak akan main-main. Pak bos cemburu dan itu wajar karena memang enggak pantas lo dapat kiriman begitu,"
"Tapi aku enggak tahu itu dari siapa dan apa niat orang itu kirim baju yang terbuka begitu ke aku. Jujur aku juga tersinggung banget,"
"Iya, Njir. Itu kayak melecehkan enggak sih? Lo dianggap apa coba pake kirim-kirim baju begitu?"
"Ya udah buat gue aja itu bajunya,"
Bugh
Lala mendapat pukulan dari Kalina yang langsung menggunakan guling untuk memukul temannya itu.
"Jangan, seriusan itu kebuka banget bajunya. Aku ilfeel lihatnya, beneran,"
"Emang kayak apa sih?"
"Bahannya tipis banget. Cup dada kelihatan, terus perutnya lebih tipis lagi. Celananya enggak sampai satu jengkal. Aku enggak pernah pakai begitu terus kenapa orang itu malah ngirimin baju kayak begitu? Ya aku merasa tersinggung lah,"
"Seriusan lo enggak pernah pake baju model begitu, Shen?"
"Enggak pernah, masuk angin yang ada. Di kamar aja enggak pernah, apalagi di depan orang lain? Wajar 'kan kalau aku tersinggung seolah-olah aku tuh disuruh dia pake baju begitu makanya dikasihlah baju itu ke aku,"
"Wajar banget dan Pak bos juga wajar kalau cemburu. Otaknya udah kemana-mana pasti, setelah tahu lo dapat kiriman semacam itu. Nanti apalagi? Pakaian dalam kali yang dikirim ke lo ya,"
"Ih jangan ngomong begitu, aku takut. Dari tadi aku mikirin banget, kira-kira siapa yang udah kirim itu ke aku ya? Aku takut kalau dia itu laki-laki terus niat dia enggak baik,"
__ADS_1
"Kalau gue sih yakin dia itu laki-laki,"
"Kenapa kamu yakin?"
"Enggak tahu ya kenapa. Cuma gue mikirnya kalau itu kerjaannya cowok, Shen,"
"Tapi siapa?"
"Lah mana gue tahu. Lo aja enggak tahu, apalagi gue,"
Shena menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Liburan begini malah disuruh berpikir keras perkara lingerie. Awas saja kalau Ia tahu pelakunya siapa. Akan Ia sembur habis-habisan dengan omelan.
"Ya udah deh aku ke kamar dulu ya. Udah makin malam,"
"Jadi ke sini karena habis berantem sama pak bos nih kayaknya. Gegara pak bos cemburu ya, Shen? Tahu banget gue mah,"
"Aku balik ke kamar, bye,"
Shena tidak mengakui atau tidak mengelak tujuannya datang ke kamar teman untuk menghindari Dio.
"Darimana aja, Bee?" Tanya lelaki itu yang tak bisa tidur bila Shena belum kembali. Ia cemas tapi agak gengsi mau mencari Shena.
"Dari kamarnya Kaleela,"
Beruntungnya Ia tidak mencari keberadaan Shena tadi. Ia akan seperti orang bodoh mencari Shena kemana-mana sementara istrinya itu ada di kamar temannya.
"Bee, apa Arun yang kirim itu ke kamu?”
"Arun? Mas nuduh dia?"
“Atau Jery?”
"Bukan nuduh, Bee. Aku 'kan cuma tanya dan minta pendapat kamu tadi. Kamu juga mikir yang sama kayak aku enggak?"
"Enggak tahu, Mas. Aku mau ngomong takut salah. Karena aku enggak punya bukti siapa yang udah kirim itu ke aku,"
__ADS_1
"Aku rasa Arun deh. Apa aku tanya langsung ke dia?"
"Kamu bakalan dianggap nuduh dia. Kamu cari aja buktinya baru tanya untuk memastikan. Kalau langsung tanya, takutnya orang tersinggung, Mas. Kita harus mikirin perasaan orang. Belum tentu dia terus kamu udah tanya begitu,"
"Ya kalau enggak ditanya mana bisa tahu?"
"Cari dulu buktinya baru ditanya. Kalau menurut aku ya begitu, Mas,"
"Aku cari bukti kemana, Shena? Aku aja di sini dan yang terima paketnya Pak Tris terus Mama," Dio geram karena Shena memintanya untuk mencari bukti lebih dulu sebelum bertanya pada Arun. Bagaimana Ia bisa mencari bukti kalau di dalam barangnya pun tidak ada keterangan apa-apa.
"Nah itu dia. Bukti aja enggak ada masa mau langsung tanya ke Arun?"
"Bisa aja itu kerjaan dia. Kamu itu disukai sama dia,"
Shena menatap Dio dengan jengah. Entah harus seperti apa Ia meladeni Dio yang sejak tahu Ia mendapat kiriman baju, langsung uring-uringan sewot.
"Suka bukan berarti dia yang ngirimin, Mas,"
"Udahlah terserah kamu. Aku mau tanya langsung ke dia,"
Dii tidak peduli kalau istrinya tidak sependapat. Ia akan tanya langsung pada Arun mengenai asal usul barang yang tadi diunjukkan oleh bundanya. Entah mengapa Arun lah yang ada di otaknya setelah perdebatan tadi dengan Shena. Ia baru sadar kalau Arun cukup dekat dengan Shena. Kemungkinan besar itu kiriman dari Arun.
"Halo, gue minta waktu sebentar untuk ngomong sama lo, bisa?" Ucap Dio tanpa basa-basi.
"Okay, bisa. Kenapa, Di?" Arun tetap friendly seperti biasanya walaupun di mata Shena tetap menyebalkan sebab dengan terang-terangan mengirim sinyal pada Shena.
"Lo kirim barang ke Shena enggak?"
"Barang? Barang apa? Gue enggak tahu barang apa yang lo tanya,"
"Barang apapun itu, tolong jawab jujur. Lo ngirim sesuatu ke Shena?"
"Enggak sama sekali, kenapa sih emangnya?"
"Enggak usah bohong sama gue! Ngomong aja kalau emang lo kirim barang ke Shena,"
__ADS_1