
“Kok berat pundak gue? Jangan bilang Shena tidur nih,” gumam Dio setelah sampai di area parkir kampus dan merasakan pundaknya semakin berat. Di tengah perjalanan mulai berat, Ia pikir Shena hanya menyandarkan kepalanya saja.
Tadi mau menengok ke belakang untuk memastikan rasanya tidak mudah karena Ia dokus mengemudikan motor, sekarang Ia dengan bebas menengok untuk memastikan. Dan ternyata benar. Istrinya itu tertidur dengan lelapnya.
“Ya ampun, bisa-bisanya dia tidur di pundak gue. Emang senyaman itu ya? Pundak gue kasur atau bantal?”
Dio tertawa pelan. Ia terpaksa membangunkan Shena walaupun jujur Ia meras atidak tega sekali. Siapapun akan merasa tidak tega kalau membangunkan orangnyang sedang lelap tidur. Akan ada perasaan bersalah tapi berhubung Shena harus segera masuk ke dalam kampus jadi terpaksa Ia tepuk-tepuk lembut wajah Shena dan juga paha Shena.
“Shen, udah sampe nih. Bangun-bangun, lo telat,”
Shena langsung membuka matanya. Ia langsung menatap keadaan sekitar dnegan kedua mata memicing dan kening mengernyit.
“Lho, ini kita udah sampai kampus ya?”
“Udah, makanya bangun,”
“Ya ampun aku ketiduran. Maaf ya, Dio. Makasih udah anterin aku sampai kampus. Kamu pulangnya hati-hati,” ujar Shena seraya turun dari motor dan melepaskan helmnya.
__ADS_1
“Lo anggap pundak gue apaan, Shen? Bantal atau kasur?”
Shena terkekeh mendengar ucapan suaminya dan Ia menatap Dio dengan raut eajah tak enak. “Maaf ya, aku nggak bermaksud ketiduran. Abisnya kamu nyaman dipeluk jadi aku ketiduran deh. Janji nanti lain kali aku nggak ketiduran lagi deh,”
“Ya elah santai aja, gue tau lo semalam abis ngeronda jadi wajar kalau lo ketiduran,”
“Ih jangan ngomong gitu, aku nggak ngeronda tau,”
“Ya udah sana buruan masuk,”
Shena mengulurkan tangan yang langsung membuat Dio bingung “Apaan nih maksudnya? Minta duit jajan?”
“Lah ‘kan tadi udah di rumah,”
“Lagi, Assalamualaikum,” ujar Shena setelah langsung mengambil tangan suaminya, Ia kecup singkat setelah itu Ia langsung bergegas masuk ke dalam kampus meninggalkan Dio yang entah mengapa hatinya menghangat. Ini kegiatan yang hampir tidak pernah terjadi sejauh ini. Bangun pagi disaat jam kuliahnya tak begitu pagi, lalu inisiatif mengantarkan istrinya ke kampus, menjadi tempat ternyaman untuk Shnea tertidur untuk beebrapa menit lalu.
“Menyenangkan juga jadi suami yang berguna kayak gini,” gumam Dio sambil terkekeh. Ia menyadari kalau selama ini Ia tak ada gunanya. Ketus pada istri, tidak pernah mencurahkan perhatian.
__ADS_1
Dio melajukan motornya meninggalkan area parkir kampus menuju rumah. Di tengah perjalanan Ia bertemu dengan kue rangi dan bubur ayam. Tanpa pikir panjang Ia langsung membelinya. Lalu setelah itu Ia melanjutkan perjalanan ke rumah.
Ia langsung bergegas ke ruang makan dan bertemu dengan mamanya yang sedang membersihkan meja makan.
“Dio, itu kamu bawa apa? Istri kamu udah masakin tuh, kok kamu malah jajan sih? Nggak mau ngehargain masakan istri? Hmm?”
“Eh iya, Shena masak ya, Ma. Astaga, aku bener-bener lupa padahal tadi dia udah bilang,”
Dio semakin dilanda rasa bersalah setelah melihat di meja makan ada bubur nasi, ayam, kuah kaldu, dan telur goreng.
“Mana aku beli bubur ayam juga lagi,”
“Terus gimana itu masakan Shena? Kalau Shena tau, dia kecewa kamu malah beli bubur padahal di rumah ada bubur buatan Shena,”
“Ya udah aku makan yang beli dulu, yang dibikin Shena simpan aja dulu. Nanti aku makan,”
“Ah kamu suka banget kayak begitu. Apa sih susahnya ngehargain apa yang udah istri kamu lakuin? Sering ‘kan kamu begitu. Shena udah masak tapi kamu malah beli makan di luar, padahal di rumah banyak makanan,”
__ADS_1
“Tapi serius aku lupa, Ma. Aku nggak sengaja liat ini ya udah aku beli,”