Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 8


__ADS_3

Selesai belanja di pasar, Shena mengajak Dio ke supermarket yang letaknya bersebelahan dengan pasar yang sebelumnya menjadi tempat mereka membeli sayur mayur, daging sapi, ayam, dan juga ikan. Tentunya tujuan Shena ke supermarket karena belanjaan yang Ia dapat dari pasar belum mencukupi semuanya, maka dari itu Ia perlu ke supermarket, dan itu selalu setiap kali Ia belanja bulanan. Karena di supermarket Ia bisa membeli kebutuhan selain makanan.


“Kamu ngerokok?”


“Kadang, emang kenapa?”


“Oh, nggak apa-apa,”


“Lo nggak suka gue ngerokok?”


“Bukan nggak suka, aku cuma tanya aja kok,”


Begitu masuk supermarket, Dio langsung menanyakan rokok kepada pegawai. Yang dicari Dio pertama kali adalah tembakau itu, makanya Shena simpulkan Dio adalah perokok aktif, tapi ternyata jarang kata Dio sendiri.


“Kamu tau nggak, katanya ya, perokok pasif alias orang yang kedapatan asap rokok itu kemungkinan besar lebih banyak dapat penyakit dari asap rokok itu ketimbang orang yang merokok atau perokok aktif nya karena perokok aktif lebih sedikit hirup asap,”


Dio diam, jujur Ia tahu bahkan sering mendengar hal itu. Dan kali ini Shena menyampaikan secara halus bahwa selain Dio, akan ada orang lain yang kesehatannya akan terganggu kalau menghirup asap rokok dari Dio.


“Mba, nggak jadi,”


Tiba-tiba Dio meletakkan apa yang hampir Ia beli itu di meja kasir. Shena terkejut melihat suaminya tak jadi membeli rokok. Pegawai langsung mengembalikan rokok yang tak jadi di beli Dio ke rak di belakangnya.


“Ya udah ayo belanja, ngapain lo diam?”


Shena diam karena sedang mencerna semuanya. Apakah Dio serius mau mendengarkan kata-katanya? Tanpa banyak bicara Dio memutuskan untuk tidak jadi membeli rokok setelah Ia memberi peringatan secara halus.


“Kamu nggak jadi beli rokok?”


“Ya ‘kan lo sendiri bilang perokok pasif lebih dipertaruhkan kesehatannya ketimbang perokok aktif. Tadinya gue mau ngerokok di balkon kamar udah lama juga soalnya nggak ngerokok tapi ‘kan berarti yang jadi perokok pasif nya itu lo! Terus kalau lo sakit, gue yang repot, paham?”


“Jadi maksudnya kamu perhatian sama aku ya?”


“Apaan sih? Bangun gih! Udah siang, jangan mimpi mulu,”


Shena sedikit merengut setelah Dio bicara seperti itu. Shena juga malu karena Dio bicara itu sempat membuat pegawai tadi yang mengembalikan rokok menatap ke arahnya.


Shena tak mengatakan apapun lagi, Ia melupakan ucapan suaminya dan fokus untuk belanja. Dio mengikuti di belakangnya usai mengambil troli.


“Mau beli apaan? Jangan lama-lama ya,”


“Aku nggak bisa janji, soalnya kalau belanja itu ‘kan mesti pilih-pilih. Kalau kamu emang nggak mau temenin aku lagi, nggak apa-apa kok. Kamu bisa tunggu aku di mobil,”


“Nggak, gue udah terlanjur masuk sini, ogah balik ke mobil,”

__ADS_1


“Ya udah berarti kamu sabar ya,”


“Sabar-sabar, lo pikir stok kesabaran gue banyak? Hah?”


Shena menghembuskan napas kasar dan menggelengkan kepalanya pelan. Heran, tiap berapa menit sekali, mereka pasti berdebat dan yang menghadirkan perdebatan itu ya suaminya sendiri. Sudah Ia beri pilihan agar ke mobil lebih dulu tapi Dio menolak padahal Ia hanya tidak mau Dio jadi marah-marah kalau Ia lama belanja.


“Lo beli keperluan rumah mulu, shampo, sabun—“


“Iya itu harus,”


“Buat lo sendiri mana?”


“Nggak ada, aku lagi nggak butuh apa-apa untuk diri aku sendiri,”


“Gue aja mau beli cemilan,”


“Ya udah beli,”


“Lo mau sekalian?”


“Nggak, makasih atas tawarannya, Dio,”


“Yakin lo? Gue nggak mau berbagi sama lo ya,”


“Iya aku tau, udah kamu aja yang beli, aku lagi nggak pengen apa-apa kok. Ditemenin belanja sama kamu aja aku udah senang banget,”


Shena menahan kesabaran, kalau Ia menanggapi Dio, bisa-bisa menjadi pusat perhatian orang.


“Coba sini gue cek rekening lo, uang dari gue masih ada ‘kan? Takutnya lo nggak mau jajan karena uang gue udah lo habisin, kalau emang udah habis gue kas—“


“Kamu tenang aja, nih kamu cek laporan pengeluarannya ya,”


Shena menerima satu buah kartu debit dari Dio. Dari situlah Ia belanja semua keperluan. Melalui mobile banking yang ada di ponselnya, Dio bisa melihat laporan pemasukan dan pengeluaran. Daripada Dio salah paham, lebih baik langsung saja Shena berikan laporannya.


Setelah melihatnya, Dio tercengang. Tidak, Ia tidak percaya dengan apa yang Ia lihat. Mereka sudah dua bulan menikah, sementara saldo yang tersisa di luar perkiraannya.


“Shena, lo gila ya? Lo belanja pakai duit siapa? Kok—“


“Ya pakai duit kamu lah,”


“Tapi ini kok sisanya banyak banget?”


“Ya karena untuk keperluan aku sendiri pakai uang aku dari Papa. Papa aku ‘kan masih kasih aku uang. Dan kebetulan, aku juga nggak banyak kemauan jadi ya udah deh, uang dari papa ataupun kamu aman,”

__ADS_1


Rahang Dio mengetat. Ia belum pernah membahas soal keuangan dengan serius bersama Shena, padahal seharusnya itu sudah mereka lakukan sejak awal tapi nampaknya memang komunikasi sudah terjalin di antara mereka sebab Dio sendiri yang seolah menutup aksesnya.


“Nggak seharusnya lo pakai uang lo sendiri ataupun uang orangtua lo untuk beli keperluan lo. Kita harus bahas ini di rumah,”


*****


“Duh, saya minta maaf ya, Mba. Saya nggak sengaja,”


Shena sedang berjalan menjelajah satu persatu rak yang ada di supermarket dan tak sengaja ada seorang perempuan yang membelakanginya sedang memilih makanan ringan tiba-tiba mundur hingga menabraknya yang sedang melintas.


“Oh iya nggak apa-apa,”


Shena diam beberapa saat. Ia menyadari kalau perempuan di depannya ini tak asing di matanya. Dia adalah perempuan yang sosial medianya sampai saat ini masih menjadi pusat perhatian Dio, iya dia Amira.


Akira juga menyadari kalau yang sedang berurusan dengannya saat ini tidaklah asing. Seketika ingatannya terlempar ke momen dimana Ia datang ke rumah Dio dengan suasana hati yang senang seperti biasa dan tak merasa ada yang aneh sedikitpun, tapi tiba-tiba seperti disambar petir Ardina mama Dio memperkenalkan seorang perempuan yang baru datang dengan senyum hangatnya itu adalah calon istri Dio. Saat itu Amira langsung mengakhiri hubungannya bersama Dio.


“Shen, udah—“


Dio tak bisa lagi melanjutkan kata-katanya karena hatinya sudah dibuat berdebar ketika melihat sang mantan kekasih, matanya juga tak bisa berpaling menatap Amira.


“Amira,”


Amira hanya menatap Dio sebentar setelah itu pergi begitu saja. Dio menghembuskan napas kecewa. Perempuan yang masih belum bisa Ia lupakan memilih untuk pergi alih-alih menyapanya.


“Dio, kamu baik-baik aja?”


Shena mengusap bahu suaminya yang menatap kosong ke depan, mengamati punggung Amira yang semakin menjauh.


“Diam deh, gue nggak mau dengar suara lo! Ini ‘kan yang lo mau? Hah? Dia pergi gitu aja ninggalin gue bahkan nyapa gue pun nggak. Dia tuh udah terlalu benci sama gue,”


“Aku salah apa? Aku nggak ngusir Amira, aku nggak—“


“Gara-gara lo datang ke hidup gue, dia jadi pergi ninggalin gue! Paham nggak lo?!”


Shena langsung tersentak kaget mendengar suaminya yang tiba-tiba membentak. Shena panik, Ia tidak mau ada yang mendengar tapi sulit mengingat saat ini mereka ada di tempat umum. Ada sepasang suami istri mengamati mereka dan ketika bertemu tatap dengan Shena, mereka langsung buru-buru fokus memilih makanan ringan lagi.


Shena menarik napasnya yang terasa begitu berat, dadanya seperti sedang ditekan oleh sesuatu yang begitu berat sampai Ia sulit untuk sekedar menarik napas. Setiap kali Dio mengeluarkan kata-kata yang melukai hati, atau sikap Dio tidak baik, Shena merasa sesak. Ia tidak terima, batinnya berontak diperlakukan tidak baik oleh suaminya tapi Ia merasa tidak punya kekuatan untuk berbuat lebih. Yang bisa Ia lakukan hanya menahan tangisnya saja sambil berlalu menjauh dari Dio.


Biasanya setelah itu rasa sesaknya perlahan hilang, seiring dengan keringnya air mata. Shena berulang kali menghapus air matanya yang jatuh sambil mengalihkan rasa sedihnya dengan memilih-milih bumbu masakan instan. Shena tidak tahu dimana suaminya. Ia tidak mau tahu untuk semnetara waktu. Karena Ia perlu waktu untuk kembali terlihat baik-baik saja usai dibentak oleh Dio dan menjadi pusat perhatian sepasang suami istri yang kelihatannya harmonis sekali di mata Shena.


“Kasian itu pasangannya, makan hati mulu kali tiap hari ya. Jahat banget bentak istrinya kayak tadi, untung yang liat kita doang, Ma. Kalau ada yang lain, apa nggak makin malu istrinya?”


Tak sengaja Dio menangkap ucapan seperti itu dari sepasang suami istri yang tadi sempat melihat situasi yang seharusnya tidak terjadi di tempat umum.

__ADS_1


Dio menelan salivanya dan entah kenapa ada rasa sesal di hati. Sampai dibicarakan oleh orang lain, artinya Ia sudah keterlaluan kah?


Mereka yang baru sekali melihat Ia membentak Shena tadi, sepertinya sudah bisa langsung bisa menilai kalau Ia bukanlah lelaki yang baik. Apalagi kalau mereka tahu, Dio terbilang sering melakukannya.


__ADS_2