
“Lo nggak sarapan di meja makan? Kok makan di kamar?”
“Yang penting nggak di tempat tidur ‘kan. Aku makan nya di sofa sama meja,”
“Iya gue tau cuma kok tumben nggak di ruang makan sarapannya?”
Begitu Dio keluar kamar mandi, Dio melihat Shena yang sedang makan di sofa kamar seorang diri. Ia pikir Shena sudah terlelap tapi ternyata tidak, Shena sedang mengisi perutnya.
“Ini tiba-tiba aja dianterin makanan sama kompres sama Mama dan Bibi,”
“Mama benar-benar anggap lo jadi anaknya. Gue bingung kenapa sih dia bisa sesayang itu sama lo?”
“Ya…mungkin karena Mama nggak punya anak perempuan. Lagian wajar ‘kan mertua saya menantunya. Memang seharusnya kayak gitu, pun sebaliknya menantu sayang mertua,”
“Kata Mama, lo perempuan yang baik. Yah elah, emang sebaik apa sih lo sampai orangtua gue sayang banget sama lo? Bahkan makanan aja diantar ke kamar, kayak ratu,”
Shena memilih untuk diam tak menanggapi ucapan suaminya. Sudah seharusnya Dio berkata langsung pada orangtuanya agar tidak terlalu baik kepadanya, tidak terlalu sayang kepadanya, itu ‘kan yang Dio mau. Daripada Dio hanya bicara kepadanya saja, tak ada guna karena Shena sendiri pun hanya ditugaskan untuk menerima kasih sayang mereka itu tanpa memberikan protes.
Dio sudah menunjukkan rasa kesal atas kebaikan kedua orangtuanya kepada Shena, tapi mereka tetap bersikap baik pada Shena. Tidak mungkin kedua orangtua Dio menyia-nyiakan Shena. Karena mereka tahu Shena itu perempuan luar biasa yang sabar, pembawaannya tenang, sejauh ini tidak pernah berbuat ulah yang membuat hati mereka hancur seperti apa yang telah dilakukan Amira yang jelas-jelas mereka yakini telah berselingkuh di belakang anak mereka akan tetapi mereka tetap tidak dipercaya oleh Dio.
“Dio, ini aku nggak minta kok, tiba-tiba aja mama kamu sama Bibi datang bawa makanan sama air kompresan,”
“Ya udah bagus deh, makan, istirahat, biar lo cepat sembuh. Karena kalau lo sakit, orang lain jadi repot, paham?”
“Ngerepotin kamu?”
“Ya, ngerepotin nyokap sama Bibi juga ‘kan jadinya,”
Shena menganggukkan kepalanya. Ia juga tidak ingin mendapatkan perlakuan istimewa dari penghuni rumah ini, Ia merasa sangat disayang dan diperhatikan. Tapi memang mereka sebaik itu.
“Iya aku minta maaf,”
__ADS_1
“Ngapain minta maaf?”
“Karena aku sakit jadi ngerepotin,”
“Makanya cepat-cepat sembuh deh lo. Gue mau berangkat,”
“Iya hati-hati,”
Dio keluar dari kamar meninggalkan Shena yang masih menikmati sarapannya seorang diri di dalam kamar.
“Dio, gimana Shena? Udah makan?”
Begitu tiba di ruang makan, yang pertama ditanyakan oleh mamanya adalah Shena, tentu saja.
“Lagi makan, Ma,”
“Shena nggak kuliah ‘kan?”
“Nggak, Ma. Dia bakal enak-enakan tuh seharian ini, istirahat di kamar mulu,”
“Halangan juga katanya, mungkin karena itu juga kali,” ujar Dio dengan tak acuh sambil duduk berhadapan dengan papanya yang sudah mulai bersantap.
“Kamu langsung pulang ya, istri lagi sakit jangan banyak keluyuran di luar rumah. Habis kuliah langsung pulang, terus bawa Shena ke rumah sakit deh,”
“Hah? Ngapain, Ma? Orang dia cuma demam aja kok,” ujar Dio yang tentu langsung menolak dengan halus dengan pertanyaan anehnya. Tentu saja ke rumah sakit untuk berobat karena Shena sedang sakit. Tapi menurut Dio sakitnya Shena itu sakit ringan. Jadi tidak perlu dibawa ke rumah sakit.
“Ya mau berobat dong, Dio. Masa ke rumah sakit mau main-main? Pertanyaan kamu nggak berbobot banget sih,”
“Ya tapi kenapa harus ke rumah sakit sih, Ma? ‘Kan dia cumam demam doang, bentar lagi sembuh setelah minum obat sama istirahat. Aku nggak mau ah bawa dia ke rumah sakit,”
****
__ADS_1
“Shena, udah makan belum, Nak? Udah minum obat?”
Ardina datang ke kamar anak dan menantunya untuk memastikan Shena sudah makan dan minum obat. Ardina tidak tenang ketika Shena jatuh sakit.
“Udah, Ma. Aku makan nya habis, Ma. Dan barusan aku udah minum obat,”
“Alhamdulillah kalau gitu. Ya udah istirahat ya. Nanti Dio pulang kuliah kalau masih belum mendingan, ke rumah sakit aja. Mama udah ngomong juga ke Dio,” ujar Ardina pada menantunya itu. Walaupun tadi sempat mendapat penolakan dari Dio. Tapi karena Sakti menegur dengan tegas, akhirnya Dio patuh juga.
“Ya udah deh, nanti aku anterin dia ke rumah sakit,” kata Dio tadi dengan wajah kesalnya. Dio kesal karena diminta untuk melakukan hal yang sebenarnya tidak ingin Ia lakukan. Ia tidak pernah perhatian pada perempuan manapun selain mama dan kekasihnya. Setelah Shena hadir di kehidupannya, Ia dituntut untuk perhatian pada perempuan yang sebenarnya tidak Ia inginkan sedikitpun kehadirannya.
“Nggak usah, Ma. Aku yakin bentar lagi juga udah sembuh kok. ‘Kan udah makan, udah minum obat, jadi nggak perlu ke rumah sakit,”
“Iya kalau mendingan bagus. Tapi kalau nggak, ngapain nunggu di rumah? Mendingan langsung ke rumah sakit,”
Shena tersenyum dan dalam hati bergumam “Emang Dio mau ya antar aku ke rumah sakit? Kalaupun mau, pasti Dio pasrah ditugasin sama Mama Papa. Jadi daripada Dio nggak ikhlas, mendingan nggak usah deh, aku di rumah aja. Lagian aku yakin bentar lagi sembuh kok,”
“Pokoknya gitu ya, Nak. Kalau nggak mendingan juga sampai nanti Dio pulang kuliah, kamu diantar Dio ke rumah sakit,”
“Iya, Ma,”
Shena mengiyakan, tapi semoga kondisinya nanti membaik. Tadi saja Dio sudah berkata bahwa Ia merepotkan, jadi jangan sampai Ia tambah merepotkan karena itu bisa membuat Dio semakin membencinya.
******
-Jangan ganggu aku lagi, Dio. Fokus aja sama keluarga kecil kamu. Aku nggak mau berurusan lagi sama kamu-
Dio diterpa rasa kecewa begitu mendapatkan pesan dari Amira. Ini balasan pesan yang tak pernah diinginkan oleh Dio.
Dio inginnya Amira membalas pesannya dengan ungkapan rindu, permintaan maaf karena pertemuan kemarin terjadi begitu cepat, dan tidak menyuruhnya untuk fokus pada keluarga kecil. Apa itu keluarga kecil? Dio tidak mau membangun keluarga kecil bersama siapapun kecuali Amira.
“Amira pikir gue bahagia kali ya bisa nikah sama Shena? Andai kamu tau, Mir, aku masih cinta sama kamu, aku belum bisa lupain cerita kita yang udah pernah kita buat berdua. Nggak segampang itu ngelupain. Aku benci sama Shena, walaupun dia udah jadi istri aku sekarang, karena sebenarnya bukan aku yang mau nikah sama dia,”
__ADS_1
Dio mencengkram ponselnya untuk melampiaskan emosi yang saat ini tiba-tiba datang. Perempuan yang sudah menciptakan jurang pemisah di antara Ia dan Amira saat ini sedang sakit dan Ia yang disuruh oleh mamanya untuk mengantar perempuan itu ke rumah sakit. Emosinya semakin menjadi saja. Suasana hati Dio langsung berubah seketika hanya karena pesan yang dikirimkan oleh Amira.
“Biarin aja dia sakit terus, biar sekalian pergi aja deh dari hidup gue. Males banget gue ngurusin dia. Gue nggak bakal balik. Lebih baik gue keluar cari ketenangan daripada antar dia ke rumah sakit. Gue nggak peduli sama keadaan dia,”