Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 85


__ADS_3

Dio berjalan dengan gagah seraya menggenggam tangan istrinya memasuki sebuah ballrooom hotel dimana acara pernikahan teman sekolah Dio dilaksanakan.


“Wuih rame banget, Mas. Di sini teman sekolaj kamu banyak ya? Coba kamu liat wajahnya satu persatu, Mas,”


Dio segera mengamati sekitar dan ya, Ia menemukan banyak wajah yang masih Ia kenali, sampai sekarang.


“Iya ada beberapa yang aku kenal,”


“Ada mantan kamu nggak?”


“Hmm belum ketemu sih,”


“Hah? Belum ketemu? Jadi ada kemungkinan ketemu ya?”


Dio terkekeh melihat mata Shena yang sedikit membeliak kemudian bibirnya melengkung ke bawah. Sudah Shena duga sebenarnya. Baru kali ini sepertinya Ia diajak Dio ke acara teman sekolah Dio, dan pasti akan bertemu dengan orang-orang di masa lalu Dio, tidak terkecuali mantan kekasih Dio di masa sekolah.


Mereka menemui pengantin. Agung, kini bersanding dengan Shandy, wanita pilihannya. Agung tampak senang melihat Dio datang.


“Wey, seneng banget lo datang, Dio. Thanks ya, udah lama banget kita nggak ketemu,”


“Iya, selamat ya, Gung, Shan. Semoga jadi keluarga yang samawa, langgeng terus dan cepat dapat momongan,”


“Thanks banget doanya,”


“Ajak bini nih,” ledek Agung seraya terkekeh dan menepuk bahunya.


“Iya, udah tau namanya belum?”


“Belum, siapa?”


“Aku Shena,” ujar Shena memperkenalkan dirinya dengan sopan dan hangat seperti biasanya.


“Oh, hallo Shena,”


“Okay, sekarang gabung aja dulu sama yang lain ya, gue masih harus temuin tamu,”


“You, gue cabut dulu,”


“Kok cabut sih, bro? Duduk-duduk sama makan dulu lah,”


“Iya maksud gue, gue mau duduk dulu, lo layanin tamu deh,”


“Iya silahkan,”


Konsep resepsi pernikahan Agung ini non formal. Agung dan Shandy kesana kemarin menyambangi tamu, sementara Dio dan Shena duduk.


“Kamu mau makan apa?”


“Aku nggak mau makan apa-apa, mau minum aja,”


“Minum apa, Bee?”


“Bee? Apa itu?”


“Panggilan saya aku mulai sekarang,” ujar Dio seraya terkekeh.


“Oalah, aku mau Ice cream,”


“Okay, aku ambilin ya,”


Shena menganggukkan kepalanya. Ia duduk dengan tenang, sementara Dio beranjak mengambilkan ice cream. Ia melihat ice cream dan langsung kepingin.


Di meja yang Ia tempati sekarang sepi, hanya ada Ia saja. Sementara di meja-meja lain ada beberapa orang yang berkumpul menjadi satu dalam satu meja. Kelihatan, kalau mereka saling mengenal dan akrab satu sama lain.


Tidak lama kemudian Dio datang dengan dua cup ice cream di tangannya. Dio segera duduk dan memberikan salah satu cup pada istrinya itu.


“Cuma satu aja, Mas?”


“Iya, satu buat aku,”


“Coba aku diambilin tiga, Mas. Aku kalau es mah nggak pernah nolak, kalau cuma satu kurang deh, Mas,”


“Jangan banyak-banyak, nanti batuk kamu, udah minum itu aja,”


“Aku nggak batuk, Mas,”


“Ya takutnya begitu. Dari semalam minum yang dingin-dingin terus,”


“Tapi beda, Mas. Itu ‘kan es buah,”


“Tapi sama-sama dingin, Sayang, judulnya sama aja. Eh nggak deh, kamu juga minum ice cream semalam. Ngaku aja deh kamu,”


Shena tertawa, Ia pikir suaminya tidak ingat lagi, ternyata masih ingat juga.


“Ya udah aku nyerah deh,”


Shena segera menyantap ice cream dengan lahap. Tidak lama kemudian ice cream itu habis. Matanya langsung melirik ice cream milik suaminya yang dimakan dengan pelan-pelan oleh Dio sebab Dio sambil memainkan ponselnya.


“Kenapa, Sayang?”


“Aku mau ice cream punya Mas boleh?”


“Jangan, tadi aku ‘kan udah bilang kamu minum satu aja, dengar omongan aku ya? Okay?”


“Tapi minta dikit boleh nggak?”


Melihat mata sayu istrinya yang meminta bagian lagi, Dio tidak tega. Akhirnya Ia menganggukkan kepalanya, Ia mengizinkan Shena untuk minta ice cream miliknya.


Shena langsung tersenyum lebar mendengar ucapan suaminya. Tanpa basa-basi, Shena segera meraih cup ice cream milik suaminya dan Ia lahap juga.


Sudah Ia katakan sebelumnya, yang namanya es atau minuman dingin, Ia tidak akan menolak. Apalagi ice cream, itu favorit nya Shena.


“Sayang, jangan banyak-banyak ya, aku baru minum dikit lho. Aku bukannya pelit tapi takut kamu batuk. Sakit lho batuk kalau lagi hamil. Apalagi kamu sekalinya batuk parah banget,”


“Iya, aku nggak banyak, cuma lima suap aja,”


“Lima suap itu banyak, Shen. Ih kamu nggak kira-kira nih, mau sakit ya? Nanti udah batuk, pilek, kalau lagi hamil sakit-sakitan itu nggak enak lho, Sayang,”


“Emang Mas tau rasanya sakit pas hamil? Emang nggak enak?”


“Ya iyalah, yang nggak hamil aja kalau sakit nggak enak, apalagi kalau lagi hamil,”


“Ya udah nih, aku balikin,”


Shena mendekatkan cup ice cream ke suaminya lagi dengan wajah cemberut. Ia baru juga minta dua suap. Tadinya mau lebih tapi suaminya tidak mengizinkan.


“Ya udah, boleh minta lagi, sini aku suapin,”


“Nggak ah, Mas nggak suka kayaknya kalau aku minta lagi,”

__ADS_1


Dio tertawa karena Shena merajuk hanya karena ice cream. Benar-benar menggemaskan sekali istrinya ini.


“Kata siapa aku nggak suka? Nih aku bagi lagi,”


“Beneran nggak apa-apa?”


“Iya beneran, aku suapin nggak?”


Shena kembali mengambil alih minuman dingin itu kemudian Ia menggeleng, menolak disuapi oleh suaminya.


“Nggak us—“


“Halo, Di,”


Shena membuka mulutnya dan sendok ice cream akan masuk ke dalam mulut tapi karena mendengar suara seseorang menyapa suaminya dan kini orang itu duduk di sebelah suaminya, Ia jadi mengurungkan niatnya untuk menyantap ice cream.


“Eh, Nada,”


“Gimana kabarnya, Di?”


“Baik, Alhamdulillah, lo sendiri?”


“Gue baik, ini siapa?” Tanya Nada seraya menatap wajah Shena.


“Agatha, istri gue,” ujar Dio memperkenalkan Shena pada Nada.


“Bee, ini Nada, teman aku,”


Shena langsung tersenyum ramah dan mengulurkan tangannya untuk memperkenalkan dirinya sendiri dan tangannya disambut baik oleh Nada.


“Aku Shena,”


“Hai, Shena. Gue Nada,”


“Ini teman sekelas di SMP,” kata Dio menjelaskan pada istrinya yang pasti masih bingung, Nada ini teman sekelas atau bagaimana, karena kelihatan Nada akrab dengannya, berarti sebelumnya memang mereka kenal dekat.


“Lo cuma sendirian aja?”


“Iya, gue udah nggak sama suami gue lagi, Shen,”


“Lho, kenapa?”


“Gue ‘kan pisah, udah mau setahun sih,”


“Terus gimana sama anak lo?”


Nada terkekeh mendengar pertanyaan Dio yang menanyakan soal anaknya. Ia belum punya anak, makanya perutnya terasa tergelitik mendengar ucapan Dio.


“Gue belum punya anak, Di,”


“Oh sorry-sorry, gue nggak tau,”


“Iya nggak apa-apa, santai aja,”


“Gue duluan ya, soalnya ada acara lagi,”


Dio menganggukkan kepalanya dan tersenyum pada Nada yang pamit padanya dan juga Shena.


Setelah Nada bergegas pergi meninggalkan mereka berdua, Shena langsung menjawil punggung tangan Dio yang ada di atas meja.


“Itu teman satu kelas sama kamu, Mas?”


“Oalah, pantes aja akrab banget. Ternyata mantan ya,”


“Iya tapi cuma bentar aja pacarannya, cinta monyet pula hahaha,”


Shena tidak pernah bertanya terlalu dalam soal masa lalu Dio. Yang Ia tahu benar soal mantan Dio ya hanya Amira saja. Lebih daripada itu Ia tidak tahu dan tidak pernah membahasnya, Dio sendiri juga seperti itu.


“Kamu nggak kontakan lagi sama dia, Mas?”


“Nggak, Bee, emang kenapa?”


“Di Whatsapp? Di instagram nggak sama sekali?”


“Nggak ada, orang setelah putus benar-benar jauh, nggak ada kabar-kabaran lagi, tapi hubungan terakhir tetap baik walaupun udah putus juga. Soalnya ‘kan teman sekelas, jadi nggak enak juga kalau diem-dieman ‘kan. Cuma memang lebih jaga jarak aja sih, soalnya nggak lama putus dari aku, dia juga udah langsung punya pacar,”


“Oh, terus kalau Mas sendiri langsung ada pengganti?”


“Nggak ada,”


“Jadi setelah putus dari dia Mas lama move on?”


“Aku memang nggak pernah cepat-cepat mutusin buat pacaran, Shena. Kalau pacaran juga lumayan lama. Dia aja bisa sampai enam bulan, kalau teman-teman aku dulu tuh ada yang cuma seminggu, udah kayak anak kecil pacaran aja ya tapi emang anak kecil sih hahaha,” ungkap Dio seraya terkekeh mengingat momen masa remajanya yang pernah diisi dengan cinta monyet juga.


“Oalah, okay-okay aku paham. Selesai sampai di sini pembahasan kota soal mantan Mas. Aku nggak mau dengar lagi ah,”


Dio terkekeh dan tangannya maju, bergerak untuk mengusap puncak kepala istrinya itu. Yang bertanya Shena tapi giliran Ia menjawab, Shena kelihatannya sedikit kesal. Memang aneh sekali istrinya ini.


“Ayo kita pulang,”


“Ini ice cream kamu belum dihabisin,”


“Ya udah habisin lah sama kamu,”


“Beneran?” Tanya Shena dengan semangatnya. Telinganya langsung lebar begitu mendengar ucapan Dio yang tidak masalah bila ice creamnya Ia yang menghabiskan.


“Iya nggak apa-apa, hanya sekali ini aja, nanti sampai rumah berhenti minum yang dingin, apalagi malam-malam,”


“Okay siap, beneran ini buat aku?”


“Iya, Sayangku,”


“Yeayy makasih, Mas,”


Dio tersenyum tipis melihat istrinya yang bahagia sekali diberikan ice cream. Kebahagiaan Shena memang sederhana. Salah satu contoh adalah ini. Diberikan ice cream saja bahagianya luar biasa.


“Sama-sama. Kamu habiskan ice cream, setelah itu kita pulang ya,”


“Okay siap, Mas,”


Shena menyantap ice cream yang harusnya punya Dio, tapi baru juga diminum oleh Dio, Ia sudah mengambil alihnya.


“Pelan aja minumnya,”


“Enak banget, Mas. Rasa strawberry itu memang paling enak deh, sama kayak vanila. Eh tapi sebenarnya ice cream rasa lain juga enak sih, kayak—-uhuk uhuk uhuk,”


“Tuh ‘kan, aku bilang juga pelan-pelan. Kamu sambil ngobrol juga sih makannya,”


“Aku ambil dulu air putih untuk kamu,”

__ADS_1


Shena menggerakkan tangannya menolak namun Dio tetap bergegas cepat mengambil air putih supaya istrinya minum itu selepas menghabiskan ice cream yang manis rasa strawberry itu.


Dio datang dengan satu gelas air putih di tangan, Ia langsung mengulurkan gelas itu pada Shena lalu duduk menatap Shena dengan cemas. Shena masih diam menatap ke depan sambil memegang tenggorokannya.


“Gimana? Sakit ya?”


“Nggak, cuma kaget aja,”


“Hati-hati, Bee, kamu terlalu semangat,”


“Iya, maaf, padahal aku udah hati-hati lho, tapi emang semangat banget dapat ice cream. Mas, nanti beli yang banyak ya, kata dokter boleh aja kok karena ada asupan kalsium dari susunya—“


“Selalu pakai alasan kata dokter. Iya aku tau memang dibolehkan konsumsi ice cream bagus ada kalsium dengar-dengar nambah berat badan bayi juga, tapi ‘kan nggak terlalu berlebihan juga, Sayang. Apapun yang berlebihan itu dampaknya nggak baik,”


“Iya-iya aku paham,”


“Ya udah terus kenapa masih dilakuin? Udah tau nggak baik, tapi tetap aja semalam minum ice cream sampai tiga cup lho, mentang-mentang ada di kulkas. Kamu kalau udah punya anak, bisa-bisa rebutan ice cream lho. Soalnya kamu nggak mau kalah pasti,”


“Aku suka, Mas, tapi ya nggak rebutan juga kali, Mas,”


“Habisnya kamu sampai keselek begitu, aku ‘kan takut kamu kenapa-napa,”


“Cuma keselek aja, Mas, bukan kejang,”


“Heh ngomongnya!”


Shena langsung melipat bibirnya ke dalam ketika Dio menatapnya tajam seperti ayah yang tengah mengomeli anaknya.


“Hmm enak,” ujar Shena mengalihkan obrolan, supaya tidak tersedak lagi yang dibahas.


“Pelan aja,”


“Iya, ini udah tinggal dikit, Mas. Kamu beneran nggak mau ‘kan, Mas?”


“Beneran, ambil aja,”


Dio membersihkan sudut bibir istrinya menggunakan ibu jarinya. Setelah itu Ia kecap dengan mulutnya sendiri.


“Ih Mas jorok, masa bekas aku di—“


“Lah emang kenapa sih? Orang dari bibir kamu ini bukan dari bibir perempuan lain,”


Shena terkekeh dengan malu-malu Ia membersihkan seluruh permukaan bibirnya. Setelah itu Ia menyeruput air putih untuk menetralisir rasa manis di mulutnya.


“Dah, yuk kita pulang,”


“Okay, kuy balik,”


Dio meraih tangan istrinya setelah itu mereka jalan bersama keluar dari tempat berlangsungnya acara.


Hampir saja mereka masuk ke mobil, Dio dan Shena mendengar suara perempuan dan laki-laki ribut.


Keduanya langsung menoleh penasaran ke sumber suara yang ternyata adalah Nada dengan seorang laki-laki yang tidak dikenali oleh Shena.


Tadinya Dio mau masa bodo, tapi melihat Nada yang akan ditampar wajahnya, Ia langsung bergerak mendekat mengabaikan panggilan istrinya yang cemas dan tidak ingin suaminya ikut campur dalam masalah orang.


“Heh! Mau main tangan lo? Hah?! Laki bukan?”


Pria itu langsung beralih menatapnya setelah menurunkan salah satu tangan yang akan menampar wajah Nada hingga Nada sudah memegang pipinya sendiri dengan maksud melindungi. Nada pun ikut menatap Dio.


“Lo siapa? Gue nggak ada urusan sama lo,”


“Ya memang gue nggak punya urusan apa-apa sama lo, tapi tolong jaga sikap ya! Dia ini perempuan, lo kalau ada masalah sama dia, tolong selesaikan dengan cara baik-baik bukan dengan kekerasan,”


“Halah banyak bacot lo, njing!”


Dio hampir saja diberikan bogem mentah dari pria itu, tapi beruntungnya Dio berhasil menangkisnya. Shena yang melihat itu memekik kaget dan tanpa basa-basi Ia berlari ke arah suaminya seolah lupa di dalam perut itu tengah membawa dua jabang bayi. Shena terlalu khawatir dnegan keadaan suaminya. Ia takut terjadi sesuatu pada sang suami.


“Eitss nggak kena nih, bro. Lo kurang jago mainnya,”


Dio paling pantang kelihatan takut kalau akan diserang seperti itu oleh orang. Justru Ia akan tampil percaya diri dan optimis. Apalagi ketika Ia berhasil menangkis tinju pria itu, senyum sinis dan menantang terpatri di bibir Dio.


“Lo harus bisa jaga sikap. Sekali lagi, dia itu perempuan. Lo ‘kan lahir dari seorang perempuan, jadi harusnya lo bisa perlakukan dia lebih baik, sama kayak lo memperlakukan ibu lo atau mungkin saudara perempuan lo,”


“Lo nggak usah ikut campur! Dia itu mantan istri gie! Jadi—“


“Nah, apalagi dia cuma mantan lo. Dia masih jadi istri aja nggak berhak lo gituin, apalagi kalau udah jadi mantan. Pintar-pintarlah jaga sikap. Biar bagaimanapun, dia pernah lo cinta,”


Pria itu bosan mendengar nasehat Dio terus, akhirnya Ia melayangkan tendangan tepat di ulu hati Dio. Ketika Dio terjatuh, Shena yang baru tiba di dekat mereka langsung memukul pria itu dengan tasnya.


“PERGI! JANGAN SAKITIN SUAMI SAYA! KANTOR POLISI DI DEKAT SINI, SAYA BAKAL LAPORIN KAMU KE POLISI!”


Bahkan Nada pun ikut melerai. Nada langsung menarik lengan pria itu ketika Ia akan meraih kerah baju yang dikenakan Dio. Dia sudah menginjak perut Dio hingga dia kesakitan, masih akan ditarik juga kerahnya. Benar-benar keterlaluan.


“PERGI! BAJINGAN!”


Shena terus mengusir lelaki itu agar berhenti menyakiti suaminya. Setelah Ia dan Nada mendorong-dorong pria itu agar pergi, barulah dia pergi. Tapi sebelum Ia pergi, Dio sudah dihadiahi tonjokan di bibirnya, dan Dio tak ingin kalah. Ia pun sempat melayangkan kepalan tangannya ke wajah pria itu ketika dia menunduk.


“Ya Allah, Mas! Aku nggak suka kamu ngorbanin diri kamu sendiri hanya untuk orang lain! Kamu seharusnya nggak kayak gini!”


Shena terlalu khawatir sampai akhirnya Ia marah. Pelupuk matanya sudah buram karena kumpulan air mata yang sedari tadi Ia tahan.


Ia membantu Dio untuk duduk. Lelaki itu meringis sambil memegang perut dan juga sidir kanan bibirnya.


“Dio, sebelumnya terima kasih lo udah bantu gue, tapi lo seharusnya nggak ngelakuin ini. Dia itu memang kasar, itulah sebabnya gue pisah dari dia, lo harusnya nggak usah ikut campur sampai jadinya malah luka kayak gini,”


“Ayo, Mas, aku antar ke rumah sakit,”


“Nggak-nggak, aku bisa istirahat di rumah, nanti pasti udah enakan kok,”


“Mas—“


“Nggak usah, Bee. Aku baik-baik aja, cuma sakit dikit,”


Dio beranjak bangun dengan dibantu oleh Shena dan juga Nada. Setelah itu keduanya memapah Dio masuk ke dalam mobil di bagian samping kemudi.


“Aku yang nyetir,” ujar Shena yang tidak mengizinkan suaminya mengambil alih kendaraan.


“Terimakasih, Nada,” ujar Shena pada perempuan yang tak lain adalah mantan kekasih suaminya itu.


“Shena, maaf banget ya, gue minta maaf atas nama pribadi dan mantan gue,”


“Ya, aku pamit pulang dulu ya,”


Shena langsung masuk mobil tanpa basa-basi sebab Ia tidak ada waktu lagi. Ia harus segera membawa Dio ke rumah sakit demi memastikan lelaki itu baik-baik saja.


“Ke rumah ya, Shen. Aku nggak mau ke mana-mana,”


“Mas, tadi kamu dihajar sama dia. Bahkan dia injak perut kamu dengan puasnya, aku takut kamu kenapa-napa, Mas!“

__ADS_1


Shena kalap sampai dia menyetir sambil bicara dengan nada tinggi. Ia juga kesal dengan Dio yang tidak mau dibawa ke rumah sakit.


__ADS_2