Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 141


__ADS_3

“Aku tanya papa mama ya supaya jelas? Benar atau nggak pernah ajak dia ke rumah,”


Shena menantang suaminya. Barangkali Dio berbohong, pasti Dio akan merasa ketar-ketir kalau Ia melibatkan papa dan mamanya itu.


“Ya udah kalau nggak percaya. Emang beneran kok, aku nggak pernah ngajak dia ke rumah,”


“Bohong nih,”


Shena menusuk pinggang suaminya dengan jari telunjung dan itu membuat Dio berjengit kaget. Cepat-cepat Ia bergegas menjauh dari Shena dengan Shofea yang masih Ia gendong.


“Beneran lah, Bee. Aku nggak bohong. Emang seingat aku belum pernah dikenalin apalagi diajak ke rumah,”


“Aku nggak percaya ah,”


Dio tertawa dan Ia tidak mau ambil pusing bila istrinya mau percaya atau tidak. Yang penting Ia sudah berkata jujur. Itu yang Ia ingat, dan itu yang Ia sampaikan pada Shena.


“Jujur aja deh, Mas,”


“Ya aku udah jujur, Sayang,”


Shena akan menggelitik suaminya lagi namun Dio kembali memberi jarak. Shofea yang merasa dibawa berjalan cepat justru terkekeh.


“Lah ketawa dia,”


“Dikiranya kamu lagi ngajakin dia bercanda kali,”


“Iya kayaknya, gemes banget masa ketawa padahal nggak diapa-apain ya,”


“Shofea, suruh Om kamu itu jujur. Buruan, Shofea, biar dia jangan bohong. Udah berapa banyak yang dibawa ke rumah ini, Shofea? Cepat suruh Om jujur,”


“Buset, berapa banyak gimana maksudnya? Emang aku koleksi cewek?”


“Iya Mas ‘kan playboy,”


“Dih enak aja. Sok tau kamu nih,”

__ADS_1


“Emang bener Mas tuh playboy, aku tebaknya begitu,”


“Bisa-bisanya nebak tapi pede banget,”


Shena tertawa dan Ia masih sambil makan serabi, cepat-cepat Ia menyelesaikan makannya supaya bisa lebih garang lagi menekan Dio.


“Buruan jujur!”


“Udah jujur,”


“Kalau nggak jujur, aku suruh tidur di luar nih,”


“Ya jangan dong, orang aku udah jujur kok. Beneran belum dibawa ke rumah, Bee,”


“Yaudah aku percaya kalau gitu,”


“Erghh dari tadi seharusnya percaya,”


“Kalau udah diteken sama aku jawabannya masih sama, berarti emang bener jujur berarti,”


“Ya udah jangan banyak omong, buruan sini kasih Shofea, aku mau gendong lagi,”


“Eh belum cuci tangan habis makan,”


“Oh iya, okay bentar ya. Habis aku cuci tangan, Shofea kasih ke aku,”


“Emang dia mainan di kasih-kasih,”


“Ih pokoknya gantian, Mas,”


“Iya bawel. Ya udah sana cuci tangan, aku kasih Shofea nanti,”


Shena mengangguk puas mendengar jawaban sang suami. Setelah itu Ia segera bergegas membasuh kedua tangannya sampai bersih sebelum mengambil alih putri cantik Sehan dan juga Tania yang menjadi rebutan antara Ia dan Dio.


Shena kembali mendekati suaminya yang masih menggendong Shofea yang nyaman sekali. Dengan manja anak itu menyandarkan kepalanya di bahu sang paman sambil Dio menggerakkan sedikit badannya.

__ADS_1


“Sini Aunty gendong lagi,”


“Bentar-bentar,”


“Ih nggak mau, tadi katanya boleh aku yang gendong,”


“Erghh cerewet ya, nggak bisa banget liat suaminya seneng, udah tau masih belum rela jauh dari Shofea,”


“Jauh? Orang satu rumah juga,”


Shena tersenyum lebar begitu suaminya menyerahkan Shofea kepadanya. “Yeayy Shofea digendong Aunty lagi, berasa gendong boneka,”


“Kamu kalau diliat-liat agak mirip Shofea lho,”


“Nggak ah, mirip mama papa nya lah,”


“Iya itu udah pasti, tapi kamu sama dia juga agak mirip lho, Bee,”


“Yang ada juga kamu sama Shofea yang mirip, Mas. Alis sama hidung mirip, soalnya Abang sama Mas ‘kan juga mirip,”


“Halo kawan-kawan mari olahraga,”


Shena dan Dio sontak menoleh bersamaan ke arah sumber suara yang tak lain berasal dari mulutnya Sehan.


Datang-datang langsung nyanyi dengan riangnya. Kelakuannya itu mengundang tawa Shena sementara Dio mendengus.


“Apaan sih lo, nggak lucu ah,”


“Dih siapa yang ngelawak? Nggak ada yang lawak, lo aja nggak jelas,”


“Eh, gue mau kasih tau sama lo nih ya. Lo ‘kan udah jadi bapak, harusnya bisa dong pengertian sama anak. Lo tuh jangan suka iseng sama Shofea. Dia itu keponakan gue tau nggak? Lo kalau mau macam-macam, jangan sama dia deh mendingan,”


Sehan mengangkat satu alisnya bingung. Kini Dio berdiri di depannya dengan pose tolak pinggang.


“Lah dia yang galak, padahal anak siapa coba?”

__ADS_1


“Anak lo lah, tapi lo ngapain bikin dia nangis? Hah? Udah tau anaknya tukang ngambek, eh masih suka cari masalah. Kalau dia lagi anteng tuh, anteng main kek, anteng tidur kek, atau anteng makan kek, lo jangan ganggu! Ngerti nggak? Masa lo tega banget ganggu ponakan gue? Akhirnya dia nangis ‘kan, terus kalau dia nangis dan ngambek sama lo, yang repot siapa? Emaknya lah,”


__ADS_2