
Dio menoleh pada Shena yang tengah memoles bibirnya dengan pelembab. Mereka sudah hampir tiba di toko Shena tapi Shena lupa belum menggunakan pelembab bibirnya.
"Udah sampai nih, Bee,"
"Iya sabar, Mas. Ini lagi simpan lipbalm,"
Shena menarik resleting tasnya kemudian menatap Dio dengan senyuman. "Aku pamit ya,"
"Okay, hati-hati, semangat kerjanya,"
"Mas juga ya, bye, Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam,"
Usai mencium punggung tangan sang suami, Shena segera membuka pintu mobil untuk keluar. Setelah itu melambaikan tangannya pada Dio yang menurunkan jendela mobilnya sedikit.
"Hati-hati, Mas,"
"Iya, Bee. Nanti Insya Allah aku jemput,"
"Kabari ya supaya aku enggak nungguin dan bingung kayak kemarin,"
Dii terkekeh dan menganggukkan kepalanya. Kemarin Ia sedang dalam mode yang menyebalkan untuk Shena.
Mobil Dio akan melaju. Ia sempatkan waktu untuk menoleh sekali lagi pada istrinya yang akan masuk ke dalam toko.
Namun Ia melihat seorang pria dengan mengenakan masker dan topi mendekati Shena dengan satu bucket bunga di tangannya. Perasaan Dio tidak enak. Hatinya berkata bahwa Ia harus turun dari mobil sekarang juga untuk menghadang lelaki yang sepertinya adalah sosok pengirim bunga, makanan, maupun perhiasan untuk Shena belakangan ini.
Dio keluar dari mobil dan berlari sambil berseru "WOY!" suaranya yang kencang berhasil membuat Shena dan pria asing yang ada di belakang Shena itu menoleh terkejut. Shena mengira suaminya sudah berangkat kerja tapi ternyata masih ada di depan toko dan bahkan kini berlari setelah keluar dari mobil.
Yang membuat Shena kian terkejut adalah ketika mendapati seorang pria berlari menjauh darinya.
__ADS_1
Dio mengejar lelaki tersebut. Shena benar-benar dibuat terperangah dengan itu. Ia tidak paham mengapa Dio tiba-tiba mengejar pria asing itu.
"Tha, kok lo enggak masuk? Lihat apa sih?"
"Iya nanti, duluan aja, Sat,"
Satria berlalu masuk ke dalam toko sementara Shena memilih untuk berdiri di depan toko menunggu suaminya kembali.
"Mas Dio kenapa ngejar orang itu ya? Terus siapa dia?"
Shena memilih untuk menyusul suaminya daripada perasaannya tidak tenang. Ia tidak menemukan Dio, sepertinya lelaki itu sudah lari jauh sekali.
"Bakalan telat Mas Dio,"
Shena berjalan terus sampai akhirnya Ia melihat Dio berjalan berlawanan arah dengannya.
Dio berlari cepat menghampiri Shena yang malah menyusulnya bukan masuk ke toko. Melelahkan badan saja.
"Aku khawatir, Mas. Lagipula kamu udah telat lho, Mas,"
"Aku yakin dia orang yang udah kirim-kirim bunga dan segala macamnya ke kamu,"
"Kenapa kamu bisa tahu, Mas?"
"Bee, tadi dia jalan di belakang kamu mau dekat ke kamu sambil bawa bunga di tangannya. Aku sempat lihat dia pakai masker sama topi. Aku yang udah punya perasaan enggak enak langsung aja keluar mobil dan dia kabur. Artinya dia takut ketemu aku,"
"Ya Allah yang benar kamu, Mas? Jadi dia udah tahu tempat kerja aku dong? Terus gimana, Mas? Dia bakal macam-macam enggak ya? Rumah udah tau, sekarang toko aku pun dia tau,"
"Enggak apa-apa, Bee. Kamu tenang aja, Insya Allah kamu aman. Tadi itu hampir berhasil ketemu dia tapi sayangnya aku enggak sengaja hampir nabrak motor ibu-ibu. Tau 'kan gimana rempongnya kalau udah punya urusan sama ibu-ibu? Jadi ya aku gagal ngejar dia yang udah terlanjur lari jauh banget,"
"Tapi kamu enggak apa-apa ' kan, Mas?"
__ADS_1
"Iya aku baik-baik aja. Ya udah kita balik ke toko kamu yuk,"
Shena mengangguk, dan tumit mereka berputar kembali ke toko Shena. Napas Dio masih memburu, keringat di tangannya masih bisa Shena rasakan dan itu membuat Shena tidak tega. Mana Dio harus langsung berangkat ke kantornya karena bisa dibilang Dio sebenarnya sudah terlambat.
"Kamu istirahat aja dulu di toko aku, Mas. Kamu masih ngos-ngosan terus ini tangannya aja masih keringatan, apalagi keningnya," ujar Shena sambil mengguncang pelan tangan sang suami. Dio langsung menggelengkan kepalanya.
"Nanti juga hilang keringatnya, 'kan mau masuk mobil, Bee,"
"Paling enggak, minum dulu, Mas,"
"Enggak usah, aku mau langsung berangkat aja, Bee," ujar Dio seraya tersenyum pada perempuan yang berjalan di sampingnya ini.
Mereka tiba di depan toko Shena, dan Dio langsung pamit pada istrinya itu. Shena menghapus jejak peluh di kening dan leher Dio.
"Kamu olahraga dadakan ini namanya, Mas. Udahlah lain kali enggak usah kayak tadi ya,"
"Gimana aku enggak kejar, Bee? Aku yakin dia orang yang udah ganggu kita. Sialnya aku belum tau siapa dia. Tadi padahal udah hampir dapat tapi aku malah hampir nabrak ibu-ibu akhirnya kena sembur,"
Shena ingin tertawa karena membayangkan secupu apa Dio ketika dihadapkan dengan omelan ibu-ibu itu. Tapi kasihan Dio kalau dirinya malah tertawa setelah Dio menyampaikan kesulitannya tadi dalam mengejar orang yang sudah mengganggu mereka belakangan ini.
"Padahal aku mau kasih dia pelajaran, tapi malah gagal," ujar Dio sebelum berjalan mendekati mobilnya.
"Lagian enggak usah, Mas. Aku takut dia berbahaya,"
"Bodo amat, sebahaya apapun bakal aku hajar sih kalau ketemu. Bukannya aku emosian atau apa ya, Bee. Tapi dia tuh emang udah keterlaluan ganggu kita,"
Shena mengikuti langkah Dio yang akan memasuki mobilnya. Dio mencubit sekilas pipi Shena yang terasa dingin, mungkin karena masih pagi dan bekas air mandi tadi.
"Aku berangkat ya. Kali ini beneran berangkat enggak cuma ngomong aja," ujarnya seraya terkekeh pelan.
"Iya, Mas. Hati-hati, enggak usah dipikirin soal orang itu. Nanti juga bakal dapat pelajaran dari Tuhan kalau memang punya niat enggak baik untuk kita,"
__ADS_1
"Kalau ada apa-apa jangan sungkan hubungi aku ya, Bee. Dia pasti bakal datang lagi ke sini cuma tunggu waktu yang menurut dia pas aja, makanya kamu harus waspada ya. Seperti yang kamu bilang tadi, takutnya dia itu berbahaya,"