
"Assalamualaikum halo, Jer. Kamu mau nikah ya? aku udah terima undangannya,"
"Waalaikumsalam, iya aku mau nikah nih, doain ya, dan jangan lupa datang,"
"Iya Insya Allah aku datang kok. Semoga lancar sampai hari pernikahan ya. Aku doain semua urusan dilancarkan,"
"Aamiin, terimakasih untuk doanya,"
"Jadi siapa nih calon kamu, Jer? aku belum kenal,"
"Iya yang waktu itu pernah aku ceritain itu lho, Shen. Setelah pedekate aku sama dia makin kenal satu sama lain, terus akhirnya mutusin untuk nikah deh,"
"Woah Alhamdulillah. Akhirnya kamu bawa cewek ke pelaminan. Selamat ya, langgeng terus pokoknya,"
"Belum nikah, Shena,"
"Iya tapi 'kan bentar lagi. Aku doain semua yang terbaik untuk kamu. Harus kuat-kuat iman, Jer. Biasanya menjelang hari pernikahan ada aja tantangan yang harus kamu sama dia lewatin. Pokoknya tetap semangat dan berdoa supaya semuanya lancar-lancar aja,"
"Aamiin, gue harus dengerin apa kata lo nih, soalnya udah berpengalaman,"
"Iya dong, biar kamu nggak pantang nyerah sampai sah,"
"Sip, thanks banget ya, Shena. Pokoknya jangan lupa datang! sama Dio juga,"
"Okay Insya Allah aku datang sama Mas Dio,"
"Makasih ya, Assalamualaikum,"
"Waalaikumsalam,"
Shena meletakkan ponsel genggamnya di nakas setelah itu menatap Dio yang tengah berkutat dengan ponsel.
"Mas Andra, kita Insya Allah datang 'kan?"
"Iya Insya Allah, kamu takut banget nggak dateng ke acara dia," ujar Dio seraya melirik sang istri yang langsung terkekeh. Ia benar-benar tidak ingin melewatkan acara pernikahan Jerry.
"Soalnya aku pengen banget hadir, Mas,"
"Iya soalnya dia hampir pacaran sama kamu ya,"
"Ih tapi kenyataannya 'kan nggak, Mas,"
"Kamu kenal sama calonnya dia itu?"
"Nggak, aku nggak kenal, emang kenapa?"
"Barangkali aja kamu kenal sama dia. Mereka satu tempat kerja atau gimana? Jerry cerita-cerita sama kamu?"
"Aku nggak tau, Mas, Jerry pernah cerita kalau dia pedekate sama cewek itu, aku pikir nggak jadi, eh nggak taunya malah sampai ke jenjang pernikahan, Insya Allah,"
"Jadi kamu belum pernah ketemu aama dia?"
"Hmm belum sih, emang kenapa?"
"Ya nggak apa-apa. Kali aja kamu udah kenal sama calonnya,"
"Mas mau kenal?"
"Lah, kenapa jadi aku?"
Shena tertawa melihat suaminya itu menunjuk dirinya sendiri. Dengannya saja belum pernah berkenalan, apalagi dengan Dio. Jerry belum cerita banyak soal calon istrinya itu.
"Mas kalau waktu nikahan Nada hadir nggak?"
"Lah kok Nada yang dibahas?"
"Aku cuma tanya,"
Dio tertawa karena pertanyaan istrinya yang terkesan aneh juga tiba-tiba. Padahal mereka sedang tidak membahas soal Nada, melainkan Jerry.
"Aku nggak datang ke acara nikahnya dia sama mantan suaminya. Kamu aneh banget nanyain itu, Bee. Emang kenapa?"
"Nggak apa-apa, aku mendadak penasaran aja gitu, Mas,"
"Nggak datang, Sayang, aku aja nggak tau kapan dia nikah,"
"Kalau dia tau kapan Mas nikah sama aku?"
"Nggak juga, aku sama dia komunikasi setelah ketemu waktu itu aja,"
"Tapi sekarang masih suka DM kamu?"
"Nggak, Bee. Dia DM aku setelah kita ketemu sama dia 'kan. Terus dia kebetulan lagi pengen beli rumah dan aku nggak bisa bantu banyak, akhirnya aku suruh ke temen aku yang ngerti soal rumah, jadi udah selesai deh pembahasan aku sama dia. Kita udah nggak chatingan lagi, Bee. Lagian ngapain chat mulu, itu mah ada niat terselubung namanya,"
"Tau nggak sih, saking takutnya liat dia chat lagi di DM, aku nggak mau buka-buka akun kamu, Mas,"
"Lho, kenapa takut?"
"Ya aku nggak mau overthinking, Mas,"
Dio terkekeh dan tangannya bergerak mengusap kepala Shena yang memilih untuk menutup saja ketimbang malah hatinya merasa gerah.
"Takut cemburu ya?"
"Daripada cemburu mending nggak usah liat. Iya 'kan, Mas?"
"Cemburu juga nggak apa-apa sih, asal nggak berlebihan. Kamu selama ini nggak pernah tuh berlebihan dalam hal apapun, dan itu bikin aku senang, tapi kalau cemburu udah datang, kadang nyebelin juga ya, suka nyindir-nyindir gitu,"
"Nyindir gimana?"
"Itu si Tari nggak perhatiin kamu lagi? Nada masih chat kamu tuh, ngomong apa lagi sih dia, kayak cari perhatian aja dia ya, Mas,"
Dio memperagakan istrinya ketika bicara soal wanita-wanita yang pernah dekat dengan suaminya. Shena kadang dalam mode cuek dan elegan menanggapi orang-orang yang menurutnya menyebalkan. Tapi tak jarang menggerutu juga.
"Aku cerewet ya, Mas? maklum lagi hamil soalnya, nggak mau juga suaminya digondol orang,"
"Lah berarti kalau udah nggak hamil nggak takut lagi suami diambil orang?" tanya Dio seraya mengusap perut Shena dengan lembut dan itu menghadirkan kenyamanan untuk Shena yang kebetulan memang sedang merasakan sedikit kram di perut.
"Ya tetap takut lah, Mas. Aku nggak mungkin nggak takut kehilangan kamu, Mas,"
*****
Shena duduk bersandar di kepala ranjang sambil terus mengusap perutnya dengan lembut. Dengan Ia memperdengarkan surah-surah dari kitab sucinya, ada reaksi yang diberikan dari dalam perutnya yang membuat Shena tersenyum senang.
"Ayo tendang terus, Sayang, mama tungguin, tapi kalau bisa jangan terlalu kencang-kencang ya, agak sakit soalnya. Agak kok, nggak sakit banget," ujar Shena mengajak calon dua anaknya mengobrol. Padahal rasanya cukup sakit tapi Shena hanya mengakui sedikit. Harapannya mereka makin aktif bergerak. Kalau mereka aktif, Shena senang sekali. Walaupun Ia harus merasakan nyeri yang cukup mengganggu, bahkan ketika tidur sekalipun mereka tidak sungkan mengganggu.
Hanya saja Shena bersyukur dengan momen-momen yang Ia rasakan selama mengandung sekarang ini. Nanti kalau kedua anaknya sudah lahir Ia pasti akan rindu dengan momen dimana ketika Ia tengah mengandung mereka berdua. Belum tentu juga momen itu akan kembali terulang.
Karena Shena masih pikir-pikir ulang alias menimbang supaya dapat keputusan yang tepat ingin menghadirkan anak lagi natinya setelah dua anaknya sudah agak besar, atau justru merasa cukup dengan dua anak.
Kalau dari Dio sendiri sebagai suaminya menyerahkan keputusan pada Shena, hanya saja Dio juga punya keinginan tapi dia tidak mau memaksa.
"Mas, aku sama kamu punya anak berapa ya?"
"Kalau yang Insya Allah coming soon 'kan dua, Bee,"
"Iya maksud aku, menurut Mas, aku hamil lagi atau nggak usah ya,"
"Kalau aku sendiri sih sebenarnya pengen satu lagi. Tapi terserah kamu. Aku nggak mau paksa kamu, Bee. Kalau seandainya kamu cukup dua, ya nggak masalah, aku nggak akan kecewa apalagi sampai maksa. Aku tau hamil dan melahirkan itu nggak mudah banget, jadi aku serahin semuanya ke kamu,"
"Tapi Mas pengen banget ya?"
"Kalaupun pengen, ya nggak harus punya, Sayang," ujar Dio seraya tersenyum lembut. Dio tidak mau istrinya merasa terbebani dengan keinginannya untuk punya anak lagi alias tambah satu anak setelah yang dua lahir dan usianya sudah pantas untuk memiliki adik.
"Kita kalaupun punya juga tunggu yang dua ini agak gedean ya, Mas. Lima tahun kali ya biar pas,"
"Iya aku juga setuju. Jadi mereka berdua bisa puas dulu dapat perhatian dari kita,"
Shena terbangun dari lamunannya yang tengah mengingat momen dimana ia dan Dio membicarakan perihal anak mereka.
"Mas, kamu udah perginya?"
Dio masuk ke dalam kamar dan langsung disambut dengan pertanyaan itu dari sang istri.
"Iya udah, Bee. Kamu lagi ngapain?kenapa perutnya dipegang-pegang? kamu sakit?" tanya Dio.
Setelah lelaki itu membasuh tangan di kamar mandi Ia duduk di sebelah Shena yang belum selesai juga mengusap perutnya sendiri.
"Sakit perut, Shen?"
"Nggak kok, Mas,"
__ADS_1
"Oh lagi pakai belly buds," gumam Dio setelah menemukan alat untuk memperdengarkan lantunan ayat-ayat suci kepada anak mereka dengan cara direkatkan dengan perut Shena.
"Iya, lagi ajak anak aku ngobrol juga,"
"Jangan lupa dong, itu anak aku juga lho, Bee,"
"Astaghfirullah bolak balik ngomong itu mulu ya,"
"Ya lagian kamu ngomongnya anak aku terus, aku nggak terima lah,"
Shena terkekeh geli mendengar celotehan sang suami. Dio paling tidak terima kalau Shena mengatakan 'anak aku'. Dia benar-benar tersinggung karena eksistensi nya sebagai ayah seperti tidak dianggap oleh Shena, padahal terkadang Shena itu kelepasan, maka dari itu Ia menyebut bahwa anak yang di perutnya itu adalah anaknya saja.
"Iya aku suka keceplosan, maafin ya,"
"Okay, aku maafin, Sayang,"
"Alhamdulillah dimaafin juga sama orang ganteng,"
"Ya elah, bisa aja orang cantik,"
Dio ingin membaringkan kepalanya di atas pangkuan Shena yang duduk meluruskan kakinya.
"Kira-kira kamu pegal nggak kalau aku dipangku kayak begini?"
"Hmm nggak sih,"
"Yang bener?"
"Beneran," sahut Shena cepat. Meskipun sebenarnya pegal sekalipun tidak begitu lama Dio sengaja menumpukan kepalanya di pangkuan dirinya, tapi tetap saja Shena tidak enak hati mengatakan yang sejujurnya pada Dio.
"Ya udah bagus deh,"
Dio beranjak meninggalkan pangkuan sang istri dan itu membuat Shena bingung. Ia pikir Dio nyaman dan akan bertahan lama di atas pahanya, namun ternyata tidak, lelaki itu memilih beranjak.
"Lho, kok bangun, Mas?"
"Iya, aku nggak tega ah, aku yakin kau pasti pegel cuma kamu nggak mau jujur karena nggak enak sama aku. Iya 'kan?" tebak Dio seraya menjawil dagu sang istri yang segera terkekeh dan menangkap jari Dio kemudian ia gigit pelan.
"Kamu sok tau, Mas,"
"Lah emang bener. Kamu 'kan orangnya nggak enakan, Bee,"
"Ah masa iya?"
"Iya! kamu orangnya nggak enakan banget sama orang lain, terlalu mikirin orang, terus jadi suka lupa sama diri sendiri,"
"Ah Mas nih suka ngarang-ngarang aja,"
Dio yang gemas mendengar elakan dari Shena terus akhirnya mencubit pipi Shena yang semakin berisi saja.
"Ih Mas sakit tau!"
"Emang iya? maaf, Sayang, aku gemes abisnya,"
"Nggak deh, aku bercanda aja kok, kenapa cubit pipi aku terus? gemes ya,"
"Oh tentu saja, bestie, aku gemes banget sama pipi kamu yang makin ndut,"
"Waduh, bestie nggak tuh,"
"Di kantor aku sering denger antar karyawan ngomong begitu. Aku 'kan ketinggalan terus soal update bahasa gaul gitu ya, awal-awal aku belum paham terus habis itu aku paham deh setelah sering denger,"
"Itu 'kan udah lama, Mas,"
"Iya ya? tapi aku belum lama ini taunya deh kayaknya,"
"Masa iya? udah lama deh itu kayaknya. Aku juga denger dari karyawan-karyawan aku dan juga baca di komen instagram orang awalnya. Kayaknya sih begitu,"
"Okay bestie,"
*****
"Makanya hati-hati! ah kamu kebiasaan. Kalau naik turun tangga tuh yang bener, liat langkah kamu sendiri, bukan malah liat ke arah lain,"
Shena mendapat peringatan keras dari Dio yang dibuat jantungan barusan karena Shena yang berjalan menuruni anak tangga hampir saja terjatuh karena Shena sibuk melihat ke arah dimana Sehan datang dan kali ini datang dengan anaknya sendiri tanpa Tania.
"Eh Kak Tania kemana? kok nggak diajak juga?"
"Lo kenceng banget ngomong sama Shena. Gue aja sampai denger,"
"Ya abisnya dia bikin gue marah aja. Mau turun tangga malah liat ke arah lain akhirnya 'kan hampir jatuh. Coba kalau jatuh terus ada apa-apa, siapa yang bakal kayak orang gila? gue! dia mana paham,"
Shena sakit hati suaminya bicara seperti itu dan nampaknya Sehan juga paham akan hal itu.
Sehan menahan geram karena adiknya tak bisa menjaga perasaan istri. Shena memang salah telah membuatnya khawatir tapi seharusnya bisa lebih bijak lagi memberitahu Shena.
"Abang mau minum apa?"
Shena hampir menangis hanya saja Ia berusaha menahan. Ia tidak bisa sembarangan meneteskan air mata, nanti yang dicap lemah oleh Dio padahal hanya dibentak begitu saja.
Mungkin bagi Dio memang tidak seberapa menyakiti ketika membentak Shena barusan tapi bagi Shena itu berhasil membuatnya kaget sekaligus sedih.
"Nggak usah nyiapin gue minum apa-apaan, Shen. Orang gue bukan tamu, gue 'kan penghuni sini juga, eh tapi mantan deh,"
"Masa nggak disiapin minum. Bentar ya, aku ambil dulu,"ujar Shena setelah itu beranjak ke dapur untuk menyiapkan minum.
Sehan langsung menepuk paha adiknya itu dengan keras hingga membuat Dio meringis karena pukul sang abang cukup perih juga di kulitnya.
"Lo jangan macem-macem ya!"
"Macem-macem apaan sih? harusnya gue yang ngomong begitu ke lo. Lo mukul kasar amat di paha gue, kalau luka gimana?"
"Nggak usah mikir luka di badan lo, tuh pikirin luka di hati istri lo," ucapan Sehan langsung membuat Dio tertohok. Sehan memang sekalinya bicara terkadang langsung menembus tepat di ulu hati. Sehan pintar sekali membalik situasi. Sebelumnya Dio yang membuat Shena sakit hati, sekarang Dio giliran mendapat pembalasan darinya.
"Ya abisnya gue kesel, Bang. Nggak sekali dua kali Shena begitu gimana gue nggak kesel coba? dia sembarangan banget orangnya, nggak bisa banget kalau disuruh hati-hati. Gue 'kan panik. Gue takut dia kenapa-napa, terus gue juga mikirin anak yang ada di dalam perut dia.
"Iya gue tau lo kesel, Di. Cuma jangan berlebihan juga. Gue aja sakit hati dengar suara lo bentak dia, apalagi dia. Lo nih kebiasaan ya, kadang kalau udah marah suka kelepasan,"
"Nah itu dia. Udah tau gue tipe begitu dia malah mancing aja. Dia tau 'kan gue suka peringatin dia. Nggak hanya sekali dua kali dia hampir jatuh, nggak bisa banget untuk hati-hati. Kalau terjadi sesuatu gue yang ngerasa bersalah 'kan karena dia istri gue. Padahal gua mah sering kasih pesan ke dia supaya hati-hati kalau mau ngapain aja,"
Sehan kali ini mendorong pelan kepala adiknya dengan telunjuk. Entah apa isi kepala Dio tadi ketika membentak Shena.
"Minta maaf sana!"
"Iya nanti, dia tuh masih badmood sama gue,"
"Kok lo tau?"
"Ya orang keliatan dari sikapnya,"
"Sikapnya gimana? dia mah orangnya nggak neko-neko, kalau dia kesal sama lo nggak pernah tuh ngomel-ngomel atau sikap dia berubah ke kita-kita. Dia dewasa ngadepin lo. Jadi lo yang bikin salah tapi keluarga lo nggak kebawa-bawa,"
Dio menghembuskan napas kasar. Karena abangnya sudah melotot menyuruhnya untuk bergegas ke dapur meminta maaf pada Shena, akhirnya Dio yang penurut langsung menjalankan apa yang dikatakan oleh Sehan.
Dio sendiri sebetulnya juga merasa bersalah. Hanya saja rasa kesalnya itu masih ada. Takutnya kalau Ia minta maaf, Shena tidak berubah juga cerobohnya.
Terlalu punya keinginan untuk membuat adiknya meminta maaf dengan Shena, Sehan sampai kelarang Dio untuk meraih Shofea ke dalam gendongannya. Tadi Dio sudah mengulurkan tangan ingin menggendong Shofea dan anak itu juga nampaknya ingin sekali dibawa dalam gendongan Dio dilihat dari tatapan matanya yang berbinar dan Shofea juga tersenyum kecil ketika Dio mengulurkan tangan. Sayangnya Sehan tidak mengizinkan Dio menggendong Shofea sebelum Dio bersedia meminta maaf pada Shena yang tidak sengaja Ia bentak tadi.
Dio terlampau kesal karena Shena tidah bisa hati-hati dan menjaga dirinya dengan baik. Akhirnya keluarlah nada tinggi Dio.
Dio memasuki dapur dan Ia melihat Shena yang tengah membasuh tangannya di wastafel sekaligus membasuh mukanya juga.
Dio berdehem dan berhasil membuat Shena menoleh kaget. Dio basa-basi mengedarkan pandangan ke dapur untuk mencari minuman untuk Abangnya. Sebelumnya Shena mengatakan bahwa Ia ingin menyiapkan minuman untuk Sehan tapi sekarang Dio lihat belum ada sama sekali.
"Minum abang belum ada, Shen?"
"Belum, lagi mau aku buat teh hangatnya. Kenapa? Mas mau juga?"
Dio menggelengkan kepalanya pelan. Shena segera membuatkan teh hangat untuk Sehan yang datang dengan anaknya kali ini.
Dio mengamati punggung Shena yang tengah mengaduk teh di depannya.
"Kenapa Shena baru bikin teh hangat untuk Abang sekarang ya? bukannya dia udah dari tadi di dapur? apa dia nangis dulu makanya barusan dia cuci muka,"
Dio yag ingin membuktikan kecurigaannya itu langsung beranjak mendekat pada Shena. Lelaki itu berdiri tepat di sebelah Shena yang masih mengaduk air teh agar gula yang ada segera larut.
Dio mengamati dalam-dalam wajah istrinya di samping. Shena bisa melihat dari ekor matanya bahwa sang suami tengah memperhatikannya. Hal itu membuat Shena mengernyit bingung.
"Kenapa kamu ke sini? kamu cuma mau ngeliatin aku bikin teh, Mas?" tanya Shena tanpa menolehkan kepalanya.
Dio menghela napas pelan dan Ia bisa tahu jawabannya sekarang. Kemungkinan besar, Shena benar menangis tadi. Karena meskipun sudah membasuh wajah, kesedihannya tidak bisa dihilangkan secara sempurna, suara Shena yang beda juga bisa menjadi buktinya.
__ADS_1
"Ya Allah, kenapa ya istri aku ini cengeng banget. Nggak bisa dibentak dikit langsung nangis,"
Dio mengusap tengkuknya dan Ia menghembuskan napas kasar. Sebelum Shena pergi ke ruang tamu membawakan teh hangat buatannya untuk Sehan, Dio menyebut nama istrinya itu.
"Shena,"
"Ya?"
"Aku minta maaf udah bikin kamu sedih,"
Shena tersenyum kecil mendengar ucapan sang suami. Dio menyadari kalau dirinya sudah membuat Shena sedih.
Shena pikir suaminya datang ke dapur karena ingin minta dibuatkan minuman juga tapi ternyata tidak, justru Dio datang ingin meminta maaf setelah ada basa-basi dulu.
"Kamu mau maafin aku nggak?" tanya Dio dengan sorot matanya yang teduh. Dio ingin mendengar jawaban atas permintaan maaf yang barusan Ia lontarkan. Selama Shena belum menjawab, Ia tidak akan tenang.
"Shen, kamu nggak mau maafin aku ya? aku keterlaluan ya? maaf aku kelepasan bicara pakai nada tinggi. Maaf ya udah ngasih tau kamu dengan cara yang nggak baik. Jujur aku kesal setiap kali kamu nggak bisa jaga diri kamu dengan baik. Kamu itu jarang banget hati-hati, sering banget ceroboh,"
"Aku juga minta maaf udah bikin kamu marah, Mas,"
Dio berdesis mendekatkan telunjuknya di depan bibir sang istri kemudian Ia mengecup kening Shena dengan lembut. Setelahnya Ia tersenyum.
"Kamu nggak salah. Aku yang murni benar-benar salah di sini. Seharusnya aku bisa kasih tau kamu dengan cara yang baik. Ini malah nggak, aku malah bentak kamu dan akhirnya bikin kamu nangis. Bahkan di dapur pun nangis,"
Kening Shena mengernyit ketika mendengar ucapan suaminya. Entah darimana Dio tahu kalau Ia sempat menangis di dapur sebelum akhirnya Ia membasuh wajahnya agar air mata yang mengalir di wajahnya bersih tak bersisa.
"Kamu sok tau, Mas," ujar Shena seraya terkekeh. Dio berdecak dan memalingkan wajahnya.
"Emang aku nggak tau apa?"
"Kamu nebak 'kan? udah gitu salah lagi nebaknya,"
"Lah emang aku tau kok. Kamu pasti nangis tadi,"
"Tau darimana?"
"Ya keliatan lah. Ngapain baru bikin teh padahal udah dari tadi di dapur? pasti lagi nangis dulu 'kan tadi? terus cuci muka juga,"
"Ya emang kalau aku cuci muka artinya aku nangis?"
"Iya, aku yakin kamu nangis. Aku nggak bisa dibohongin. Padahal dari tadi udah di dapur agak lama tapi tehnya belum dibuat-buat,"
"Iya karena aku tadi ngangon kambing dulu, bukan di dapur nangis,"
"Heleh bohong," Dio menjulurkan lidahnya. Ia semakin tidak percaya dengan pengakuan Shena yang tidak menangis katanya.
"Malah pakai alasan ngangon kambing segala. Emang dikiran aku bocah esde ya?"
"Ya kalau aku nangis emang kenapa?"
"Tuh 'kan ngaku juga,"
Dio mengecup hidung sang istri dan lagi-lagi meminta maaf pada istrinya itu.
"Maaf ya, Sayang,"
"Iya, kamu udah berapa kali minta maaf ya,"
"Aku merasa bersalah. Sebenarnya tadi aku nggak mau banget minta maaf karena aku takut kamu nggak berubah kebiasaannya,"
"Jadi kamu minta maaf nggak ikhlas nih?"
"Ya ikhlas dong, Bee. Cuma aku tadinya emang nggak mau minta maaf karena kamu tuh kebiasaan jelek selalu dipelihara nggak pernah berubah. Selalu aja bisa celakain diri sendiri. Aku 'kan jadi marah banget tadi. Cuma abang tuh yang suruh aku minta maaf sama kamu. Sampai aku nggak dibolehin sama Abang untuk gendong Shofea karena aku belum minta maaf sama kamu. Akhirnya ya udah, aku kesini minta maaf,"
"Oh ternyata karena abang ya,"
"Iya, tadinya aku belum mau minta maaf--"
"Belum mau atau nggak mau?"
"Dua-dua nya deh. Karena aku takut kalau aku minta maaf kamu ceroboh lagi. Soalnya tiap aku abis marahin aku pasti minta maaf 'kan? nah kamu ngulang lagi kesalahan yang sama. Aku 'kan jadi marah banget,"
"Ya udah aku bawa minuman ini dulu ke Abang,"
"Tapi kamu maafin aku nggak?"
Shena mengangguk singkat. Ia akan bergegas keluar dari dapur. Teh hangat yang Ia buat untuk Sehan harus segera diantar sebelum dingin.
"Kok cuma ngangguk aja sih?"
"Ya kamu maunya aku gimana, Mas?"
"Bilang kalau kamu udah maafin aku. Kalau cuma ngangguk kepala aja berarti maaf nya masih setengah-setengah nggak full,"
"Lah bisa begitu ya,"
"Iya buruan ngomong, jangan dikunci mulutnya terus cuma ngangguk aja,"
Shena menghela napas pelan kemudian membuka mulutnya untuk menjawab, supaya tidak hanya mengangguk saja seperti apa yang dikatakan oleh Dio barusan.
"Iya aku maafin kamu,"
Dio tersenyum lebar mendengar penuturan Shena. Akhirnya Ia dimaafkan, tidak ada masalah lagi diantara Ia dan juga Shena.
"Okay, aku mau antar minum dulu nanti udah keburu berubah jadi dingin,"
Dio mengangguk dan Ia segera mengikuti istrinya ke ruang tamu menghidangkan air teh yang Shena buat untuk Sehan.
Sehan yang melihat adik iparnya meletakkan teh di meja langsung berdecak. Sebetulnya Ia tidak perlu dilayani macam tamu.
"Shen, udah dibilang sama gue barusan Nggak usah nyiapin minum segala, udah kayak sama tamu aja,"
"Abang 'kan emang tamu. Apa Abang lupa ya? orang udah pindah kok, tandanya itu tamu,"
"Gue bisa ambil sendiri,"
"Iya nggak apa-apa, Bang. Oh iya ada puding aku ambil bentar ya,"
Shena lihat-lihat ada yang kurang di atas meja. Ternyata Ia baru menyiapkan minuman saja, makan belum ada satupun. Akhirnya Shena bergegas kembali ke dapur untuk mengambil puding yang ada di lemari pendingin.
Setelahnya Ia bawa ke ruang tamu. Sehan makin menggelengkan kepalanya.
"Ih udah dibilang nggak usah kayak tamu gue nya,"
"Nggak apa-apa, Bang. 'Kan tamu harus dilayani dengan baik,"
"Makasih, Shen,"
"Sama-sama, Bang,"
Sehan segera menyeruput teh hangatnya sebentar dan apa yang ia lakukan itu mengundang tatapan mata Shofea yang tak lepas darinya. Shofea masih ada di dalam gendongannya dan ketika Ia minum Shofea menatap dalam diam sambil bibirnya bergerak seperti menginginkan apa yang diminum Sehan.
Sehan tertawa melihat anaknya seperti itu. "Haus, Nak? mau ini? nggak boleh, adanya susu tuh di dalam mobil? mau nggak? biar papa ambilin,"
"Sini Shofea sama gue aja, lo lanjut minum,"
Sehan tak lagi melarang Dio menggendong anaknya sebab Ia yakin Dio sudah meminta maaf pada Shena.
"Udah minta maaf?" tanya Sehan untuk memastikan. Kalau sampai Dio belum minta maaf atau dia malah sewot pada Shena di dapur gara-gara dilarang menggendong Shofea karena belum minta maaf, Sehan akan memberi pelajaran untuk adiknya itu.
"Udah lah,"
"Ya udah biasa aja jawabnya. Santai, Bro,"
"Lo tenang aja. Gue udah minta maaf sama Shen,"
"Ya baguslah kalau begitu. Gue seneng, dan gue minta sama lo jangan diulangi lagi ya. Lo tuh kebiasaan kalau udah marah nggak bisa banget tahan emosi,"
"Ya karena gue udah terlalu kesel, Bang. Shena begitu terus soalnya. Nggak sekali dua kali dia bikin gue khawatir selama hamil. Buset sering banget! sampe gemes sendiri gue,"
Shena tersenyum kecil mendengar suaminya menggebu-gebu mengungkapkan kekesalannya bila ia tidak bisa menjaga dirinya dengan baik.
"Ya tipe orang itu emang beda-beda. Ada yang bisa dipercaya untuk jaga dirinya sendiri, ada yang kebalikannya,"
"Tugas lo ya bukan marah, tapi ingetin baik-baik, terus selagi ada peluang lo dampingin, lo 'kan suaminya jadi harus banyak campur tangan juga jagain Shena terlepas dari dia bisa atau nggak jaga dirinya sediri,"
"Iya, Bang,"
"Jangan iya-iya doang tapi lo ulangin lagi,"
Dio terkekeh melihat abangnya melotot galak. Abangnya kelihatan kesal sekali dengannya yang tadi membentak istrinya karena tidak bisa hati-hati dan hampir terjatuh dari tangga.
__ADS_1
"Iya, gue berusaha untuk nggak ulangi itu lagi,"
"Ya bagus, awas aja kalau lo masih begitu,"