Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 132


__ADS_3

“Eh kamu tau kantor aku ya?”


Dio terkejut mendapati kehadiran Nada di depan pintu ruang kerjanya. Sebelumnya staf mengatakan ada yang ingin bertemu dengannya diluar jadwal, Ia tidak keberatan dan langsung menyetujui tanpa bertanya dulus siapa yang mau menemuinya.


“Ternyata kamu yang datang, duduk-duduk, Nad,”


“Okay, makasih, gue ganggu kah?”


“Oh nggak kok, kamu tau darimana kantor aku ya?”


“Kayaknya lo pernah bilang deh waktu itu. Kata lo waktu kuliah, lo bakal kerja di sini, ya udah gue coba aja datang ke sini,”


“Ada apa, Nad?”


“Langsung ke tujuan nih?”


Dio terkekeh pelan. Ia ingin tahu secepatnya kenapa Nada datang ke kantor. Pasti bukan tanpa tujuan.


“Habisnya tumben banget kamu ke sini,”


“Eh jangan aku kamu, nanti kalau istri lo dengar dia kesal lho, lembut banget jadi cowok,”


“Eh iya sorry, aku—maksudnya gue kebiasaan ngomong ke Shena soalnya,”


“Kebawa ya jadinya? Kalau sama gue mah santai aja, Di, jangan terlalu kaku dan lembut juga, takutnya nanti bikin Shena salah paham,”


Dio terkekeh lagi dan dalam hati menggerutu. Dengan datangnya Nada ke kantor saja pasti sudah membuat Shena sedikit jengkel.


Sebab sebelumnya Nada hanya menghubungi Dio melalui direct message, sekarang justru datang ke kantor.


“Gue mau tanya sama lo, bener atau nggak sih lo ngasih nomor telepon teman lo itu yang bisa bantu gue untuk survey-survey rumah, abisnya dia nggak bisa dihubungi, dan lo sendiri juga begitu. DM gue dibaca doang,”


“Bener itu nomornya. Emang pesan lo, gue baca aja? Perasaan gue bales terus deh,”


“Gue chat lo lagi, Di. Gue bilang ke lo, kalau nomor itu nggak aktif, tapi cuma lo baca doang,”


Dio terdiam sebentar. Seingatnya Ia belum membaca pesan itu. Sepertinya Shena yang membacanya saja tanpa membalas. Siapa lagi kalau bukan Shena? Yang bisa bebas keluar masuk sosial media miliknya hanya Shena saja.


“Iya sorry, coba gue cari kontaknya lagi ya, kayaknya dia punya dua nomor sih,”


“Okay, kirim ke gue sekarang,”


“Lo sampai datang ke sini cuma karena ini?”


“Ya iyalah, Di. Abisnya gue bingung lo cuma baca chat gue aja, ‘kan gue jadi kepikiran apa lo nggak mau bantu gue atau gimana nih, terus gue sekalian mau tau tempat lo kerja juga, akhirnya gue ke sini, gue penasaran temen gue ini kerja dimana, ternyata keren banget,”


“Ah jangan begitu,”


“Gue sebenernya sih masih bimbang mau pindah atau nggak, tapi apa salahnya cari-cari yang bagus ‘kan? Gue tiap hari tuh takut didatengin sama mantan suami gue lagi. Setelah kejadian dia yang hajar lo itu, dia datang ke rumah bahkan ngelakuin kekerasan juga sama gue sampai asisten gue turun tangan langsung tapi untungnya dia langsung pergi begitu diusir,”


“Dia ngelakuin kekasaran apa sama lo?”


“Dia jambak rambut gue, Di. Itu sebenarnya udah jadi hal biasa sih, cuma yang gue bingung, kamu berdua itu ‘kan udah nggak ada hubungan apapun lagi, harusnya dia nggak begitu lagi. Seolah-olah dia tuh masih nggak rela lepas gue padahal perpisahan terjadi karena kesepakatan bersama juga,”


“Kok bisa sih lo nikah sama dia? Emang nggak keliatan dari awal perangai dia gimana?”


“Nggak sama sekali, bahkan awal-awal ninah masih belum keliatan. Eh setelah beberapa bulan setelah nikah barulah keliatan busuknya, kasar banget jadi laki-laki. Dan bodohnya gue perna cinta banget sama dia, Di. Bahkan untuk ngambil keputusan untuk pisah aja, gue bener-bener ragu banget saat itu karena gue nggak mau kehilangan dia. Sampai akhirnya gue dengar masukan-masukan dari orang terdekat gue untuk pisah, bahkan asisten rumah aja juga ikutan ngomong ke gue, dia yakinin gue untuk pisah aja dari mantan gue itu. Barulah gue berani ambil keputusan gue itu setelah banyak pertimbangan,”


“Apa yang jadi pertimbangan lo? Gue nggak habis pikir sih. Lo ‘kan nggak punya anak sama dia, harusnya kalau dia udah keterlaluan kayak gitu lo langsung ambil keputusan untuk pisah, lo kuat juga ya,”


“Ya karena itu tadi, Di. Gue cinta banget sama dia,”


“Ya begitulah kalau udah bucin ya, lain kali jangan begitu lagi. Itu harus lo jadiin pelajaran kalau mau cari pasangan,”


“Iya kayaknya gue nggak mau nikah lagi sih, Di,”


“Serius lo? Kenapa? Belum bisa move on dari dia ya?”


“Bukan, gue masih trauma banget. Gue takut dapat yang kayak begitu lagi, Di,”


“Ya makanya gue bilang, lo harus hati-hari mau milih pasangan,”


“Kalau lo sendiri gimana milihnya? Kok bisa sama Shena?”


“Kebetulan, Tuhan sama orangtua gue yang milih dia, doain ya semoga langgeng terus,”


“Oh jadi lo dijodohin?”


“Iya, gue dijodohin karena gue gagal nikah. Begitulah kira-kira,”


“Kedengaran sederhana ya,”


“Iya, tapi sebenarnya rumit,” batin Dio. Di awal pernikahan paling terasa rumitnya. Tapi beruntungnya sekarang sudah tidak lagi.


“Begitulah jodoh, ada aja jalan ketemunya ya, Di,”


“Iya betul. Sama kayak lo yang dipertemukan sama mantan,”


“Tapi gue sama dia nggak jodoh,”


“Ada yang lebih baik dan itu sudah dipersiapkan sama Tuhan. Eh iya ngomong-ngomong gue lupa belum kirim nomor telepon teman gue nih, ngomong mulu sih lo,”


“Lah sama aja kita,”


Dio terkekeh dan segera mengirimkan nomor telepon lain milik temannya supaya Nada bisa segera menghubungi.


“Okay gue pergi dulu ya, salam untuk Shena,”


“Iya, hati-hati, Nad, teman gue itu orangnya enak kok, lo konsul aja sama dia, soalnya gue mau beli rumah ya dibantu sama dia itu karena gue sibuk nggak bisa cari langsung atau ngurus langsung,”


“Iya gue tau lo sibuk, tong. Bukan main kalau orang sibuk mah,”


“Yoi dong,”


“Dah ya, gue balik. Makasih nih udah mau terima kehadiran orang nggak sibuk macam gue,”


“Nggak sibuk apaan? Wanita karir masa nggak sibuk, harusnya gue nih yang makasih. Nggak nyangka lo mau datang ke sini disela kesibukan,”


“Tau darimana kalau gue sibuk?”


“Tuh baju lo aja masih baju kantor, kemejaan, sepatu pantofel, masih formal banget. Lo dari kantor, Nad?”


“Iya, tapi kerjaan gue nggak begitu banyak makanya gue ke sini. Lo nggak mau nganterin gue balik ke kantor?”


“Hah?”


“Hahaha nggak-nggak, gue bercanda,”


******


Suami pulang kerja, kurang enak rasanya kalau Shena tidak menyambut, dan malah sibuk mengobrol. Shena segera melepas handsfree dari telinga. Setelah itu mendekat pada sang suami dengan senyumnya.


“Halo, Mas,”


“Ngobrol sama siapa, Bee?”


“Sama Lala, biasalah kita cerita-cerita,”


“Oh Lala karyawan toko aku,”


“Mas kira siapa?”


“Nggak tau sih, cuma bingung aja liat kamu ketawa sendiri,”


“Tapi aku ‘kan ketawanya di depan handphone, Mas. Berarti ada lawan bicara,”


“Iya emang udah nebak,”


“Ngobrolin apa? Toko kamu kenapa?”


“Alhamdulillah nggak apa-apa kok, Mas. Toko sehat-sehat aja. Kita cuma mau ngobrol aja tadi,”


“Sehat ya? Badan dong,”


“Iya toko ‘kan bagian dari aku juga, udah kayak badannya aku,”


“Luar biasa bos satu ini ya,”


Dio mengacak lembut rambut istrinya yang begitu menyayangi apa yang sudah Ia bangun dengan kerja keras.


“Aku mandi dulu ya,”


“Okay, Mas,”


“Aku kaget barusan liat abang udah bawa-bawa koper lho, Bee. Eh nggak taunya lagi mau ngangkut aja, kirain dia pindah dipercepat,”


“Tadi juga aku pikir begitu, tapi ternyata udah mau nyicil barang, pindahnya tetap sesuai rencana. Sedih ya, Mas, nggak rela pisah sama Shofea,”


“Iya, nanti bingung mau main sama siapa lagi ya. Boneka aku udah pindah soalnya,”


“Boneka Shofea punya aku,”


“Punya aku juga lah,”


“Kalau anak aku nanti—“

__ADS_1


“Anak aku juga!” Saut Dio dengan tegas. Jangan lupakan peran pentingnya dalam menghadirkan si kembar dalam perut Shena.


“Iya maksudnya anak kita, nanti anak kita ada pembagiannya ya, Mas, biar nggak ribut. Aku main sama yang cewek, Insya Allah. Nah kalau Mas main sama yang cowok,”


“Lah mana bisa begitu. Nggak-nggak! Aku boleh main sama yang mana aja,”


Shena tertawa puas berhasil membuat suaminya berontak soal yang namanya pembagian anak.


“Iya nggak kok. Aku cuma bercanda. Mas boleh main sama yang mana aja, tapi harus duluan aku, nomor pertama aku, nomor kedua baru Mas, ‘kan aku yang lahirin,”


“Nggak boleh curang, nanti anaknya mirip aku semua, kamu nggak kebagian baru tau rasa,” ejek Dio setelah itu lari ke dalam kamar mandi. Shena langsung merengek tidak terima.


“Nggak boleh mirip semua ke Mas, aku harus kebagian pokoknya,”


"Bee, aku mau cerita,"


"Cerita apa, Mas?"


"Tadi Nada datang ke kantor aku,"


Shena terpaksa menghentikan kegiatannya menata pakaian di dalam lemari begitu mendengar suaminya bercerita.


"Ngapain, Mas?"


"Dia hubungin nomor teman aku, tapi nggak ada jawaban. Terus dia tanya ke aku di DM tapi katanya dibaca aja, jadi dia datang ke kantor aku deh. Kamu yang baca DM dari dia ya, Bee?"


"DM yang terakhir itu? iya, emang dia nanya kok nomor temen kamu nggak aktif. Nah aku nggak tau mau jawab apa, aku pikir kamu bakal liat isi DM nya jadi aku biarin aja. Aku juga nggak kepikiran ngasih tau kamu, Mas. Maaf ya,"


"Nggak apa-apa, aku udah paham kok,"


"Kamu marah karena aku buka-buka DM kamu?"


"Ya nggaklah, kita 'kan saling terbuka satu sama lain. Lagian sama-sama nyangkut instagramnya di handphone kita. Akun kamu nyangkut juga di handphone aku, terus akun aku juga ada di handphone kamu,"


"Jadi nggak apa-apa 'kan, Mas? kamu nggak marah ya?"


"Ya nggaklah, aku ngerti kok, nggak marah sama sekali, Bee. Kamu jangan cemas gitu. Kita 'kan menang sama-sama terbuka biasanya. Aku juga sering kok baca-baca isi handphone kamu baik sengaja atau nggak,"


"Aku takut Mas marah,"


"Nggak mungkin lah aku marah hanya karena hal kayak begitu,"


"Jadi dia datang cuma mau ngomongin itu aja?"


"Iya Nada cerita kalau mantan suaminya itu makin menjadi-jadi. Aku denger cerita dia, jadi prihatin juga sih. Mantan suaminya jahat banget. Bahkan sudah jadi mantan pun masih jahat. Nggak habis-habis ganggu hidup dia. Kadang aku bingung ya sama orang kayak begitu,"


Shena mengusap kening Dio yang mengernyit kesal. Dio menggebu-gebu bercerita soal Nada dan mantan suaminya itu.


"Percuma kamu kesal sama dia, Mas. Soalnya dia nggak ada di dekat kamu. Lagian dia juga nggak ada urusan sama kamu. Yang ada juga kamu dihajar lagi sama dia,"


"Aku hajar balik lah,"


"Nggak boleh, Mas! kamu nggak usah macam-macam deh. Nanti kamu tumbang lagi kayak waktu itu. Udahlah nggak usah sibuk ngurusin hidup orang, biarin aja itu urusan Nada sama mantan suaminya. Kamu cukup bantu sebisanya aja, jangan lebih dari kapasitas kamu. Karena bakal nambah masalah nantinya,"


"Iya, aku paham,"


****


“Udah jam segini baru makan kamu, Shen,”


Ardina mengomentari menantunya yang Ia lihat makan dengan santai di atas meja makan. Tidak kelihatan laparnya, padahal sudah lewat jam makan siang.


“Iya baru lapar nih, Ma,”


“Udah mau sore nggak lama lagi, kamu baru makan. Udah mana sarapannya cuma sereal. Kamu nggak lapar apa?”


“Aku makan roti juga, Ma. Apa Mama lupa ya? Hehe”


“Roti cuma satu lembar aja kok, mana kenyang itu. Jangan malas-malas makan. Kamu mau sehat ‘kan? Anak jangan sampai dibiarin kelaparan,”


“Iya siap, Ma,”


“Kalau Dio tau kamu telat-telat makan, dia kesel sama kamu,”


****


Shena bersenandung kecil sambil membersihkan meja riasnya yang sepertinya sudah lama sekali tidak disentuh dengan lap pembersih.


“Uh debunya udah lumayan banyak ini ya. Mager si Shena, biasanya juga nggak tunggu debuan dibersihkan tiap libur,” oceh Shena menyalahkan dirinya sendiri. Ia yang punya kekuasaan penuh atas meja riasnya itu, semua produk perawatan badan, wajah, dan rambut ada di sana jadi cepat berantakan. Kalau tidak rajin-rajin dibersihkan sudah pasti seperti kapal pecah, seperti sekarang ini. Terakhir dibersihkan sebulan lalu kalau Shena tidak salah ingat. Terkadang kehamilannya itu membuat Shena menjadi orang yang rajin, tidak jarang sebaliknya.


Suara ketukan pintu dan ucapan salam membuat Shena menyahuti dari dalam sambil berjalan menuju pintu untuk menyambut orang yang datang ke kamarnya.


“Eh Mama ternyata. Kenapa, Ma?”


“Lagi beres-beres meja rias, Ma,”


“Oh, bunda ganggu ya?”


“Nggak kok, Ma, kenapa memangnya, Ma?”


“Mau ngajakin kamu ngobrol aja sambil nonton, Mama nggak ada temen. Shofea lagi tidur, Tania lagi mandi,”


“Okay aku turun sekarang temenin Mama,”


“Kita beli bakso yuk, itu barusan lewat lho,”


“Ayo-ayo, Ma,”


“Bunda bantuin kamu ah,”


Biar cepat selesai, Ardina punya inisiatif untuk membantu menantunya membereskan meja rias. Tapi Shena langsung melarangnya. Ia tidak mungkin membiarkan sang ibu mertua turun tangan membantu pekerjaannya.


“Nggak usah, Ma. Ini mah gampang, tinggal dilanjut nanti aja, sekarang kita turun aja yuk. Aku juga kepengen bakso nih,”


Shena dirangkul lengannya oleh Ardona ketika menuruni tangga. Shena yang memahami kekhawatiran ibu mertuanya tersenyum tipis.


“Nggak apa-apa, Ma. Jangan khawatir, aku baik-baik aja kok,” ujar Shena seraya tersenyum.


“Tetap aja Mama tuh ngeri kalau liat kamu naik turun tangga,”


“Karena keliatannya udah mulai berat ya, Ma?”


“Iya, makanya hati-hati, harus selalu perhatikan langkah kaki kamu,”


“Mama kayak Mas Dio aja pesan-pesannya ya,”


“Memang ngeri kalau liat ibu hamil naik turun tangga, apalagi kamu nih bawa dua anak sekaligus, Mama yang bawa satu aja dulu tuh gampang ngos-ngosan lho kalau naik turun tangga,”


“Sama aja, Ma, aku juga begitu,”


“Apalagi kamu, orang bawa bayi bukan cuma satu kok,”


Begitu tiba di lantai bawah Ardina dan Shena langsung mendapatkan laporan.


“Ibu, ada kiriman makanan nih, nama pengirimnya Nada,”


“Nada siapa?”


“Katanya teman Mas Dio,”


Security masuk menyerahkan makanan yang baru saja diantar oleh seorang wanita dengan mobil hitamnya dan mengaku bahwa Ia bernama Nada dan statusnya adalah teman Dio. Setelah memberikan makanan itu ke tangan security rumah, perempuan itu pergi.


“Nada teman Dio? Oh baru dengar deh kayaknya,”


Ardina segera menerima dua kotak yang dilapisi kantong plastik dari tangan Pak Tris. “Makasih ya, Pak,” ujar Ardina.


“Sama-sama, Bu, saya permisi,”


“Iya, Pak,”


Ardina langsung membawa makanan pemberian Nada ke meja makan, di belakang Ardina, Shena mengikuti. Ia turut penasaran dengan makanan apa yang dikirim oleh Nada.


“Coba kita buka ya, Shen,”


“Iya, Ma,”


Begitu dibuka ternyata isinya ayam dan ikan bakar yang sangat menggoda siapapun yang merasa lapar.


“Duh kayaknya enak banget nih. Bumbunya banyak,” kata Ardina yang diangguki Shena.


“Kamu kenal sama yang namanya Nada, Shen?”


“Nggak kenal banget, Ma. Tapi aku tau kok,”


“Oh ternyata bener dari teman Dio? Telepon Dio deh, biar kasih tau dia dulu sebelum diapa-apain. Biasanya ‘kan dia ngelarang kalau ada makanan atau apa yang datang belum jelas asal-usulnya,”


“Tapi itu udah ketauan dari Nada ‘kan, Ma?”


“Ya biar Dio pastiin dulu. Dio harus tanya langsung Nada benar ini kiriman dia atau bukan,”


Saat akan menghubungi Dio, suara Dio mengucap salam terdengar. Shanti langsung memanggil sang putra dengan suara agak keras supaya anaknya itu bisa mendengar dan segera menghampiri ke ruang makan.


“Kenapa, Ma?”


“Wuidih ada ayam sama ikan bakar. Mama baru beli ya?”

__ADS_1


“Bukan, ini Mama lagi mau tanya sama kamu. Ini benar dari Nada bukan? Tadi Pak Tris bilang ada yang antar makanan ke sini. Terus pengirimnya Nada teman kamu, coba kamu pastiin dulu,”


“Oh itu dari Nada? Lah ada acara apaan dia bagi-bagi makanan,”


“Ya mungkin mau berbagi tanpa ada acara apapun. Tapi biar lebih jelas coba kamu telepon dia deh, terus tanya kni benar dari dia atau bukan, takutnya nggak beneran ‘kan,”


Dio menganggukkan kepalanya. Ia langsung menelpon Nada yang kebetulan tengah menghentikan laju mobilnya sebentar untuk mengisi bahan bakar.


“Halo, Dio,”


“Asaalamualaikum, eh Nad, ini ada kiriman makanan katanya dari lo, emang bener?”


“Yoi, udah lo terima? Tadi yang terima security rumah lo, Di,”


“Eh thank you banget ya, emang kalau boleh tau ada acara apa? Kok tiba-tiba ngerepotin antar makanan segala ke rumah orangtua gue,”


“Nggak repot lah, yang udah niat. Semoga suka ya, soalnya lo udah baik banget mau bantu gue,”


“Ah lo bisa aja, okay makasih ya udah kirimin makanan ke rumah,”


“Okay semoga suka ya dan salam untuk keluarga. Bye, Di,”


“Bye, sekali lagi makasih,”


Sambungan telepon mereka berakhir. Barulah Dio menatap masakan yang dikirimkan oleh Nada.


“Kayaknya enak ya, Ma,”


“Iya, coba kamu cicipi deh,”


Dio segera membasuh tangannya dengan bersih sebelum mencicipi makanan yang dikirimkan oleh Nada. Kalau dari rupa memang kelihatannya lezat dan menggoda sekali untuk segera disantap.


“Hmm enak banget. Coba bunda sama Shena cobain deh,”


Ardina mencobanya begitupun Shena dan mereka setuju memang ayam bakar yang dikirimkan oleh Nada memiliki rasa yang lezat.


Sekarang mereka mencicipi ikan bakarnya. Ternyata tidak kalah lezat. Bahkan Dio sampai mau makan, padahal dia baru pulang dan biasanya bersih-bersih badan dulu.


“Iya makan deh, kayaknya udah lapar banget kamu,”


“Nggak lapar sebetulnya, Ma, tapi kepengen banget makan ayam sama ikannya pakai nasi,”


Shena mengambilkan piring dan mengisinya dengan nasi. Barulah Ia berikan pada sang suami.


“Kita jadi beli bakso ya, Shen. Bunda kepengen banget soalnya. Dia barusan lewat pas Mama lagi di teras, nanti dia lewat sini lagi biasanya,”


“Iya, Na,”


Dio tertarik dengan makanan yang dikirimkan oleh Nada, sementara bunda dan istrinya memilih untuk tetap membeli bakso sesuai dengan rencana awal mereka.


“Di, mau bakso juga nggak?”


“Mau, Ma, tolong beliin aku juga ya,”


“Yang bener, Mas? Dimakan nggak nanti?”


Shena pikir suaminya sudah merasa cukup dengan nasi dan lauk pauknya, tapi ternyata sang suami masih merasa kurang.


“Emang kenapa? Nggak boleh ya?”


“Bukan nggak boleh, Mas. Takutnya nggak kamu makan,”


“Ya makan dong, Bee, pasti aku makan. Aku ‘kan doyan makan,”


“Maksud Shena itu, kamu ‘kan lagi makan nasi nanti pasti masih kenyang, sementara bakso itu enaknya langsung dimakan nggak pakai tunggu nanti,”


“Iya nanti langsung aku makan kok, gampang bakso doang mah muat di perut aku nih,”


“Ya udah nanti kamu dibeliin juga ya,”


“Yeaayy asyik,”


Shena terkekeh melihat suaminya seperti anak kecil. Senang sekali ketika akan dibelikan bakso juga.


“Ini lagian nasinya dikit, Bee,”


“Tambaj aja, Mas. Sini aku tambahin,”


“Nggak deh, udah cukup segini, nanti ‘kan mau makan bakso,”


Shena mendengus pelan. Tadi sepertinya Dio protes karena menurutnya nasi yang Ia berikan porsinya sedikit. Tapi giliran Ia ingin menambahnya, Dio menolak.


Shena dan Ardina duduk di halaman depan rumah menunggu bakso melintasi rumah lagi. Biasanya yang Ardina tahu bakso itu dua kali melintas.


“Pak, bakso belum lewat lagi ‘kan?” Tanya Ardina pada Pak Tris yang sedang menyesap rokoknya di depan pintu pos.


“Belum, Bu,”


“Okay makasih, Pak,”


“Belum lewat ternyata, Nak. Berarti kita tunggu aja deh, biasnanya dia lewat dua kali pas masuk komplek, sama keluarnya, posisi kita nih di dekat gerbang komplek soalnya,”


“Semoga lewat ya, Ma. Aku juga pengen banget makan bakso. Panas-panas masuk perut. Uhhh mantap banget,”


“Kamu mual?”


“Nggak kok, Ma, kenapa?”


“Ya nggak, kirain Mama kamu lagi mual,”


“Nggak, Ma, tapi emang kepengen banget makan yang panas-panas,”


“Iya, sabar ya, Sayang. Bentar lagi bakso lewat,”


Ardina terkekeh seraya mengusap perut Shena dengan lembut. Kasihan Shena kalau seandainya keinginannya tidak terpenuhi.


“Kalau nanti seandainya dia nggak lewat nih, mama mau minta tolong Dio beliin ah,”


Bagaimana caranya Ardina ingin keinginan menantunya terpenuhi, meskipun harus meminta tolong pada anaknya. Lagipula Dio juga pasti tidak keberatan. Asal dia sudah selesai makan dan mandi, pasti lelaki itu bersedia pergi membeli bakso.


“Mama juga pengen banget ya?”


“Iya, sama kayak kamu, Shen. Mama kepengen banget bakso, kayaknya udah lama tuh nggak makan si bulat daging,”


Suara pukulan kayu khas penjual bakso terdengar dan langsung membuat Shena dan Ardina bangkit.


“Yeayy baksonya datang juga ternyata,”


“Penantian nggak sia-sia,”


“Pak No, beli sepuluh mangkok ya,”


“Wuih seperti biasa selalu traktir serumah-rumah,”


“Iya, lagi kepengen ini, Pak,”


“Alhamdulillah berkah ya, Bu,”


“Aamiin, Ngomong-ngomong tadi udah takut Pak No nggak lewat,”


“Ternyata lewat sini,”


“Iya, untungnya masih ada ya, belum habis,”


“Tinggal dikit lagi ini, Bu,”


“Nggak cukup, Pak No?”


“Cukup kok kalau sepuluh mangkok mah,”


Dio menghampiri mama dan istrinya yang tengah menunggu bakso dihidangkan. Ia menyentuh bahu Shena hingga perempuan itu menoleh.


“Udah makannya, Mas?”


“Udah, Bee, enak banget, tapi masih kurang kenyang,”


“Iya bentar lagi makan bakso nih. Ngomong-ngomong, kenapa Nada kirim makanan ke sini ya, Mas?”


“Katanya karena aku udah bantu dia,”


“Bantu apa?”


“Aku kasih saran ke dia supaya hubungin teman aku yang biasa bantu aku kalau mau milih-milih rumah, mungkin karena itu kali,”


“Padahal yang bantu ‘kan bukan Mas ya, tapi temannya Mas itu,”


“Tapi kalau aku nggak kasih kontak teman aku, dia nggak akan bisa dibantu ‘kan, Sayang. Si Tony teman aku itu tau kalau Nada teman aku, pasti dia lebih maksimal lagi bantuin Nada,”


“Aku pikir karena apa dia kirimin makanan. Baik banget abisnya,”


“Cemburu ya? Mikirnya kemana-mana ya, Bee?”


“Nggak mikir kemana-mana, cuma bingung aja kenapa dia mendadak kirim makanan. Padahal ‘kan baru kenal. Eh lupa, yang baru kenal ‘kan aku ya, kalau sama Mas udah kenal banget,”


“Ya udah nggak usah dibahas lagi,” Dio menusuk pipi Shena yang Dio yakin akan sedikit membicarakan hubungannya dulu dengan Nada yang merupakan sepasang kekasih.

__ADS_1


__ADS_2