
“Ibu, ada kurir yang antar mainan-mainan bayi, Bu, katanya dari Mas Arun,”
“Oh iya taruh aja di sofa, Pak. Makasih ya, Pak,”
“Sama-sama, Bu,”
Ardina langsung mengamati kiriman yang baru saja diantar oleh penjaga rumah dan katanya itu dari Arun teman Shena.
Ardina menghampiri cucunya sekaligus ingin menyampaikan perihal kiriman Arun kepada Shena.
“Lagi apa ya cucu-cucu Oma ya?”
Ardina membuka pintu dan langsung melihat ke tempat tidur dimana kedua cucunya berbaring. Aroma khas bayi langsung menyambut indera penciumannya begitu Ia membuka pintu kamar.
“Udah mandi, Oma,” ujar Shena pada mertuanya. Ardina tanpa pikir panjang langsung menghampiri kedua cucunya itu.
“Alhamdulillah, kok nggak panggil Oma sih?
Oma mau mandiin padahal,”
“Udah bisa mandi sendiri, Oma,”
“Hahahaha hebat banget ya,”
“Sendiri tapi dibantu Mama, Oma,” kata Shena yang kembali mengundang tawa ibu mertuanya itu.
__ADS_1
“Shen, Arun ngirimin mainan gitu. Ada di bawah, Shen,”
“Arun? Tapi dia nggak ada bilang apa-apa, Ma,”
“Mungkin nggak mau bilang-bilang kali supaya kejutan,”
“Dari Arun beneran, Bun?”
“Ya iyalah, Sayang. Kata Pak Dim tadi. Beliau yang nerima,”
“Oh yang antar Arun sendiri? Atau kurir?”
“Kurir deh kalau nggak salah,”
Shena baru menyentuh ponsel dan Ardina mengajak kedua cucunya bercanda di atas ranjang tiba-tiba pintu kamar dibuka dari luar. Rupanya Dio yang membuka pintu kamar baru pulang dari kantor.
“Sayang, itu ada barang-barang di sofa ruang tamu, dari siapa sih?”
“Oh itu jaga Bunda dari si Arun, aku juga nggak tau kalau Arun ngirimin itu,”
“Apa isinya?”
“Mainan sih kata Pak Dim. Yang antar kurir tapi kata Pak Dim dari Arun,” jelas Ardina pada anaknya.
“Ngapain sih kirim-kirim mainan segala? Emang dia pikir aku nggak mampu ya beliin mainan buat anak-anak kita?”
__ADS_1
“Eh Dio nggak boleh ngomong begitu ah! Nggak baik!”
Ardina langsung menegur anaknya yang bicara sembarangan. Terkesan tidak bersyukur ada yang berbaik hati mengirimkan mainan untuk anaknya.
“Ya tujuannya apa, Ma?”
“Tujuannya? Bikin senang anak kamu lah,”
“Ngapain coba? Aku kan bisa beliin mainan buat mereka nggak perlu dia lah,”
“Mas, aku juga nggak tau kenapa Arun ngirim mainan tapi ya udahlah, Mas. Jangan ngomong kayak gitu, kesannya nggak menghargai. Terima aja apa yang dikasih sama orang, itu tandanya kita bersyukur,”
“Iya aku tau, Sayang. Nggak perlu kamu ajarin aku tau kok gimana caranya bersyukur. Tapi agak kesal aja kok dia tiba-tiba ngirim mainan nggak ada angin dan nggak ada hujan?”
“Yang bikin kamu kesal tuh sebenarnya apa sih? Mama bingung deh,”
“Kalau yang lain yang ngasih mainan nggak apa-apa? Giliran Arun nggak boleh? Hah?”
Dio diam tak menjawab pertanyaan sang bunda. Entah kenapa Ia merasa kesal setelah tahu Arun mengirimkan mainan untuk anak-anaknya. Kalau dia tidak pernah menyukai Shena, tidak pernah mengusik hubungannya dengan Shena, Ia tidak akan mempermasalahkan apapun yang dikirim Arun ke rumah.
Yang Ia tahu Arun pernah menyukai Shena dan Ia tidak tahu apakah sekarang juga masih atau justru sudah berhenti. Arun mengirimkan makanan saja ke rumah Ia langsung risih, apalagi ini mainan untuk kedua anaknya.
“Udah jangan dipermasalahin Arun kirim mainan untuk twins, Mas. Kita syukuri aja, okay?”
“Iya jangan apa-apa tuh bikin kalian debat. Ingat udah ada anak harus lebih akur lagi, lebih dewasa. Hal-hal kecil harusnya nggak usah dipermasalahin,” tegur Ardina pada anaknya yang mulai dalam mode cemburu.
__ADS_1