
Shena diminta oleh dokter untuk menjalani rawat inap karena demamnya sangat tinggi. Kedua mertua Shena merasa sedikit lega. Kalau dirawat di rumah sakit, setidaknya Shena berada di tangan orang-orang yang tepat. Kalau di rumah, Shena hanya mengandalkan minum obat, yang kenyataannya tak membuatnya membaik. Di rumah tak ada yang paham soal kesehatan, sehingga mau memberikan obat-obatan, mau memberikan perawatan untuk Shena pun rasanya bingung. Kalau di rumah sakit, Shena akan dirawat dengan baik oleh orang yang profesional.
“Papa, Mama boleh minta tolong?”
“Apa, Ma?”
“Tolong ambil baju-baju Shena sama Mama yang udah disiapin sama Bibi. Mama udah bilang ke Bibi supaya nyiapin perlengkapan Shena selama di sini, baju, selimut, semuanya,”
“Oh iya benar, kita nggak ada persiapan apapun. Ya udah Papa ke rumah deh buat ngambil,”
“Pa, ini udah malam, aku nggak tega Papa harus bolak balik. Lebih baik sekarang Mama sama Papa pulang biar bisa istirahat. Nah soal perlengkapan aku, ‘kan bisa besok aja. Aku nggak mau Mama Papa nunggu aku di sini, istirahatnya kurang nyaman,”
“Kamu ngomong apa sih, Shena? Mama bakal di sini temenin kamu. Nggak nyaman gimana? Orang ada tempat tidur untuk penunggu padiennya kok. Mama nggak skan biarin kamu sendirian tanpa ada yang dampingin. Anak Mama nggak bisa diandalkan, tapi mama bisa kok Insya Allah,”
“Iya benar kata Mama. Nggak munhkinlah kamu dibiarin sendiri di sini,”
Shena merasa terharu mendengar ucapan ibu mertuanya itu. Padahal Shena ingin kedua mertuanya istirahat di rumah. Senyaman apapun rumah sakit, tetap rumah lah tempat yang paling nyaman. Sudah mengantarkannya ke rumah sakit, mengurus semuanya sampai kemudian Ia bisa dirawat di dalam ruangan yang sangat nyaman ini sekarang, dan mereka tetap tidak mau membiarkannya sendirian.
“Ya udah kalau gitu Papa pulang dulu ya, nanti Papa ke sini lagi,”
“Pa, besok aja. Kasihan Papa, harusnya udah istirahat ini malah repot bolak balik rumah sakit,”
“Nggak repot sama sekali, Shena. Kamu itu anak Papa, nggak ada ceritanya orangtua merasa direpotkan sama anak, itu nggak ada. Udah ya, kamu tenang aja di sini sama Mama. Istirahat ya, Shen,”
“Hati-hati, Pa. Kalau memang nggak bisa ke sini ya nggak apa-apa, besok aja benar kata Shena,” uhar Ardina yang sebenarnya khawatir juga suaminya harus menempuh perjalanan di malam hari.
“Iya tenang aja. Papa pulang dulu bentar, Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam,”
__ADS_1
Sakti keluar dari ruang rawat inap sang menantu meninggalkan menantu dan juga istrinya. Ia tetap akan kembali lagi ke rumah sakit walaupun ini sudah malam. Karena keperluan yang telah disiapkan oleh Bibi bisa jadi diperlukan Shena malam ini juga.
Sakti melewati ruang tunggu instalasi gawat darurat, dan Ia tak sengaja bertemu dengan seorang lelaki muda yang tak asing baginya. Lelaki itu sedang mengedarkan pandangan tentunya ada yang dicari.
“Ngapain kamu ke sini? Hah? Semua telepon dan chat dari orang rumah kamu abaikan, terus sekarang kamu datang ke sini mau apa? Mau cari masalah? Mau berdebat? Mau marahi Shena? Iya?”
“Shena dirawat ‘kan? Aku datang buat dia,”
Sakti bicara pada anaknya yang ternyata datang ke rumah sakit. Sedikit kaget juga melihat kedatangan Dio. Walaupun sebenarnya wajar untuk seorang suami datang ke rumah sakit menghampiri istrinya yang sedang sakit. Normalnya memang seperti itu. Tapi mengingat Dio tak mau peduli pada Shena, jadi rasanya cukup aneh ketika melihat Dio datang.
“Dimana kamu waktu Shena perlu kamu? Shena pingsan, kamu tau?”
“Iya aku tau, tadi Bibi ngomong ke aku,”
“Papa kira kamu nggak mau pulang, ternyata pulang juga? Heh? Terus ada inisiatif juga ke sini,”
“Aku minta maaf. Yang penting aku udah datang ke sini ‘kan, Pa? Terus gimana keadaan dia?”
“Caranya?”
“Mikir coba! Makanya peduli dong jadi orang. Kalau nggak mau peduli sebagai suami, peduli lah sebagai manusia yang punya hati,” ujar Sakti dengan nada bicara yang tajam menyindir Dio, setelah itu Sakti pergi begitu saja meninggalkan Dio yang kesal.
Sakti pergi setelah Ia bicara seperti itu tujuannya supaya Dio bisa merenungi kesalahannya, dan bisa berubah. Sakti terlampau kesal dengan sikap yang diambil Dio. Maka dari itu, Ia ingin Dio berusaha mencari tahu sendiri keadaan istrinya. Tidak semudah itu Ia beritahu Dio tentang keadaan Shena.
Dio langsung mengejar papanya. Dio ingin papanya memberikan jawaban. Paling tidak memberitahu dimana keberadaan Shena sekarang.
“Kenapa Papa nggak kasih tau aja sih keadaannya Shena gimana? Giliran aku mau peduli, malah kayak gitu tanggapannya Papa,”
“Hei kamu mikir dong. Papa kayak gini karena kamu yang keterlaluan! Peduli sedikit bisa nggak? Kalau aja kamu pulang tepat waktu, kamu bawa Shena ke rumah sakit, mungkin dia nggak akan pingsan kayak tadi. Entah udah berapa lama dia pingsan dan kami nggak tau. Untungnya Bibi datang. Coba kalau nggak, entah apa yang udah terjadi sama Shena. Walaupun Papa Mama emosi banget sama kamu malam ini ya, tapi Shena masih sempat-sempatnya belain kamu, padahal kamu aja nggak hargain dia sedikitpun. Dia masih mempertahankan nama baik kamu sebagai suaminya. Dia itu perempuan yang baik, kenapa sih kamu sia-siakan? Hah? Kamu bakal nyesal, Dio,”
__ADS_1
“Pa, aku nggak suka Shena disayang banget sama Mama Papa, aku nggak suka kalau aku direpotin karena Shena. Makanya aku nggak mau pulang,”
“Terus sekarang kenapa kamu datang ke dini? Hmm? Pasti mau caci maki Shena ya?”
“Aku mau tau keadaan dia,”
“Kenapa kamu mau tau? Kenapa kamu tiba-tiba jadi peduli? Hmm?”
“Ya karena aku nggak mau makin salah di mata Mama sama Papa,” jawab Dio setelah sempat diam beberapa detik.
Sakti tersenyum miring, kemudian melanjutkan langkahnya. Ia sengaja menabrak bahu Dio yang berdiri tegap di depannya untuk menghalangi langkahnya.
“Papa, nggak mau kasih tau aku dimana Shena?”
“Cari sendiri!”
“Papa mau kemana?”
“Mau ngambil perlengkapan Shena, karena Shena harus rawat inap,”
“Okay, terus Shena di ruangan mana? Aku nggak mungkin segampang itu dapetin info soal kamarnya Shena, Pa,”
“Usaha lah, nggak pernah usaha untuk Shena ‘kan? Berhasil dapetin Shena aja nggak perlu usaha, tapi kamu nya nggak bersyukur. Shena malah kamu sia-siakan. Padahal pilihan Mama Papa itu udah benar! Harusnya kamu itu bersyukur, berhasil dapetin Shena tanpa usaha keras. Shena nurutin apa kata orang tuanya, dan dia bisa langsung terima kamu. Kamu pun sama, kamu nurut kemauan orangtua tapi akhirnya kamu malah nggak menghargai Shena. Kalau aja bukan karena Mama Papa, kamu nggak akan bisa jadi suaminya Shena sekarang,”
“Papa, tunggu dulu,”
Dio terus berusaha menyamakan langkah kakinya dengan sang ayah. Ia benar-benar perlu informasi dari Sakti. Mencari sendiri? Itu terlalu sulit bagi Dio.
“Papa, tolong kasih tau dimana istri aku sekarang. Tolong Papa jawab pertanyaan aku,”
__ADS_1
Dio menahan tangan Papanya yang akan membuka pintu mobil. Sakti langsung menatap Dio dengan tajam, dan rahang Sakti mengetat.
“Papa udah bilang, kamu harus cari sendiri. Kamu harus tau yang namanya usaha untuk istri sendiri. Kamu mau ketemu Shena ‘kan? Mau tau keadaan dia ‘kan? Ya udah usaha sendiri! Kalau kamu nggak mau, itu membuktikan kalau kamu emang nggak pantas untuk Shena. Dan Papa nggak akan merasa keberatan sedikitpun kalau suatu saat nanti Shena mau pergi dari kamu dan bahagia sama laki-laki lain,”