Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 118


__ADS_3

Sama seperti yang lainnya, Dio pun turut mengabari orang di rumah terutama istrinya bahwa Ia hampir tiba di tempat yang akan menjadi tempat istirahat sementara waktu sebelum pulang.


“Ndra, gue mual dah. Lo bawa obat mual enggak sih?”


Lengan Dio yang tengah menikmati kopi hitamnya dihentak pelan dari samping oleh abangnya.


“Lo sakit, Bang?”


“Enggak sih, kayaknya cuma masuk angin,”


“Terus lo malah minum kopi. Gue enggak bawa obat mual, beli aja, Bang. Gue beliin dulu deh,”


“Sama minyak ya, Di,”


“Minyak apaan? Goreng? Mau goreng dimana?”


“Ah elah becanda aja ini orang. Minyak yang anget supaya gue balur di perut,”


“Oh iya-iya, gue beli sekarang,”


Dio meninggalkan meja warkop dimana Ia dan teman-temannya beristirahat sebentar. Kebetulan di seberang ada minimarket. Ia tinggal menyeberangi jalan raya yang tak terlalu ramai untuk membelikan obat abangnya yang mual.


Sehan tidak menghabiskan kopinya. Ia minta dibuatkan teh. Entah mengapa malah makin mual setelah minum kopi. Ia merasa mual sesaat setelah turun dari motor.


“Kalau ada Tania udah cemas banget dia nih,” gumam Sehan dalam hati. Ia tidak cerita apapun pada Tania saat di telepon tadi sebab Ia tidak mau membuat Tania khawatir. Lagipula ini hanya mual biasa saja. Entah karena masuk angin atau karena mabuk perjalanan ya walaupun itu agak kedengaran aneh karena selama ini Sehan merasa baik-baik saja bila dalam perjalanan jauh.


Dio datang dari minimarket dengan menjinjing kantung plastik kecil berisi obat mual dan minyak aromaterapi untuk abangnya yang baru kali ini touring merasa mual.


“Tuh, diminum, Bang. Lo udah makan belum sih? Jangan-jangan karena perut kosong juga tuh, terus kecapkean, dan kena angin dari tadi,”


“Gue udah makan tadi,”


“Ya udah minum deh obatnya, terus balurin minyak itu supaya enakan,”

__ADS_1


“Thanks ya,”


“Iya, jangan sakit dong. Ah lo gimana sih? Katanya mau liburan tapi malah sakit. Kak Tania tau enggak?”


“Enggak lah, ngapain kasih tau dia? Nanti malah khawatir,”


“Iya enggak usah, lo tuh cuma masuk angin aja kayaknya, Bang,”


“Apa mabuk perjalanan?”


“Bisa jadi, tapi selama ini lo enggak pernah gitu ah,”


“Ya kali aja karena Tania enggak ikut jadi—“


“Apa hubungannya? Idih enggak nyambung lo,”


Sehan tertawa ketika Dio menginjak kakinya di bawah meja. Dio kesal karena antara Sehan mual dengan keberadaan Tania sekarang.


“Karena enggak ada yang meluk dari belakang jadi mual, Di,”


“Iya lo kayaknya senang banget enggak pergi sama Agatha. Lo merasa bebas gitu ya? Kayak masih bujang mikirnya?”


“Senang karena bisa touring. Senang karena Dio enggak ikut karena itu demi kebaikan dia tapi bukan berarti gue senang karena merasa bebas, Bang. Jujur sih emang lebih senang kalau Dio ikut. Tapi daripada dia ikut malah bahaya buat kandungannya lebih baik gue sendiri aja. Lagian sendiri juga senang-senang aja kok.


“Iya lo benar gue merasa jadi bujang lagi tapi bukan berarti gue merasa bebas si,”


******


“Akhirnya sampe juga, arghh mau langsung rebahan gue,”


Di dalam villa yang hanya disewa untuk benerapa jam saja, terdapat dua tempat tidur berukuran besar. Sehingga saty kamar bisa dihuni sampai empat orang. Pembagian kamar suka-suka saja. Dio masuk ke sebuah kamar lebih dulu dan tak lama kemudian tiga lainnya menyusul termasuk abangnya.


“Ya elah, gue kirian enggak ada yang mau satu kamar sama gue,”

__ADS_1


“Pasti ada lah, orang cuma ada enam kamar, lah kita dua puluh,”


“Iya dah, tidur lo pada,”


“Belum bisa, harus kabarin nyonya dulu,”


“Sama dong,”


Dio mengeluarkan ponselnya dari saku untuk memberitahu sang istri bahwa Ia baru saja tiba di tempat beristirahat sementara waktu.


Dio sengaja tidak menelpon, barangkali istrinya masih tidur. Walaupun rasanya tidak mungkin. Biasanya jam-jam menjelang subuh begini Shena sudah bangun dan mulai membereskan kamar, dan juga menyiapkan pakaian kerjanya, tapi berhubung hari ini Dio tidak kerja, entah apa yang dilakukan Shena.


“Eh abis tidur, kita jalan ke alun-alun ya. Jajan disana abis itu kita beli oleh-oleh,”


“Iya, Bro. ‘Kan emang begitu rencananya,”


“Okay, sekarang gue mau tidur,”


“Eh mual lo gimana, Bang?”


Shena bertanya pada abangnya yang akan bergegas membersihkan badan di kamar mandi dan mengganti bajunya.


“Udah sehat gue,”


“Alhamdulillah,”


“Sehan mual? Udah kayak orang bunting aja mual pagi-pagi,”


“Tadi waktu kita berhenti ngopi tuh baru kerasa,”


“Lu kemasukan angin kali, tapi untung udah enggak ya?”


“Tenang, udah sehat,”

__ADS_1


Sehan berlalu ke kamar mandi sementara tiga lainnya merebahkan badan di atas kasur dengan perasaan lega dan nyaman. Setelah beberapa jam merasa lelah berkendara, akhirnya sekarang mereka bisa menyentuh kasur yang empuknya luar biasa, mana bersih dan harum pula. Terlena untuk segera tidur itu sudah pasti tapi sayangnya masih ada yang kurang kalau belum mandi.


__ADS_2