Akan Indah Nantinya

Akan Indah Nantinya
Bab 26


__ADS_3

Hari ini Shena sudah diperbolehkan pulang ke rumah oleh dokter karena keadaan Shena sudah jauh lebih baik.


Shena senang sekali karena akhirnya Ia tak lagi membuat suaminya repot harus menjaganya, membantunya melakukan apapun selama di rumah sakit.


Dio menatap Shena yang baru saja duduk di tepi ranjang sambil menghela napas lega. Senang sekali bisa kembali lagi ke kamar ini. Di ruang rawat inap rumah sakit, Shena bebar-benar mati gaya. Membosankan sekali, beda dengan di rumah.


Bayangan sebentar lagi Ia sudah bisa beraktifitas seperti biasa, langsung hancur ketika mendnegar ucapan Dio yang bicara dengan tenang tapi tegas “Lo nggak usah ngapa-ngapain dulu. Istirahat yang banyak! Jangan mentang udah sembuh, terus lo bisa sibuk ngelakuin apapun,”


“Tapi aku ‘kan bosan juga istirahat terus. Lagian cucian aku di rumah sakit banyak tuh, aku mesti—“


“Nggak ada mesti-mesti. Istirahat aja dulu. Cucian nggak usah dipikirin. Biar gue aja yang nyuci,“


Mendengar ucapan Dio, jujur saja Shena terkejut. Shena tidak menyangka kalau Dio akan punya inisiatif untuk melakukan pekerjaan yang biasanya Ia lakukan dengan tujuan agar Ia bisa istirahat.


“Nggak usah, kalau gitu laundry aja, jangan kamu yang ngerjain, jangan Bibi juga yang ngerjain,“


“Gue aja yang nyuci, sekalian gue belajar nyuci,”


Shena semakin terperangah. Suaminya mau mencuci, padahal sudah Ia katakan agar diantar saja ke jasa paundry, sehingga suaminya itu tak perlu repot-repot mencuci. Tapi tetap saja Dio mau melakukannya sendiri karena katanya biar belajar mencuci.


“Lo kaget nggak kalau gue nggak pernah nyuci?”


“Kaget nggak kaget sih sebenarnya. Tadi kaget, tapi pas dipikir-pikir, iya juga ya. Kamu ‘kan laki-laki, pasti nggak sayang uang untuk laundry, dan ada Bibi juga,”


“Baju gue dicuci mesin semua sama Bibi, atau sama Mama bareng baju Mama Papa. Kecuali yang dalemnya ya. Itu gue cuci di mesin cuci atas, yang sekarang lo pakai,”


“Oh iya-iya paham. Tapi berarti pernah ‘kan cuci sendiri? Ya walaupun pakai mesin,”

__ADS_1


“Pernah lah, setiap hari. Tapi pakai tenaga mesin, itupun yang dicuci dikit banget cuma pakaian dalam doang,” ujar Dio seraya terkekeh. Ia tidak malu mengakui kalau Ia tidak pernah kenal dengan yang namanya cuci baju menggunakan tangan. Akrabnya dengan mesin cuci.


“Kalau lo ‘kan rajin tuh, baju bagus suka dicuci pakai tangan. Dih, ngapain coba? Bikin capek tangan,”


“Ya soalnya sayang kalau baju bagus kamu saam aku rusak sama mesin,”


“Kerajinan,”


“Biarin, pakai mesin cuci nggak salah, pakai tangan juga nggak salah. Semua orang berhak milih. Cuma kalau aku emang kebiasaannya kayak begitu,”


“Aneh, gue punya istri rajin banget,”


“Ya bagus ‘kan berarti?”


“Nggak, kerajinan juga nggak bagus. Akhirnya sakit ‘kan lo,”


Dio berdecak dan tak menanggapi ucapan istrinya lagi. Dio mulai mengeluarkan baju kotor dari tas yang dibawa ke rumah sakit. Shena yang menganati itu tersenyum. Dio benar-benar keras kepala. Lelaki itu tetap mau mencuci baju kotor mereka. Padahal sudah Ia berikan pilihan supaya diberikan saja ke jasa laundry. Jadi nanti bayar, dan baju diambil setelah dicuci dan distrika.


“Kamu yakin mau nyuci, Dio?”


“Yakin lah, ini udah mau masukin cucian ke mesin cuci,”


“Nggak capek?”


“Nggak, capekan juga elo. Tiap hari ada aja cucian tangan lo,”


“Makasih ya,”

__ADS_1


“Sama-sama, gue nggak pernah ngomong makasih deh kayaknya, kok lo rajin banget ngomong makasih,”


“Ya harus, kita ke siapa aja harus bilang makasih jangan sungkan,”


“Nyindir gue nih ceritanya?”


Shena spontan pindah posisi ke tengah tempat tidur karena Dio berjalan mendekat ke arahnya dengan wajah tanpa ekspresi, dan tatapan mata yang benar-benar fokus ke satu titik, dan itu dirinya.


“Dio, kamu mau apa? Kamu marah ya sama aku? Kamu mau marahin aku ya?”


Shena ketakutan sendiri. Ia benar-benar takut suaminya akan marah kepadanya. Mungkin tanpa sadar ada perkataannya yang telah menyakiti hati Dio.


Dio tiba-tiba membungkukkan sedikit badannya mendekatkan kepalanya ke arah Shena yang semakin mundur.


“Dio—“


“Lo jangan ngomong mulu! Tidur nggak?”


“Hah?”


Dio berdiri tegap lagi sambil menarik ujung hidung Shena yang langsung membuat Shena meringis.


“Hah heh hoh aja lo. Emang lo pikir gue bakal ngapain? Gue cuma mau nyuruh lo istirahat,”


“Ya tapi kenapa harus dekat-dekat gitu? Harus datar mukanya? Aku pikir aku bakal dimarahin sama kamu. Aku takut banget,”


Dio tertawa mendengar ucapan Shena. Segitu takutnya Shena ketika melihat wajahnya yang datar, padahal Ia tidak selalu marah.

__ADS_1


Yang membuat Shena kaget selanjutnya adalah, tiba-tiba Dio mengacak lembut puncak kepalanya setelah itu berlalu keluar kamar membawa pakaian kotor yang akan dicuci menggunakan mesin cuci yang diletakkan dekat dengan tempat menjemur.


__ADS_2